Bagian 4

1054 Words
Yona pov Dirumah, aku langsung membersihkan diri sebelum berbaring di ranjangku. Ranjang yang selalu memberiku kenyamanan. Aku memainkan ponselku, dan seketika aku teringan dengan pesan dari Maura. 'Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa dia seakan mendesak Riko seperti pacar atau suaminya?' batinku. Otakku di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan aneh. Yah, aku tidak bisa berbohong kalau sebenarnya aku sangat ingin membuka ponsel Riko. Hahhh, aku berusaha menenangkan pikiranku. Kupejamkan mataku dan aku memilih untuk tidur. Berharap semua akan baik-baik saja. Aku bersiap untuk berangkat kerja seperti biasanya. Aku bernyanyi 'laa laaa laa laa' seperti orang gila karna aku sangat bahagia bisa menghabiskan waktu seharian dengan Riko kemarin. Baru saja aku ingin mengeluarkan motorku, sialnya ban motorku kempes. Aku terpaksa naik ojek online, karena aku bisa telat jika harus memperbaiki motorku terlebih dahulu. Di tempat kerja, teman-temanku sudah berkumpul. Mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu, dan sepertinya itu serius. "Hai guysss, aku bukan artis yang perlu di gosipin" kataku sambil merangkul teman-temanku. Mereka sontak terkejut dan melotot melihatku. "hei, ini aku, bukan hantu. Kenapa ekspresi kalian seperti itu?" lanjutku heran. "apa kau mendengar apa yang kami bicarakan?" kata Wulan sedikit takut. "aku? Dengar? Bagaimana bisa? Aku baru saja sampai disini. Aku hanya bercanda tadi. Memangnya apa yang kalian bicarakan?" tanyaku penasaran. Mereka menghembuskan nafas lega bersamaan. "syukurlah" kata Asih. "Apanya yang syukur? Memangnya kalian sedang membicarakan apa? Apa jangan-jangan kalian sedang membicarakanku?" tanyaku menyelidik. Mereka menggeleng bersamaan. Dan menurutku itu sangat kompak. Seperti sudah di rencanakan. "kami tidak menyembunyikan apa-apa darimu, ayo kita kerja saja" kata Sarah. "tidak, katakan padaku apa yang kalian bicarakan kalau kalian menganggapku teman, kenapa kalian merahasiakannya dariku? Apa kalian benar-benar membicarakanku? Apa kalian sedang mengataiku? Apa kalian benar-benar temanku? Bahkan saat aku datang kalian sangat terkejut seakan menyembunyikan sesuatu. Tapi yasudalah, mungkin kalian tak benar menganggapku teman" aku pergi dengan raut wajah kesal. Belum jauh aku melangkah, Wulan menarik tanganku. "hei, apa kau marah, jangan marah nanti cantiknya hilang" godanya. "bagaimana aku tidak marah, teman-temanku mulai rahasia-rahasiaan padaku. Bukankah dari awal kita sudah berjanji akan selalu terbuka satu sama lain? Untuk saling membantu satu sama lain? Tapi kenapa kalian seolah-olah sedang mengejekku?" aku mulai tersulut emosi. "Baiklah, kami akan bercerita padamu, tapi kau jangan marah" kata Jesica. "tidak perlu" aku mulai jengkel. "Yona, kenapa kau marah begitu, kami hanya ingin menjaga perasaanmu, kami tidak mau kau terluka. Bukan maksud kami menutup-nutupinya darimu, kami sangat menyayangimu dan akan selalu ada untukmu" kata Sarah. "Baiklah, katakan padaku maka aku tidak akan marah" jawabku sedikit meredakan emosiku. Belum sempat mereka menceritakannya kepadaku, leader kami sudah terlebih dahulu masuk dan mengarahkan kami untuk bekerja. Terpaksa aku harus menahan rasa penasaranku sampai ada waktu untuk mereka menceritakannya. "Sebaiknya kita bekerja dulu, kita akan membahasnya saat jam makan siang" ucap Wulan. "Kenapa harus jam makam siang? Apa kau ingin aku mati penasaran karena cerita sialan kalian itu? Kenapa tidak menceritakannya saat kita bekerja? Kita satu tim, jadi kita bisa berbicara bukan?" protesku. "Tidak, tidak. Kami tidak yakin kau bisa mengontrolnya, jadi kita bicarakan saat jam makan siang. Tidak ada bantahan, ayo sekarang kita mulai bekerja" ucap Sarah yang membuatku pasrah. Aku hanya bisa bersabar, menunggu jam makan siang yang menurutku sangat lama. Sesekali aku melirik jam dinding, rasanya jarum jam bergerak sangat lama atau bahkan tidak bergerak, seolah-olah jam dinding itu sudah mati dan butuh batu baterai baru. Aku bekerja tidak fokus, fikiranku selalu memikirkan apa yang ingin di katakan oleh teman-temanku. Aku tidak pernah seperti ini, biasanya aku bodo amat dengan apa yang akan orang katakan. Tapi entah mengapa kali ini, aku sangat penasaran dengan apa yang akan teman-temanku katakan. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 wib, aku merasa lega seolah aku mendapatkan mata air di padang gurun. Aku dan teman-temanku pergi ke kantin, karena cacing-cacing di perut kami sudah berdengdang meninta jatah untik di isi. Biasanya ki ke kanti di temani dengan candaan dan sesekali saling usil satu sama lain namun kali ini, kami hanya terdiam dengan raut wajah muram. Aku duduk terlebih dahulu, menunggu teman-temanku menceritakan apa yang terjadi. Namun sayangnya, Asih temanku yang super dupe gesrek ini langsung memesan makanan, membuatku sedikit emosi. Aku menstap Asih tajam, namun bibirku tak mengeluarkan kata sepatah katapun. "Tidak bisakah kita makan dulu? Perutku sudah sangat lapar, aku tidak memiliki kekuatan lagi" ucap Asih dengan raut wajahnya yang loyo, terpaksa aku harus menurutinya.aku juga tidak ingin bertanggung jawab jika terjadi sesuatu kepada Asih, bisa-bisa aku yang menjadi terdakwa karena tidak mengizinkannya makan dan ngotot ingin mendengar cerita mereka. Di tengah-tengah makan siang kami, Asih memulai perbincangan yang menurutku sangat konyol. Kalau bukan karena temanku, mungkin aku sudah meninjunya bak Chris John. "Sepertinya pak manager jatuh hati padamu Yo" ucap Asih. "Selesaikan makanmu, setelah itu, kau akan bicara panjang lebar untuk memberitahuku" jawabku. "Tapi benar Yo, tadi pagi pak manager menanyakan kamu" Jesica menimpali. "Hei, kalau kalian bisa berbicara saat makan seperti ini, kenapa tidak menceritakan yang kalian rahasiakan saja kepadaku?" protesku kesal. "Itu beda Yo, karena itu tidak bisa di bahas saat kita sedang makan" ucap Wulan. "Memangnya kenapa? Apakah kita akan membahas tentang taik di sini? Taik kucing atau taik kerbau mungkin?" Ucapku asal. "Yoyo, kamu kok bahas itu sih? Aku lagi makan, bisa-bisa aku bisa muntah kalau kau membicarakan itu" protes Asih. "Aku membicarakannya, tapi bukan berarti kau harus membayangkannya kan?" ucapku. "Namanya otak, pasti membayangkan bentuknya" Gerutu Asih. "Jadi kalau membicarakan senjata milik pria, apakah otak kotormu itu juga langsung bekerja?" tanya Jesica, seketika Asih terdiam sejenak. Dengan cepat Sarah menoyor kepala Asih. "Dasar otak m***m" ucapnya. "Eh, memang benar ya kalau pak manager mencari Yoyo? Soalnya aku gak tau, saat aku datang, sudah ada kalian di sini dan aku tidak melihat pak manager" lanjut Sarah kembali membahas topik. "Iya Sar" jawab Asih,lalu menceritakan kejadiannya. Flashback on Wulan, Jesica dan Asih tiba lebih dahulu di tempat kerja, sambil menunggu kedatangku dan Sarah. Belum lama mereka tiba, muncul seorang pria yang menurutku tampan namun judes di hadapan mereka, dia adalah pak Alfredo alias pak manager. "Apakah kalian melihat Yona Angelista?" tanya pak Alfredo. "Belum pak, sepertinya belum sampai" jawab Wulan. "Yasudah kalau begitu, terima kasih" jawab pak Alfredo lalu meninggalkan mereka. "Gila ya, pak manager tampan banget" ucap Asih. "Andai saja mau jadi suamiku" Jesica menimpali. "Dasar halu" ucap Wulan lalu menjitak kepala Jesica dan Asih. Tak lama Sarah muncul, dan mereka bergosip ria sambil menunggu kedatanganku. Flashback off
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD