BAB 18

2308 Words
“Tidak, jangan lakukan seperti itu. Kau belum memiliki data terbaru atas penjualan produk tersebut. Jika kau memaksakannya, pelajari datanya dan pikirkan peluangnya. Aku tidak suka produk yang tergesa-gesa, kau tahu itu, bukan?” “Saya mengerti, maafkan saya, Tuan Saionji. Saya akan memperbaikinya lagi.” Kanata menghela napas pelan. “Kuharap aku tidak akan melihatnya lagi.” “Saya mengerti, mohon maafkan saya. Karena laporan saya sudah selesai, saya undur diri.” Kanata tidak acuh pada CEO yang angkat kaki dari hadapannya. Dia menghempaskan punggung ke kursi, napasnya sedikit berat karena dirundung lelah. Wajar saja, dirinya sudah berkutat di ruang kerja sejak pagi buta sampai detik ini, pukul tiga sore. Kanata melewatkan makan siang, tanpa unsur kesengajaan. Hari Senin memang selalu membawa malapetaka, Kanata sudah terbiasa. Dengan acuh, Kanata meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh dari intercom. Tidak ada yang menarik, hanya terisi sekian notifikasi pesan dari sepupunya di Jepang yang gemar mengomelkan banyak hal. Aplikasi lain yang terisi penuh adalah kalender. Kanata begitu muak melihat isi aplikasi itu, hampir tidak ada tanggal yang tidak terisi catatan. Kehidupannya benar-benar sibuk hingga nyaris tak ada waktu bebas untuk diri sendiri. Sudah terlalu terlambat untuk mengeluh. Sejak dulu Kanata sudah paham masa depannya adalah mewarisi perusahaan keluarga. Itu tidak bisa digugat lagi berhubung Kanata adalah anak tunggal. Kedua sepupunya tidak akan diizinkan untuk menjadi pewaris, paling jauh adalah direktur. Maka, tinggal Kanata yang wajib menduduki posisi beratnya, direktur utama. “Satu bulan lagi, huh?” gumam Kanata, mengamati jadwalnya di kalender ponsel. “Tidak terasa sekali.” Apa yang sedang Kanata bicarakan adalah sisa waktunya dinas di Indonesia. Dia bertugas mengurus dan memantau perkembangan cabang Saionji Phantom di Indonesia selama lima bulan. Berhubung cabang di Indonesia sedikit mengalami kemacetan, Kanata segera bertindak sebelum masalah semakin besar. Alhasil, selama lima bulan meninggalkan Jepang, kantor pusat diambilalih sementara oleh Mikan, sepupunya. Sesuai jadwal, Kanata menempati Indonesia selama lima bulan lalu kembali ke Jepang sesudah segalanya selesai. Kini, Kanata sedikit bingung memikirkannya.   Tidak ada dugaan sama sekali bahwa selama lima bulan hidup di Indonesia akan mengalami kejadian di luar urusan perusahaan. Kepikiran pun tidak. Selama ini, Kanata sering dinas ke berbagai negara, dan tak terjadi apa pun di luar urusan perusahaan. Jadi, melihat apa yang terjadi di Indonesia sekarang membuat Kanata cukup membingungkannya. Mengapa? Kanata tidak seharusnya tenggelam semakin dalam dengan petugas kasir berambut keemasan di kafe Anomali, Miyu Agatha. Selain karena pekerjaan, Kanata harus sadar diri untuk tidak melewati batas dengan wanita hamil. Sejauh ini dia belum bertemu dengan suami Miyu, sampai saat itu tiba dirinya harus tetap pada posisinya, tidak melewati garis batas. Setelah Miyu menyelesaikan perawatannya, segala urusan di antara mereka akan berakhir. Selanjutnya, mereka harus bersikap seperti semula, sebatas kenalan kecil antara pelayan dan pelanggan. Ya, Kanata harus seperti itu. “Halo,” ujar Kanata sesaat setelah menerima panggilan telepon yang masuk di ponselnya. “Oh, demi Dewa, akhirnya kau bisa mengangkat telepon, huh? Kupikir, kau sudah mati di Indonesia. Kesampingkan itu, kau tahu, Sepupu Kecilku? Apa yang baru saja kudengar?” Suara menyebalkan Mikan terdengar dari seberang telepon, si pemanggil. Kanata menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, mencoba membangun ketabahan untuk menghadapi celotehan Mikan. Salah satu dari sekian hal yang Kanata benci dalam hidupnya dan sayangnya itu tidak bisa diubah sama sekali. “Apa?” sahut Kanata tidak minat sambil memijat pangkal hidungnya. “Si Pak Tua kembali mengocehkan pernikahanmu. Baru saja dia mengoceh kepadaku di telepon di saat aku sedang rapat, bayangkan itu! Aku tidak habis pikir lagi, mau sampai kapan Pak Tua itu mengeluhkan urusan yang bukan tanggung jawabku, astaga!” Kanata sudah dapat menebaknya. Apa pun yang Saionji Hosho, sang tetua di keluarga Saionji, lakukan pasti tidak jauh-jauh dari mengeluhkan pernikahan Kanata yang tak kunjung terjadi. Usia tua tidak akan menghalanginya untuk mengusik seluruh anggota keluarga Saionji. Astaga, bahkan fisik pria tua itu tidak termakan usia. Jika tidak mengenalnya, pasti tidak menduga ia sudah berusia delapan puluhan. “Kau bisa mengabaikannya seperti yang sudah-sudah, Mikan,” tanggap Kanata berusaha tidak terdengar kasual. Namun sayangnya sia-sia karena berikutnya Mikan menjerit hingga Kanata harus menjauhkan ponselnya sejenak. “Aku sudah bertahan selama tujuh tahun, tujuh tahun, kau dengar itu?! Lebih lama lagi dari ini, aku akan gila!” Kanata berusaha menahan decak kesal demi keselamatan gendang telinganya. “Apa yang Mizuki lakukan? Dia selalu berhasil mendistraksi Hosho, bukan?”               “Astaga, apa yang kau harapkan dari bocah itu? Dia terlalu sibuk mengurus kantor yang kau tinggalkan. Kau pikir, Hosho akan menelponku jika Mizuki mendistraksinya?” Kanata mengembuskan napas berat. “Fine, lalu kau ingin aku melakukan apa? Kembali ke Jepang sekarang juga? Jangan gila.” “Tentu saja aku tidak akan memintamu untuk segera menikah. Heck, ini bukan drama picisan. Yang kuinginkan adalah kau memiliki cara lain untuk mendistraksi Pria Tua itu dari perkara pernikahan konyolmu.” “Caranya?” “Entahlah. Dengan kau menikah?” Kanata memejamkan mata, menahan letupan emosi. “Mikan, apa bedanya dengan menyuruhku segera menikah?” Terdengar dengusan dari Mikan. “Mau bagaimana lagi? Ini sudah tujuh tahun dia mengocehkan pernikahan dan segala macamnya. Setidaknya, bawa wanita untuk dikenalkan padanya.” “Itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.” “Tidakkah kau memikirkan nasibku dan adikku? Demi Dewa, kasihanilah telinga kami.” “Kalian sudah menjalaninya bertahun-tahun, sedikit lebih lama lagi tidak akan terlalu berbeda.” Mikan menghela napas. “Serius, Saionji Kanata, apa yang kau lakukan dalam hidupmu? Mengurus perusahaan sampai tua, tanpa istri dan anak? Kau ingin mati dalam keadaan perjaka?” “Mikan, sekarang bukan saatnya membahas keperjakaan.” “Maksudku, lihatlah menara perusahaan keluarga kita. Benar-benar tinggi menjulang, tak terkalahkan, akan selalu seperti itu. Tetapi, tidak selamanya dipimpin olehmu, bukan?” “Kau mulai terdengar seperti Hosho.” “Tidak perlu memberitahuku, Bocah.” Kanata tahu di antara keluarga besarnya, pasti tidak hanya Mikan yang mengeluh menjadi tempat pelampiasan ocehan Hosho. Mizuki, adik Mikan, pasti memiliki banyak keluhan yang tak jauh berbeda berhubung ia bernasib sama, bahkan lebih parah. Jika ditelusuri lebih jauh, mungkin Kanata akan mendengar nasib yang sama terjadi pada Kazuha dan Tohma, sepupu terjauhnya. Ini benar-benar memusingkan. “Ayolah, kau sudah 27 tahun. Bukan sekali dua kali media gencar mempertanyakan kehidupan asmaramu, bukan? Dan kau pasti tidak asing lagi dengan wanita. Oh, itu mengingatkanku tentang si desainer kondang di Paris yang setia mengejarmu sejak SMA. Siapa lagi namanya?” Ah, wanita itu, wanita berambut cokelat kemerahan bergelombang, bertubuh semampai dan berwajah cantik dengan aura elegan bak bangsawan. Wanita yang mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Kanata hingga lulus SMA. Ketika Kanata mengira perasaan wanita itu akan berakhir setelah lulus, ternyata tidak, justru semakin subur. Walau sudah ditolak berkali-kali oleh Kanata, wanita itu tidak mengenal kata menyerah hingga Kanata terpaksa membiarkannya. “Christine,” jawab Kanata setelah jeda beberapa menit, cukup tidak ingin mengingat wanita tersebut. “Ah, benar, benar, Christine. Hanakomachi Christine, bukan? Apakah dia masih mengejarmu? Kau benar-benar sampah, membiarkan seorang wanita mengejarmu mati-matian selama bertahun-tahun.” “Aku sudah menolaknya dari awal, kau melupakan poin itu.” “Well, Bung, sepertinya penolakanmu terlalu lembek hingga tidak membuatnya menyerah sama sekali.” Kanata melengos pelan. “Terserah, aku tidak ingin membicarakannya.” “Kau benar-benar tidak menyukainya? Setelah sekian lama dia masih mengejarmu? Wow.” Kanata menghela napas panjang seraya memutar kursi ke belakang, menghadap dinding kaca raksasa yang memamerkan pemandangan Jakarta. “Tidak sama sekali. Aku tetap melihatnya sebagai teman SMA.” “Antara seleramu yang terlalu tinggi atau Christine yang bermasalah, aku tidak mengerti. Jika kau dan dia bersama, Jepang akan lebih geger dari tertimpa gempa,” Mikan mendecak sekilas, “pemimpin menara Saionji dan pewaris tunggal ENEOS Holdings bersatu, wow sekali, bukan?” “Hentikan. Aku tidak tertarik.” “Dengar-dengar dia memiliki keturunan darah biru bangsawan Eropa dari ibunya. Si Tua Murata itu benar-benar selektif memilih pasangan hidup, huh.” Beginilah yang Kanata tidak sukai dari Mikan. Setiap kali ia memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain, wanita itu akan selalu berujung menggosip. Dari niat awalnya menelepon Kanata untuk mengeluhkan Hosho, kini mendadak menggosipkan keluarga Hanakomachi, pemilik perusahaan Agathalomerat minyak dan logam tersohor di Jepang—ENEOS Holdings. Sudahlah, Kanata tidak akan pernah bisa menang melawan sikap bebas Mikan. “Aku harus pergi. Titip salamku pada Mizuki.” “Huh? Cepat sekali. Kau—” “Jaa.” Tanpa menunggu balasan Mikan, Kanata segera mengakhiri sambungan. Lebih lama lagi meladeni wanita itu hanya akan membuat kepalanya pening. Meletakkan ponselnya secara asal-asalan di meja, Kanata kembali menatap pemandangan Jakarta yang tak pernah sepi. Langit sedang cukup berawan sehingga suhu udaranya tidak begitu panas. Mungkin hujan akan turun pada sore hari ini. Kira-kira, apa yang sedang Nona Agatha lakukan sekarang? batin Kanata tanpa sadar, mendadak memikirkan Miyu tanpa diundang. Tak lama, dia menghela napas berat, mulai merutuki diri yang sepertinya tidak waras. Miyu adalah wanita hamil, sudah bersuami—belum ada konfirmasi atas hal itu, tapi anggap saja seperti itu. Kanata tidak boleh melewati garis batas dan bertindak seperti orang gila. Miyu tidak lebih dari kenalan belaka, jangan sampai bergerak lebih jauh lagi dari itu.  Ah, Kanata harus segera mendistraksi pikirannya sebelum kegilaan mengambil alih otaknya. “Santa, temani aku,” ujar Kanata pada intercom, menghubungi sahabat sekaligus sekretarisnya. “Huh? Ke mana? Bagaimana tugas-tugasmu, Bung? Kau tidak—” “Sudah selesai. Kau ikut atau tidak, terserah.” Terdengar gemerisik dari seberang telepon, membuat Kanata melengos lelah. “Fine, fine! Aku ikut!” Terkadang Kanata mengingat ulang apa alasan dirinya menunjuk Santa untuk menjadi sekretarisnya, alih-alih membuka lowongan secara umum. Jika Kanata memiliki kemampuan untuk memanipulasi waktu, dia akan kembali ke masa lalu untuk membatalkan diri menunjuk Santa. *** Miyu menikmati waktu sendirinya di kamar dengan duduk di sofa bed sembari menatap pemandangan luar di jendela. Kamarnya berhadapan dengan jalan raya dan sekian bangunan yang berhadapan dengan rumah sakit sehingga nyaman untuk mengamatinya. Ditemani sebotol jus jeruk yang semalam dibawakan oleh Kanata, Miyu tenggelam dalam benaknya sambil mengelus perutnya yang mulai tidak rata. Tidak, Miyu tidak merasa menyesal sama sekali atas kehadiran buah hatinya yang sangat mendadak dan di luar hubungan pernikahan. Dia mensyukurinya setiap hari tanpa absen diiringi panjatan doa untuk meminta berkah keselamatan dan kesehatan. Miyu mencintainya tanpa syarat dan keraguan. Namun, yang tidak akan pernah bisa lepas dari pikirannya adalah sosok ayah dari buah hatinya. Apakah itu Kanata Saionji atau bukan, masih menjadi tanda tanya. Ini semua dipikirkan kembali oleh Miyu karena ucapan Nana pada pagi sebelumnya. Sahabat Miyu itu melontarkan satu pertanyaan yang tidak bisa langsung Miyu jawab. Bukan karena disembunyikan oleh rasa takut, melainkan memang tidak bisa memikirkan jawabannya. “Lo bakal berencana membesarkan dia sendirian sampai akhir?” tanya Nana pada pagi sebelumnya, secara mendadak membuka topik yang cukup berat dan sensitif. Walau cukup terkejut, Miyu menjawabnya tanpa komplain. “Ya, begitulah. Kenapa?” Nana menatap jendela, alih-alih Miyu. “Biayanya nggak sedikit. Yeah, lo pasti tahu itu dari awal. Tapi, gue katakan lagi saja. Kalau lo memang berniat membesarkan dia sendirian, berat tanggungannya. Tentu saja gue sama Aya bakal selalu berusaha ada buat lo, tapi… takdir nggak ada yang bisa nerka, Mi.” Miyu tidak merespon. Bukan karena bingung. Melainkan dia memahami ucapan Nana. Lagipula, dia memahami situasi tersebut lebih dari siapa pun. Situasi dari kalimat “takdir nggak ada yang bisa nerka”, Miyu sudah pernah melaluinya beberapa tahun yang lalu pada saat kakeknya tiada. “Jangan khawatir,” ujar Miyu, memecah keheningan. “Gue sudah memahami segala konsekuensinya. Gue nggak akan membiarkan kehidupan gue sama anak gue sengsara, kok. Apa pun yang bakal terjadi, gue yakin bakal bisa melaluinya dengan lancar.” Nana diam. Pengacara kondang itu masih menatap jendela seolah itu lebih menarik daripada fokus berbicara dengan Miyu. Walau sudah bersahabat bertahun-tahun, ada beberapa sisi dalam diri Nana dan Aya yang belum Miyu pahami. Dan, inilah salah satunya, Nana bisa berubah menjadi wanita misterius yang tak tertebak tanpa aba-aba. Ketika Miyu hendak bersuara, suara Nana menyerobotnya. “Apa yang bakal lo lakukan saat anak lo nanya tentang ayahnya?” Di detik itu, lidah Miyu kelu. Tidak ada jawaban yang muncul di otaknya, sama sekali. Itu membuat Miyu kembali berpikir apakah keputusannya benar-benar tepat atau tidak. Di hari dirinya terbangun di kamar club tanpa siapa pun dan hanya menemukan kartu nama Kanata Saionji, Miyu tidak memiliki harapan untuk bertemu dengan pria superior itu. Namun kemudian, takdir mempermainkannya sedemikian rupa, Kanata Saionji muncul dalam hidupnya. Kartu nama yang sama, bahan kartunya pun sama. Tetapi, Miyu masih tidak berani untuk mengklaim Kanata sebagai pasangan satu malamnya pada saat itu. Kanata terlalu baik, sudah terbukti dari kejadian belakangan ini. Lantas, Miyu memutuskan untuk merahasiakannya sampai Kanata pergi dari hidupnya. Mereka tidak memiliki keterikatan selain kenalan biasa. Pria itu pasti akan pergi kembali ke Jepang. Lalu kehidupan Miyu akan berjalan seperti ketika Kanata tidak hadir. Bagaimanapun, pertanyaan Nana membuat Miyu berpikir ulang. Bukankah Miyu sangat paham bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua? Itu sangat tidak menyenangkan, begitu suram dan hampa. Walau ada kakek yang senantiasa menemaninya, rasanya tidak pernah sama ketika bersama orang tuanya. Apakah Miyu ingin anaknya mengalami hal yang serupa, kehidupan sepi, hanya bisa menatap iri kepada anak-anak lain yang memiliki orang tua lengkap dan bahagia? Tidak ada jaminan Miyu dan anaknya akan mendapatkan hidup yang bahagia bersama Kanata, tetapi apa salahnya mencoba? Setidaknya, Miyu paham dan merasakan kebaikan Kanata tidaklah dibuat-buat. Walau pernikahan mereka tidak berlandaskan cinta, Miyu tahu Kanata merupakan pria bertanggungjawab yang baik. Pria itu tidak akan menelantarkan buah hatinya sendiri. TOK TOK! Miyu menoleh ke pintu, cukup terkejut. “Nona Agatha? Ini saya, Saionji.” Tangan kanan Miyu yang sedang mengelus perutnya pun mengepal, bibirnya sedikit bergetar. Mata hijaunya menatap pintu dengan sedikit tajam dan terluka, dilema oleh keputusannya. Apakah harus membiarkan Kanata pergi begitu saja atau memberitahunya tentang buah hati yang tidak pria itu sengajakan. “Silakan masuk, Tuan Saionji.” Miyu akan memikirkannya sedikit lebih lama lagi.    TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD