BAB 16

1908 Words
Range Rover yang dikendarai oleh Kanata membelah Jalan Jenderal Sudirman yang selalu ramai. Melewati Bundaran Hotel Indonesia, mobil Kanata masuk ke Jalan Imam Bonjol, kini melewati area permukiman tengah kota. Kanata bernapas lega dalam batinnya, mensyukuri keadaan jalan yang tidak seramai Jalan Jenderal Sudirman. Kini pukul delapan malam. Kanata sedang dalam perjalanan menuju RSU Bunda di daerah Menteng, hendak mengunjungi Miyu. Tanpa ditemani Santa—setelah sekian perdebatan sengit—Kanata pergi ke sana sesuai ucapannya di sambungan telepon. Alunan musik menemani perjalanan sunyi Kanata. Tiap nadanya mampu menenangkan degup jantung Kanata yang semakin kencang seiring jaraknya dengan rumah sakit menipis. Aneh. Kanata tidak pernah merasa segugup ini hanya karena hendak menemui seorang perempuan. Walau Kanata tidak pernah menerjunkan diri ke dalam hubungan asmara, bukan berarti pengalaman cinta Kanata nol. Dia tidak polos-polos amat dalam menanggapi suasana-suasana berbau percintaan. Dan sekarang degup jantung Kanata yang abnormal menunjukkan kegugupan Kanata memiliki sangkut-paut dengan asmara. Semakin aneh saja. Mana mungkin Kanata menyukai wanita hamil yang telah bersuami? Kanata melirik bingkisan Starbucks di jok samping. Senyuman tipis langsung tersungging di wajah tampannya. Kegugupannya jadi sedikit sirna. Memang terasa aneh, tetapi sepertinya Kanata perlu menenangkan kepalanya dari gejolak tidak waras yang dia rasakan. Mana mungkin Kanata menyukai wanita hamil yang telah bersuami di negeri orang, bukan? Sengenes-ngenesnya Kanata, dia harus tetap waras memilih tambatan hati. Selesai memarkirkan mobil, Kanata memasuki gedung rumah sakit sambil menenteng bingkisan Starbucks. Tanpa banyak bertanya, dia menaiki lift menuju lantai tujuh. Keadaan rumah sakit masih sama seperti terakhir kali Kanata meninggalkannya, ramai. Beruntungnya, tidak banyak yang mengikuti Kanata menuju lantai tujuh. Mayoritas akan turun di lantai tiga sampai lima. Jadi, Kanata tidak perlu berlama-lama terjebak desakan dengan orang lain. Menginjakkan kaki di lantai tujuh, langkah kaki Kanata tercipta lebar menuju kamar inap Miyu di ujung koridor. Kanata mengetuk pintu kamar Miyu, tidak lama terdengar sahutan izin dari dalam. Lantas, Kanata melangkahkan diri memasuki kamar. Secara kasual, dia menyapa Miyu yang terbaring di ranjang sembari menonton televisi. “Ah, Anda sudah datang. Syukurlah Anda baik-baik saja, Tuan Saionji,” ujar Miyu hangat lengkap dengan senyuman membuat Kanata kembali gugup. Sedikit canggung, Kanata meletakkan bingkisan di meja makan. Memantapkan tekad sekaligus memertahankan kewarasannya, Kanata mendudukkan diri di kursi sebelah ranjang, berhadapan langsung dengan Miyu. Manik cokelat Kanata segera memindai penampilan Miyu secara seksama. Wajah Miyu sudah tidak sepucat tadi pagi. Walau masih lemah dan sedikit pucat, aura wajahnya telah kembali berseri sedikit demi sedikit. Kanata bernapas lega. “Saya membawakan beberapa roti dan jus untuk Anda. Anda sudah makan malam?” “Sudah, satu jam yang lalu,” Miyu tersenyum lebar, “terima kasih banyak, Tuan Saionji. Saya merepotkan Anda.” Kanata tersenyum tipis. “Sudah saya katakan, tidak perlu sungkan. Saya hanya sekedar membantu