"Jangan nangis, La. Jangan biarkan air mata ini keluar karenaku, cukup saat itu saja ketika aku meninggalkanmu ke Amerika." Ingin sekali Imran menghapus air matanya. Tangannya gatal untuk segera melakukan itu, tapi pikiran dan hatinya tetap menolak agar ia menahan diri.
"Jujur Kak, saat ini aku sedang membenahi hati dan pikiranku yang kacau. Kalau Kak Imran ingin seperti itu, lakukanlah dengan cara kakak, tapi jangan sampai melewati batas. Dan Kak Imran juga harus tau, kalau aku tidak bisa memberikan harapan lebih, kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya bukan?"
Imran yang merasa ada sedikit kesempatan untuknya langsung mengangguk antusias.
"Iya La, aku akan melakukannya sesuai dengan caraku sendiri." Tanpa terasa bibirnya melengkung membuat sebuah senyuman.
Setelah itu, mobil Imran memasuki sebuah gang dan sampailah mereka di sebuah rumah kecil yang sederhana. Lalu Kayla melihat ada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di depan sambil merokok dan menyesap kopinya.
"Assalamualaikum, tan." Kayla mencoba untuk mencium tangan kanan Friska—tantenya namun segera ditepis oleh wanita itu.
Imran yang melihatnya menggelengkan kepala sambil berucap istighfar dalam hati.
"La, aku pulang ya, udah malem banget ini."
Tiba-tiba saja Friska menatap Imran yang baru keluar dari mobil mewah dengan tatapan smirknya. Imran yang ditatap seperti itu berusaha menampilkan wajah ramahnya.
"Selamat malam bu," sapa Imran ramah.
"Dapet juga langganan baru La, kayaknya yang ini lebih kaya dari si Rega ya? Masih muda lagi, pinter kamu nyari mangsanya. Langsung dapet yang seger begini." Friska menyesap kopinya lalu mulai menghisap rokok dan mengeluarkannya diudara malam.
Kayla yang mendengar perkataan pedas tantenya hanya bisa memejamkan matanya karena hatinya merasa pedih. Tidak adakah di dunia ini seorang pun yang mempercayai dirinya? Ya Allah, Kayla ingin ada seseorang yang membantunya mengungkap fitnah itu, agar ia bisa hidup tenang dan damai.
Dan semua pemandangan itu tidak luput dari mata Imran. Ia dapat merasakan rasa sakit Kayla yang sebenarnya hanya bisa dirasakan oleh wanita itu. Imran tidak tau apa masalahnya dan bagaimana bisa tante Kayla menyebutnya seperti itu?
"Dia.. kakak kelasku dulu tan, namanya Kak Imran." Setelah mengucapkan itu, Kayla mendekati Imran yang berdiri di depan mobilnya. "Kak Imran, maaf ya atas perkataan tante tadi. Oh ya, kakak mau pulang kan? Terima kasih kak sudah mau mengantarkanku pulang.."
"La, sebenarnya aku penasaran, apa yang terjadi sama kamu? Tapi aku tau La, aku gak boleh melewati batas, dan aku hanya bisa menunggu sampai kamu menjelaskan sendiri padaku." Imran tersenyum.
Kayla menundukkan kepalanya. Ia mengangguk kecil.
"Aku pulang ya La, jaga diri kamu. Assalamualaikum.." Imran melirik sejenak tante Kayla yang masih menatapnya tajam. Tapi ia berusaha membiarkannya dan beranjak masuk ke dalam mobil. Setelah itu ia membawa mobil itu pulang bersamanya. Dalam hati ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Kayla.
"Ternyata kamu tinggal di sini." Seorang pria berkaca mata hitam melihat semua kejadian di depannya. Ia bersembunyi di sebuah pilar kecil samping kontrakan. Ia mendengar semuanya. Lalu setelah itu, ia berjalan menuju gang sempit tempat ia memarkirkan mobil tadi.
•••
Aceh, Juni 2011.
"Assalamualaikum, bang Fikram..." Seorang gadis remaja dengan gamis hijau dan jilbab hitam menutupi d**a itu berdiri di depan pintu rumah seorang pria yang sudah menganggapnya sebagai adik.
Tak berselang lama. Pintu terbuka menampakkan seorang wanita paruh baya yang tersenyum menatapnya.
"Bunda, bang Fikramnya ada?" tanya gadis itu antusias.
"Ada, Kayla. Lagi ngobrol sama Gista di ruang tamu. Daritadi Bunda terus saja berada di tengah mereka, agar tidak terjadi sesuatu yang menimbulkan zina." Langsung saja, ibunya Fikram mengajak Kayla masuk ke dalam rumah.
Kayla berdecak ketika melihat sahabatnya—Gista—tengah bermain PS berdua dengan Fikram. Mereka tampak semangat dan saling melempar ucapan untuk melemahkan lawan masing-masing.
"Ck! Bang Fikram ini ya, udah mau buka puasa masih aja ngajak main PS sahabatku ini. Tadinya gak usah aku kenalin aja, kalau jadinya maksiat kayak begini." Kayla duduk di sofa sambil menatap mereka.
"Siap ustadzah. Cuma ngabuburit aja sambil main PS," jawab Gista dengan cengirannya yang khas.
"Adek ngapain di sini? Emang gak diomelin Tante Friska?" tanya Fikram dengan tatapan masih fokus pada televisi yang menampilkan sebuah game di depannya.
"Tante pergi lagi, Bang. Nggak tau sama siapa tadi. Makanya aku ke sini, biar buka di sini bareng Bang Fikram sama Bunda." Kayla menghela napasnya kasar.
Dia sudah sangat dekat dengan keluarga Fikram. Walaupun hanya tetangga, keluarga Fikram menganggapnya sebagai adik. Keluarga Fikram juga sangat tau bahwa Kayla selalu dikasari oleh Tantenya. Bahkan sempat Bunda Fikram ingin melaporkan kepada RT setempat, tapi Kayla mencegahnya. Ia tidak ingin tinggal sendiri di rumah. Dan ia tidak ingin tantenya dianggap sebagai orang jahat.
"Kebetulan! Aku ngajak bang Fikram untuk buka bareng di rumah, Mama sama Papa ngundang dia, aku juga sekalian mau ngenalin bang Fikram," ucap Gista dengan pipi yang bersemu merah. "Aku juga tadi mau ke rumah kamu Kay, sekalian ajak kamu juga, eh ternyata kamu udah ke sini duluan."
"Kenalin abang sebagai apa Gis?" Ucap Kayla menggoda. Fikram hanya bisa tersenyum samar.
"Ah, Kayla, diem deh, jangan bikin aku salting gini. Gak enak sama Bang Fikram." Gista memeluk bantal sofa dan membenamkan wajahnya di sana.
"Udah, dek. Sekarang jam 5 lewat, abang mau siap-siap dulu ya. Biar enak gitu di depan calon mertua." Fikram bangkit dengan senyuman lebarnya.
"Fikram! Kuliah dulu yang benar, baru ngelamar anak orang," jawab Bunda sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang putra sulung.
"Ngebet banget dia tuh Bun, padahal Gista juga lagi kuliah jurusan Dokter spesialis, jadi harus sabar ya bang, Gista kan maunya nikah pas lulus kuliah," balas Kayla sambil terkekeh.
Fikram berdecak sebal. Dengan cepat ia berjalan menuju kamarnya.
Setelah beberapa menit di perjalanan, sampailah mereka di sebuah rumah minimalis bertingkat dua.
Gista dengan semangat mengajak Fikram dan Kayla masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya mereka di dalam, sudah disambut hangat oleh kedua orang tua Gista.
"Ma, Pa, kenalin dia Kayla, sahabat SMA ku yang pernah aku ceritakan, dan dia Fikram, tetangga Kayla yang..." Gista kelu untuk melanjutkan ucapannya.
"Yang sedang dekat dengan Gista, Tante, Om." Jawab Fikram dengan senyuman ramahnya. Gista dan Kayla membelalakan matanya. Sedangkan orang tua Gista saling menatap dan tersenyum penuh arti.
"Yasudah, mari silahkan masuk. Kita ngobrolnya di dalam. Sebentar lagi azan maghrib." Papa Gista menimpali.
"Kok aku deg-degan gini ya, Ta?" ucap Kayla sambil menatap Gista yang duduk di sampingnya.
"Kenapa? Mama Papa aku baikkan?"
"Aku gak—"
"Assalamualaikum, maaf telat."
Semua pasang mata menoleh ke arah pintu yang terdapat seorang pria berkemeja dengan tampilan yang sudah acak-acakan.
"Rega. Sini buka puasa bareng. Tante kira kamu buka puasa di kantor," ucap Mama Gista.
Pria bernama Rega itu hanya mengangguk lalu ikut bergabung dengan mereka. Lalu tatapannya tiba-tiba saja jatuh pada seorang gadis yang sedang duduk di hadapannya dengan kepala yang menunduk. Dan ketika kepala itu terangkat, betapa kagumnya ia melihat gadis yang begitu cantik.
"Bang Fikram, Kayla. Kenalin, dia masku, anak dari Kakaknya Papa namanya Mas Rega."
"Iya, dia di sini sedang membantu Papanya Gista untuk menangani perusahaan cabang keluarga yang sedang kolaps," ucap Mama Gista.
Rega mengangguk sambil tersenyum, ia berjabat tangan dengan Fikram dan mereka saling menegenalkan diri satu sama lain. Tapi ketika ia menyodorkan tangannya kepada gadis berkerudung itu, yang dia dapatkan hanyalah tangkupan kedua tangan di dadanya.
"Regaksa Airlangga."
"Shakayla," balas gadis itu dengan senyuman ramahnya.
•••
"Cantiknya cucu Oma, mau kemana sayang?"
Shaniya tersenyum lebar. Gadis kecil itu sangat bangga mengenakan pakaian daerah dari Jawa Barat. Memakai kebaya dan juga rambut yang sudah dihias dengan rapi.
"Shaniya mau ke pentas seni, Oma. Iyakan Pa?" ucapnya sambil mendongak melihat Papanya yang menjulang tinggi.
"Iya sayang, ayo berangkat. Nanti telat loh."
"Oma, Yaya berangkat dulu ya."
"Iya, hati-hati dijalan sayang, dah."
Rega menuntun anaknya naik ke mobil. Lalu dengan cepat ia segera duduk di kursi pengemudi dan mulai mengemudikan mobilnya. Tapi ada sesuatu yang membuat dirinya heran, anaknya tampak murung.
"Yaya kenapa?"
Shaniya menggeleng. Tangannya bersidekap di d**a dan matanya menatap keluar jendela.
"Jujur sama Papa sayang, kenapa?" tanya Rega sekali lagi.
"Mama nanti datang gak ya Pa? Udah lama Yaya gak ketemu Mama." Shaniya menghela napasnya pelan.
Rega yang mendengarnya hanya bisa terdiam. Lalu tanpa ia sadari tangannya mencengkeram erat stir mobil, giginya menggertak kasar ketika ingatan mantan istrinya yang dipeluk pria lain muncul di benaknya.
"Yaya kangen Mama, Pa. Kata Oma, Mama jahat sama Papa, tapi Mama baik Pa, Mama gak jahat. Mama selalu bilang ke Yaya, katanya Yaya harus baik, jangan nyusahin Papa. Tapi kenapa Oma malah bilang Yaya mau punya Mama baru? Yaya gak mau Pa.. Yaya maunya Mama Yaya..." lirih Shaniya dengan air mata yang sedikit mengalir.
Susah Ya, hati Papa sudah terlalu sakit karena Mama kamu.