bc

Mantanku Canduku

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
HE
fated
second chance
friends to lovers
drama
sweet
city
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Mereka putus karena salah paham besar. Ceweknya berusaha move on, tapi semesta malah mempertemukan mereka lagi di kantor yang sama. Sang mantan berubah jadi dingin, arogan, dan pura-pura tak peduli. Tapi tiap kali dekat, rasa itu datang lagi… seperti candu yang sulit dihentikan.

chap-preview
Free preview
Sial
Suara alarm berbunyi keras, nyaring, dan sangat mengganggu. Namun Aruna tetap terlelap. Alarm kedua berbunyi, ia masih tidak bergeming. Saat alarm ketiga berbunyi, tangannya tiba-tiba keluar dari balik selimut—BRAK!—benda itu terlempar jatuh ke lantai dan hening seketika. Lima detik kemudian, mata Aruna terbuka perlahan. Ia melirik jam di dinding. Pukul 08.11. Diam sejenak, keningnya berkerut seolah otaknya butuh waktu untuk memproses apa yang terjadi. Lalu— “ANJIRRR!” Aruna langsung melompat bangun hingga selimut tersangkut di kakinya. “Wawancara kerja!” Ia nyaris terjatuh dari kasur. “Aku pasti kena marah! Pasti gagal!” Kamar kecil itu seketika berantakan. Baju dilempar sembarangan, tas dicari-cari, peralatan rias dibuka dalam keadaan setengah sadar, sementara sisir entah ke mana perginya. Di depan cermin, ia menggosok gigi sambil menggerutu sendiri. “Kenapa sih pagiku selalu berantakan begini?” Ia menatap pantulan wajahnya. Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah mata, rambutnya kusut seolah baru saja bertarung dengan angin kencang. “Yah… lumayanlah, masih terlihat manusia.” Ia meraih kemeja putih yang sudah disiapkan. Baru saja memasukkan satu tangan, BYUR!—gelas kopi di meja samping tempat tidur terjatuh dan tumpah tepat mengenai bajunya. Aruna terdiam mematung. Perlahan ia menatap noda cokelat yang membasahi kain, lalu menengadah memandang langit-langit kamar. “Sungguh menghibur sekali hidupku ini,” gumamnya sarkas. Ia terdiam sejenak. “Ya Allah… ini ujian atau sekadar ejekan?” Dengan tergesa-gesa ia mengganti baju lain, lalu berlari keluar rumah sambil memakai sepatu. “Dengan izin Allah, semoga aku diterima bekerja.” Motor maticnya melaju dengan suara yang tidak wajar—krek… krek… krek…—berulang kali. Aruna menepuk-nepuk dasbor motor itu. “Tolonglah, jangan membuat keributan hari ini.” Suara itu masih terdengar. “Kamu sama persis seperti mantanku dulu, bikin lelah saja.” Krek… “Jangan sok-sokan rusak, nanti telat aku.” Lima menit kemudian—BRETTTT!—motor itu benar-benar berhenti menyala tepat di pinggir jalan. Aruna terdiam. Ia melepas helmnya perlahan dan menatap kendaraan itu. “Serius?” Motor itu diam. “Benar-benar serius?” Masih tidak ada jawaban. Aruna menarik napas panjang, lalu berteriak sekuat tenaga. “YA ALLAH, KENAPA PAGI INI SEMUA MAU NGEJOKIN AKU?!” Beberapa orang yang lewat menoleh kaget. Seorang bapak tukang parkir mendekat dan bertanya, “Motornya mogok ya, Mbak?” “Sama seperti suasana hatiku, Pak,” jawab Aruna lesu. Jam sudah menunjukkan pukul 09.16 saat Aruna akhirnya tiba di depan gedung perusahaan itu setelah menaiki ojek daring. Gedung itu menjulang tinggi, seluruh dindingnya terbuat dari kaca yang mengkilap dan tampak sangat mewah—tipe bangunan yang secara tidak sadar membuat siapa saja yang melihatnya harus berjalan dengan lebih sopan dan rapi. Aruna berdiri di depan pintu otomatis, menatap pantulan dirinya. Jasnya sedikit kusut, rambutnya sudah tidak diatur lagi, dan wajahnya terlihat sangat lelah. “Tidak apa-apa,” katanya menyemangati diri sendiri. “Penampilan bisa diperbaiki, yang penting kesan pertama tetap positif.” Begitu melangkah masuk, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya. Lobi yang luas beraroma wangi khas tempat mewah, dan semua pegawai yang lewat terlihat sangat rapi. Resepsionis tersenyum ramah. “Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” Aruna membalas senyum. “Iya… saya ada jadwal wawancara kerja.” “Boleh tahu namanya?” “Aruna Wijaya.” Resepsionis mengecek layar komputernya. “Oh, untuk posisi pemasaran kreatif ya?” “Benar.” Wanita itu menatap Aruna dari atas hingga bawah. “Terlihat sangat lelah sekali.” Aruna tertawa kecil. “Perjalanan pagi ini cukup menantang, Mbak.” Resepsionis pun ikut tertawa. “Silakan naik ke lantai dua.” “Terima kasih. Kalau saya gagal wawancara nanti, boleh tidak saya bekerja di sini saja sebagai hiasan lobi?” Di ruang bagian Sumber Daya Manusia, seorang wanita berkacamata membuka berkas lamaran Aruna dengan ekspresi serius. Aruna duduk dengan tegang, kakinya bergerak-gerak tidak tenang. “Aruna Wijaya,” gumam wanita itu. “Iya, Bu.” “Kamu terlambat enam belas menit.” Aruna langsung menegakkan badan. “Boleh saya menjawab dengan jujur atau berbohong?” Wanita itu mengangkat alisnya. “…Lebih baik jujur saja.” “Motor saya mogok di jalan, kopi tumpah membasahi baju, dan secara umum pagi saya sedang berada dalam keadaan kacau balau.” Hampir saja wanita itu tertawa. “Apakah kamu sering mengalami hal seperti ini?” “Maksudnya hari yang berantakan atau sering terlambat?” “Keduanya.” “Kadang-kadang saja, tapi hari ini terasa spesial.” Wanita itu kembali membaca berkas lamaran. “Hm.” Aruna langsung merasa cemas. “Ada apa, Bu? Kenapa terdengar ragu begitu?” “Pengalaman kerjamu tidak terlalu banyak.” Aruna mengangguk mengerti. “Benar… saya pernah menangani beberapa proyek secara lepas dan punya portofolio yang bisa saya tunjukkan.” “Apa pengalaman yang paling berkesan bagimu?” Aruna berpikir sejenak selama dua detik. “Belajar banyak hal dari orang yang punya standar tinggi.” Wanita itu berhenti menulis. “Bisa dijelaskan lebih lanjut?” Aruna segera tersenyum lebar. “Intinya, saya jadi tahu bagaimana cara bekerja dengan baik dan tidak mudah menyerah.” Kali ini wanita itu benar-benar tertawa kecil. “Kamu orang yang santai dan punya cara pandang yang menarik.” “Kalau tidak santai, saya pasti sudah stres berat, Bu.” Wanita itu menutup berkasnya. “Baiklah. Wawancara terakhir akan dilakukan langsung oleh Direktur Utama.” Aruna hampir salah duduk. “Hah?” “Direktur Utama.” “Bos besarnya?” “Benar.” “Maksudnya orang nomor satu di perusahaan ini?” “Iya.” Aruna mulai sedikit gugup. “Wah… saya jadi merasa sedikit gugup.” Seorang sekretaris mengantar Aruna menuju ruangan Direktur Utama. Sepanjang lorong, ia terus menenangkan hatinya dalam hati. Tenang saja. Paling-paling dia pria tua, berwibawa, dan seperti pemimpin pada umumnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka berhenti di depan pintu besar yang megah. Sekretaris mengetuk pintu. “Pak, ini calon karyawan terakhir.” Suara pria dari dalam terdengar. “Silakan masuk.” Aruna terdiam. Kenapa suara itu terasa begitu… akrab? Tidak mungkin. Pintu terbuka. Aruna masuk sambil menunduk sopan. “Permisi, saya Aruna Wi—” Kalimatnya terhenti di tengah jalan. Pria di balik meja besar itu perlahan mengangkat kepalanya. Ia mengenakan kemeja hitam polos, berwajah dingin dengan rahang yang tegas, memakai jam tangan yang terlihat sangat mewah, dan memiliki wajah yang pernah membuatnya menangis selama tiga malam berturut-turut. Jantung Aruna terasa berhenti berdetak sejenak. “…Niko?” Pria itu terdiam. Pandangan mata mereka bertemu dan saling menatap cukup lama. Lalu— “Kamu?” Aruna secara refleks mundur selangkah. “Ya Tuhan…” Ia menoleh ke arah pintu. “Masih ada kesempatan untuk lari tidak?” Niko menyandarkan punggungnya dengan santai di kursi kerja, wajahnya tetap datar. “Wawancara saja belum dimulai, sudah mau mengundurkan diri?” Aruna memandangnya dengan kesal. “Kenapa kamu ada di sini?!” Niko mengangkat satu alisnya. “Ini kantorku.” “…OH.” Aruna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Bagus sekali. Luar biasa. Sungguh takdir yang menarik.” Niko menatapnya lekat-lekat. Masih sama seperti dulu—ceria, ekspresif, dan ternyata… tetap terlihat menawan. “Silakan duduk,” perintahnya singkat. “Kalau saya berpura-pura pingsan, boleh tidak?” “Duduk.” Aruna duduk perlahan. Suasana terasa sangat canggung. Ia bahkan bingung harus memandang ke mana. Sudah tiga tahun mereka tidak bertemu, dan kini mantan kekasihnya ternyata adalah bos besar di sini. Niko membuka berkas lamaran itu. “Aruna Wijaya.” “Tidak perlu bicara begitu formal. Dulu kita pernah berpegangan tangan, lho.” “Dan dulu kita juga pernah memutuskan hubungan.” Kalimat itu terasa menusuk hati Aruna. Ia langsung manyun. “Oke, menyakitkan sekali.” “Masih suka membuat suasana jadi dramatis?” “Masih suka bersikap dingin dan menyebalkan?” Mereka saling memandang tajam. Rasanya aneh, seolah waktu berputar kembali ke masa lalu. Niko kembali membaca berkas itu. “Kenapa kamu melamar pekerjaan di sini?” “Saya tertarik dengan visi perusahaan dan posisi yang ditawarkan sesuai dengan keahlian saya.” “Jawab dengan jujur yang sebenarnya.” “Baiklah, saya juga ingin tantangan baru dan lingkungan kerja yang bisa mengembangkan kemampuan saya lebih jauh.” Sudut bibir Niko bergerak sedikit, hampir saja tersenyum. Aruna langsung menunjuk ke arahnya. “Eh, kamu mau tertawa ya?” “Tidak.” “Bohong. Sudah terlihat dari gerakan bibirmu.” “Fokuslah pada wawancara.” Aruna menghela napas panjang. “Kalau begitu, boleh saya tanya dulu? Kenapa dulu kamu menghilang tanpa kabar?” Niko terdiam seketika. Suasana di ruangan itu mendadak menjadi hening. Lalu— “Itu bukan bagian dari pertanyaan wawancara.” “Oh.” Aruna menggigit bibirnya. “Masih saja menyebalkan.” “Masih cerewet.” Hening kembali menyelimuti ruangan. Niko menutup berkas itu dan menatapnya. “Besok mulai bekerja pukul delapan pagi.” Aruna tertegun. “…Maaf?” “Kamu diterima.” “Kamu tidak waras ya?!” Niko mengangkat alisnya. “Kenapa marah?” “Saya tidak marah, saya terkejut!” Ia berdiri. “Benarkah ini?” “Benar.” “Bukan karena rasa kasihan?” “Bukan.” “Atau untuk membalas dendam?” “Kalau saya ingin membalas dendam, kamu sudah saya suruh pulang sejak tadi.” Aruna masih tidak percaya. “Lalu kenapa kamu mau menerima saya?” Niko terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada santai. “Kantor ini terlalu sepi.” “Apa maksudnya?” “Kamu orangnya ceria dan banyak bicara.” Aruna melotot kesal. “Itu termasuk penghinaan ya?” “Terserah bagaimana kamu menilainya.” Ia membuka kembali layar komputernya. “Ingat, besok jangan terlambat.” Aruna masih berdiri di tempatnya. Jantungnya berdebar kencang, bercampur antara rasa kesal, malu, bingung, dan sedikit… senang? Tidak, tidak mungkin. Apa-apaan ini. Saat ia hendak membuka pintu, suara Niko memanggilnya. “Aruna.” Ia berhenti dan menoleh. “Ada apa lagi?” Niko menatapnya selama beberapa detik, lalu berkata pelan, “Selamat bergabung.” Dan sialnya… suara itu masih sama persis seperti dulu. Masih mampu membuat dadanya terasa tidak tenang. Ia segera membuka pintu dengan cepat. “Jangan sampai menyesal sudah menerima saya!” “Kenapa begitu?” “Saya orangnya sangat aktif dan banyak ide!” Niko bersandar santai di kursinya, menatap punggung Aruna yang pergi dengan pandangan yang mengandung banyak makna. “Sudah saya ketahui sejak dulu.” Pintu tertutup rapat. Aruna berdiri di luar dengan wajah kosong. Diam selama lima detik, sepuluh detik, lalu— “YA ALLAH, MANTANKU TERNYATA DIREKTUR UTAMA?!” Sekretaris yang lewat terkejut. “Ada apa, Mbak?” Aruna memegang kepalanya. “Bu… kalau mengundurkan diri sebelum mulai bekerja, apakah itu dianggap tidak sopan?”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
723.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
959.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
347.2K
bc

Not just, the Beta

read
342.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook