Viola tersenyum saat melihat Aldo menantinya di depan kelas sepulang sekolah. Janji ngedate hari ini, membuat Viola cukup antusias untuk bisa berduaan dengan Aldo. Sejak dulu dia ingin jalan-jalan dengan cowok idamannya itu. Namun rasanya, waktu baru memihaknya hari ini.
Viola sendiri sebenarnya enggan menerima permintaan Aldo untuk jalan-jalan dengannya sepulang sekolah saat mengingat sikap Panji di telepon. Nada datar yang terdengar serta helaan napas dan telepon yang ditutup tanpa aba-aba, membuat Viola sadar bahwa Panji menyimpan kekesalan padanya. Viola sendiri dalam posisi yang tak bisa dikatakan mudah. Sudah berulang kali ia menolak ajakan Aldo demi menjaga perasaan Panji. Dan kali ini, mustahil ia menolak. Mengingat sikapnya beberapa hari lalu cukup membuat Aldo berpikir bahwa cinta tak ada lagi di hati Viola untuknya.
Gedung bioskop menjadi satu tempat kencan yang dipilih keduanya. Dengan sikap penjagaan, Aldo menggenggam erat tangan Viola. Dan hal itu membuat Viola tersenyum tipis. Salah satu film bioskop menjadi pilihan Aldo. Viola sendiri berharap akan merasakan kenyaman seperti yang ia rasakan setiap menyaksikan film bioskop bersama Panji. Namun semuanya nihil. Viola sendiri malah selalu mengingat sosok Panji saat waktu menonton keduanya yang selalu diwarnai keseruan. Malah terkadang, mereka berdua tidak tahu apa inti dari cerita yang keduanya nonton. Sedangkan bersama Aldo, Viola merasa seperti pergi bersama Mawar. Perasaan antusianya meluntur saat merasakan tidak ada getaran menyenangkan di hatinya. Kini Viola malah ingin cepat-cepat pulang. Mengobrol dengan Panji dan memasak masakan baru yang membuatnya menjadi juri kontes memasak di rumah.
Sore pun tiba, mobil Aldo menepi di halaman rumah Viola. Niat awal Aldo ingin mengajak Viola hingga makan malam bersama. Namun Viola yang mulai tidak betah, mengajaknya pulang dengan alasan harus mengerjakan tugas sekolah yang cukup banyak.
Terlihat sosok Panji sedang asik bermain bola basket sendirian di halaman kecil di samping taman minimalisnya. Melihat sosok Aldo dan Viola mendekat, dia menghentikanya dan membalas sapaan Aldo dengan senyuman. Viola sendiri mengundurkan diri masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minuman, sedangkan Aldo memilih duduk di pinggir halaman yang sedikit lebih tinggi dari lantai yang ia pijak.
“Abang jago juga ya main basketnya!”
Panji memasukkan bola ke ring lalu tersenyum. Meraih kembali bola basket lalu men-dribbel-nya santai, “Bukannya loe pemain basket? Itu berarti kalimat tadi sekedar memuji atau mau nyari perhatian?”
Aldo terpekik kaget mendengarnya. Dia menelan ludah lalu kembali tersenyum getir, “Memuji kok, Bang. Gue juga gak terlalu jago mainnya.”
Panji tertawa lucu, “Mau tanding?”
“Wah, boleh. Kapan, Bang?” jawab Aldo antusias. Dia merasa dengan cara itulah, dia bisa menarik perhatian Panji agar bisa bersikap hangat padanya. Tidak seperti selama ini, Panji seakan-akan selalu mengarahkan senjata dan siap menembaknya kapan saja.
“Kapan aja bisa. Tapi ada taruhannya.” Senyuman sinis terlihat di bibir Panji sambil terus memasukkan bola.
“Apa?”
Panji mengalihkan tatapannya ke Aldo yang masih melihatnya dengan tatapan penasaran, “Viola.”
Aldo terdiam. Wajah kaget jelas membendungnya. Panji sendiri kembali memasukkan bola ke dalam ring dengan senyuman yang terus terukir.
“Kalau gue yang menang, loe harus putus sama Viola.” Aldo terpekik kaget. “Tapi kalau loe yang menang, loe boleh miliki dia sampai kapan pun!”
Aldo masih melayangkan tatapan tak percaya ke Panji yang kini menatapnya lamat-lamat. Dia tidak percaya dengan sikap Panji yang masih saja tidak merestui hubungannya bersama sang adik. Padahal kalimatnya saat di rumah sakit masih terngiang jelas di telinganya. Aldo langsung berdiri dan mendekatinya. Keningnya mengerut, tatapannya masih saja mengandung ketidakpercayaan. Dengan santai, Panji membalas tatapan itu.
“Serius?” Aldo yang masih menatapnya lamat-lamat, mencoba menenangkan perasaannya dengan menelan air liurnya sendiri.
Panji tertawa mendengarnya. Tangan kanannya menepuk pelan bahu Aldo, lalu kembali melemparkan bola ke dalam ring basket, “Becanda kali. Serius amat!”
Aldo tertawa garing, “Abang buat kaget aja!” Aldo mulai tidak betah. “Kalau gitu, gue pulang dulu ya, Bang.”
“Lho, kagak nunggu Viola?”
“Gak usah, Bang. Gue masih ada kerjaan di rumah.”
Panji mengangguk pelan lalu menatap Aldo yang mulai melangkah pergi setelah kembali permisi dengannya. Aldo memundurkan mobilnya dan pergi meninggalkan Panji yang mulai memudarkan senyuman.
“Sayangnya kalimat gue, serius,” ucapnya penuh emosi.
“Lho, Aldo mana?” Terdengar suara Viola tepat di belakang Panji. Panji menoleh dan mendapati sang adik berjalan mendekatinya sembari membawakan segelas orange jus buat Aldo. Panji langsung meraihnya dan meneguk tanpa jeda.
Viola terpekik kaget, “Itu kan buat Aldo!”
Panji kembali memberikan gelas yang sudah kosong ke tangan Viola, “Orangnya lebih milih minum di rumah!” Panji berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Viola yang menatap menyesal. Viola mengerti kalau Panji masih kesal padanya. Dan hal itu membuat Viola berlari menyusul dan berdiri menghadangnya.
“Abang marah?” Wajah memelas terpancar dari wajah cantiknya.
“Gak!” Panji terus melangkah menuju lantai atas. Viola tetap saja mengikutinya sambil terus memanggilnya lirih.
“Abang mau mandi!” Panji kembali melangkah melewati Viola saat cewek itu sesaat menghadangnya. Viola yang tidak ingin membiarkan kesempatan itu pergi darinya, langsung berpura-pura sesak napas. Hal itu membuat Panji kembali mendekat dengan sikap panik.
“Di mana obatnya?!!” tanya Panji sambil bersiap-siap menggendong Viola.
“Abang udah maafin Viola?” Viola kembali tersenyum. Napasnya juga kembali seperti sediakala. Hal itu membuat Panji menatapnya kesal lalu menepuk jidat Viola dan berlalu pergi dengan senyuman tergaris di bibirnya tanpa Viola ketahui. Viola sendiri langsung menghentakkan kaki kanannya dan memanggil Panji manja.
***
Acara bakar-bakar pun mulai diadakan. Pemandangan menjengkelkan hadir di kedua mata Viola saat melihat Luna bermanja-manja ria di samping Panji. Aldo sendiri ikut sibuk membantu Panji memanggang ayam di atas alat panggangan milik mama. Berulang kali Viola mendengus kesal, dan hal itu membuat Mawar berulang kali menatapnya aneh.
Aldo membawakan sepiring ayam ke hadapan Viola, Mawar, mama dan papa. Luna yang mulai lelah menarik perhatian Panji, langsung duduk di antara mama dan juga Viola. Bersikap manis dengan mengambilkan sepotong ayam untuk mama lalu berniat mengambilnya juga untuk Viola.
“Gak perlu, gue bisa ambil sendiri!” ucap Viola yang langsung menarik seluruh pasang mata. Panji yang mendengarnya langsung tersenyum simpul.
“Viola, kok kayak gitu sih!” mama menatap kesal.
“Viola kan bukan anak kecil, Ma!” jawab Viola mencoba mencari alasan agar mama tidak marah padanya.
“Tapi kurcaci,” bisik Luna yang semakin membuat Viola kesal bukan main.
Aldo kembali mendekati Panji dan membantunya memanggang ayam selanjutnya. Viola mulai memakan sobekan daging ayam yang ia lakukan sambil menatap kesal ke Luna yang masih saja bersikap sok baik sama mama.