Sudah tiga hari. Tiga hari penuh. Dan Aruna akhirnya sampai pada satu kesimpulan penting dalam hidupnya: Niko itu sedikit gila.
Bukan gila yang parah, tapi gila dalam cara yang menyebalkan—yang bisa membuat emosinya naik turun tak menentu, persis seperti harga cabai di pasar.
Contohnya saja pagi ini. Jam baru menunjukkan pukul 08.13. Aruna baru saja duduk di kursinya, menyalakan laptop, dan masih berusaha membangunkan semangat kerjanya. Tiba-tiba, telepon di meja berdering nyaring.
Dina langsung menoleh sambil menyeringai. “Pacarmu menelepon.”
Aruna memandangnya dengan tatapan tajam. “Mantan.”
“Tapi sepertinya masih ada perasaan, ya?”
“Masih ada bekas luka, maksudnya.”
Dina tertawa lebar. Aruna mengangkat gagang telepon dengan wajah pasrah. “Ada apa?”
Suara berat dari seberang langsung terdengar, membuatnya ingin melempar alat itu. “Masuk ke ruanganku.”
Klik. Sambungan terputus. Sangat singkat dan tegas.
“Dasar menyebalkan,” gumam Aruna pelan.
Dina masih tertawa. “Cepatlah pergi. Bos tampan sedang memanggil.”
“Tampan saja tidak cukup.”
“Tapi badannya juga bagus, kan?”
Secara refleks Aruna menjawab, “Aku tahu.”
Dina langsung berhenti tertawa dan menatapnya tak percaya. “…Kamu tahu?”
Aruna terdiam sejenak. “…Maksudku, aku pernah melihatnya dulu.”
“ARUNAAA!”
“Diamlah, kamu!”
Tok… tok…
“Silakan masuk.”
Aruna membuka pintu. Di dekat jendela besar, Niko sedang berdiri mengenakan kemeja hitamnya lagi. Pria ini seolah memiliki persediaan aura dingin yang tidak akan habis selamanya.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
Niko menoleh. “Ambilkan map berwarna biru.”
“Map yang mana?”
“Itu yang ada di meja.”
Aruna melirik meja kerja. Terlihat ada lima buah map berwarna biru yang tergeletak di sana. Ia tersenyum tipis yang terasa dipaksakan. “Bolehkah disebutkan keterangannya agar lebih jelas?”
Niko berjalan mendekat, mengambil salah satu map itu, lalu menyodorkannya ke hadapan Aruna. “Yang ini.”
Aruna terdiam selama lima detik. “…Pak.”
“Apa lagi?”
“Kalau Bapak sudah bisa mengambilnya sendiri, kenapa harus memanggil saya?”
Niko kembali duduk dengan santai. “Itu tugasmu sebagai karyawan.”
“Tugas atau dipermainkan?”
“Kamu boleh keluar.”
“Sungguh menyebalkan.”
Begitu keluar, Dina langsung menghampirinya dengan penuh rasa ingin tahu. “Apa lagi yang dimintanya?”
“Map.”
“Hah?”
“Dia menyuruhku mengambil map, padahal akhirnya dia yang mengambil dan memberikannya padaku!”
Dina tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk. “Sudah pasti dia menyukaimu.”
“Menyukai membuatku naik darah, mungkin.”
Belum sempat Aruna selesai menggerutu, telepon di meja kembali berdering. Aruna memejamkan mata sejenak. “Ya Allah…”
Dina menepuk meja pelan. “Pergilah, istri—eh, maksudku mantan bosmu memanggil lagi!”
Aruna masuk kembali ke ruangan itu. “Ada apa lagi, Pak?”
Niko sedang asyik menatap layar komputernya. “Ambilkan secangkir kopi.”
Aruna menyilangkan tangan di depan d**a. “Apakah Bapak tidak memiliki kaki untuk berjalan sendiri ke dapur?”
Niko menatapnya dengan wajah datar. “Apa maksud ucapanmu itu?”
“Maksud saya…” Aruna tersenyum lebar namun terasa sangat dipaksakan. “…Akan saya ambilkan dengan senang hati.”
Lima menit kemudian, ia kembali membawa secangkir kopi. Namun, matanya langsung terbelalak melihat Niko sedang memegang cangkir kopi lain di tangannya.
“Pak…”
“Ada apa?”
“Apa ini?”
“Kopi.”
“Kopi yang saya ambilkan?”
“Benar.”
“TERUS YANG ADA DI TANGAN BAPAK ITU APA?!”
“Ini kopi yang saya pesan tadi pagi.”
Aruna menengadah memandang langit-langit ruangan. “Ya Allah… berikanlah saya kesabaran yang melimpah…”
Sore harinya, jarum jam menunjukkan pukul 17.04—waktu pulang kerja. Aruna tersenyum lebar, telah merapikan tas dan menutup laptopnya dengan rapi. Suasana hatinya membaik drastis.
“DINAAA!”
“Apa?”
“Saya pulang dulu!”
“Tumben sekali semangatnya.”
“Soalnya hari ini saya berhasil selamat tanpa membunuh bos saya.”
Tiba-tiba, seseorang berjalan mendekat. Seorang pria bertubuh tinggi, berpakaian rapi, dan beraroma wangi. “Aruna?”
Aruna menoleh. “Ya?”
“Saya Rafi dari bagian Keuangan.”
“Oh, halo, Mas Rafi.”
Pria itu tersenyum ramah. “Sudah mau pulang ya?”
“Benar.”
“Kalau kamu tidak keberatan…” Ia menggaruk belakang lehernya sedikit. “…Mau pulang bersama?”
Dina langsung menatap Aruna dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu. “Cieee…”
Aruna menyikut lengan Dina pelan. “Boleh saja.”
“Kalau begitu, kita bisa sekalian makan malam di luar?”
Belum sempat Aruna menjawab, sebuah suara berat tiba-tiba terdengar. “Aruna.”
Mereka serentak menoleh. Niko berdiri di ambang pintu ruangannya dengan tatapan dingin, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, dan raut wajah yang terlihat sangat serius—mode Direktur Utama yang galak telah aktif.
“Ada apa, Pak?”
“Segera kerjakan perbaikan laporan.”
Aruna tertegun. “Tapi ini sudah waktunya pulang kerja.”
“Lemburlah.”
“Hah?”
“Ini hal yang penting.”
“Tetapi saya sudah punya rencana—”
“Saya tunggu di dalam.”
Suasana menjadi hening seketika. Rafi terlihat merasa canggung. “Oh… baiklah, lain kali saja kita pergi bersama.” Ia pun berjalan pergi.
Dina menatap bergantian antara Niko, Aruna, lalu kembali ke Niko. Matanya berbinar-binar—ini pasti gosip terpanas minggu ini.
Begitu sosok Rafi menghilang dari pandangan, Aruna segera masuk ke ruangan Niko dan menutup pintu dengan agak keras. “Kamu sengaja melakukannya, kan?”
Niko tetap sibuk menatap layar komputernya. “Perhatikan bahasamu.”
“Jangan berkelit.”
“Saya bersikap profesional.”
“Profesional itu namanya bukan main-main begini!”
Niko akhirnya mengangkat wajahnya, menatap Aruna dengan tatapan yang terlihat sangat tenang. “Kamu digaji untuk bekerja, bukan untuk pergi bersenang-senang.”
“Tapi kenapa persis saat dia mengajakku pulang?!”
“Hanya kebetulan waktu.”
“Kebetulan yang tidak masuk akal.”
Niko menyandarkan punggungnya di kursi. “Kamu marah?”
“Sangat marah!”
“Kenapa?”
“Karena kelakuanmu sangat menyebalkan!”
Niko terdiam selama beberapa detik, lalu berkata dengan nada datar, “Pria tadi tidak cocok untukmu.”
Aruna berhenti menggerutu. “…Apa maksudmu?”
“Terlihat jelas dia hanya ingin mendekat saja.”
Aruna memandangnya dengan tatapan tajam. “Siapa kamu sampai berhak mengatur hidupku?”
“Saya adalah atasanmu.”
“Atasan di kantor, bukan pengatur hidupku!”
Niko menatapnya cukup lama. Tatapannya berubah sedikit, terlihat lebih serius dari sebelumnya. “Bagaimana kalau dia orang yang tidak baik?”
“Lalu apa urusannya denganmu?”
“Bisa membahayakan dirimu.”
Aruna mendengus kesal. “Justru kamu yang terlihat lebih berbahaya.”
Suasana menjadi hening sejenak. Niko kemudian membuka sebuah map di atas meja. “Duduklah.”
“Untuk apa?”
“Membahas perbaikan laporan.”
“Jadi benar-benar ada perbaikannya?!”
“Tidak ada.”
Aruna tertegun. “…Apa?!”
“Saya hanya tidak ingin kamu pulang bersamanya.”
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Jantung Aruna tiba-tiba berdebar tidak beraturan. “Kamu…” Ia menunjuk ke arah Niko. “…Apakah kamu cemburu?”
Niko segera kembali menatap layar komputernya. “Jangan berperasaan terlalu tinggi.”
“ASTAGA! KAMU MEMANG CEMBURU!”
“Keluar dari ruangan ini.”
“Woy, jawab dulu pertanyaanku!”
“KELUAR!”
Aruna berjalan keluar sambil tersenyum sendiri, lalu tiba-tiba berhenti dan memegang pipinya. “Kenapa malah aku tersenyum begini?”
Dina langsung menghampirinya dengan antusias. “Gimana? Apa yang terjadi di dalam?”
Aruna masih terlihat bingung. “…Sepertinya bosku ini mengalami gangguan jiwa.”
“Kenapa begitu?”
“…Dia tidak mengizinkanku pulang bersama pria lain.”
Dina melompat kecil menahan kegembiraan. “BERARTI DIA MEMANG MENYUKAIMU!”
Aruna segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Jangan-jangan…”
“Apa?”
“…Perasaanku mulai terasa aneh juga.”