"Ibu, lihat yang ini sangat cantik. Pasti jika Rika yang memakainya akan terlihat sangat bagus," ucap wanita dewasa yang bertingkah manja layaknya anak-anak.
Wanita paruh baya dengan gayanya yang sangat modis di tambah tatanan rambut yang sudah dipakaikan sebuah kain yang dililit terlihat sangat fokus membolak-balikkan katalog berisi gambar-gambar cincin.
"Rika, ini juga bagus. Ibu yakin, Rega juga suka."
"Ah nggak, itu jelek. Masa cuma ada satu berlian di atasnya, ini lebih bagus, ada tiga permata ruby," bantah Erika. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Catering sudah kalian persiapkan?"
Erika menepuk jidatnya. Lalu ia menggeleng sambil menatap calon ibu mertuanya itu. "Kita berdua sampai lupa catering. Gimana dong bu?"
Kemudian suara langkah kaki menuruni tangga terdengar begitu nyaring. Mereka berdua menatap Rega yang sudah rapi dengan pakaian santainya langsung saling menatap penuh arti.
"Rega..."
"Apa Bu?" tanya pria berusia 41 tahun itu sambil berjalan mendekati ibunya.
"Kamu ke restorannya teman Ibu, namanya Tante Bina, kamu kenal kan? Buat acara pertunangan nanti, kamu catering-nya di restoran dia aja, makanannya enak-enak banget."
Rega menghela napasnya. Mau tidak mau ia harus mengiyakan ucapan ibunya. Karena pria itu paling tidak bisa membantah perkataan wanita yang sudah melahirkannya.
"Sayang, mau kemana? Kok udah rapi?" tanya Erika seraya tersenyum manis.
"Meeting."
"What? Are you kidding me? Ini weekend sayang, tolonglah, masa kamu mau kerja terus." Erika memasang wajah cemberutnya. Rega yang melihatnya sudah ingin memuntahkan sarapan yang tadi ia makan.
Please lah, wanita berusia 35 tahun tidak sepantasnya bertingkah seperti itu. Bahkan anaknya saja lebih dewasa dari perempuan itu.
"Karena saya banyak pekerjaan." Rega menjawabnya dengan malas.
"Tapi Mas, kamu ajak aku kemana gitu, aku kan mau jalan-jalan berdua aja sama kamu," Erika berdiri lalu berjalan mendekati Rega. Tangan wanita itu melingkar dengan sempurna di pinggang pria itu.
"Lepas Erika!" ucap Rega sambil berusaha melepaskan rengkuhan wanita itu.
"Tidak, sebelum kamu janji kalau kamu gak bakalan kerja sekarang."
"Bu, kenapa ibu diam saja? Tolong Rega lah bu," ucap Rega sambil menatap ibunya yang diam seraya memperhatikan mereka.
"Ibu bisa apa Rega? Erika kan calon istri kamu, dia berhak dong—"
"Berhak apanya bu?! Baru calon istri saja sudah begini, bagaimana jika nanti sudah benar-benar menjadi istri, aku tidak bisa membayangkannya," geram Rega kesal. Dia pun menghentakkan tangan Erika yang ada di pinggangnya hingga terlepas. Lalu Rega menatap wanita itu yang sudah hampir ingin menangis.
"Mas Rega kenapa ngomong kayak gitu sih? Apa aku seburuk itu jika menjadi istri?!" Teriak Erika tidak terima. Dia menghapus air matanya yang berjatuhan.
"Seriously bu? Ini calon istri yang ibu pilihkan untuk Rega? Tingkahnya saja masih kekanakan, apa tidak malu dengan usianya yang hampir kepala empat!" ucap Rega marah. Lalu pria itu berjalan meninggalkan ruangan yang pagi-pagi sudah membuatnya emosi.
•••
Tampak seorang wanita muda yang sedang beristirahat di sebuah taman kecil di samping restoran tempat ia bekerja. Teriknya matahari tidak membuat wanita itu beranjak dari sana dan lebih memilih menghabiskan bekal yang ia bawa dari rumah.
Matanya fokus menatap jalan raya yang tampak ramai. Mungkin karena weekend jadinya mereka ingin menghabiskan waktu bersama keluarga.
"Mbak..."
Kayla langsung menoleh dan tersenyum mendapati Rita dengan pakaian rumahan tengah menenteng kantung plastik yang bertuliskan sebuah minimarket.
"Rita duduk sini ya mbak?"
Kayla mengangguk membiarkan Rita duduk di sampingnya.
"Rita baru tau, mbak ngambil jadwal weekend, padahal dulu kan nggak."
Kayla tersenyum kecut. "Mbak butuh uang lebih Rit," jawabnya.
