Kayla saat ini sedang membereskan beberapa piring kotor di dapur. Akhirnya, ia bisa pulang setelah seharian bekerja. Setelah dirasanya dapur bersih. Ia bergegas mengambil tas yang tersimpan di sebuah meja.
"Mbak Kayla.."
"Iya, ada apa Mbak Ris?"
"Itu, Mbak Kayla suruh ibu Disa untuk memberikan beberapa menu untuk catering ke pelanggan. Soalnya ada yang ingin buat acara," ucap Mbak Ris.
"Memangnya Bu Disa kemana? Tadi aku lihat dia ke sini."
"Bu Disa pulang, katanya nggak enak badan Mbak Kay, kalau sudah, WA bu Disa katanya."
Kayla mengangguk. Ia dengan cepat berjalan menuju ruangan bu Disa agar dapat bertemu dengan 'orang yang akan memesan catering'.
Dengan perlahan Kayla membuka pintu bercat hitam itu, lalu ia melihat ada sepasang manusia yang tengah duduk di depan meja Bu Disa. Kayla tersenyum kecil melihatnya, melihat bagaimana dekatnya si perempuan yang selalu nempel pada lelaki yang duduk di kursi sebelahnya.
"Selamat malam," sapa Kayla dengan senyumannya yang manis.
Kedua manusia yang tengah duduk itu menoleh ke belakang. Si perempuan tersenyum samar sementara sang prianya terlihat kaget dengan tatapan tajamnya.
Kayla pun sama terkejutnya dengan si pria. Walaupun enggan ia mendekati mereka, namun demi pekerjaannya, semua akan ia lakukan. Dengan perlahan Kayla berjalan pelan menuju meja Bu Disa. Ia duduk di kursi itu, lalu membuka laci meja dan mengeluarkan beberapa katalog berisikan berbagai macam makanan.
Kayla menghela napas sebentar, kemudian menyodorkan katalog itu pada mereka. "Silahkan dilihat-lihat dulu, mungkin saja ada yang kalian suka."
Sepasang manusia itu membuka katalog lalu melihat dengan teliti satu per satu makanannya.
"Kami mempunyai beberapa menu best seller yang biasanya dipesan untuk catering, yaitu ayam suir balado, soto ayam, mie aceh, ayam geprek, opor, rendang, dan untuk makanan kecilnya ada batagor, siomay, sushi, bakso cuanki, dan juga dimsum, sementara untuk dessert ada puding mangga yang sudah diberi sedikit coklat parut dan juga fla, lalu ada cheesecake oreo yang—"
Brak!
Kayla kaget sambil menatap pria yang ada dihadapannya. Mata pria itu melotot dengan gigi yang menggertak. Jantung Kayla berdegub dengan kencang.
"Stop! Pusing saya mendengar kamu bicara, biarkan kami yang memilih! Tugasmu itu hanya mencatat apa yang akan kami pesan!" geram pria itu yang tidak lain adalah Rega. Ya, Regaksa si mantan suami Kayla.
"Mas Rega kamu bikin aku takut tau gak? Kasian juga tuh, adeknya juga jadi kaget. Maaf ya dek, maafin calon suamiku."
Calon suamiku.
Kayla merasakan hatinya sakit, seakan ada ribuan jarum yang menusuknya. Ya, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa wanita itu masih mencintai mantan suaminya. Secepat itukah dia melupakannya? Belum ada 3 bulan berpisah dan kini mantan suaminya akan menikah lagi?
"Ma.. maafkan saya Pak, saya hanya berusaha menjadi pelayan yang baik." Kayla berucap pelan.
"Kamu hanya pelayan! Jadi kamu harus mendengarkan apa yang saya katakan tadi," ucap pria itu dengan angkuhnya. Kayla mengangguk mengerti.
Kayla menatap datar ke depan. Tiba-tiba saja ia melihat tangan mantan suaminya yang menggenggam calon istri barunya, sambil sesekali mengelusnya. Ia berusaha agar tetap menampilkan wajah seramah mungkin walaupun rasa gugup dan takut masih ada dalam dirinya jika terus berlama-lama dengan mantan suaminya itu.
"Kamu mau apa buat hari-H, sayang?" tanya Rega sambil tersenyum dan matanya melirik ke arah Kayla yang masih saja tersenyum ramah.
Sedangkan Erika yang senang karena Rega sudah mulai berubah langsung saja melingkarkan tangannya di lengan Rega dan menyenderkan kepalanya di bahu pria itu. Tanpa rasa malu karena ada orang lain yang melihat kemesraan mereka. Yang tidak ia ketahui bahwa orang lain itu merupakan mantan istri calon suaminya.
"Aku mau buat makanan utama itu rendang, ayam geprek, ayam suir balado, kentang balado sama soto ayam, kalau untuk makanan biasanya batagor, siomay, pempek, bakso dan untuk dessertnya aku mau puding, cheesecake oreo aja. Minumnya terserah yang paling best seller aja," jawab Erika dengan mantapnya.
Tangan Kayla yang sibuk mencatat tiba-tiba berhenti karena ada yang ia lupakan. "Maaf Bu, untuk dessertnya apa saja? Bisa diulangi?"
"NIAT KERJA TIDAK?! Calon istri saya sudah menyebutkannya dengan jelas. Seharusnya kamu dengan cepat mencatatnya, sebenarnya apa yang sedang pelayan ini pikirkan tadi?!" Amuk Rega dengan suaranya yang berat.
Kayla terkejut. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya dan juga menahan air matanya yang ingin keluar.
"Mas Rega, kenapa marah mulu sih? Kayak cewek pms aja, dia cuma minta aku ulangi menu dessert kok." Erika mengelus d**a bidang Rega yang tampak naik-turun mengendalikan amarah.
"Pelayan seperti dia jangan diberi kasihan! Biarkan saja dia memikirkan itu sendiri, jangan beritahu, karena pasti akan kebiasaan. Siapa suruh dia tidak cepat mencatat pesanan kamu!" Mata Rega mendelik menatap Kayla yang menundukkan kepalanya.
"Sa.. saya minta maaf Pak. Sekali lagi saya minta maaf," lirih Kayla. Apa dengan cara seperti ini Rega meluapkan kekesalannya? Apa mantan suaminya itu masih saja marah padanya? Padahal sudah tiga bulan berlalu. Kayla berpikir Rega sudah melupakannya. Ternyata ia salah, Rega masih tetap membencinya.
"Ayo Erika kita pergi. Biarkan pelayan ini memikirkan menu itu dan saya tidak ingin ada satu kesalahan apapun itu!" Rega berdiri, ia merapikan sedikit jas kantornya yang kucel. Dan pria itu berjalan dengan angkuhnya keluar restoran.
"Maafin calon suamiku ya, dek. Oh iya, untuk dessertnya cuma puding sama oreo cheesecake aja." Erika tersenyum kecil. Lalu ia mengikuti langkah Rega dari belakang.
Kayla tersenyum lirih. Ia berdiri dan tanpa terasa air matanya sudah berjatuhan.
Kenapa takdir sekejam ini, Tuhan?
Sementara di parkiran. Erika menarik pelan tangan Rega agar pria itu berhenti. "Mas Rega kenapa marah mulu sih?" tanyanya sambil memeluk pinggang lebar Rega.
Rega yang merasa tidak nyaman langsung melepaskannya. "Kamu pulang naik taksi saja, saya ada urusan sebentar."
"Tapi Mas, inikan sudah malam." Ucap Erika dengan manja. Rega berdecih kesal.
"Saya bilang ada urusan! Kamu sudah besar, bukan anak kecil lagi, jadi pulang dengan taksi, bisa?" ucap Rega dengan penuh penekanan. Erika mengerucutkan bibirnya.
"Mas ini kenapa sih? Tadi di dalam romantis banget, kenapa sekarang beda?"
Karena saya ingin membuat wanita itu cemburu.
Rega diam, ia menatap kepergian Erika yang sudah masuk ke dalam taksi tanpa menunggu jawaban darinya.
Pria itupun segera masuk ke dalam mobil ketika melihat mantan istrinya keluar restoran. Mengunci restoran itu lalu datanglah seorang pria yang berpakaian rapi mendekati wanita itu. Tapi yang membuat dirinya semakin panas adalah ketika wanita itu dipeluk oleh sang pria. Bagaikan drama klasik yang sering ditonton ibunya.
Tanpa pria itu sadar, tangannya sudah mencengkeram erat stir mobil. Urat-urat tangannya semakin menonjol dan giginya bergemulutuk kuat.
Jadi, ini yang membuat wanita itu biasa saja tadi? Baiklah, kita lihat siapa yang akan menang dalam permainannya kali ini.