Jadi Bos

1694 Words
Pagi itu, Aruna berdiri di depan cermin apartemennya. Ia mengenakan blazer hitam, kemeja putih, dan membawa tas kerja yang baru saja dibeli saat diskon. Namun, raut wajahnya justru terlihat seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidup. Ia menatap pantulan dirinya cukup lama, lalu menunjuk ke arah cermin. “Ada begitu banyak perusahaan di dunia ini…” Ia berhenti sejenak selama dua detik, lalu berteriak, “KENAPA HARUS BERTEMU DENGAN MANTANKU?!” Dari dinding sebelah, terdengar suara tetangga yang mengetuk-ngetuk tembok. “MBAK, PAGI-PAGI SUDAH BERDEBAT DENGAN SIAPA?!” Aruna langsung menjawab dengan suara keras. “SEDANG BERDEBAT DENGAN TAKDIR, PAK!” Ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Semalam ia sulit terlelap, karena pikirannya terus berputar pada satu nama: Niko. Mantannya. Yang kini menjabat sebagai Direktur Utama. Dan—menjadi atasannya. “Ya Allah…” Ia memegang kepalanya. “Kenapa bukan mantan biasa saja? Paling tidak mantan yang berjualan seblak saja, kenapa harus jadi bos besar?” Aruna berdiri kembali, mengambil secangkir kopi, dan terus menggerutu pada dirinya sendiri. “Tidak apa-apa.” Ia menunjuk wajahnya sendiri. “Kamu itu profesional. Mantan tetaplah mantan, pekerjaan tetaplah pekerjaan. Tidak peduli betapa tampannya dia.” Ia terdiam sejenak. “…Memang sih, dia tampan.” Aruna segera menampar pelan dahinya sendiri. “Fokus, Aruna!” Pukul delapan kurang lima menit, Aruna tiba di kantor. Ia masih merasa asing, canggung, dan ada keinginan kuat untuk segera lari pergi. Lobi kantor yang megah itu membuatnya merasa seperti orang asing di tempat yang mewah. Saat hendak masuk ke dalam lift, seorang wanita bertubuh tinggi dengan bibir berlipstik merah menatapnya sekilas. “Kamu karyawan baru ya?” Aruna tersenyum tipis. “Iya.” “Saya Dina.” “Aruna.” Dina mengamati penampilan Aruna sekilas. “Kamu terlihat lucu.” “Kenapa bisa begitu?” “Terlihat jelas dari wajahmu yang sedang panik.” Pintu lift terbuka dan mereka berjalan bersama menuju ruang kerja. Dina terlihat sangat cerewet. “Kamu ditempatkan di divisi apa?” “Pemasaran Kreatif.” “Oalah, berarti langsung bekerja di bawah pengawasan Direktur Utama dong.” Aruna hampir tersedak ludahnya sendiri. “…Benar.” Dina menyeringai. “Hati-hati ya.” “Kenapa harus hati-hati?” “Karena bosnya sangat tampan.” Aruna langsung memasang wajah datar. “Tampan saja tidak cukup.” “Hah?” “Di balik ketampanannya tersimpan kenangan yang menyakitkan.” Dina tertegun sejenak, lalu berhenti berjalan. “Tunggu dulu… jangan-jangan—” Aruna segera menutup mulut Dina dengan tangannya. “Ssst!” Mata Dina membulat terkejut. “ASTAGA! Dia mantanmu?!” “Bicaralah pelan!” “YA ALLAH, INI GOSIP TERBAIK DI PAGI HARI INI!” Aruna menghela napas frustrasi. “Kenapa hidupku terasa seperti alur sinetron…” Baru pukul delapan lewat dua puluh menit, telepon di meja kerja berdering. Dina melirik ke arahnya. “Dari ruangan Direktur Utama.” Aruna langsung menegang. “Secepat itu?” “Biasanya kalau dipanggil bos ada dua kemungkinan.” “Apa itu?” “Mendapat kenaikan jabatan…” “…” “Atau dimarahi habis-habisan.” “Mungkin lebih baik saya mengundurkan diri saja ya?” “Pergilah sana.” Tok… tok… “Silakan masuk.” Aruna melangkah masuk dengan hati-hati. Di balik meja besar, Niko sedang duduk santai mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan baju yang digulung hingga siku. Dan sialnya, ia terlihat semakin tampan. Aruna merasa kesal sendiri. Kenapa mantannya tidak bisa terlihat buruk saja setelah berpisah? Niko mengangkat wajahnya. “Kamu terlambat dua menit.” Aruna memandangnya dengan tatapan tajam. “Pak…” “Apa?” “Jam kerja baru dimulai lima menit lagi.” “Tetap harus menjaga kedisiplinan.” “Dasar pelit aturan.” “Apa yang kamu katakan?” “Maksud saya… saya akan berusaha lebih rajin.” Niko menyandarkan punggungnya di kursi. “Ambilkan berkas itu.” Aruna menghela napas panjang. “Berkas yang mana?” “Yang sedang saya pegang tadi.” Aruna melirik tangan Niko. Berkas yang dimaksud masih tergenggam erat di tangannya. Ia terdiam selama lima detik, sepuluh detik. “…Pak.” “Apa lagi?” “Itu berkasnya ada di tangan Bapak sendiri.” Niko menatap tangannya sendiri, terdiam sejenak. “…Oh, benar juga.” Aruna menyilangkan tangan di depan d**a. “Bapak dalam keadaan sehat bukan?” Niko berpura-pura batuk pelan. “Kamu boleh keluar.” Aruna berjalan keluar sambil terus menggerutu dalam hati. “Sungguh keterlaluan. Pasti dia sengaja melakukannya.” Begitu keluar, Dina langsung menghampirinya dengan antusias. “Bagaimana? Apa yang diminta bos?” “Dia menyuruhku mengambilkan berkas…” “Terus?” “TERNYATA BERKASNYA MASIH ADA DI TANGANNYA SENDIRI!” Dina tertawa terbahak-bahak. “HA HA HA HA!” “Lucu sekali ya situasinya?!” “Sepertinya bos tertarik padamu.” Aruna langsung manyun kesal. “Tertarik untuk membuat emosiku meledak, mungkin.” Lima belas menit kemudian, telepon di meja kembali berdering. Dina menepuk pundak Aruna. “Semoga kamu selamat.” “Kalau saya tidak kembali lagi, tolong sampaikan pada ibu saya bahwa saya menyayanginya.” “Tapi kamu tinggal sendirian, kan?” “Oh, benar juga.” Aruna masuk kembali ke ruangan itu. Niko sedang asyik menatap layar komputernya. “Aruna.” “Iya, Pak.” “Ambilkan secangkir kopi.” Aruna berkedip bingung. “…Apakah Bapak tidak memiliki kaki untuk berjalan sendiri?” Niko menatapnya dengan wajah datar. “Apa maksud ucapanmu?” “Maksud saya…” Ia tersenyum lebar namun terasa dipaksakan. “…Akan saya ambilkan dengan senang hati.” Lima menit kemudian, ia kembali meletakkan cangkir kopi di meja dengan agak keras. “Ini kopinya.” “Terima kasih.” “Pak.” “Apa lagi?” “Kalau Bapak ingin menyiksaku, katakan saja terus terang.” Niko mengangkat satu alisnya. “Siapa yang menyiksamu?” “Ini sudah ketiga kalinya saya dipanggil.” “Kamu sedang bekerja, bukan?” “Ini namanya bekerja atau disuruh berjalan kesana-kemari?” Sudut bibir Niko terlihat sedikit bergerak seolah ingin tersenyum. Aruna segera menyadarinya. “Eh.” “Apa?” “Kamu mau tertawa ya?” “Tidak.” “Bibirmu jelas terlihat bergerak.” “Kamu boleh keluar.” “Sungguh menyebalkan.” Begitu berada di luar, Dina langsung berlari menghampiri. “Gimana tadi? Apa lagi yang diminta?” “Dia menyuruhku mengambilkan kopi!” “Wah, cuma itu saja?” “Padahal dapur kantor hanya berjarak beberapa langkah saja!” Dina menatapnya dengan curiga. “Sudah pasti dia menyukaimu.” “Sudah pasti dia orang yang sangat menyebalkan.” “Tapi bos kita memang sangat tampan dan memiliki tubuh yang bagus juga sih…” Secara refleks, Aruna menyahut, “…Dulu itu milikku.” Suasana menjadi hening seketika. Dina menatapnya dengan mulut terbuka lebar. “ARUNAAA!” Aruna segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “YA ALLAH, MULUTKU INI TIDAK BISA DIATUR!” Waktu makan siang tiba. Kantin kantor terlihat penuh sesak. Dina masih terus tertawa mengingat ucapan Aruna tadi. “Demi Tuhan, tadi kamu sempat berkata ‘dulu itu milikku’! HA HA HA!” “Diamlah!” “Ternyata Aruna adalah mantan yang posesif!” “Itu hanya ucapan yang keluar tanpa dipikirkan!” Tiba-tiba suasana di sekitar berubah. Beberapa karyawan langsung berdiri tegak. “Selamat siang, Pak Niko.” Aruna langsung membeku di tempat. Jangan datang ke sini. Jangan duduk di dekat kami. Namun, justru Niko berjalan mendekat dan duduk tepat di hadapan mereka dengan santai, seolah tidak ada hal yang aneh terjadi. Dina langsung merasa gugup. “Selamat siang, Pak…” Niko hanya mengangguk kecil, lalu menatap Aruna. “Kamu makan sayur juga?” Aruna merasa curiga. “…Kenapa menanyakannya?” “Dulu kamu tidak suka makan sayur.” Dina tertegun, matanya beralih pandang antara Niko dan Aruna. Ya Tuhan, mereka memang pernah sangat dekat. Aruna segera menjawab, “Manusia bisa berubah, bukan?” Niko mengangguk pelan. “Termasuk selera hatinya?” “Tidak termasuk kembali pada mantan.” Dina hampir tersedak makanannya. Batuk… batuk… Niko terdiam sejenak, lalu berkata, “Ternyata kamu masih memiliki sifat galak seperti dulu.” “Dan Bapak masih bersikap menyebalkan seperti dulu juga.” Dina hanya bisa menatap keduanya seolah sedang menonton drama yang sedang berlangsung secara langsung. Sore harinya, Aruna sedang fokus menyelesaikan pekerjaannya saat telepon di meja kembali berdering. Ia langsung memegang kepalanya. “Ya Allah…” Dina tertawa kecil. “Pacar—eh, maksudku mantanmu memanggil.” Aruna masuk kembali ke ruangan Direktur Utama. Niko sedang berdiri memandang keluar dari jendela besar. “Ada apa lagi?” Niko menoleh. “Laporan ini perlu diperbaiki.” Aruna membaca sekilas isi laporannya. Menurutnya semuanya sudah rapi dan benar. “Bagian mana yang perlu diperbaiki?” “Jenis hurufnya kurang tepat.” “…Hanya soal jenis huruf?” “Terlihat kurang serasi.” Aruna menatapnya dengan pandangan tajam. “Pak.” “Apa lagi?” “Bicaralah terus terang saja.” “Maksudmu?” “Apakah Bapak sedang menyimpan dendam padaku?” Niko terdiam sejenak, lalu menyandarkan tubuhnya. “Kamu merasa begitu?” “Sangat terasa!” Niko menatapnya cukup lama. Tatapannya tidak terlihat sedingin biasanya, justru terlihat sedikit lebih lembut. “Kalau saya benar-benar menyimpan dendam…” Ia melangkah mendekat sedikit. “…Saya tidak akan menerima kamu bekerja di sini.” Jantung Aruna berdebar kencang. Ia secara refleks mundur selangkah. “Baiklah.” “Takut?” “Tidak mau berperasaan terlalu tinggi.” Sudut bibir Niko terangkat sedikit membentuk senyum tipis. Senyum. Tipis saja. Aruna langsung panik dalam hati. Ini bahaya. Pria ini sangat berbahaya. Ia segera mengambil berkas itu. “Sudah boleh saya pergi?” Saat hendak berbalik, suara Niko memanggilnya. “Aruna.” Ia berhenti dan menoleh. “Ada apa lagi?” Niko berkata dengan nada santai. “Besok jangan terlambat lagi.” Aruna memandangnya kesal. “Apakah Bapak tidak lelah terus menyuruhku ini itu?” “Tidak.” “Kenapa begitu?” Niko menatap matanya selama beberapa detik, lalu berkata pelan, “Terlihat lucu saat kamu sedang kesal.” Aruna terdiam seketika. “…Apa?!” Niko kembali menatap layar komputernya. “Kamu boleh keluar.” Aruna berjalan keluar dengan wajah yang memerah. Dina segera menghampirinya. “Kenapa wajahmu memerah seperti itu?” Aruna memegang kepalanya. “Sepertinya… bosku ini orang yang tidak waras.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD