14. Pulang Ke Rumah

1418 Words

Bima merasakan getaran halus di paha kanannya, berasal dari saku celana tempat ponselnya disimpan. Dari balik percakapan teknis tentang kompresi mesin dan turbocharger, dia mengeluarkan benda itu. Dua panggilan tak terjawab dari "Cally" dan sebuah pesan singkat, "Di mana?" Keduanya seperti alarm kecil di tengah obrolan mobil mewah yang dipenuhi tawa Ardha dan kerabatnya. Dia membungkuk sedikit ke arah Ardha. "Pak, saya izin keluar sebentar. Calista mencari," bisiknya, suaranya hampir tenggelam dalam diskusi. Ardha mengangguk dengan mata berbinar, meletakkan tangan di bahu Bima. "Pergilah, Bima. Jangan biarkan dia cemas." Setelah berpamitan dengan anggukan singkat pada Malik dan yang lain, yang disambut dengan janji untuk "nge-tune mobil" di lain waktu, Bima melangkah pergi. Jempolnya me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD