Bagian 5

1035 Words
Aku sudah menyelesaikan makanku, namun harus menunggu temanku yang masih belum selesai makan. Rasanya, aku sedang menunggu keong berjalan dari ujung meja yang ada di hadapanku hingga ke ujung meja di depan Asih, karena kebetulan kami duduk bersebelahan. Akhirnya, teman-temanku yang makannya super duper lama ini bak keong yang sedang berjalan, selesai juga menyantap makanannya. Sebenarnya mereka tidak seperti ini, terutama Asih. Biasanya akulah yang selalu menjadi penutup saat kami makan bersama, hanya saja dalam kasus kali ini, aku sedang buru-buru untuk menagih cerita dari mereka, dan mereka sedang berusaha mengulur waktu supaya tidak menceritakannya kepadaku. "Sudah selesai, sekarang ceritakan kepadaku" kataku to the point. "Ya elah Yo, sabar dulu dong, baru juga selesai makan" jawab Jesica yang membuatku kesal. "Tau ni si Yoyo, nasi masih di tenggorokan udah di suruh cerita aja. Otak juga belum bisa mikir Yo" Asih menimpali. "Kalau nasi masih di tenggorokanmu, kau tidak akan bisa mengeluarkan suara cemprengmu itu. Dan akan kupastikan kau akan mati karena tidak bisa bernafas. Kadi sekarang lebih baik kau diam, dan ceritakan kepadaku" ucapku kesal, membuat Asih bungkam. "Kenapa diam saja, ayo ceritakan" aku semakin kesal melihat Asih. "Tadi katanya diam, sekarang di suruh cerita. Kalau cerita itu mengeluarkan suara Yo, bukan diam. Kalau diam itu,berarti tudak ada suara, jadi aku tidak bisa ceritain ke kamu" jawab Asih pura-pura polos, sontak teman-temanku yang lain tertawa. Kesabaranku mulai habis, ingin rasanya aku memasukkan kepala Asih ke dalam botol minumanku yang masih berisi berisi air ini. "Asih sayang, maksudku berhenti membahas tentang nasi yang ada di tenggorokanmu itu, karena akupun tidak peduli itu. Sekarang ceritakan padaku, apa yang kalian bicarakan sebelum aku tiba" ucapku mencoba meredakan emosiku. Tiba-tiba mereka terdiam dan saling pandang, membuatku sangat kesal. 'Apa susahnya sih cerita, tidak punya mulutkah? Atau mungkin, kalian tidak ingin memberitahuku? Menyebalkan' batinku mengumpat. "Kamu saja yang cerita Lan" ucap Asih. "Iya Lan, sepertinya jiwamu lebih tenang" Sarah menimpali. "Dan ragamu lebih di percayai" Jesica menimpali lagi. "Apaan sih kalian, gak jelas banget. Jiwa, raga apaan? Aku cuma mau kalian cerita, kenapa malah unjuk satu sama lain sih buat cerita?" aku semakin kesal. "Ehem" tiba-tiba Wulan berdehem. "Jadi begini Yo" Wulan mulai menceritakannya kepadaku. ***** Wulan, Asih, Jesica dan Sarah sedang pergi ke kota tua Jakarta atau Batavia lama, kebetulan aku sedang jalan-jalan dengan Riko, jadi aku tidak bisa ikut dengan mereka. Awalnya aku memang akan pergi bersama dengan mereka, karena aku tidak yakin kalau Riko akan datang mememuiku. Namun kali ini, nasib baik sedang memihakku sehingga aku dan Riko bisa menghabiskan eaktu bersama walau hanya satu hari. Wulan, Asih, Jesica dan Sarah mulai berkeliling, bahkan tak terasa hari sudah sore. Mereka masih saja berkeliling hingga lelah menghampiri mereka dan memilih untuk beristirahat. "Kita makan dulu yuk, aku udah lapar nih" ucap Asih, si ratu makan. "Yasudah, kita ke cafe Batavia itu saja yuk. Lebih cepat dapat tempat, lebih cepat juga cacing di perut Asih ini mendapat jatah" ucap Jesica yang membuat mereka tertawa bersama. Dengan langkah cepat, mereka memasuki cafe Batavia dan memesan makanan sesuai selera. Tanpa membutuhkan waktu lama seperti yang baru saja mereka lakukan, makanan yang tersedia di meja sudah habis tak bersisa. Mereka memutuskan untuk pulang, karena kaki mereka sudah sangat lelah mengelilingin kota tua. Langkah mereka terhenti, bukan karena apa, hanya karena Asih berhenti yang kebetulsn memimpin jalan. "Asih, ngerem jangan mendadak dong" ucap Sarah. "Tau nih si Asih, mungkin remnya blong kali" Jesica menimpali. "Bukan, dia itu sedang mogok dan butuh di dorong" Wulan menimpali lagi dan ingin mendorong Asih. Dengan cepat Asih mengangkat tangannya dan meletakkannya di tengah bibirnya. "Ssttt, kalian bisa diam gak sih? Dan lihat apa yang aku lihat" Asih mengalingkan pandangannya dari mereka dan melihat ke arah meja yang tak jauh dari mereka, dengan komoak Jesica, Sarah dan Wulan mengikuti arah pandangan Asih. Mereka syok bukan main dengan apa yang mereka lihat, dua insan yang duduk dengan mesra sambil berpegangan tangan. "What?" ucap Jesica. "Riko?" kata Sarah. "Apa-apaan ini? Siapa wanita yang sedang bersama Riko? Apakah Riko selingkuh? Dan bukankah Yona sedang bersama Riko?" banyak pertanyaan yang Wulan lontarkan. "Diamlah, sepertinya mereka akan pegi" ucap Asih yang melihat Riko dan wanita itu bangkit dari duduknya. Setelah Riko dan wanita itu pergi, mereka keluar dari cafe dan berjalan menuju stasiun. "Sepertinya Riko selingkuh, kita harus memberitahukan ini kepada Yona" ucap Asih. "Iya benar, jangan sampai Yona di sakiti terlalu lama" ucap Sarah, lalu mereka memutuskan untuk pulang. ***** Seketika tawaku pecah mendengar cerita teman-temanku, sungguh ini afalah lelucon yang paling menegangkan menurutku. "Dan kalian fikir, aku akan percaya? Haha" Kembali lagi tawaku pecah. "Tapi itulah kenyataannya Yo, sebaiknya kau pastikan dan tanyakan langsung kepada Riko" Ucap Asih. "Memastikan kepada Riko sama saja mencari mati Asih, sudah pasti Riko akan berbohong" ucap Sarah. "Dan aku juga tidak akan menanyakannya, karena aku tidak percaya dengan kalian. Aku tidak tau kenapa kalian mengatakan hal itu padaku, apakah kalian ingin merusak hubunganku dengan Riko?" kataku kesal. "Bukan Yon, siapa juga yang ingin merusak hubunganmu dengan Riko. Kami hanya memberitahukan kebenarannya" kata Wulan. "Kebenaran apa? Apa kalian memiliki bukti? Kalau kalian memiliki bukti, mungkin aku bisa pertimbangkan untuk mempercayai ucapan kalian. Tapi kalau kalian tidak memiliki bukti, sebaiknya kalian jangan bahas ini lagi denganku." amarahku sudah mencapai ubun-ubun. "Ah sial, kenapa kita tidak mengambil bahkan satu saja foto Riko dengan wanita itu?" kata Asih yang membuatku semakin kesal. "Kenapa kau harus mengatakan itu? Tidak ada wanita lain, dan tidak akan pernah ada. Jangan mengatakan hal-hal yang membuatku marah Asih, sungguh aku tidak bisa mengontrolnya. Lagipula kalian tau kan, Riko sedang bersamaku seharian pada saat itu,jadi tidak mungkin Riko sedang dengan wanita lain seperti yang kalian katakan. Tolonglah kalau bercanda di saring dulu, karena ini bisa merusak persahabtan kita" kataku dengan nada sedikit melembut. "Percaya atau tidak, itu terserah padamu Yo. Kami tidak akan memaksamu untuk mempercayai kami, kami hanya mengatakan apa yang kami lihat. Sekarang ikuti kata hatimu, jika kau percaya dengan Riko dan tidak percaya dengan kami, silahkan. Dan kami akan menganggap kalau kami tidak melihat apapun di cafe itu, jika itu bisa membuatmu merasa tenang." kata Wulan yang mampu membungkam mulutku. Setelah selesai berdebat, dan keheningan mulai menghampiri kami. Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri kami, membuat kami membulatkan mata tak percaya akan kehadirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD