Bima duduk di kursi meja makan, matanya mengikuti gerakan Rita di dapur kecil yang penuh dengan kehangatan. Aroma bawang goreng dan kaldu ayam memenuhi udara, aroma yang jauh lebih membumi daripada wewangian mahal di apartemen Calista. Juno asyik menggerakkan mobil-mobilan plastiknya di atas meja sambil membuat efek suara "brruum", sementara Sisi, dengan penuh konsentrasi, menebalkan garis gambar di buku mewarnainya. "Ayah kemana aja sih, lama banget gak pulang?" tanya Sisi tiba-tiba, mengangkat kepalanya. Spidol merah di tangannya berhenti melayang. Bima tersenyum, tapi rasanya ada sesak di dadanya. "Ayah kerja proyek luar kota, Kak. Kakak rajin kan sekolahnya?" "Rajin dong!" Sisi berseru, lalu meraih tas sekolahnya. "Lihat nih, Kakak dapat nilai matematika seratus tadi!" "Wah, hebat

