Seminggu berlalu..
Dyra membereskan beberapa bukunya. Keadaan kelas sudah sepi. Hanya ada dirinya dan sayup sayup terdengar suara angin berhembus. Dyra menghela napas saat mengingat Dea. Beberapa menit yang lalu, Dea dengan semangat mengajak Dyra untuk menyaksikan pertandingan futsal. Pertandingan untuk sekedar latihan. Tapi Dea memaksa Dyra untuk menemaninya menonton pertandingan itu. Dea ingin menonton pertandingan itu karena ada Rudra yang bermain. Mengenai Rudra. Dyra masih berusaha menghindari laki-laki itu. Dyra memiliki tekad untuk melupakan Rudra. Melupakan laki-laki yang dinginnya melebihi batas normal. Meski sulit. Dyra tidak ingin terus-terusan menyukai lelaki yang sebenarnya tidak pantas untuk disukai. Rudra memang tampan. Tapi bagi Dyra, ketampanan bisa ia dapatkan dari lelaki lain yang pastinya lebih mudah ditaklukkan.
Dyra melangkah dengan acuh. Menikmati kesunyian di sepanjang koridor. Sembari mengingat-ingat tugas untuk hari esok.
"Mati!" Dyra membulatkan matanya. Langkahnya terhenti.sejenak. Ia lupa menagih flashdisk pada Gilang, teman sekelasnya. Besok adalah pelajaran sejarah. Kebetulan ada tugas kelompok yang mengharuskan setiap kelompok mempresentasikan materi pilihan. Dan Dyra satu kelompok dengan Gilang. Gilang meminjam flash disk milik Dyra untuk mengcopy materi presentasi bagian Gilang. Dan Dyra lupa menagih kembali flash disk nya. Karena Dyra sendiri belum memprint materinya.
Dyra berdecak kesal. Di keadaan sekolah yang sepi seperti ini. Besar kemungkinan Gilang sudah pulang. Menghubungi Gilang?
Itu adalah ide yang paling cerdas jika saja saat ini Dyra memiliki kontak Gilang. Dan nahasnya, Dyra tidak memiliki kontak dari rekan satu kelompoknya itu.
"Mati aja besok." Dyra menatap sekeliling. Berharap ia menemui manusia agar bisa menanyakan keberadaan Gilang.
Ponsel Dyra tiba-tiba berbunyi. Dyra membuka ponselnya dan menghela napas saat tahu itu hanyalah notifikasi dari grup kelasnya. Dyra lantas mengalihkan pandangannya. Namun tiba-tiba sesuatu melintas di pikirannya.
"Oh iya. Grup kelas." Dyra baru ingat dia tergabung dalam grup.kelas yang pastinya di sana terdapat kontak dari setiap siswa di kelasnya. Dyra baru saja ingin mencari kontak Gilang di daftar anggota. Namun sebuah pesan membuat gerakannya terhenti.
Gilang :
Gua udah standby. Buru sini.
Dyra membaca pesan itu. Itu pesan dari Gilang, dan dikirim beberapa menit yang lalu. Dyra segera mengetikkan pesan balasan.
Dyra :
Gilang, lo dimana?
Tidak perlu waktu lama untuk menunggu. Grup kelasnya yang selalu ramai notifikasi setiap saat pasti akan dengan cepat merespon pembicaraan apapun. Berselang satu menit. Kini telah ada balasan.
Sindi :
Cieee..tumben Dyra nongol
Dyra membaca pesan tersebut lalu berdecak kesal. Dia lupa jika dirinya tidak pernah mengirimkan pesan di grupnya. Selama ini ia hanya berperan sebagai pembaca. Membaca rangkaian pesan yang hanya berisi pertikaian tidak penting.
Sukma :
Uhukkk... bgitu nongol lngsng nnyain bang Gilang pula..
Meli :
Ciahhh..Ada hot news ne.. kykny di kls kita ada yg cinlok..
Dyra menghela napas saat Gilang tidak kunjung membalas pesannya.
Dyra menatap ponselnya penuh harap. Berharap Gilang segera membalas.
Gilang :
Brizik! Buruan sini. Jangan koar2 doang di grup.
Mata Dyra terhenti ketika menatap balasan dari Gilang. Namun itu bukanlah balasan yang ia nanti.
Gilang :
nonton pertandingan futsal, Dyr. Ngapa?
Dyra berdecak kesal saat membaca pesan dari Gilang.
"Bales gitu aja lama."
Dyra segera melangkah menuju lapangan futsal. Mengabaikan bunyi ponselnya yang menunjukkan bahwa grup kelasnya tengah memulai perbincangan yang sangat tidak penting.
------
Dyra menatap ke arah lapangan futsal. Beberapa siswa tengah duduk di kursi penonton dan tampak santai menikmati jalannya pertandingan. Dari tempatnya berdiri, Dyra bisa melihat Dea yang tampak berteriak menyemangati seseorang. Tanpa perlu berpikir.panjang. Dyra sudah tau jika seseorang itu adalah Rudra. Mata Dyra terhenti saat mendapati Rudra tengah menggiring bola.
Dyra kembali menatap Dea yang terus menyemangati Rudra. Dyra berusaha mengalihkan pandangannya. Ia mencari Gilang. Matanya menjelajah ke segala penjuru. Lalu ia melihat Gilang. Disana. Di dekat tiang gawang. Ia duduk di sana bersama beberapa temannya. Dyra berdecak kesal. Ia lantas berteriak memanggil Gilang.
"Gilanggg..."
Teriakannya itu cukup membuat Gilang menoleh. Namun Dyra tidak sadar. Di saat yang bersamaan, Rudra yang tengah menggiring bola kini kehilangan fokusnya dan menatap Dyra.
"Sini.." Dyra memberi kode dengan gerakan tangannya. Meminta Gilang untuk menghampirinya.
Dyra dapat melihat Gilang seolah bertanya hanya dari raut wajahnya. Dyra menggerakkan tangannya lagi. Mengulang permintaannya. Namun justru Gilang yang menyuruh Dyra untuk menghampirinya ke tempat ia duduk. Dyra berdecak sebal. Ia pun dengan berat hati harus mengalah. Melangkah mendekati Gilang dan harus menerima resiko ditatap oleh teman Gilang dengan tatapan penuh tanda tanya. Dyra hampir dekat dengan Gilang. Mengabaikan sorak sorai penonton yang riuh. Gilang menatap Dyra. Tampak menanti Dyra untuk mendekatinya.
"Dyr, awas!"
Kening Dyra mengernyit ketika mendengar Gilang berteriak.
Bugggg...
Langkah Dyra terhenti saat ia merasakan sesuatu menghantam kepalanya. Sangat keras dan sakit. Lalu kemudian semuanya terasa gelap. Tubuh Dyra ambruk dan dia tidak sadarkan diri.
----
Dyra mengerjapkan matanya. Kepalanya masih terasa sakit. Saat ia membuka mata, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah plapon berwarna putih. Bau obat menyeruak ke indra penciumannya.
"Lo udah sadar?"
Dyra menoleh saat mendengar suara bariton yang ia kenal. Dan benar saja. Saat menoleh, wajah dingin Rudra serta tatapan tajamnya terasa mengintimidasi Rudra. Laki-laki itu berdiri, masih lengkap dengan jerseynya.
"Belum. Masih pingsan!" sahut Dyra acuh. Ia mengelus kepalanya yang masih terasa sangat sakit. Dyra dapat mendengar helaan napas dari Rudra.
"Maaf."
Dyra kembali menoleh. Ia rasa pendengarannya mengalami gangguan akibat hantaman keras tadi.
"Hah? Tanya Dyra.
"Maaf. Gue tadi nggak sengaja. Gue tadi niatnya mau nyetak goal. Malah bolanya ngehantam kepala lo."
Mata Dyra membulat. Bukan karena pengakuan yang baru saja diucapkan Rudra. Melainkan karena ucapan Rudra yang tidak sedingin biasanya. Serta ucapan Rudra yang lebih panjang dari biasanya.
"Oh, jadi.." Dyra baru mengerti. Jadi benda keras yang menghantamnya hingga ia ambruk tidak sadarkan diri, adalah bola yang ditendang oleh Rudra.
"Lagian lo juga salah. Malah jalan ke arah gawang," ujar Rudra.
"Bentar." Dyra baru teringat alasan mengapa ia bisa berada di lapangan saat pertandingan sedang berlangsung.
"Gilang mana?" tanya Dyra.
"Udah pulang."
Mata Dyra membulat, bagaimana nasib presentasinya besok.
"Kok lo biarin dia pulang, sih!" Dyra berdecak sebal.
"Semua orang udah pulang, kecuali lo dan gue."
Terus ngapain lo nggak pulang?"
"Gue masih berusaha bertanggung jawab dengan nungguin lo sampe sadar."
Deg
Dyra rasa ia harus menetralkan detak jantung dan pemikirannya. Ia harus berusaha melupakan Rudra. Bagaimana pun caranya. Termasuk mengurangi tingkat kebaperannya terhadap hal kecil yang Rudra lakukan. Dyra bangkit dari tidurnya. Ia harus segera pulang. Mungkin tidak ada jalan lain selain menghafalkan materi presentasi esok hari.
"Mau kemana?"
"Mau pulanglah!"
Dyra mulai menapakkan kakinya di lantai. Ia harus segera pulang dan merebahkan dirinya di rumah. Dyra mulai melangkah dengan perlahan. Kepalanya terasa sakit, namun itu bukanlah alasan yang kuat untuk menahannya disini bersama Rudra.
Biar gue yang nganter."