Chapter 9

1036 Words
Kayla yang sedang merapikan meja dan bangku kemudian menatanya agar rapi melihat kalender yang terdapat di ujung restoran. Kayla berjalan mendekat, ia mengingat kembali tanggalnya. Lalu dibukanya buku note kecil yang selalu ia simpan di saku. Pensi anakku sayang. Jam 9. Kayla menepuk keningnya. Oh Tuhan, ia melupakan bahwa hari ini Shaniya akan ikut lomba nyanyi di sekolahnya. Ia harus meminta izin kepada Bu Disa. Bagaimanapun juga ia tidak boleh mengecewakan anaknya. Lalu ia melihat seorang wanita masuk ke dalam restoran dengan menggunakan dress hitam yang mencolok. Kayla tersenyum kecil dan langsung mendekatinya. "Assalamualaikum, Bu Disa.." sapanya dengan sopan. "Iya, kenapa Kayla?" "Bu, saya minta izin untuk pergi sebentar saja, hanya sampai jam 12, setelah itu saya balik lagi ke sini." Kayla berharap atasannya itu dapat memenuhi permintaannya. Tapi, semua itu tidak terkabulkan saat Bu Disa menjawabnya. "Kayla, kamu tau kan kalau weekend ini lebih banyak pelanggan yang datang ke resto?" ucapa Bu Disa dengan kening yang mengernyit. "Iya Bu, saya minta waktu sebentar saja. Soalnya saya mau melihat anak saya ikut lomba bu," jawab Kayla penuh permohonan. Bu Disa menggeleng. "Maaf Kayla gak bisa, saya gak mau para karyawan lain keteteran. Jadi kamu harus tetap di sini. Saya akan memberikan izin itu hanya dari jam 11 saja." "Bu... Saya mohon," lirih Kayla. "Maaf sekali lagi Kayla, untuk hari ini tidak bisa, banyak sekali pekerjaan yang harus kamu lakukan. Kamu baru bisa keluar dari jam 11, semoga anakmu bisa mengerti La," jawab Bu Disa dengan tegas. Lalu wanita itu berjalan menuju ruangannya sendiri. Kayla mendesah pelan. Mengusap wajahnya yang tidak terpoles makeup sedikitpun. Maaf, Ya. Maafin Mama, Mama janji akan datang. Kayla dengan cepat melaksanakan tugasnya. Satu persatu orang datang ke restoran, dan semakin siang restoran itu semakin ramai. Dilihatnya jam yang sudah menunjukkan pukul 10 lewat 15, dalam hati Kayla sangat berharap bahwa anaknya tidak marah padanya nanti. ••• Shaniya duduk dengan gelisah. Tangannya saling memilin satu sama lain. Matanya terfokus pada pintu keluar dan masuk orang tua. Gadis kecil itu sangat berharap Mamanya bisa datang. "Yaya gugup ya nanti mau nyanyi, sayang?" tanya Rega pada putri semata wayangnya. Shaniya menggeleng dengan wajah yang ditekuk. "Mama mana Pa? Yaya gak mau nyanyi kalau Mama gak ada!" tukas Shaniya. Rega menghela napasnya. Kenapa putrinya sangat mengharapkan wanita itu datang? Padahalkan dirinya sudah ada di sampingnya untuk menemani. "Kan udah ada Papa, sama Papa aja ya." "Mau sama Mama, Pa.." lirih Shaniya. Rega sejujurnya tidak sanggup melihat anaknya yang seperti ini. Tapi ia terlalu gengsi untuk menelpon mantan istrinya itu. Biarkan saja dia tidak datang dan Shaniya pasti akan membencinya. Siapa suruh wanita itu datang terlambat? "Mohon perhatian semuanya. Nah, sekarang adalah waktu yang ditunggu-tunggu, yaitu lomba menyanyi antar kelas. Jadi mohon untuk semuanya harap tenang dan bisa menikmati acara selanjutnya.." "Mama mana Pa? Bentar lagi Yaya mau tampil," ucap Shaniya cemas. "Udah Yaya maju aja, kan ada Papa yang melihat. Mungkin aja Mamamu lagi sibuk," jawab Rega sekenanya. Beberapa menit kemudian MC mengumumkan bahwa peserta berikutnya yang akan tampil adalah Shaniya. Dan Rega yang mendengarnya langsung tersenyum lalu mengecup tangan mungil anaknya itu. "Maju ya sayang, kan ada Papa, kamu harus ikut lomba, kalau menang kan Papa juga yang bangga sama Yaya," ujar Rega dengan lembut. Shaniya menatapnya lama lalu mengangguk. "Iya Papa," jawabnya lesu. Rega tersenyum lebar lalu mengecup rambut putrinya. Dan dilihatnya Shaniya sudah berjalan ke atas panggung. Di atas panggung anak berusia 7 tahun itu menatap sekelilingnya. Terdapat banyak penonton dan yang ia cari belum ada juga. Shaniya berdoa dalam hati. Ya Allah, Shaniya mau Mama datang. Shaniya kangen Mama. "Ayo sayang, silahkan mulai," ucap MC itu. Dan Shaniya menatap lagi pintu masuk, saat itu juga bibirnya membentuk sebuah senyuman lebar. Kala ia melihat wanita yang sangat ia ingin kan hadir di acara pensinya kali ini. Mamanya datang. Dan sekarang Mamanya sedang berdiri di depan panggung sambil terus menatapnya. "Kamu bisa, Yaya pasti bisa. Maaf Mama datang telat," ucap Kayla pelan. Shaniya mengangguk antusias. Dan anak cantik itu mulai bernyanyi dengan riang dan ceria. Sementara di sisi lain, Rega menatap sosok wanita yang baru saja datang. Wanita itu memakai jeans hitam pudar dengan kemeja kebesaran yang dimasukkan ke dalam celananya ditambah dengan hijab berwarna hitam yang membuatnya sangat cantik walaupun tanpa polesan makeup. Rega menatap wanita itu yang masih saja melihat ke panggung. Dimana anaknya sedang bernyanyi. Dan dapat ia lihat sekarang wanita itu sedikit menangis. Kenapa? Kenapa disaat ia ingin membenci wanita itu namun rasa cintanya semakin membesar? Dan kenapa disaat ia melontarkan kata-kata pedas pada ibu anaknya ia merasa sakit hati? Padahal hatinya sudah sangat sakit akibat penghianatan yang dilakukan oleh wanita itu. Dan suara MC menyadarkan Rega dari lamunannya. "Hebat sekali, suara Shaniya sangat bagus. Tepuk tangan sekali lagi untuk Shaniya dari kelas 2B!" Riuh tepuk tangan bermunculan. Shaniya turun dari panggung dan langsung memeluk ibunya. "Yaya kira Mama gak datang." "Maaf Mama telat sayang, Mama banyak kerjaan." "Gakpapa Mama, yang penting Mama datang. Yaya kangen Mama." Kayla semakin mengeratkan pelukannya pada sang anak. "Mama juga, Mama juga, sayang.." "Mama, itu ada Papa, ayo kita ke sana." Shaniya menarik tangan ibunya agar berjalan mendekati kursi sang Papa. Walau sedikit enggan, Kayla tetap mengikuti langkah anaknya. Ketika di hadapan mantan suaminya. Kayla hanya bisa menundukkan kepalanya. Tangannya menggenggam erat tangan kecil Shaniya. Dalam hati Kayla berdoa agar mantan suaminya tidak berkata hal yang menghina dirinya di tempat umum seperti ini. Apalagi ini acara Shaniya, Kayla tidak ingin membuat kacau. "Papa! Yeay, Mama datang!" Girang Shaniya. Rega tersenyum kecil lalu mengusap kepala anaknya. "Mama, Mama duduk di samping Papa, jangan berdiri terus." "Nanti Yaya mau duduk dimana?" jawab Kayla. "Yaya dipangku sama Papa, Papakan kuat." Gadis kecil itu langsung saja duduk di pangkuan ayahnya. Sedangkan Kayla masih berdiri, ia merasa canggung untuk berdekatan lagi dengan mantan suaminya. "Jangan membuat malu, duduk!" geram Rega. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya Kayla langsung menurut. Saat ia ingin duduk tiba-tiba tangannya tidak sengaja menyenggol tangan Rega. Dengan cepat pula pria itu menepisnya. Seakan Kayla adalah kotoran yang sangat menjijikan. "Maaf..." gumam Kayla pelan. Ia masih mengingat dan terus akan mengingat kalimat yang dilontarkan pria itu kepadanya. Jangan pernah menyentuh saya lagi. Karena bagi saya, kamu hanyalah hama yang akan membawa penyakit bagi tubuh saya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD