"Hm, meskipun umur papa saya panjang saya akan tetap mencari alasan agar kita bercerai." ucapan Gentala begitu dingin dan tajam hingga mampu menusuk relung hatiku yang paling dalam. Nyes! Rasanya cukup menyakitkan. Aku menatap wajah Gentala yang masih terlihat datar hampir tidak ada ekspresi. Aku mengangguk seolah setuju apa yang baru saja Gentala ucapkan, padahal hatiku sakit seperti di sengat tawon. Jangan salah paham dulu ya, hatiku sakit karena status janda akan segera ku sandang, sementara mimpi ingin menikah dengan Rangga sudah pudar. Tapi sepertinya jadi janda asik juga ya, asalkan bukan janda pirang, Haha, intermezzo guys. Tanpa izin aku mundur dua langkah kebelakang lalu masuk kedalam kamar yang merupakan satu-satunya kamar tidur di dalam hunian sederhana ini. Sebelum beristi

