Part 9

1120 Words
      Dyra membalikkan tubuhnya. Menatap Rudra dengan tatapan tidak percaya.     "Apa? Lo bilang apa tadi?" tanya Dyra ingin meyakinkan bahwa pendengarannya tidak salah.     "Lo nggak denger? Budeg sih." Rudra melangkah kemudian berhadapan dengan Dyra.     "Ayo gue anter." tawar Rudra sekali lagi.     Kesempatan emas bercampur intan permata nih.     Dyra membatu. Ia tidak menyangka Rudra mau mengantarnya pulang. Dyra merasa bimbang. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Namun jika ia mengiyakan ajakan Rudra, justru akan sangat berbahaya. Jika Rudra mengetahui alamat rumah Dyra, besar kemungkinan Rudra akan memberitahu Dea. Dan jika Dea mengetahui alamat rumah Dyra, gadis itu bisa kapan saja tiba-tiba muncul untuk berkunjung.     "Ayo buruan, udah sore," ujar Rudra sembari melangkah terlebih dahulu. Meninggalkan Dyra. Tanpa pikir panjang, Dyra melangkah di belakang Rudra. Mengikuti langkah Rudra yang santai. Diam, sunyi.     Di setiap langkahnya, Dyra tidak henti-hentinya menatap bagian tubuh belakang Rudra dari ujung rambut hingga ujung tumitnya. Memperhatikan betapa gagahnya lelaki itu ketika tengah berjalan. Santai dan mempesona. Namun lagi, Dyra tidak habis pikir bagaimana Rudra bisa menjadi sangat baik kali ini. Mau menungguinya hingga sadar, lalu mengantarnya pulang.     Gue yang kena bola, otak dia malah yang geser.     Tiba-tiba langkah Rudra terhenti. Dyra yang masih fokus menatap punggung Dyra pun tidak sempat untuk mengerem. Alhasil, wajahnya membentur punggung Rudra.     "Aduh.." ringisnya.     Rudra seketika berbalik.     Jalan aja lama. Apa perlu gue gendong biar cepet?"     Dyra membuka mulutnya selebar mungkin. Ia masih belum bisa mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Rudra. Bahkan ia yakin sepertinya telinganya mengalami kerusakan hingga mendengar sesuatu yang selama ini hanya ada di khalannya.     "Lo?" Dyra menatap Rudra dengan tidak percaya.     "Ya gimana nggak lama, kepala gue kan masih sakit." Dyra berusaha membela diri.     Rudra menghela napas.     "Yang sakit itu kepala, bukan kaki lo."     "Jadi harusnya kaki lo masih bisa berjalan dengan normal," imbuh Rudra.     "Buruan, udah sore."     Dyra merasa takjub dalam hati. Entah sudah berapa banyak kata yang diucapkan Rudra kali ini. Meskipun ketus, tapi Dyra tetap merasa senang. Karena Rudra sudah mulai bicara banyak padanya.     "Iya. Ck."     Dyra kembali melangkah, dan kini Rudra melangkah di belakangnya. Dyra memegangi pipinya. Ia menggerutu dalam hati, seharusnya tadi ia menjawab iya ketika Rudra menawarkan untuk menggendongnya. Tapi bibirnya justru secara otomatis membela diri. Benar-benar menyebalkan.     Ketika keduanya tiba di parkiran, Rudra mulai bersuara.     "Motor lo dimana?" tanya Rudra.     Dyra menghentikan langkahnya. Ia baru teringat akan nasib kendaraannya jika Rudra yang mengantarnya pulang.      "Oh iya. Di sana." Dyra menunjuk motornya yang terlihat sangat jelas karena hanya ada motornya di sana.     "Oh." Rudra hendak melangkah namun suara Dyra membuatnya mengurungkan niat.     "Lo mau nganter pake motor gue? Terus motor lo gimana?" tanya Dyra. Rudra kini berbalik, menatap Dyra dengan kernyitan di keningnya.     "Maksud lo?" kini justru Dyra yang mengernyitkan kening karena pertanyaan Rudra.     "Katanya lo mau nganterin gue pulang," ujar Dyra.     "Kata siapa?" tanya Rudra.     "Lah tadi lo sendiri yang bilang." Dyra masih ingat betul tadi, beberapa menit yang lalu Rudra mengatakan akan mengantarnya pulang.     "Tadi?"     "Tadi gue cuma bilang mau nganter lo, bukan nganter pulang. Dan maksud gue, gue nganter lo sampe motor lo."     Dyra melongo. Membuka mulutnya serta membelalakkan mata karena terkejut.     "Apa?" tanyanya tidak percaya. Ia menatap wajah polos Rudra yang memandangnya dengan bingung. Dyra lantas mengalihkan pandangannya ke motornya yang tetap di sana. Ia lantas menatap Rudra sekejap.     "Oh gitu." Dyra menghela napas.      "Kalo gitu, lo anterin gue sampe sini aja. Gue bisa kok jalan sendiri sampe motor. Lagian udah deket juga. Mending lo balik, ini udah sore," ujar Dyra.     "Ya udah." dan setelah itu Rudra berbalik badan. Melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Dyra di tempatnya.     Dyra mengepalkan tangannya dan segera meninjukan ke udara, ke arah punggung Rudra.     "Dasar Pluto!" geramnya dengan sangat gemas.     "Apaan, nganterin cuma sampe motor," ujar Dyra setelah berbalik badan. Ia segera melangkah menuju motornya.                                                                                     -----     "Ada ya orang kayak gitu. Sumpah! Udah dibuat terbang, ternyata cuma kesalahpahaman kosa kata doang, dan gue berasa langsung jatuh tersungkur ke bagian bawah bumi paling dalam. Ighhh!" Dyra tak henti-hentinya menggerutu selama perjalanan pulang menuju ke rumah.     "Tau gitu gue jual mahal tadi. Ih malu-maluin banget. Udah ge-er, kentara banget lagi."  Dyra merasa di permainkan oleh Rudra. Begitu pintarnya lelaki itu memilah kosakata sehingga terkesan ambigu dan membuat Dyra salah sangka.     "Udah dingin, cuek, nyebelin pula!"     Dyra berhenti ketika ia melihat lampu merah. Aktivitas menggerutunya pun dihentikan sejenak karena saat ini di sebelahnya ada banyak pengendara bermotor. Akan sangat memalukan jika ia marah-marah sendiri. Tanpa sengaja Dyra melirik ke kaca spionnya. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat ada pantulan wajah Rudra di sana. Ia pun membulatkan matanya.     "Itu, Rudra? Nggak mungkin, pasti salah liat."  Dyra menatap lurus ke depan. Berusaha mengabaikan apa yang baru saja dia lihat.     "Tapi." Dyra meliik sekali lagi ke arah spion. Dan lagi, ada wajah Rudra di sana. Dyra menoleh ke belakang. Dia benar-benar Rudra, lengkap dengan motor dan helmnya. Laki-laki itu tengah menunduk sehingga tidak melihat Dyra yang menoleh ke belakang. Lampu hijau menyala. Otomatis Dyra menjalankan motornya.     "Tunggu, dia kan tetangganya Dea. Dan arah rumah Dea bukan ke sini, berarti ini juga bukan arah rumah dia. Terus ngapain dia lewat sini," ujar Dyra saat melirik ke spion dan nampak Rudra beberapa jarak di belakangnya.     "Atau jangan-jangan dia ngikutin gue." mulai muncul spekulasi di dalam pikiran Dyra.     "Enggak mungkin. Tapi kenapa dia lewat sini."     Dyra memutuskan untuk meningkatkan kecepatan motornya. Dan saat ia menoleh ke spion tampak jarak antara motornya dengan motor Rudra begitu dekat.     "Tuh kan ikut ngebut juga."     tiba di persimpangan dimana seharusnya dia belok kanan untuk memasuki kompleks perumahannya. Dan tampak Rudra masih berada di belakangnya.     "Kalo dia beneran ngikutin gue ke rumah, mati.."     Dyra pun memutuskan untuk lurus. Dan nanti dia akan putar balik. Untuk sekarang ini, lebih baik dia berputar-putar dahulu, tidak langsung pulang ke rumahnya. Dyra bersyukur saat melihat Rudra belok ke kanan. Itu artinya Rudra tidak mengikutinya.     "Tapi kok dia belok ke kompleks rumah gue."     "Ah bodok. Yang penting nggak ketauan."                                                                                         -----     Dyra hampir dekat dengan rumahnya. Ia telah beberap kali mengklakson saat ada tetangganya yang secara kebetulan bertemu di jalan. Dyra berbelok ke kanan dan berhenti di depan pintu gerbangnya. Pintu gerbang terbuka lebar.     Tumben.     Selama ini, pintu gerbang di depan rumah Dyra hanya akan terbuka ketika ada kendaraan yang melintas namun kali ini justru terbuka lebar. Dyra baru saja akan memasuki pekarangan rumahnya saat ia melihat Rudra nampak berada di atas motornya. Meski halaman rumah Dyra cukup luas, hal itu tidak lantas membuat Dyra tidak mampu melihat keberadaan Rudra dari tempatnya sekarang.     Dyra secara spontan mengerem motornya dan segera berbalik arah.     "Ngapain dia ke sini." Dyra berusaha mati-matian secepat mungkin agar tidak terlihat oleh Rudra.     Ia tidak tahu Rudra melihatnya atau tidak, yang jelas ia berharap kedatangan Rudra ke    rumahnya bukan karena ia mengetahui itu adalah rumah Dyra. Dyra berharap rahasianya tidak terbongkar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD