Bima masih menempelkan ponselnya di telinga, tapi sudah tidak lagi mendengar suara Calista, malah yang dia dengar adalah bunyi benda yang jatuh menabrak meja kaca. Perlahan, dia menurunkan ponselnya. Layar telah gelap. Panggilan terputus. Dadanya sesak oleh pertanyaan yang menggerogoti, Apa aku terlalu kejam? Kata-katanya tadi terasa seperti batu yang dia lempar ke dalam kolam yang tenang, dan kini dia harus menanggung riaknya yang menyakitkan. Tangannya yang kasar mengusap wajah dengan keras, seolah ingin menghapus lelah dan rasa bersalah yang melekat. Dia terjepit di antara tiga wanita, Rita dengan pengorbanan dan harapannya yang bisu, Calista dengan tuntutan dan gairahnya yang membakar, dan ibunya dengan pujian sekaligus beban moral yang menjadi tanggungan. Dengan langkah berat, di