Anda.” Miyu terkekeh kecil. “Bagaimana bisa saya tidak sungkan? Bantuan Anda benar-benar besar hingga saya bingung memikirkan bagaimana caranya untuk membalas kebaikan Anda.” “Tidak perlu dipikirkan. Kita teman, bukan?” Baik Kanata maupun Miyu sama-sama tercengang oleh kalimat yang diucapkan oleh Kanata. Kanata sendiri tidak begitu menyangka kalimat semacam itu akan keluar dari bibirnya. Yang Kanata niatkan adalah membuat Miyu berhenti merasa sungkan kepadanya. Kanata tidak ingin Miyu terlalu memikirkan bantuan yang Kanata berikan sampai menjadikannya beban yang harus dibalaskan kebaikannya. Kanata sungguh tulus membantu Miyu. Itu saja, tetapi Kanata juga tidak menyangka dia mengeluarkan kalimat demikian. Memangnya mereka bisa saling berteman? Di sisi lain, Miyu juga tidak kalah kaget dari Kanata. Dalam situasi yang pelik ini, Miyu mengemban beban yang paling berat. Dia mengetahui sesuatu yang tidak begitu nyaman untuk dibicarakan dengan Kanata. Maka, ketika Kanata berkata hubungannya dengan Miyu maju selangkah menjadi teman, Miyu tidak nyaman karena mengetahui hubungan mereka sebenarnya sangat melebihi kata teman—tentunya karena ketidaksengajaan. “Uh…, teman?” gumam Miyu membuyarkan kesunyian membuat Kanata mulai panik sendiri. Kanata bangkit berdiri secara sedikit kasar lalu berpindah ke meja makan, membongkar isi paperbag Starbucks demi menyembunyikan gelagat paniknya. Kanata tidak habis pikir. Dia benar-benar malu! Wajahnya sudah seperti kepiting rebus lengkap dengan kepala mengepulkan asap hanya karena mengklaim hubungannya dengan Miyu secara sembarangan! Tidak jauh berbeda dari Kanata, Miyu berusaha menekan aliran darahnya yang tiba-tiba deras menuju pipi demi memertahankan warna pipinya. Kalau Kanata melihat pipi Miyu memerah hanya karena klaim sederhana sebagai teman, mau ditaruh di mana wajah Miyu nantinya?! “Anda ingin makan roti atau kue, Nona Agatha?” tawar Kanata di sela-sela kecanggungannya. Miyu mengulum bibir setelah menggigitnya cukup dalam akibat terjangan kaget sekaligus malu. “Kue.” Kanata membawa dua kotak kue ke nakas di sisi ranjang Miyu lalu kembali ke meja makan. Dia mengeluarkan segelas mango passion dan diletakkan di sisi kotak kue. Selesai dengan menata nakas, Kanata membantu Miyu untuk duduk di ranjang. Kemudian, menarik meja ranjang dan memindahkan kotak kue serta mango passion ke sana. “Ada red velvet, dark chocolate, dan cheese cake. Anda ingin yang mana?” Tanpa berpikir dua kali, Miyu spontan menjawab. “Cheese cake.” Kanata mengganti kotak kue di meja ranjang dengan kotak yang berisi cheese cake. Dibukanya kotak tersebut seraya memberikan sendok kepada Miyu. Aroma manis keju merangsang rasa lapar Miyu. Padahal Miyu selesai makan malam satu jam yang lalu. Tetapi, wangi keju berhasil membuatnya kembali lapar. Miyu tidak akan bingung, wajar baginya untuk merasa mudah lapar. Selagi Miyu melahap cheese cake, Kanata merapikan kue-kue dan tiga botol jus buah dan dua botol teh ke dalam lemari pendingin. Berhubung Miyu akan menjalani perawatan inap selama empat hari, Kanata memilih untuk membelikan stok minuman sehat untuknya. Besok Kanata akan membawakan camilan agar lemari pendingin yang disediakan terisi penuh. Ibu hamil nafsu makannya pasti besar, bukan? “Tuan Saionji, Anda tidak makan?” tanya Miyu di sela memotong cheese cake. Kanata mendudukkan diri di kursi samping ranjang. “Saya sudah makan.” “Maksud saya, kue dan roti yang Anda bawakan.” Kanata mengedip polos. “Oh, itu milik Anda semua.” Jari Miyu spontan menjatuhkan sendok membuat Kanata sedikit kaget. Sejenak dia memerhatikan sendok yang dijatuhkan oleh Miyu lalu berpindah ke wajah Miyu yang memasang raut tercengang. Melihat respon itu membuat Kanata bingung dan kian mengedip polos. “Ada apa?” tanya Kanata. “I—Itu semua untuk saya? Sebanyak itu?” Kanata mengangguk seadanya membuat raut muka Miyu makin panik. Miyu menggeleng cukup keras. “Tidak, tidak bisa, Tuan Saionji. Itu terlalu banyak untuk saya.” “Anda tidak menyukai roti?” “Bukan begitu, porsinya yang terlalu banyak. Saya tidak akan mampu menghabiskannya.” Kanata menyandarkan punggung ke kursi. “Anda bisa memakannya besok. Minta tolong kepada suster untuk menghangatkan roti-rotinya.” Miyu mengerjap kaget. “Eh? Memangnya boleh?” Kanata mengedikkan bahu. “Entahlah, mungkin boleh.” Tanpa bisa dicegah lagi, raut cemberut langsung terpasang di wajah Miyu. Secara sebal dia kembali melahap cheese cake yang tersisa setengah. Raut wajah Miyu yang bersungut-sungut sungguh menarik bagi Kanata. Nyaris saja ia tertawa jika tidak mampu menahan diri. Tidak lama, percakapan itu tidak dilanjutkan. Miyu fokus menghabiskan cheese cake sembari menyimak pemberitaan di televisi. Kanata pun ikut menyimak televisi. Berasumsi Miyu tidak ingin berbicara untuk beberapa menit ke depan sampai kuenya habis. Keheningan yang menyelimuti mereka, entah mengapa, terasa menenangkan dan nyaman. Tidak terasa dingin sama sekali. Aneh sekali. Seolah-olah Miyu sudah nyaman dengan eksistensi Kanata di dekatnya. Walau hening, tidak ada kecanggungan di dalamnya. Mereka benar-benar hanya saling diam, menonton berita televisi bersama-sama tanpa mengisi sebuah obrolan. Padahal biasanya jika terlalu lama hening akan menimbulkan suasana canggung yang membuat tidak nyaman. Kali ini tidak. Miyu melirik Kanata di sisi kanannya. Manik hijau Miyu mengamati sisi samping wajah Kanata yang tampak rupawan. Rahang tegas, kulit putih bersih nan mulus, bulu mata lentik, alis tebal, dan mata cokelat yang berkilau diterpa cahaya. Tidak lupa juga surai kecokelatannya yang tampak acak-acakan namun tidak memberi kesan berantakan, benar-benar alami begitu saja menambah ketampanan Kanata. Miyu jadi teringat percakapannya dengan Aya dan Nana tadi siang. Benar pendapat Nana. Belum tentu juga Kanata adalah orang yang sama dengan pasangan one night stand Miyu. Bisa jadi itu orang lain yang berniat menjatuhkan reputasi Kanata. Lagipula, jika dipikir-pikir, mana mungkin pria semapan dan sebaik Kanata pergi ke club hingga bermain bersama wanita? Untuk pertanyaan yang satu itu, Miyu tidak bisa langsung menilai Kanata begitu saja. Ingat, jangan terperdaya oleh sampul. Tetapi, Miyu juga tidak ingin langsung mengecap Kanata buruk. Astaga, ini benar-benar membingungkan. “Nona Agatha?” Lamunan Miyu buyar. Dia menoleh ke Kanata yang telah menatapnya dengan sorot datar. Buru-buru Miyu memperbaiki ekspresinya agar tidak terlihat mencurigakan. “Ya, Tuan Saionji?” “Anda baik-baik saja? Anda melamun. Apakah ada yang sakit?” Nada datar Kanata yang sarat dengan perhatian langsung menusuk d**a Miyu. Citra baik pria itu semakin tinggi di mata Miyu hingga Miyu jadi meragukan klaimnya tadi siang. Kanata terlalu baik dan murni untuk menjadi pria yang pergi ke club dan melakukan cinta satu malam dengan sembarang wanita. Tetapi, kartu nama yang diberikan Kanata sama persis seperti kartu nama yang Miyu temukan sesudah malam laknat itu terjadi! “Saya baik-baik saja, terima kasih.” “Sungguh?” Miyu berusaha mengangguk seriang mungkin. “Sungguh. Kue yang Anda bawakan sangat enak hingga saya kehabisan kata-kata.” Kanata mendengus geli diiringi senyuman tipis, sukses menyihir Miyu. “Apa itu? Lucu sekali.” Tidak, tidak, Miyu pasti sudah gila. Miyu sudah sering melihat pria tampan. Jadi, seharusnya dia sudah terbiasa dengan tampang-tampang yang terkesan tak manusiawi seperti itu. Tetapi, kenapa reaksi Miyu selalu berlebihan setiap kali berhadapan dengan Kanata? Benar Kanata tampan, tetapi itu seharusnya membuat Miyu juga kebal terhadap paras tampannya! Tidak ingin dilemparkan senyuman tipis Kanata, Miyu menyodorkan potongan kue kepada pria itu. Melihat itu membuat senyuman berbahayanya lenyap, berganti menjadi raut kebingungan. Menekan rasa malunya, Miyu juga bersyukur senyuman berbahaya Kanata telah sirna. “Cobalah, Tuan Saionji. Dengan begitu, Anda akan mengerti bahwa saya tidak melebih-lebihkan.” “Tidak perlu, Nona Agatha.” Miyu memajukan sendok, memaksa. “Sedikit, sekali saja.” Kanata memundurkan kepala. “Tidak perlu, saya mengerti maksud Anda. Habiskanlah, Nona Agatha.” Satu hal yang tidak Kanata ketahui tentang ibu hamil; arus mood yang sangat mudah berubah. Tentu saja indikasi itu juga terjadi pada diri Miyu. Penolakan yang Kanata lontarkan membuat mood Miyu meretak sedikit demi sedikit. Akan tetapi, Miyu tidak mungkin memperlihatkannya kepada Kanata. Jadi, dia berusaha menyembunyikan suasana mood-nya. Padahal sia-sia saja karena pancaran aura dari raut wajahnya sangatlah jujur. Secara lesu, Miyu memasukkan sendok yang dia sodorkan ke Kanata kembali ke mulutnya. Mengunyah potongan kue secara sedikit tidak bersemangat sambil kembali menatap layar televisi. Perubahan raut itu tertangkap oleh mata Kanata. Tak elak, Kanata makin bingung. Sepercik panik juga muncul dalam dirinya. Huh? Dia merajuk? batin Kanata seraya mengamati raut wajah Miyu dari samping. Dia sungguh merajuk sekarang? Hanya karena aku menolak suapan kue darinya? Aneh sekali. Ya, Kanata tidak begitu mengetahui segala situasi yang dialami oleh ibu hamil. Dia tidak punya ide atas gelagat aneh Miyu sekarang. Apa yang kupikirkan merasa sensitif hanya karena masalah sepele begitu? Aish, dasar mood ibu hamil! Mana mungkin juga aku bersikap lancang seperti itu di hadapannya?! rutuk Miyu lama-lama jengkel sendiri. Di suapan sendok terakhir, tiba-tiba saja tangan kanan Kanata meraih pergelangan tangan kanan Miyu. Pria itu mengarahkan sendok ke mulutnya. Secara otomatis, suapan kue terakhir dilahap olehnya. Kejadian itu terjadi begitu saja tanpa bisa Miyu sadari. Dia membulatkan mata ke Kanata yang berwajah datar sedang mengunyah kue. “Anda benar. Rasanya enak.” Astaga, Miyu bisa gila! TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD