Kayla berjalan pelan dengan wajah yang masih sembab. Ia mengambil kantung plastik lalu memasukkan sisa makanan yang biasanya disiapkan untuk makan siang karyawan. Kayla sedikit tersenyum karena ada 2 kotak nasi—satu miliknya yang tidak ia makan dan satunya milik temannya yang memang memberikannya secara sukarela—bisa dijadikan sarapan paginya bersama sang bibi. Ia akan langsung memasukkannya ke dalam kulkas dan ketika pagi hanya tinggal dipanaskan.
Setelah selesai, Kayla mematikan semua lampu restoran, lalu ia keluar dan menutup pintu rapat-rapat. Tidak lupa ia menguncinya. Biasanya bukan dirinya yang memegang kunci, tapi bu Disa, karena sekarang bu Disa tidak ada, jadi terpaksa Kayla lah yang disuruh oleh managernya itu untuk membawa kunci restoran.
Tiba-tiba saja Kayla merasakan ada tangan yang menepuk bahunya. Kayla membalikkan tubuhnya dan tersenyum melihat orang itu.
"Assalamu'alaikum.."
"Waalaikumsalam.. Kak Imran kok di sini?" tanya Kayla bingung melihat pria itu ada di tempat kerjanya.
"Ya.. gimana ya, kamu kan pernah kasih tau aku kalau kamu kerja di restoran ini, ingat? Sewaktu aku mengantarkan kamu dan Shaniya pulang ke rumah ayahnya," jawab Imran sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kayla mengangguk samar.
"Iya, terus kenapa?"
"Aduh.. kenapa kamu tidak peka sih La? Kamu itu gak beda jauh sama yang dulu ya, eh.. tunggu, kamu.. habis nangis?" Imran mengerutkan keningnya menatap seluruh permukaan wajah Kayla dengan detail.
"Ngg.. KAK IMRAN!"
Wanita itu terkejut ketika hendak menjawab tapi pria di hadapannya dengan kencang menariknya ke dalam pelukannya. Kayla merasa sesak. Imran memeluknya terlalu erat. Bahkan ia berusaha memberontak tapi tenaganya tidak sekuat pria itu.
"Kak Imran kenapa? Lepas kak, sesak!" lirih Kayla karena ia merasa sedikit takut akan perlakuan Imran kepadanya.
"Astaghfirullahaladzim." Imran dengan cepat mengusap wajahnya lalu menyugar rambutnya agar tetap klimis.
"Aku ingin pulang kak, permisi." Kayla baru saja hendak melangkah, namun tangannya dicekal oleh pria itu.
"Maaf La, maaf buat kamu takut, tapi.. aku gak tega ngeliat wajah kamu yang sembab, aku tau kamu butuh sandaran, jadi aku pikir.."
"Maaf Kak, tapi aku tidak membutuhkan itu, kita bukan siapa-siapa, apalagi ini tempat umum, siapa saja bisa melihat kelakuan kita tadi, jadi aku tidak ingin ada fitnah lagi yang menyebar kak," tukas Kayla dengan suara yang lembut penuh dengan permohonan.
Imran yang sadar akan hal itu hanya bisa menganggukkan kepalanya. "Jika kamu lupa, dulu kita pernah ada hubungan La, Aku gak bisa tahan diri buat gak meluk kamu, aku minta maaf La.."
"Itu dulu, kak, lupakan masa lalu, saat itu kita masih muda. Sekarang Kak Imran pulang, aku juga sudah lelah ingin pulang dan tidur di rumah."
"Aku antar."
"Aku bisa naik angkot Kak," tolak Kayla halus.
"Sudah terlalu malam La, tidak baik perempuan seperti kamu pulang sendirian naik angkot, kalau ada yang tidak diinginkan bagaimana?" Ucap Imran mencari alasan agar Kayla bisa pulang bersamanya.
"Aku akan berhati-hati, lagipula jam segini biasanya masih ramai."
"Kalau kamu naik angkot, otomatis angkot berwarna merah biru tua itu akan melewati jalan raya puspitek yang rawan akan bahaya, kita gak tau kan kapan bahaya itu akan mengancam?" lanjut Imran berusaha keras agar misinya untuk mengantarkan Kayla pulang berhasil.
Kayla menghembuskan napasnya pelan. Lalu ia mengangguk, wanita itu sedang malas berdebat panjang dengan seseorang. Lagipula, Imran mempunyai niat baik mengantarkan dirinya pulang dengan selamat sampai tujuan.
Selang beberapa menit, mobil Imran terjebak macet di depan pasar tradisional, yang memang sudah langganan macet setiap harinya. Dan keheningan pun tak terelakkan diantara kedua manusia itu. Imran sibuk menatap jalan sambil sesekali melirikkan matanya melihat Kayla yang sedang menatap keluar jendela.
"Weekend kamu gak libur La?" Lidah Imran sangat gatal untuk mengajak Kayla berbicara. Oleh sebab itu, ia sengaja menanyakan hal itu kepada wanita cantik di sampingnya ini.
"Libur. Tapi aku memang sudah mengambil jadwal weekend."
"Kamu gak capek?"
"Kerja itu tidak mengenal lelah kak demi sesuap nasi, jadi dibawa santai aja."
Imran mengangguk. Ia sangat kagum akan kegigihan wanita itu dalam bekerja. Jarang ada wanita di zaman sekarang yang rela banting tulang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, biasanya wanita cantik seperti Kayla diluaran sana lebih mementingkan cara instan yaitu dengan cara merebut suami orang.
"Kak Imran, kenapa tadi datang ke restoran. Kalau kakak mau makan, harusnya dibawah jam 9 kak, sebelum tutup."
"Oh nggak kok, tadi emang kebetulan lewat situ, yaudah sekalian aja mampir, aku kira masih buka, eh ternyata pas datang, kamu malah sudah mengunci restoran itu."
"Oh..." Kayla hanya manggut-manggut. Dan Imran hanya bisa menggigit lidahnya karena berbohong kepada wanita yang masih dicintainya itu. Ya, pria berusia 29 tahun lebih 11 bulan itu benar-benar masih sangat berharap bahwa wanita di sampingnya dapat menjadi seseorang yang berharga dalam hidupnya kelak. Dan ia berjanji bahwa ia tidak akan melukai wanita itu walau hanya seujung kuku pun.
"Bagaimana kabar Mama, Kak?" tanya Kayla penasaran, karena sudah lebih dari 10 tahun mereka tidak bertemu. Padahal dulu, ibunya Imran sangat menyukai Kayla, dan hubungan mereka dulu direstui olehnya. Bahkan setiap Kayla diajak main ke rumah Imran, ibunya selalu saja mengajaknya berbincang, memasak, membuat kue, sedangkan Imran sendiri main game kesukaannya di ruang tamu.
Pengalaman itu takkan pernah dilupa oleh Kayla. Ia akan terus mengenangnya. Semuanya terasa mudah dulu, sebelum Imran memutuskan untuk kuliah dan hubungan mereka pun berakhir karena tidak bisa melakukan ldr.
"Baik, La. Mama sekarang lagi suka buat rajutan baju untuk bayi, lucu banget. Kata dia, buat anakku nanti." Imran menjawabnya dengan semangat.
Kayla tersenyum membayanginya. Bagaimana wajah wanita yang sudah menua itu merajut dengan perasaan sehingga terbuatlah baju kecil nan lucu untuk bayi. Kayla jadi merindukan ibunya Imran. Bagaimanapun juga, ia sudah menganggap ibu Imran sebagai ibunya sendiri.
"Kode itu Kak, supaya Kak Imran cepat nikah. Aku yakin kok, pasti perempuan diluar sana banyak yang suka sama Kakak, udah ganteng, mapan, dokter, dan umur juga sudah matang. Apalagi yang kakak tunggu?" Kayla mengucapkannya sambil menatap Imran yang juga menatapnya.
Mobil berhenti tepat di lampu merah. Imran masih menatap Kayla, dan perempuan itu juga membalasnya sambil tersenyum kecil.
"Aku udah ada calon, perempuan itu sangat cantik, baik. Tapi sayang ketika aku kembali menemukannya, kenapa dia sudah menikah dan memiliki anak? Padahal disetiap doa aku selalu menyebut namanya. Dan disaat dia berkata bahwa dia sudah bercerai, bolehkah saat itu aku merasa ada kesempatan kedua untukku, La?" Jawab Imran sambil menyelami mata indah Kayla.
Kayla yang semula tersenyum kini dengan perlahan bibir itu membetuk sebuah garis. Matanya mengerjap-ngerjap ketika menyadari jawaban yang diberikan Imran. Kayla memalingkan wajahnya ke jendela mobil di sampingnya.
"Katakan padaku Kak, apa yang Kak Imran bicarakan tadi itu tidak ada maksud bahwa perempuan itu diriku kan? Katakan sejujurnya bahwa aku terlalu percaya diri menganggap bahwa itu diriku." Kayla menatap jalanan malam yang dihiasi berbagai spanduk caleg.
Imran menatap fokus jalanan, matanya terus menatap kendaraan beroda empat itu berjalan sedikit demi sedikit. Lalu bibirnya membentuk sebuah senyuman samar.
"Ternyata kamu masih pintar ya seperti dulu, ya aku maksudkan itu kamu, La. Sampai sekarang aku masih tidak bisa melupakanmu, La."
Kayla menggeleng. "Nggak. Kak Imran harus melupakanku, biarlah itu menjadi masa lalu kita, Kak Imran gak boleh seperti ini, Kak Imran harus mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku."
"Tapi aku ingin kamu La, aku maunya kamu. Bisakah kamu memberikan waktu untukku agar berjuang kembali mendapatkan hatimu La? Menghapus nama mantan suamimu dari hatimu, biarkan aku berjuang, La."
Kayla tidak menjawabnya. Ia mengahapus air mata yang perlahan keluar dari sudut matanya. Kenapa tiba-tiba ia merasa sedikit khawatir dengan perasaannya kini.