"Mbak bilang aja sama Rita, mbak butuh berapa? Kali aja Rita ada uang segitu." Rita mengelus punggung kecil wanita cantik itu.
"Kenapa kamu baik sekali Rit? Apa kamu tidak takut kalau mbak ini bukan orang baik?" ucap Kayla pelan. Rita menggeleng tegas.
"Nggak mbak, karena setiap aku menatap mata mbak, yang ada itu kesejukan dan juga ketulusan, aku yakin mbak bukan orang yang seperti itu." Tanpa sengaja mata Rita melihat bekal yang ada di pangkuan Kayla. Ingin rasanya gadis itu menangis melihat seberapa menderitanya wanita cantik ini.
Rita pun membuka plastik yang berisi bahan makanan untuk di kosannya nanti. Ia mengambil sebuah apel dan juga roti isi coklat. Lalu ia memberikannya pada Kayla.
"Untuk apa ini Rit?" tanya Kayla sambil mengernyitkan dahinya bingung.
"Untuk mbak makan, Rita gak tega masa mbak cuma makan sama nasi sedikit campur telur ceplok doang..." lirih Rita sedih.
Kayla tersenyum lirih. "Terima kasih Rit," ucapnya pelan. Tanpa disadari air matanya berjatuhan, sungguh Kayla sangat terharu akan kebaikan gadis di sampingnya.
Rita panik, ia menghapus air mata Kayla. "Mbak kenapa menangis?" tanya Rita serak. Ia juga ingin menangis tapi sebisa mungkin ia tahan. "Wajah mbak pucat sekali."
"Mbak terharu sama kebaikanmu Rit, mbak juga kangen banget sama anak mbak, kalau melihat kamu rasanya mbak seperti melihat anak mbak."
"AllahuAkbar, mbak udah punya anak?!" tanya Rita kaget. Kayla terkekeh pelan lalu mengangguk.
"Tujuh tahun lebih, bulan depan dia ulang tahun." Kayal tersenyum sambil membayangkan wajah anaknya.
"Maaf mbak, kalau boleh tanya, sekarang anak mbak dimana?"
Kayla menghembuskan napasnya pelan. "Sama mantan suami mbak, dia tidak mengizinkan aku untuk bertemu Shaniya, Rit. Ingin rasanya aku bertemu anakku di sana, tapi aku takut ia akan marah lagi padaku."
"Jahat sekali mantan suami mbak! Apa dia tidak pikir bahwa anaknya itu lahir dari rahim mbak Kayla, mbak Kayla juga yang sudah melahirkannya penuh perjuangan. Dia sih menang enaknya doang!"
"Rita.. nggak boleh ngomong gitu, itu kan sudah kodrat kita sebagai perempuan, nanti kamu juga akan menikah seperti mbak."
"Abisnya mbak, Rita sebel banget, awas aja ya nanti kalau sampai dia mau balikan sama mbak, apalagi kalau dia nyakitin mbak lagi, aku tendang selangkangannya biar kapok!"
Kayla tertawa mendengarnya. Rita yang melihatnya pun ikut tertawa. "Oh iya Rit, waktu istirahatnya sudah habis. Mbak balik kerja lagi ya, makasih buat apel sama rotinya."
"Iya mbak, sama-sama."
•••
"Oma, cerai itu apasih? Kenapa Mama gak pernah lagi pulang setelah cerai sama Papa?" tanya Shaniya kepada neneknya yang sedang menemaninya menggambar.
Tina—ibu Rega—tersenyum kecil. Tangannya mengelus surai panjang milik cucunya. "Nanti juga kamu tau kalau sudah besar."
"Tapi Oma, apa Mama nggak sayang lagi sama Yaya? Kenapa Mama nggak pernah temuin Yaya lagi?" Ujarnya sedih.
"Yaya, dengerin Oma, mama kamu itu bukan orang baik. Dia juga gak sayang sama kamu, dia jahat sama Papa, oleh karena itu mereka bercerai."
"Mama gak jahat Oma!" teriak Shaniya tidak terima.
"Mama kamu jahat Yaya! Dia tega menduakan papamu! Oma sangat membencinya sejak pertama kali papa mengenalkan dia pada oma!"
Shaniya menangis. "Mama gak jahat Oma! Mama bilang kalau Yaya nggak boleh nakal, Yaya harus turutin ucapan Papa kalau Mama nggak ada."
Tina menggertakan giginya kesal. "Buktinya Mama kamu gak pernah ke sini lagi! Dia sudah tidak menyayangi kamu lagi Yaya!"
Shaniya menangis kencang. Tina langsung nmemeluknya dengan erat. "Yaya juga sebentar lagi mau punya mama baru."
"Yaya nggak mama baru, Yaya maunya Mama Kayla!" Shaniya melepaskan pelukannya dan berlari menuju kamarnya.