Bagian 6

1055 Words
Aku tetap tenang duduk di tempatku, namun teman-temanku sudah seperti cacing kepanasan tak bisa dian di tempat duduknya. "Astaga, bagaimana mungkin dia ke sini?" ucap Jesica. "Coba cubit aku, apakah aku sedang bermimpi?" tanya Asih yang langsung di cubit dengan kuat oleh Sarah. "Hei, apakah kau ingin mengajakku perang?" tanya Asih lagi. "Kenapa kau bicara seperti itu?" bukannya menjawab, Sarah malah bertanya balik. "Kau mencubitku bodoh" ucap Asih kesal. "Kau yang memintanya, maka aku melakukannya" jawab Sarah polos. "Tapi aku tidak memintamu untuk mencubitku sekuat tenaga bodoh" ucap Asih tak mau kalah. "Tapi kau tidak memintaku untuk mencubitmu dengan pelan stupid, kau hanya memintaku untuk mencubitmu, maka aku melakukan apa yang kau katakan. Kau sungguh menyebalkan, lain kali aku tidak akan mau jika kau memintaku melakukan apapun" jawab Sarah. Sebenarnya Sarah tidak terlalu fokus saat mencubit tangan Asih, karena matanya hanya tertuju kepada pria penuh pesona itu. "Sudah-sudah, jangan berdebat. Pria idaman sudah mendekat, jangan sampai mereka lihat kalian berdebat seperti Tom and Jerry seperti ini" ucap Wulan menengahi. "Ehem, bolehkah saya bicara denganmu?" tanya Alftedo ramah. "Dengan siapa pak? Di sini ada wanita cantik lima orang, siapa yang ingin bapak ajak bicara?" tanya Asih dengan genitnya. "Iya pak, apakah bapak ingin bicara denganku?" ucap Jesica menimpali. "Atau mungkin denganku?" timpal Sarah. Dengan genitnya mereka menggoda Alfredo, berbeda dengan Wulan yang sedikit lebih tenang meskipun ia juga mengagumi Alfredo. Lebih berbeda lagi dengan Yona, yang benar-benar tidak menghiraukan ucapan Alfredo. Di tambah lagi, ia masih memikirkan apa yang akan teman-temannya katakan. "Bukan, saya ingin bicara dengan dia" tunjuk Alfredo kepada Yona. "Ikut saya ke ruangan saya sekarang" ucap Alfredo lalu pergi meninggalkan mereka. "Astaga, mimpi apa aku semalam?" ucap Yona sambil menepuk jidatnya. "Aku belum mendengarkan apa yang akan teman-temanku katakan, tapi sekarang aku harus berurusan lagi dengan manager gila itu. Ini benar-benar menyebalkan" lanjut Yona, lalu mengikuti Alfredo. Tak henti-hentinya Yona mengupat, meskipun ia mengikuti Alfredo ke ruangannya, namun fikirannya tetap kepada teman-temannya. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang akan teman-temannya katakan, karena sebelumnya, ia tak pernah ketinggalan berita dari teman-temannya. "Duduk" ucap Alfredo setelah mereka tiba di ruangannya. Dengan sopan, Yona menurut dan duduk. "Mulai besok, kamu bekerja di sini membantu saya" ucap Alfredo langsung to the point. "Eh bujuk" ucap Yona spontan, tanpa sadar kalau ia sedang berbicara dengan atasannya. Seketika ia menutup mulutnya, menyadari apa yang ia katakan. "Maaf pak, saya kaget" lanjut Rosa takut-takut. "Yasudah, kamu boleh pergi" ucap Alfredo. "Eh?" Yona bingung tak mengerti apa yang Alfredo katakan. "Kenapa eh? Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, sekarang kamu boleh keluar" ucap Alfredo, membuat Yona semakin bingung. "Maksud bapak saya tidak kerja di sini besok? Bapak marah? Bapak tidak suka karena saya bicara sperti itu kepada bapak? Oh terima kasih pak, saya juga tidak menginginkan untuk bekerja di sini. Saya lebih senang bekerja di bawah, terima kasih sekali lagi pak. Kalau begitu, saya permisi dulu pak" pamit Yona sambil membungkuk. "Ingin atau tidak, mulai besok kamu harus tetap kerja di sini bersama saya. Tidak ada penolakan atau apapun itu, ini perintah" ucap Alfredo lantang, sontak Yona melirik Alfredo, lalu kembali berdiri tegap. "Bukannya bapak membatalkan semuanya makanya bapak menyuruh saya pergi?" tanya Yona. Saya menyuruh kamu pergi karena menurut saya tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Apa yang ingin saya sampaikan sudah saya sampaikan, jadi untuk apa saya menahanmu lama-lama di sini?" ucap Alfredo. Dengan berat hati, Yona keluar dari ruangan Alfredo. Sebelumnya, ia menatap Alfredo tajam. 'Andai saja aku bisa, aku ingin mencekikmu dan membunuhmu hari ini juga. Dasar atasan menyebalkan, aku akan membunuhmu kalau kau bukan manager. Andai saja aku belum memiliki kekasih, atau mungkin aku wanita yang tidak setia, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, lalu mencampakkanmu begitu saja' batin Yona sambil tersenyum. "Saya permisi dulu pa" pamit Rosa. "Dasar atasan gila, tampan-tampan tapi menyebalkan" ucap Yona pelan sambil berjalan ke arah pintu. "Apa kau bilang?" tanya Alfredo, karena ia mendengar apa yang Yona ucapkan. "Ah tidak pak, saya tidak bilang apa-apa" ucap Yona. "Kau pikir saya tidak mendengarnya?" tanya Alfredo. "Kalau bapak mendengarnya, kenapa bapak bertanya lagi?" ucap Yona kesal, kekesalannya semakin menjadi-jadi karena ingin mendengar apa yang akan di katakan oleh teman-temannya. "Kalau begitu saya permisi dulu pak, terima kasih" lanjut Yona, lalu membalikkan badannya. Dengan cepat Alfredo menarik tangan Yona, mencoba untuk menghentikannya. Sontak Yona terkejut dan terjatuh ke d**a bidang Alfredo. "Coba katakan sekali lagi" ucap Alfredo dengan tatapan tajam. 'Baiklah Yoyo, tidak perlu takut. Sebaiknya katakan saja, dengan begitu dia tidak akan memintamu untuk bekerja dengannya. Karena kalau kau mengatakannya sekali lagi, maka dia akan kesal dan akan membencimu' batin Yona. "Baiklah kalau bapak ingin mendengarnya, saya akan ulangi lagi. Bapak itu gila, menyebalkan. Apakah bapak sudah puas? Kalau begitu, lepaskan saya karena saya tak ingin berlama-lama berada di d**a yang selalu terasa detak jantung tak beraturan ini" ucap Rosa. Awalnya Alfredo ingin marah kepada Yona, namun seketika ia terkejut dan mendorong Yona sampai terbentur ke pintu. "Aw, pelan-pelan dong pak. Memang ya, bukan hanya gila dan menyebalkan, bapak juga kasar dan tidak berperasaan. Saya harap, saya tidak memiliki suami seperti bapak" ucap Yona. "Awas nanti kualat kamu, dan jadinya nikah sama saya" ucap Alfredo yang semakin membuat jantungnya berdebar. "Eh, amit-amit pak. Siapa juga yang mau jadi istri bapak, yang ada saya bisa ketularan gila sebelum jadi istri bapak. Maaf ya pak sebelumnya kalau saya ngomong begini sama bapak, karena pembahasan bapak sudah melenceng dari apa yang seharusnya di bahas di tempat kerja. Kalau begitu saya permisi dulu" ucap Yona. "Jangan lupa besok masuk jam tujuh pagi, karena ada banyak pekerjaan yang harus di kerjakan" ucap Alfredo. "Kalau saya tidak lupa" jawab Yona ketus. "Kau bilang apa?" tanya Alfredo. "Iya bapak, saya akan stand by di sini sebelum jam tujuh pagi. Bila perlu saya akan tiba di sini jam lima atau jam enam pagi, biar bapak puas" ucap Yona lalu pergi meninggalkan Alfredo. Setelah kepergian Yona, Alfredo duduk dan meraba jantungnya. "Apa yang terjadi padaku? Kenapa jantungku berdetak tak karuan seperti ini saat bersamanya? Dan bagaimana mungkin dia bisa merasakannya? Oh sial, ini sangat menyebalkan. Karena hal ini, aku jadi merasa sedikit malu padanya, dan aku juga tidak bisa menentang ucapannya yang seenaknya padaku. Apakah ini yang namanya cinta? Dan kalau iya, cinta apa ini? Cinta pada pandangan pertamakah?" ucap Alfredo pada dirinya sendiri, yang tak dapat mengartikan perasaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD