Bima melangkah keluar bengkel, matanya langsung tertuju pada siluet mobil mewah yang terparkir di seberang jalan, kontras dengan lingkungan sekitarnya. Dengan langkah berat penuh keengganan, dia menghampiri dan mengetuk kaca jendela dengan buku-buku jarinya yang masih menghitam oleh oli. Kaca itu turun perlahan, memperlihatkan sosok Calista yang sempurna, duduk di balik kemudi dengan setelan linen putih yang masih seputih salju. Aroma parfumnya yang mahal langsung menyerbu, bertolak belakang dengan bau solar dan peluh yang melekat pada Bima. "Masuk," perintah Calista singkat, tanpa menoleh. "Lihat kondisiku. Mobilmu pasti akan kotor," bantah Bima, suaranya rendah sambil menunjuk bajunya yang penuh noda. Calista akhirnya menoleh, matanya menyapu tubuh Bima dari kepala hingga kaki, kaos

