Dengan langkah cepat, dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun, Yona berjalan menuju kantin, menghampiri teman-temannya yang sedang bercanda tawa.
"Aih, mimpi apa aku semalam? Bisa-bisanya aku bertemu pria menyebalkan seperti itu, bukan hanya benyebalkan, tapi juga pria gila" ucap Yona yang membuat teman-temannya membulatkan mata.
"Ada apa denganmu Yoyo, apa yang terjadi?" tanya Wulan.
"Entahlah, tak perlu di bahas. Sekarang, ceritakan padaku apa yang kalian ketahui sebelum kita kembali bekerja. Aku tidak ingin kalian memberiku alasan kalau kita akan kembali bekerja, cukup pagi tadi kalian mengatakan hal itu." ucap Yona.
Sarah, Asih, Wulan, dan juga Jesica saling pandang, seolah saling meminta untuk menceritakannya. Namun tak satupun yang ingin menceritakannya, mereka takut kalau Yona tak percaya dan justru marah-marah, yang mengakibatkan persabatan mereka retak.
"Kenapa diam saja? Kenapa tidak ada yang mau menceritakan kepadaku? Bukankah kalian ingin mengatakannya? Oh sial, kenapa kalian menjadi semenyebalkan ini? Belum cukupkah manager gila itu yang menyebalkan? Belum cukupkah hanya dia saja yang membuatku kesal dan membuat amarahku memuncak sampai ke ubun-ubun? Tolong ceritakan kepadaku sebelum aku benar-benar semakin kesal, sungguh kepalaku hampir pecah hari ini" ucap Yona, yang membuat teman-temannya semakin takut.
"Sebenarnya, kemarin kami melihat Riko bersama wanita lain" ucap Asih.
"Apa? Haha" ucap Yona sambil tertawa terbahak.
"Kenapa kau tertawa? Kami serius, kami benar-benar melihat Riko bersama dengan wanita lain" ucap Jesica.
"Bukan wanita lain dodol, tapi aku" ucap Yona lalu kembali tertawa. "Kalian benar-benar ya, aku fikir kalian akan membuatku kesal seperti manager menyebalkan itu, tapi ternyata kalian telah menghiburku" lanjut Yona.
"Kenapa kau tidak percaya, kami benar-benar melihatnya dan wanita itu bukan kamu" ucap Wulan.
"Begini kalau sudah terlalu cinta, apapun keburukan pacarnya, pasti ia tak akan percaya dan menganggap kekasihnya yang terbaik" ucap Sarah kesal.
"Aku anggap aku percaya, supaya kalian senang. Lalu, di mana kalian melihat Riko?" tanya Yona.
"Di cafe Batavia, di kota tua" jawab Wulan.
Kembali lagi Yona tertawa, merasa lucu dengan apa yang teman-temannya katakan. Yona merasa kalau teman-temannya hanya ingin membuatnya jengkel, karena mereka sudah biasa melakukan hal itu kepada Yona.
"Hentikan candaan kalian ini, aku benar-benar sakit perut karena tertawa. Bagaimana mungkin aku bisa percaya omongan kalian? Kemarin aku bersama Riko seharian, dan bagaimana bisa Riko sedang bersama wanita lain di cafe Batavia? Sepertinya kalian harus periksa mata dulu, supaya kalian bisa melihat dengan jelas dan bisa membedakan antara aku dengan wanita lain" ucap Yona.
"Mataku, mata kami masih jelas. Apa yang kami lihat itu benar bukan kamu, apa kau merasa pergi ke cafe Batavia bersama Riko?" tanya Asih yang membuat Yona sedikit berfikir, namun ia tak habis pikir, ia tetap bertahan pada apa yang ia yakini, kalau Riko benar-benar setia padanya.
"Aku memang tidak pergi ke cafe Batavia, karena setelah kami selesai nonton bioskop, kami langsung pulang. Nah, kesalahannya di mana? Kesalahannya ada di penglihatan kalian, kesalahannya kalian melihat pria yang sedang bersama wanita itu adalah Riko, sementara Riko sedang bersama denganku. Maka dari itu, kalian mengatakan kalau orang asing itu adalah Riko sedang bersama orang lain. Nyatanya, kedua orang itu adalah orang asing yang tidak kalian kenal" ucap Yona dengan percaya diri.
"Memang susah bicara dengan orang yang otaknya di penuhi dengan cinta, atau mungkin dia sudah di pelet oleh Riko" ucap Sarah ketus.
"Hei, cinta Riko tulus padaku, bukan karena pelet atau jampi-jampi atau apapun itu. Jangan pernah berkata yang bukan-bukan tentang Riko kepadaku, atau aku akan marah kepada kalian" ucap Yona.
Sontak teman-temannya terdiam, bukan karena takut dengan ucapan Yona, tapi karena mereka malas untuk menjelaskan semuanya kepada Yona yang berujung kesia-siaan. Melihat tak ada respon dari teman-temannya, Rosa merasa sedikit janggal, ada keraguan di dalam hatinya.
"Baiklah, kalau kaliah tetap bersikeras kalau itu adalah Riko. Sekarang, aku minta buktinya. Aku ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri kalau pria yang kalian katakan dengan wanita lain di cafe Batavia itu adalah Riko." ucap Yona.
Mendengar itu, teman-teman Yona membulatkan mata tak percaya kalau Yona akan berkata seperti itu. Kata-kata yang benar-benar menunjukkan ketidakpercayaan Yona kepada mereka, membuat mereka sedikit kecewa terhadap teman mereka yang satu ini.
"Kami tidak memiliki fotonya" jawab Sarah ketus.
"Nah, dari sini bisa terlihat kalau kalian salah. Kalian ngotot untuk benar, tapi nyatanya tidak. Aku mencoba untuk percaya, dan aku meminta bukti kepada kalian, tapi kalian tidak membuktikannya. Lalu, apa alasanku untuk percaya kepada kalian?" ucap Yona.
Sejenak teman-teman Yona terdiam, kembali merasa kecewa atas ketidak percayaan Yona.
"Sudahlah terserah kau saja, kalau kau ingin percaya atau tidak. Yang jelas, kami sudah memberitahumu." ucap Jesica ketus.
"Hei kenapa kau marah?" tanya Yona yang tak terima dengan sikap Jesica.
"Aku tidak marah, aku hanya kesal dengan teman yang tidak percaya dengan temannya sendiri" jawab Jesica.
"Ya, kau benar. Dan kita juga tidak boleh terlalu percaya kepada teman. Karena teman juga bisa jadi musuh dalam selimut, yang menjatuhkan kita saat kita sedang berdiri" jawab Yona.
"Kalau begitu, tidak perlu berteman kalau tidak adanya kepercayaan. Tidak perlu saling terbuka, dan tidak perlu saling bergandeng tangan dengan janji selalu bersama dalam suka dan duka. Untuk apa mengikat pertemanan ini kalau tidak ada kepercayaan? Untuk apa kalau kita saling menjatuhkan?" ucap Sarah mulai menaikkan nada suaranya, seketika semua terdiam, mulai merenungkan kalimat masing-masing.
"Sudahlah, kalau kau tidak percaya kepada kami, itu hak kamu Yoyo. Kami tidak akan memaksamu, semua keputusan ada di tanganmu. Dan aku harap, jangan merusak pertemanan kita ini hanya karena pria. Aku tak ingin pertemanan kita renggang hanya karena masalah sepele, lebih baik kita lupakan saja" ucap Wulan menengahi
"Bukan karena pria, tapi karena dia yang tidak percaya kepada teman-temannya. Dia berkata seolah-olah kita mengarang cerita, seolah-olah kita hanya ingin menghancurkan hubungan mereka. Apa kita sepicik itu? Apa kita sejahat itu?" teriak Asih. "Dan ini juga bukan masalah sepele, ini tentang kepercayaan. Tapi aku mengerti, kalau Yona tidak meletakkan kepercayaannya kepada kita meskipun kita adalah teman-temannya." lanjut Asih.
"Sudahlah, tidak perlu di bahas lagi. Sebaiknya kita kembali bekerja, karena waktu istirahat sudah hampir habis. Aku tak ingin masalah ini menghancurkan konsentrasiku, sebaiknya kita lupakan masalah ini dan anggap tidak terjadi apa-apa" ucap Jesica lalu pergi meninggalkan mereka. Dengan cepat Asih, Sarah dan Wulan mengikuti Jesica, sementara Yona masih terdiam di tempat sambil memikirkan sesuatu.