Hari itu suasana kantor mendadak menjadi kacau. Entah mengapa sistem server mengalami gangguan, membuat tim pemasaran panik, bagian keuangan sibuk berdebat, dan tim teknis mulai merasa menyerah. Sementara itu, Aruna terlihat sangat kesal.
Sejak kejadian kemarin, jelas terlihat bahwa Niko merasa cemburu, namun ia bersikap dingin seolah tidak terjadi apa-apa—sikap yang sangat menyebalkan. Bahkan pagi tadi, saat Rafi baru saja menyapa, “Selamat pagi, Aruna,” belum sempat Aruna membalas, Niko sudah lewat di hadapan mereka dengan tatapan tajam dan berkata singkat, “Rapat dimulai lima menit lagi.” Padahal rapat itu baru akan dilaksanakan satu jam kemudian. Jelas sekali ia melakukannya dengan sengaja. Sungguh pria yang aneh.
Jam telah menunjukkan pukul hampir tujuh malam. Suasana kantor mulai sepi, dan Dina sudah berpamitan pulang lebih dulu.
“Saya pulang dulu ya!”
“Baiklah!”
“Kalau bos mengajak balikan, kabari saya segera!”
“Kalau begitu saya lemparkan stapler ini ke arahmu!”
Dina tertawa terbahak-bahak sambil berjalan pergi.
Aruna menghela napas panjang, lalu menutup laptopnya. “Syukurlah, akhirnya selesai juga.” Ia berdiri dan merasakan punggungnya terasa pegal, pikirannya lelah, dan yang teringat di kepalanya hanyalah keinginan untuk berbaring sambil menikmati semangkuk mi instan.
Saat berjalan menuju area lift, pintu ruangan Direktur Utama terbuka dan Niko keluar. Seperti biasa, ia mengenakan kemeja berwarna gelap—seolah memiliki perjanjian khusus dengan warna gelap. Pandangan mereka bertemu, menimbulkan suasana yang terasa canggung dan aneh.
Aruna segera berpura-pura sibuk memegang ponselnya.
“Sudah mau pulang?” tanya Niko dengan suara rendah.
“Iya.”
“Sudah malam begini?”
“Saya bukan b***k perusahaan yang harus tinggal terus di sini.”
Niko mendengus pelan. “Masih suka berbicara dengan nada tinggi.”
“Dan kamu masih suka menyuruh orang lembur tanpa alasan yang jelas.”
Mereka berdua masuk ke dalam lift. Hanya mereka berdua saja. Suasana menjadi hening seketika. Saat lift mulai bergerak turun, Aruna terus berpura-pura memperhatikan layar ponselnya, padahal dalam hatinya berteriak, Ya Allah, harus berdua saja dengan mantan. Rasanya sangat canggung.
Niko berdiri tepat di sampingnya. Aroma parfum yang ia gunakan masih sama seperti dulu, dan sialnya, Aruna masih sangat hafal dengan baunya.
“Masih tinggal di apartemen yang sama seperti dulu?” tanya Niko tiba-tiba.
Aruna menoleh sekilas. “Kenapa menanyakannya?”
“Hanya bertanya saja.”
“Masih di sana.”
Niko mengangguk pelan. Suasana kembali hening, hingga tiba-tiba—
BRETTT!
Lampu di dalam lift padam dan gerakannya berhenti secara mendadak. Gelap gulita menyelimuti ruangan sempit itu.
Aruna langsung membeku di tempat. “…Niko?”
“Ada di sini.”
“Kenapa liftnya berhenti?”
“Sepertinya terjadi pemadaman listrik.”
Selama dua detik tidak ada suara, lalu tiba-tiba terdengar tawa kecil dari Aruna. Niko mengernyitkan dahi. “Ada apa denganmu?”
“Tidak apa-apa.”
“Wajahmu terlihat pucat.”
“Tidak juga.”
“Aruna.”
“Niko…”
“Apa?”
“…Saya takut.”
Suasana menjadi hening seketika, disertai suara napas Aruna yang mulai bergetar.
“Takut pada lift?”
“Iya…”
Aruna mundur selangkah, napasnya menjadi tidak teratur dan telapak tangannya terasa dingin. Jantungnya berdebar semakin cepat. Sebuah kenangan buruk tiba-tiba terlintas di pikirannya—saat ia masih kecil, pernah terjebak di dalam lift sendirian selama hampir satu jam dalam kegelapan. Sejak saat itu, ia selalu merasa takut berada di ruangan yang tertutup dan sempit.
Niko segera menyadari hal itu. “Aruna.”
“Jangan matikan lampunya terus…”
“Tataplah ke arahku.”
“Saya tidak bisa…”
“Aruna.”
Nada bicaranya kini terdengar lebih lembut. “Lihatlah ke arahku.”
Perlahan Aruna menoleh. Niko berdiri sedikit lebih dekat, terlihat tenang dan tidak panik sedikit pun.
“Tariklah napas secara perlahan.”
“Saya tidak bisa…”
“Tentu bisa.”
“Bagaimana caranya agar tetap tenang dalam situasi begini?!” nada bicaranya mulai meninggi karena panik. “Saya bahkan belum menikah!”
Niko tanpa sadar tertawa kecil mendengarnya. Aruna langsung memasang wajah kesal. “Kamu malah tertawa?!”
“Ternyata kamu masih tetap lucu.”
“Ini situasi yang serius!”
“Tenanglah.”
Perlahan Niko menyentuh bahu Aruna—sebuah gerakan yang spontan, persis seperti yang sering ia lakukan dulu. Saat Aruna panik menghadapi ujian, saat ia menangis karena mendapatkan nilai yang buruk, atau saat ia merasa sedih, Niko selalu bersikap tenang dan diam, namun mampu memberikan rasa aman.
“Tataplah ke arahku.”
Aruna terdiam, napasnya masih terasa cepat.
“Nah, begitu,” ucap Niko dengan suara pelan. “Kita masih hidup dan aman.”
“Bagaimana kalau terjadi hal buruk?”
“Kalau begitu, saya akan ikut merasakannya bersamamu.”
Aruna langsung menoleh dengan cepat. “…Apa maksud ucapanmu itu?”
Niko hanya tersenyum tipis, dan sialnya, senyum itu tetap terlihat sangat tampan.
“Kamu masih tetap menyebalkan,” gumam Aruna.
“Dan kamu masih cerewet seperti biasa.”
Suasana kembali hening, namun kali ini tidak terasa secanggung sebelumnya—ada sedikit kehangatan yang terasa di antara keduanya. Aruna duduk bersandar di sudut dinding lift.
“Saya merasa malu,” ucapnya pelan.
“Kenapa?”
“Karena takut pada lift.”
“Apakah ini disebabkan oleh pengalaman buruk di masa lalu?”
Aruna mengangguk kecil. “Dulu pernah terjebak sendirian.”
“Begitu ya.”
“Jadi jangan ditertawakan.”
“Maafkan saya.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka cukup lama, hingga akhirnya Aruna berbicara dengan suara pelan. “Kamu telah berubah.”
Niko terdiam sejenak. “Maksudmu?”
“Dulu kamu tidak sedingin ini.”
Tatapan Niko terlihat kosong sejenak. “Manusia pasti berubah seiring berjalannya waktu.”
“Karena apa?”
Tidak ada jawaban. Aruna menggigit bibir bawahnya, akhirnya memberanikan diri mengajukan pertanyaan yang selama ini terpendam di hatinya. Dengan suara yang pelan namun terasa menusuk hati, ia bertanya, “Kenapa dulu kamu pergi begitu saja tanpa kabar?”
Suasana menjadi sangat sunyi. Niko langsung terdiam, menundukkan pandangannya dan rahangnya mengeras.
Aruna terus menatapnya. “Sudah tiga tahun berlalu, Nik. Bahkan satu penjelasan pun tidak pernah kamu berikan. Apakah kamu tahu bagaimana perasaan saya saat itu? Saya merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.”
Suara Aruna mulai terdengar semakin pelan. “Saya terus menunggu, berpikir mungkin ada kesalahan yang saya buat. Hingga akhirnya saya merasa… sepertinya saya tidak cukup baik untukmu.” Ia tertawa kecil yang terasa pahit.
Niko tetap diam, terlalu diam.
“Kenapa?” tanya Aruna lagi dengan suara yang semakin pelan. “Apakah karena saya berasal dari keluarga yang kurang mampu?”
Kalimat itu tergantung di udara. Niko segera mengangkat wajahnya. “Jangan berbicara seperti itu.”
“Kalau bukan karena itu, lalu apa alasannya?”
Tidak ada jawaban. Keheningan berlangsung sangat lama, hingga akhirnya Niko menghela napas panjang. Tatapannya terlihat penuh kerumitan, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan namun tertahan di tenggorokan.
“Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang.”
Aruna tertawa kecil, namun terdengar pahit. “Ternyata kebiasaanmu menghilang masih tetap ada ya?”
“Aruna—”
TING!
Tiba-tiba lampu di dalam lift menyala kembali dan perangkat itu beroperasi seperti sedia kala. Pintu terbuka, dan momen yang penuh emosi itu seketika terputus begitu saja.
Niko berdiri lebih dulu. “Liftnya sudah berfungsi kembali.”
Aruna terdiam selama beberapa detik, lalu ikut berdiri. Mereka berjalan berdampingan menuju pintu keluar, namun suasana tetap terasa sangat sunyi.
Sesampainya di lobi, Niko berhenti dan memanggil, “Aruna.”
Ia menoleh. “Ada apa?”
Niko menatapnya cukup lama, seolah ingin menyampaikan sesuatu, namun akhirnya hanya berkata, “Hati-hati di jalan.”
Aruna mendengus pelan. “Ucapan yang terlalu biasa.”
Ia berjalan mendahului, namun setelah beberapa langkah, ia berhenti. Di balik punggungnya, Niko masih berdiri di tempat yang sama, menunggunya hingga ia masuk ke dalam kendaraan daring—persis seperti yang sering ia lakukan di masa lalu. Dan hal kecil itu ternyata mampu membuat hati Aruna terguncang kembali.
“Astaga…” gumamnya sambil bersandar di kursi kendaraan. “Jangan bilang saya mulai menyukainya lagi…”