BAB 19

3268 Words
“Maaf karena datang tanpa mengabari, Nona Agatha.” Miyu segera menggeleng. “Tidak apa-apa, tidak perlu dipikirkan, Tuan Saionji. Anda berhak datang sesuai keinginan Anda.” Kanata berdehem sekilas sebelum bergeser ke kanan, memperlihatkan Santa yang setia berdiri sekalem mungkin di belakangnya. “Perkenalkan, dia sekretaris sekaligus sahabat saya, Santa. Santa, dia kenalan yang kubicarakan kemarin, Nona Agatha,” Kanata menoleh ke Miyu, “mohon maaf jika terkesan tidak menyenangkan karena tiba-tiba membawa orang asing.” Miyu kembali menggeleng, namun kini juga diiringi lambaian tangan. “Tidak, tidak apa-apa, Tuan Saionji.” dia menoleh ke Santa, melempar senyum dan anggukan seramah mungkin, “Halo, Tuan Santa, saya Agatha Miyu, panggil saja Miyu atau Agatha, senyaman Anda. Salam kenal.” “Salam kenal, Nona Agatha. Senang bertemu dengan Anda. Terima kasih karena telah menjaga Kanata, maaf bila dia merepotkan,” sahut Santa membuat Kanata melirik sinis. “Ah, tidak perlu. Justru saya yang harus berterimakasih kepada Tuan Saionji. Entah apa yang akan terjadi apabila saat itu tidak ada beliau.” Miyu berdiri dari sofa bed dengan bertopang pada tiang infus. Dirinya berniat berpindah ke ranjang agar Kanata dan Santa bisa duduk. Namun, selangkah belum tercipta, Miyu dikejutkan oleh figur jangkung Kanata mendekat secepat kilat padanya. Pria itu meraih tiang infus, tanpa suara mengindikasikan kepada Miyu untuk tidak perlu mendorong tiang tersebut. Ini membuat segaris rona menghiasi wajahnya. “Tuan Saionji, tidak apa-apa, saya bisa sendiri,” ujar Miyu pelan, nyaris seperti cicitan, akibat dari lonjakan gugup. “Tidak apa-apa, saya bantu. Anda harus fokus pemulihan.” Jiwa heboh Santa ingin meledak-ledak melihat adegan bak drama picisan ini. Seumur-umur dirinya menjadi sahabat Kanata, ini adalah pertama kalinya dia melihat lelaki datar itu bersikap selembut itu kepada seorang wanita. Ya, benar, pertama kali. Kanata tidak pernah melakukannya selama masa sekolah dan perguruan tinggi. Perilakunya setara kepada semua orang hingga para perempuan frustasi mengejarnya dan berakhir menyerah. Kini, melihat Kanata bersikap sangat lembut dan tingkat gentleman-nya melewati batas kepada Miyu, Santa tidak bisa memikirkan kesimpulan lain. Mau bagaimana lagi? Ketimpangan perilaku Kanata sangat jelas dan mudah dibaca. Akan tetapi, apa memang mungkin lelaki itu menyukai wanita hamil? Santa tidak tahu kehidupan pribadi Miyu, tapi wanita itu pasti bersuami, bukan? Dan, Kanata menyukainya? Drama macam apa ini? “Oi, Santa.” Santa mengerjap, lamunannya pecah. Dia menoleh kepada Kanata yang telah duduk di sofa bed lalu berganti ke Miyu yang duduk di ranjang. “Sedang apa kau? Duduk.” Santa cengengesan, menyusul sahabatnya duduk di sofa bed usai mengangguk kepada Miyu. Ini membuatnya mendapatkan kesan tengil dari Miyu. Lantas sejenak merasa heran melihat Kanata dan Santa, dua pria itu sangat bertimpang satu sama lain tetapi mereka bersahabat, bahkan rekan kerja. Ah, Miyu tidak harus merasa heran. Dirinya juga demikian dengan Aya dan Nana, terutama Nana. “Bagaimana kabar Anda?” tanya Kanata kepada Miyu, membuka pembicaraan. Miyu tersenyum. “Lebih baik dari sebelumnya dan terus berkembang di setiap menitnya. Terima kasih, semua ini berkat bantuan Anda, Tuan Saionji.” “Sudah saya katakan, tidak perlu memikirkannya. Saya hanya melakukan tindakan manusiawi yang sewajarnya dilakukan.” Tangan kanan Miyu melambai kecil. “Tidak, saya hanya berterimakasih. Saya tidak seperti kemarin.” “Baguslah.” Lihatlah, percakapan yang mengalir sekarang menambah keheranan Santa. Kanata memang bukan tipikal manusia berengsek yang bersikap semena-mena terhadap orang lain, tetapi ia tetap termasuk kategori manusia irit bicara. Kanata tidak akan pernah memulai percakapan kecuali penting. Pria itu juga tidak akan meladeni siapa pun kecuali diperlukan dan bukan topik basa-basi. Di atas segalanya, keiritan suara Kanata tidak bisa diganggu gugat lagi. Dan, lihatlah sekarang, Kanata berbasa-basi dengan seorang wanita. Tidak hanya berbasa-basi, sesekali Santa menangkap basah bibir Kanata membentuk senyuman yang sangat tipis. Itu jelas janggal, sangat-sangat janggal. Sebab, Kanata juga tipikal manusia pelit senyum. Lantas, dengan segala kejanggalan ini, bagaimana bisa Santa tidak berasumsi sesuatu? “Tuan Santa, apakah Anda ingin jus buah?” Berbeda dari sebelumnya, kali ini Santa dapat bersikap lebih keren dalam menutupi gestur kebuyaran lamunannya. “Tidak perlu repot-repot, Nona Agatha. Saya baik-baik saja, sebelumnya sudah terlalu banyak minum bersama Kanata,” jawab Santa kasual, tak sadar bahwa kalimatnya sedikit ambigu hingga mendapatkan lirikan tajam Kanata. Dia baru menyadarinya sepersekian detik kemudian dan segera meralat, “bukan alkohol, tentu saja.” “Baiklah, tapi jika merasa perlu, tolong jangan sungkan untuk mengatakannya. Saya memiliki cukup banyak stok hingga berpikir cukup mustahil untuk menghabiskannya sendirian.” “Tentu—” “Tidak, itu tidak mustahil,” sela Kanata membuat Santa sedikit mendelik kaget. “Anda dapat menghabiskannya, tidak, Anda harus menghabiskannya. Itu bagus untuk imun tubuh.” Miyu mengerjap pelan, tersenyum pasrah. “Sejujurnya, Tuan Saionji, Anda membelikan lumayan banyak. Saya sudah berjuang menghabiskannya sejak kemarin tetapi baru habis satu botol. Beruntunglah saya tidak memiliki masalah mual yang terlalu signifikan.” Tidak hanya menanggung biaya rumah sakit, Kanata juga memasokkan minuman. Wow, kapan lagi dia seperhatian itu kepada orang lain, batin Santa menghakimi fakta antara Kanata dan Miyu yang mulai terkuak satu per satu. Sebagai sahabat Kanata sejak TK, Santa mengenal pria itu bak saudara sedarah. Mereka tidak terpisahkan. Sejak TK sampai perguruan tinggi, mereka selalu satu tempat dan satu jurusan, bahkan seringkali satu kelas. Mereka benar-benar tumbuh bersama-sama hingga saling mengetahui satu sama lain sedalam saudara kandung. Maka, mudah bagi Santa untuk menemukan perubahan pada diri Kanata.    Hanya mengamati interaksi Kanata dan Miyu pada saat ini telah membuat Santa menarik kesimpulan secara pasti. “Uh, permisi.” Suara Santa menginterupsi percakapan Kanata dan Miyu, menarik perhatian keduanya kepadanya. “Bisakah kita membicarakan sesuatu yang lebih kasual?” tanya Santa, mengerling kepada Miyu, menghindari tatapan tajam Kanata. “Aku ingin mengetahui bagaimana kronologi pertemuan kalian. Ah, tidak apa-apakah jika saya menggunakan “Aku” mulai sekarang, Nona Agatha? Agar lebih kasual saja.” Kanata mendelik. “Apa yang tiba-tiba kau ocehkan sekarang, Bodoh? Kau ingin mati?” protesnya dalam bahasa Jepang. Santa sedikit membulatkan mata dan menggeleng skeptis bak orang polos yang tertuduh. “Aku hanya berusaha mencairkan suasana, Kawan. Tidakkah kau merasa sesak karena terus-menerus berbasa-basi dan berinteraksi dengan begitu formal seperti orang kantoran yang membosankan? Kupikir kalian kenalan, huh.” “Memang, tapi belum sedekat itu untuk bersikap kasual satu sama lain. Aku sedang menghormatinya.” Raut jijik langsung terpasang di wajah Santa. “Oh, ayolah, jangan terlalu kolot, Kawan. Kau sudah seringkali menemuinya di kafe, menanggung biaya rumah sakitnya, dan bertukar nomor telepon pribadi. Aku tidak mengerti mengapa kau masih harus formal padanya.” “Aku menghormati Nona Agatha dan suaminya. Kau pikir wajar bagi pria asing untuk akrab dengan istri orang lain, huh?” Perdebatan itu terus berlanjut seolah tidak ada siapa pun di sekitar mereka. Wajar saja, tidak ada dari mereka yang berpikir Miyu dapat memahami bahasa Jepang. Padahal, sebaliknya, wanita itu dapat memahaminya, bahkan menggunakannya. Ada darah Jepang mengalir dalam diri Miyu, tertutupi oleh gen Inggris yang menguasai seluruh fisiknya. Menyimak perdebatan Kanata dan Santa memberikan beberapa tekanan pada d**a Miyu. Kanata berpikir dirinya memiliki suami, dan ia bersikap formal untuk menghormatinya, menjaga diri untuk tetap berada di belakang garis batas yang tak boleh dilewati. Betapa baiknya, bukan? Pria itu tidak pernah bertemu dengan sosok suami Miyu sampai sekarang, namun ia tetap menjaga mindset tersebut. Ia juga tidak pernah mempertanyakannya, padahal penting baginya untuk menemui salah satu keluarga Miyu untuk membicarakan biaya rumah sakit. Secara sederhana, Kanata menunggu Miyu yang membuka pembicaraan terkait hal-hal semacam itu. Dia terlalu sempurna, batin Miyu, tanpa sadar meremas selimut, tatapannya tidak beralih dari Kanata dan Santa. Katakan saja, Kanata Saionji benar pasangan cinta satu malam pada saat itu, lalu dia mau bertanggungjawab. Masalah selanjutnya adalah dunianya yang sangat jauh berbeda dariku. Bagaimana dengan keluarganya, keluarga Saionji? Belum tentu mereka akan menerima wanita antah-berantah bergabung ke dalam silsilah konglomerat. Ya, Miyu takut. Ada begitu banyak poin yang harus dipertimbangkan matang-matang sebelum memutuskan untuk memastikan kebenaran kepada Kanata secara langsung. Memilih memang selalu terasa sulit. Kehidupan Miyu cukup jarang dihadapkan sebuah pilihan, namun dia tahu kesulitannya. Pun kini yang dia hadapi adalah pilihan terbesar yang akan berpengaruh sangat besar pada hidupnya.      Tidak, Miyu tidak berlebihan. Bila dibandingkan dengan Kanata, dirinya benar-benar kecil. Dia tidak memiliki sanak-saudara lagi, hidup sebatang kara sejak lima tahun yang lalu usai kakeknya tiada. Kedua orang tuanya adalah pasangan anak tunggal, jadi Miyu tidak memiliki kerabat. Walau dahulu mereka adalah pasangan dokter, warisannya telah terkuras habis sejak ketiadaan mereka saat Miyu masih berusia sepuluh tahun. Miyu benar-benar tidak pantas bersanding dengan seorang Kanata Saionji. Dan, kenyataan pahitnya, itu benar dalam segala sisi. Cantik? Tidak juga; pintar? Lumayan; berkarisma? Tidak. Semakin memikirkannya membuat mental Miyu semakin tertampar. *** “Baik, kondisi Anda mulai optimal. Semoga Anda dapat terus mempertahankannya sampai benar-benar pulih,” ujar suster yang bertugas check-up Miyu malam ini. “Terima kasih, Sus,” tanggap Miyu diiringi senyum lega. Suster tersebut pergi usai berpamitan, meninggalkan Miyu sendirian di kamar inapnya. Dalam keheningan ruangan, wanita ibu mengubah posisi berbaring ke sisi kanan, menghadap jendela kamar yang tertutup tirai. Mata hijaunya jatuh kepada kunci mobil yang diletakkan di atas meja makan dan jas hitam di atas sofa bed. Benda-benda milik Kanata. Ya, pria itu belum pergi dari sejak kedatangannya di siang hari. Ia tetap singgah meski Santa berpamitan lebih awal karena suatu urusan. Dari sejak kepergian Santa, Kanata menemani Miyu bak wali pasien. Tentu saja Miyu sempat menolak dan menyarankan Kanata untuk pulang, namun ditolak oleh pria itu. Miyu menyentuh perutnya, tepat di posisi rahimnya berada. Dielusnya lembut seraya memulai percakapan dengan buah hatinya. Sebuah rutinitas baru yang dia kembangkan sejak mengetahui kehadiran sang buah hati. “Adek yang kuat, ya, di dalam perut Mama. Sebentar lagi Mama bakal sembuh, kok. Nggak sakit-sakitan lagi. Maaf, ya, gara-gara Mama kamu jadi ikut kena getahnya,” ujar Miyu berdialog, membangun tali hubungan dengan buah hatinya. “Janji, deh, kita makan kue sama es krim kalau sudah sembuh. Adek suka cokelat atau stroberi? Oh, atau vanila?” Bahagia dalam hidup Miyu sesederhana itu, berdialog dengan bayinya di sela waktu senggang. Setiap kali pulang bekerja, dia akan berbaring sejenak untuk bercakap-cakap sebelum kemudian bersih-bersih. Harus diakui, suasana rumah berubah drastis sejak kehadiran calon buah hatinya. Miyu merasa dia tidak tinggal sendirian lagi, padahal buah hatinya belum lahir. Dia merasa ada yang menyambutnya kembali setelah sekian lama hidup sendirian. Hidup Miyu yang terasa hampa dan sepi perlahan menghangat. Setiap kali dia memikirkannya dia tidak pernah merasa tidak takjub. Hanya butuh satu perubahan kecil untuk mengubah sesuatu yang besar. “Nanti Adek punya dua tante yang cantik, tapi bawel. Namanya Tante Aya sama Tante Nana. Nanti kalau ada apa-apa, jangan sungkan ngadu ke mereka. Eh, tapi, kalian jangan sampe komplotan buat ngelawan Mama, ya. Nggak adil, dong, dua lawan satu.” TOK TOK “Nona Agatha, saya kembali.” Miyu menoleh ke belakang, menatap koridor kecil yang menghubungan pintu kamar. “Ah, ya, Tuan Saionji, silakan masuk.” Kanata akan selalu seperti itu, tidak masuk sebelum dipersilakan. Ia memiliki tata krama yang sangat baik, bahkan terkadang terlalu baik hingga Miyu cukup kewalahan meladeninya. “Selamat datang kembali,” ujar Miyu usai berhenti berbaring menghadap sisi kanan, menatap Kanata yang muncul dari koridor kecil. Kanata mengangguk kecil. “Apakah Anda sudah makan malam?” “Belum. Bagaimana dengan Anda?” “Ah.” Kanata tidak segera menjawab. Pria itu membuang muka sejenak sebelum kemudian kembali berkontak mata dengan Miyu. Secara membingungkan, pria itu terkesan dilanda kecanggungan, entah benar atau tidak. “Tuan Saionji?” panggil Miyu, bingung. Ternyata Miyu tidak salah lihat, Kanata memang sedang canggung. Lihat saja, pria itu menggaruk tengkuk lehernya dengan wajah sama bingungnya seperti Miyu. “Ah, maaf,” ujar Kanata, beberapa detik kemudian dia mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan sekantung plastik berisi dua bungkus makanan. “Saya… hanya membeli satu nasi padang karena berpikir Anda sudah makan saat saya kembali. Sebenarnya, saya sempat bingung apakah tidak apa-apa untuk memberikan nasi padang kepada Anda berhubung Anda belum benar-benar pulih hingga mempertimbangkannya terlalu lama sebelum akhirnya memilih untuk tidak membelinya. Maaf, Nona Agatha.”   Kanata segera membuang muka dari Miyu seolah berusaha menyembunyikan sesuatu di wajahnya. Sementara, Miyu terdiam menatap Kanata, hampir melongo. Apa yang pria itu pikirkan benar, tidak begitu bagus untuk memberikan makanan berlemak kepada orang sakit yang sedang masa pemulihan. Niat dan sikap yang Kanata miliki tidak dapat disalahkan, terlebih itu lahir dari tata kramanya yang sempurna. Seharusnya Miyu tidak perlu merasa terkejut lagi. Kanata benar-benar loyal dan sangat perhatian kepada sesama. “Tidak apa-apa, Tuan Saionji. Sebentar lagi suster akan mengantarkan jatah makan malam, silakan makan terlebih dahulu. Terima kasih banyak atas perhatian Anda,” ujar Miyu pada akhirnya, mengakhiri keheningan canggung yang menyelimuti mereka. Kanata sedikit menoleh dan melirik. “Tidak, saya akan memakannya setelah makan malam Anda diantarkan.” Miyu mengerjap. “Tidak, tidak perlu. Anda harus segera makan, saya baik-baik saja.” Kanata sepenuhnya menoleh, menggeleng takzim dengan wajah sangat serius. “Saya tidak bermaksud apa-apa, tapi apakah Anda yakin? Masih tersisa setengah jam lagi sebelum makan malam saya diantarkan. Nasi padang Anda tidak akan begitu hangat lagi.”  Kanata mengangguk lagi. “Tidak masalah. Saya akan menunggu.” Dengan begitu, Kanata meletakkan nasi padangnya di meja makan. Kemudian, duduk di kursi samping ranjang Miyu untuk menonton televisi bersama-sama. Miyu tidak komplain lagi, begini-begini Kanata cukup keras kepala apabila sudah membuat keputusan. Tidak ada yang akan menggoyahkannya. Aroma mint yang segar dan khas dari Kanata segera menyapa penciuman Miyu saat pria itu duduk di dekatnya. Miyu jadi sedikit bergeser ke kiri agar lebih berjarak dari Kanata. Bukan mengapa, entah mengapa saja, aroma itu membuat Miyu berdebar karena menjadi bukti bahwa jarak mereka terlalu dekat. Miyu bukan tipikal yang sering didekati oleh laki-laki, jadi dia cukup canggung setiap kali berdekatan dengan laki-laki. Ya, Miyu orang yang secanggung itu, dan akibatnya seringkali tidak beruntung dalam percintaan. Bagaimanapun, Miyu tidak ingin sikap canggung itu tertuju juga kepada Kanata. Pria itu telah sangat membantunya, akan terkesan tidak etis untuk bersikap buruk padanya. Jadi, Miyu mencoba membuka topik selagi menonton televisi. “Uh… Tuan Saionji.” Kanata melirik sekilas, memastikan apakah Miyu sedang menatapnya atau tidak. “Ya?” “Anda… suka nasi padang?” “Tidak terlalu. Kebetulan hanya ada rumah makan nasi padang di sekitar sini, jadi saya membelinya.” Miyu menatap Kanata. “Anda sudah pernah makan sebelumnya? Gulai daun singkong yang menjadi lauk tetap nasi padang terasa sedikit pedas jika Anda tidak terbiasa dengan makanan pedas.” Kanata menoleh, mengangguk kecil. “Saya tahu, saya sudah beberapa kali makan nasi padang, jadi saya tidak begitu masalah dengan ciri khasnya.” Miyu mendecak kagum, wajahnya spontan berseri-seri. “Whoa, Anda sudah berapa lama tinggal di Indonesia?” Kanata tidak segera menjawab, cukup terkejut oleh wajah Miyu yang mendadak ekspresif. Wanita itu pun tampak bersemangat dan lebih ceria, hampir berubah menjadi orang yang berbeda dari Miyu yang sebelumnya. Bukan hal yang aneh, hanya terasa cukup mengejutkan. Kanata jadi merasa hubungan mereka kian dekat karena Miyu tidak bersikap terlalu formal. Sementara, Miyu baru menyadari sikap ekspresifnya beberapa detik kemudian. Wajahnya sontak memerah malu dan mengalihkan mata dari Kanata. “A—Ah, maafkan saya, saya sedikit terbawa suasana,” ujar Miyu pelan. “Tidak, tidak masalah. Saya justru merasa senang karena tidak perlu terlalu formal,” sahut Kanata lalu kembali menatap televisi. “Rasanya seperti sedang berbicara dengan seorang teman. Kita memang teman, bukan?” Miyu tersenyum. “Tentu saja. Kita teman.” Kata-kata itu meninggalkan kesan pahit di lidah Miyu. Faktanya, mereka melebihi teman. Jika saja Kanata tahu itu, bagaimana reaksinya? Apa yang akan ia katakan nantinya? Miyu tidak ingin berandai-andai. “Ah, apakah Anda ingin makan roti atau jus untuk mengganjal—” Grrr. Kanata dan Miyu terdiam mendengar suara aneh seperti geraman mendadak muncul di antara mereka. Keduanya saling bertukar pandang selama beberapa sekon sebelum kemudian tersipu dan membuang muka, terutama Kanata. “T—Tuan Saionji, sepertinya Anda harus memikirkan diri Anda terlebih dahulu,” ujar Miyu bernada senormal mungkin agar Kanata tidak semakin malu maupun tersinggung. Kanata berdeham cukup keras, menetralisir rasa malunya. “Saya baik-baik saja, tidak perlu dipikirkan.” “Tapi, perut Anda—” Grrr. Mereka tersentak karena suara perut lapar tersebut kembali bergema. Bedanya, itu berasal dari perut Miyu. Kanata segera menatapnya, memperlihatkan wajah tampannya yang masih tersipu kecil. Sementara, Miyu segera menutup perutnya dengan wajah memerah padam. “Sepertinya tidak ada pilihan lain,” ungkap Kanata pelan sebelum kemudian menoleh ke meja makan. “Kita harus makan.” Miyu menunduk malu. “S—Sepertinya begitu.” “Tapi, apakah tidak apa-apa bagi Anda untuk makan nasi padang?” “Saya rasa tidak masalah asalkan saya tidak terlalu banyak makan daun singkong.” “Baiklah, tunggu sebentar.” Kanata beranjak mengambil nasi padang di meja makan lalu kembali ke Miyu. Dia meletakkannya di meja ranjang kemudian menghampiri nakas di dekat lemari pendingin, mencari sendok. Usai mendapatkannya, Kanata duduk di kursi samping ranjang lalu membuka nasi padang. Miyu segera menelan ludah saat wangi gurih bumbu gulai dan rendang tertangkap oleh hidungnya. Ketika Kanata mengangsurkan sendok, Miyu menyadari sesuatu. “Uh… maaf, Tuan Saionji, saya… tidak berniat memakai sendok,” tolak Miyu. Kanata mendongak, berwajah bingung. “Ya?”   “Saya tidak memakai sendok setiap kali makan nasi padang.” “Lalu, memakai apa? Garpu?” Miyu hampir tertawa jika saja tidak segera menggigit bibir. “Tangan kosong.” Kanata terdiam menatap Miyu, hampir seperti melongo. Miyu tahu makan tanpa peralatan makan seperti sendok dan garpu terdengar aneh bagi orang luar negeri. Miyu pun berpikir tidak etis untuk makan dengan tangan kosong di hadapan orang sepenting Kanata. Tapi, mau bagaimana lagi? Dia tidak bisa mengkhianati diri dengan makan nasi padang menggunakan sendok. Miyu mengambil sendok untuk memisahkan nasi dan lauk menjadi dua bagian. Dia menjauhkan posisi jatahnya dari Kanata agar pria itu tidak merasa jijik melihat jatahnya berdekatan dengan jatah Miyu yang disentuh langsung oleh jemari. Usai membagi porsi, Miyu menatap Kanata. “Bagi kami, makan menggunakan tangan adalah hal biasa, sebuah kultur budaya. Tentu saja hanya berlaku untuk makanan sederhana seperti nasi padang. Bagi kami, rasanya jauh lebih nikmat daripada menggunakan sendok karena bumbunya tercampur dengan sempurna,” tutur Miyu pelan-pelan. “Jika Anda merasa tidak nyaman, Anda bisa makan terlebih dahulu tanpa saya.” Kanata menggeleng. “Tidak, saya tidak merasa aneh. Saya hanya merasa terkejut mendengar orang Indonesia makan nasi padang dengan tangan kosong. Maksud saya, makanan yang tidak dibentuk sekecil sushi seperti ini dilahap dengan tangan… saya cukup bingung bagaimana caranya.” “Oh, apakah Anda ingin melihat saya memperagakannya?” Kanata mengangguk-angguk, terkesan sepolos anak kecil yang sedang penasaran. “Baiklah, jadi seperti ini….” Kanata memperhatikan tangan Miyu dengan telaten membongkar bentuk nasi yang telah tersiram bumbu gulai dan rendang usai mencuci tangan menggunakan tisu basah alkohol dan gel. Wanita itu mengambil sejumput nasi bersama daun singkong dan secuil telur dadar. Usai tercampur merata, jemarinya menyendok jumputan nasi lalu menyuapkannya ke dalam mulut secara mulus. Kanata yang berwajah datar pun tak dapat menyembunyikan sorot kagumnya. “Tampaknya benar, lebih tercampur merata daripada menggunakan sendok,” ujar Kanata lalu mengambil tisu basah. “Mungkin saya juga akan menggunakan tangan.” Miyu mengerjap kaget. “Eh? Anda yakin?”   Kanata mengangguk bertepatan dengan selesai membersihkan tangan menggunakan gel. Memperagakan cara Miyu, pria itu membongkar jatah nasinya dan mencampurkannya secara merata. Sontak membuat Miyu terkesima, tak menyangka seseorang sepenting Kanata tak sungkan mencoba kultur budaya Indonesia. Ketika Kanata berhasil melahap suapan pertama, Miyu tersenyum lebar. “Bagaimana?” Kanata mengangguk. “Enak.” “Syukurlah.” Dalam keheningan makan sebungkus berdua, mereka memikirkan hal yang sama, bahwa dari poin ini, hubungan mereka semakin dekat.  TO BE CONTINUED  Wah, sudah berapa bulan ini terbengkalai :""
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD