Yona kembali bekerja seperti biasanya, namun tidak dengan senyum dan tawa yang biasa ia pancarkan kepada temna-temannya. Tawa yang selalu menghiasi harinya, kini berubah saat teman-teman-teman Yona memilih untuk diam tak tak bicara sepatah katapun.
Pikiran Yona juga mulai tak karuan, ia bahkan tidak bisa fokus pada pekerjaannya, namun keempat teman-teman Yona masih berbaik hati untuk menutupi kekurangan Yona dalam bekerja.
Seburuk-buruknya sahabat, jika memang sudah memilih untuk menjadi sahabat dan yakin kalau persahabatan akan kekal selamanya, dengan cara apapun itu, seorang sahabat akan menutupi kekurangan sahabatnya dan berusaha untuk membahagiakan sahabatnya.
Tak ada niat lain yang ingin di lakukan oleh sahabat-sahabat Yona, mereka hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Yona, tak ingin sahabat yang ceria ini terluka dan menangis, namun Yona justru salah paham dan menanggapinya dengan emosi yang tidak karuan.
“Akhirnya, lelah ku terbayarkan. Target bisa terkeja dan kita bisa pulang tepat waktu” ucap Sarah, lalu menarik nafas dalam dan membuang samil tersenyum.
“Pulang Yuk” ucap Asih, lalu mereka pulang tanpa ada Yona bersama mereka.
Wulan menatap Yona dengan penuh iba, ia bisa merasakan apa yang kini Yona rasakan. Ia juga memikirkan apa yang Yona dapatkan dari atasannya itu, namun ia memilih dia karena tak ingin memperkeruh suasana.
Ingin rasanya Wulan menghampiri Yona, namun ia takut kalau hal itu justru mendatangkan amarah dari sahabat-sahabatnya yang lain, ia juga takut kalau Yona tidak merespon dirinya karena saat ini sedang dipengaruhi amarah dan kekesalan.
‘Sebaiknya aku tunggu sampai besok saja, sampai amarah mereka benar-benar reda. Aku tau mereka kesal karena Yona tidak percaya, tapi aku juga mengerti kenapa Yona marah, dia pasti tidak terima kalau pacarnya telah menduakannya sehingga ia menjadikan kami pelampiasan dan tertawa untuk menutupi tangisnya. Semoga kamu kuat ya Yo, semoga semuanya segera terbongkar supaya Riko tidak menyakiti kamu lebih dalam lagi. Kami semua sayang kamu Yo makanya kami memberitahukan hal ini sama kamu, tapi kamu tidak tau kalau hal ini akan bertentangan pada mu’ batin Wulan.
‘Kenapa kalian marah pada ku? Kenapa kalian tidak menanyakan bagaimana keadaan ku? Kenapa kalian tidak menanyakan bagaimana perasaan ku? Apa yang harus aku katakan kepada kalian saat mendengar hal itu dari kalian? Aku benar-benar terpuruk sekarang, dan aku berharap kalianlah yang menemani ku saat ini. Bukannya aku tidak percaya kepada kalian, tapi aku juga butuh jawaban dari Riko atas semua ini. Aku tidak mungkin langsung percaya dengan apa yang kalian katakan tanpa mendengar penjelasannya dahulu, aku tidak ingin hanya mendengar sebelah pihak yang justru akan membuat ku menyesal jika itu tidak benar’ batin Yona, lalu ia melajuka motornya menuju rumahnya.
Yona menjatuhkan tubuhnya di ranjang, ia kembali memikirkan apa yang teman-temannya katakan, membuatnya semakin penasaran.
“Benarkan Riko telah menghianati ku? Benarkah dia tengah menjalin hubungan dengan wanita lain? Kalau ia, siapa wanita itu? Atau jangan-jangan ini ada hubungannya dengan wanita yang menghubunginya? Atau jangan-jangan dia adalah…” Yona menggantung kalimatnya, lalu ia menepuk-nepuk wajahnya seolah ingin menyadarkan dirinya.
“Nggak Yoyo nggak, kamu nggak boleh berasumsi seenak jidat bahkan seenak p****t kuali, kamu harus mencari tahu dulu kebenarannya sebelum menyimpulkan, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari. Kamu tau kan kalau Riko itu sayang banget sama kamu? Kamu tau kan kalau dia itu nggak mau kehilangan kamu? Jadi nggak mungkin dia khianatin kamu, nggak mungkin dia berpaling dari kamu. Meskipun dia jarang memberi kabar, kamu harus tetap berpikir positif padanya, dia itu kerja mencari uang untuk masa depan kalian nantinya, untuk kamu juga” ucap Yona pada dirinya sendiri.
Yona membersihkan diri, lalu ia menyantap nasi bungkus yang ia beli sebelum saat ia pulang.
Dengan hati yang gunda, Yona menghubungi Riko untuk mencaritahu kebenarannya, ia juga ingin tau apakah jawaban Riko sesuai dengan apa yang di katakan oleh temanptemannya, atau justru mengiyakan dengan alasan yang berbeda.
Yona: Hallo sayang, kamu lagi sibuk nggak?
Riko: Nggak kok sayang, ini aku lagi di rumah baru pulang kerja. Ada apa sayang?
Yona: Kok nanya ada apa sih? Emangnya aku nggak boleh telepon pacar aku sendiri? Aku nggak boleh kangen sama pacar aku dan melepaskan kerinduan ini dengan telepon? Kan hanya dengan teleponan kita bisa melepas rindu? Meski sebenarnya kita bisa melepaskan rindu itu setiap weekend, tapi kamu terlalu sibuk dengan lembur-lembur mu itu. Tapi aku nggak bisa berbuat apa, aku harus mengerti karena apa yang kamu lakukan saat ini, itu semua demi kebaikan kita, demi masa depan kita.
Riko: Terima kasih sayang atas pengertiannya, aku berjanji akan berjuang dan bekerja dengan giat supaya bisa melamar kamu dan menafkahi kamu nantinya.
Yona: Gombal. Oh iya, aku mau nanya, kemarin kan kita jalan ya? Setelah mengantarkan aku pulang, kamu langsung pulang atau pergi ke suatu tempat gitu?
Riko terdiam saat mendengar perkataan kekasihnya, seketika wajahnya pucat pasi tak tau harus menjawab apa, ingin rasanya ia berbohong, namun ia takut kalau semua tidak sesuai dengan harapannya.
‘Apa yang harus aku katakan? Kalau aku bilang langsung pulang, mungkin aku berpikir kalau masalah ini akan selesai, tapi aku juga harus pintar dan bisa mencerna apa maksud perkataan Yona. Dia bilang atau pergi ke suatu tempat, itu artinya ada kemungkinan dia melihat aku jalan dengan Maura. Apa yang harus aku katakan? Bagaimana kalau semua ini terbongkar, bisa berabe semuanya’ batin Riko.
Yona: Sayang, hallo… kamu masih di sana kan?
Riko: Ah iya sayang, kenapa… kenapa?
Yona: Kok kamu jadi gelagapan begini sih?
‘Kenapa Riko tiba-tiba seperti ini? Apa jangan-jangan semua yang di katakan teman-teman ku benar? Apa jangan-jangan Riko benar-benar menghianati ku dan selingkuh dengan wanita lain?’ batin Yona.
Riko: Ah nggak kok sayang, tadi di depan ada gofood yang nganterin makanan, jadi aku nggak denger, maaf ya sayang.
Yona: Oh nggak apa-apa kok. Tapi kamu belum jawab pertanyaan aku loh, kamu langsung pulang atau mampir ke tempat yang lain?
Riko: Kenapa sayang? Kenapa tiba-tiba tanya begitu?
Yona: Kemarin teman-teman aku melihat kamu di kota tua, katanya kamu lagi sama wanita yang pastinya bukan aku karena kamu sudah nganterin aku pulang. Jadi wanita itu siapa? Atau mungkin teman-teman ku mengada-ngada? Tapi nggak mungkin kan mereka mengada-ngada? Nggak mungkin mereka salah lihat, kecuali cuma satu orang baru mungkin karena tidak ada yang melihat selain orang itu. Tapi ini berempat, dan mereka berempat melihat kamu degan jelas, bener nggak sih sayang?
Riko: Ah itu, iya bener sayang, teman-teman kamu nggak salah lihat kok. Kemaren aku memang pergi ke sana, sebenarnya nggak ada niat sih mau ke sana, rencananya aku mau langsung balik karena hari ini kan kerja. Tapi di perjalanan dia telepon aku, dia itu rekan kerja aku di sini, katanya dia lagi di kota tua. Dia kasihan loh sayang, soalnya dia janjian sama pacarnya tapi pacarnya nggak datang, malah di di putusin lewat telepon sama pacarnya. Aku nggak tega sama dia, makanya aku jemput dia ke sana. Maaf ya sayang, aku nggak bilang sama kamu.
Yona: Oh gitu, nggak apa-apa kok sayang, aku justru bangga punya pacar seperti kamu, kamu itu baik banget dan pengertian juga, sama wanita lain aja kamu begitu, apalagi sama aku, bukan? Yang penting kamu jangan macam-macam di belakang aku, cukup satu macam aja. Aku sayang banget sama kamu.
Riko: Iya sayang, aku juga. Kalau begitu aku tutup teleponnya dulu ya sayang, aku mau makan dulu.
Yona: Yaudah, selamat makan sayang.
Riko memutuskan sambungan teleponnya setelah menjawab ucapan Yona dengan senyuman, lalu ia meletakkan ponselnya di meja.
"Sial, bagaimana bisa para cunguk-cunguk Yona itu mengadu sama dia? Untung Yona percaya sama aku, kalau nggak, bisa-bisa aku kehilangan dia. Aku harus lebih hati-hati sekarang, jangan sampai semua terbongkar saat aku belum siap menerima kenyataannya" ucap Riko kesal.
Sementara Yona, ia hanya memandangi ponselnya, ia mengelus-elus wajah Riko yang ada di layar ponselnya.
"Aku percaya sama kamu sayang, aku percaya. Aku harap kamu nggak ngecewain aku ya, aku harap semua baik-baik saja." ucap Yona.
"Di sini nggak ada yang salah, nggak seharusnya juga aku marah sama teman-teman ku. Mereka benar akan apa yang mereka lihat, hanya saja mereka salah paham dengan apa yang mereka lihat. Aku harus menjelaskan semuanya, aku harus memperbaiki nama baik kekasih ku di depan mereka, dan aku juga harus memperbaiki kesalah pahaman ini." ucap Yona, lalu ia mengotak atik ponselnya.
"Tapi sebaiknya ini di bicarakan langsung supaya lebih enak dan tidak ada marah-marahan lagi, kalau di bicarakan lewat ponsel apalagi lewat chat seperti ini, yang ada mereka akan marah karena tadi siang aku sudah mengatakan yang tidak-tidak kepada mereka" ucap Yona lagi, lalu ia tidur dan berharap semua akan baik-baik saja.
Di tempat lain di rumah Jesica, ia sedang asyik berbincang dengan Asih. Tak ada perbincangan lain yang keluar dari bibir mereka selain tentang Riko, tentang Yona yang begitu mengesalkan namun juga memprihatinkan.
“Kau tau, aku sangat kesal kepada Yoyo yang sama sekali nggak mau dengerik apa kata kita. Bahkan aku juga sangat kesal saat tau kalau dia berpikir yang tidak-tidak tentang kita, bagaimana mungkin di bisa berpikir negatif kepada sahabat-sahabatnya? Apa kita sejahat itu? Kita di sini mau bantuin dia dari p****************g seperti Riko, kita di sini buat nyelamatin hatinya supaya tidak terluka, tapi dia justru tidak percaya dengan kita dan meragukan persahabatan kita” kata Asih kesal.
“Nggak boleh berpikir negatif seperti itu kepada sahabat sendiri”.
Terdengar suara dari balik pintu yang membuat Asih dan Jesicasa langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
“Kita nginap di sini ya” sosor Sarah yang di jawab dengan anggukan oleh Jesica.
“Maksud kamu apa Lan, kamu tau sendiri kan bagaimana Yoyo respon kita? Kalau kamu bicara begitu, seharusnya sama Yoyo bukan sama kita” protes Asih tak terima.
“Asih, kamu itu nggak boleh gitu, biar bagaimanapun Yoyo itu sahabat kita. Seharusnya kita juga memikirkan bagaimana perasaan Yoyo, mungkin saja dia berkata begitu karena ingin menutupi kesedihannya. Kamu ingatkan kalau siang tadi Yoyo di minta ke ruangan pak Alfredo? Kita nggak tau apa yang terjadi sama dia di sana, mungkin saja dia dalam masalah besar bukan? Di tambah lagi dia harus mendengar kalau kekasihnya sedang selingkuh, sudah pasti dia benar-benar frustasi dan nggak tau harus bilang apa lagi. Mungkin saja dia berpikir kalau melampiaskannya kepada kita, kita tidak akan marah karena kita adalah sahabatnya, dan kita sebagai sahabat harus mengerti dengan kekurangan sahabat kita dan kita juga harus membantunya. Sebaiknya kita bicarakan pelan-pelan sama Yoyo, semoga dia mau mendengarkan kita” kata Wulan menenangkan.
“Iya benar juga, kita sudah terlalu jahat kalau sampai kita diemin Yoyo apalagi jauhin kayak gini, dia kan sahabat kita. Kita juga nggak bisa menyalahkan Yoyo karena kita juga nggak punya bukti, jadi wajar kalau dia nggak percaya. Memang sih kita ini sahabat Yoyo, tapi kita juga nggak bisa maksa kalau dia harus selalu percaya sana omongan kita, ada saatnya juga dia percaya sama kekasihnya meski kekasihnya salah. Kita juga nggak tau kan, atau mungkin kita di sini tau, terkadang Yoyo juga percaya sama omongan kita meskipun kita bohong sama dia, jadi ini nggak sepenuhnya salah Yoyo” timpal Sarah.
Asih terdiam sejenak, ia mulai mencerna apa yang di katakan kedua sahabatnya itu, dan ia tak bisa memungkiri kalau apa yang di katakan sahabatnya itu benar.
“Iya juga sih, kalau gitu besok kita minta maaf aja sama Yoyo, tapi dia juga harus minta maaf sama kita karena sudah berpikir yang nggak-nggak sama kita” kata Asih.
“Memang ya, kamu itu orangnya suka nuntut” kata Sarah sambil menjitak kepala sahabatnya itu.
“Coba untuk memaafkan meskipun orang yang kamu maafkan tidak minta maaf Asih, supaya jalan hidup kamu mulus. Kalau nggak bisa selalu seperti itu, setidaknya sesekali lakukan seperti itu, dan ini adalah sahabat kamu sendiri, Yoyo. Seharusnya kamu lebih berlapang d**a dengan sikapnya yang seperti itu, karena kamu sudah hafal betul siapa Yoyo. Seorang sahabat pasti sudah tau bagaimana tabiat sahabatnya, dan seorang sahabat tidak akan marah jika sahabatnya melontarkan kata-kata yang tidak mengenakkan, karena apa? Kembali lagi ke kalimat tadi, sudah saling tau tabiat masing-masing dan nggak boleh sakit hati” kata Wulan.
“Tapi dia marah, dia kesal, berarti dia nggak menganggap kita sahabat dong” protes Jesica.
“Kamu itu b*doh atau t*lol sih Jes, kan tadi Wulan udah bilang, mungkin saja siang tadi Yoyo sedang mendapatkan masalah, di tambah lagi dia harus di hadapkan dengan kennyataan kalau kekasihnya selingkuh, jadi wajar saja kalau emosinya memuncak. Di sini kita yang harus mengerti dia, karena kita adalah sahabatnya yang tidak berada di situasi sulit seperti dia. Aku yakin, kalau dia ada di posisi kita dan kita di posisi dia, dia juga pasti akan mengerti kita” jelas Sarah.
“Kau benar Sara, jadi sebaiknya kita istirahat dan memantapkan diri untuk membicarakan semua ini kepada Yoyo, kita harus memperbaiki persahabatan kita yang hampir retak ini, jangan hanya karena masalah sepele dan ego masing-masing, persahabatan kita menjadi renggang” ucap Wulang yang di jawab dengan anggukan oleh ketiga sahabatnya.