Riko duduk sejenak, ia mengambil segelas air putih lalu meneguknya sampai habis. Ia pergi ke kamar kecil untuk membasuk wajahnya, ia berharap bisa melupakan semuanya dan fokus dengan pekerjaannya.
Harapan hanyalah harapan, usaha tinggallah usaha. Bagaimanapun Riko berusaha melupakan apa yang terjadi, namun pikirannya tetap berpokus ke sana. Meskipun Riko sudah membasuh wajahnya, tetap saja Riko tak fokus, pikirannya tak karuan, ingin rasanya ia menolak permintaan Maura, bahkan ingin rasanya ia mengakhiri hubungannya dengan Maura, namun antara tidak rela dan tidak tega, keduanya bercampur jadi satu di hati dan pikiran Riko.
Bruk...
Pikiran yang melayang-layang membuat Riko tak memperhatikan apa dan siapa yang ada di depannya saat ia sedang membawakan pesanan tamu cafe, sehingga ia menabrak salah satu tamu yang ada di sana, dan minuman yang ada di tangannya jatuh.
"Aduh mas, kalau jalan lihat-lihat dong, nggak punya mata ya? Lihat baju saya jadi kotor, ngapain sih orang buta di pekerjakan di sini?" ucap wanita yang Riko tubruk tadi.
"Ma-maaf mbak, saya nggak sengaja" ucap Riko memohon, karena ia tau kalau dirinyalah yang bersalah.
"Maaf, maaf. Kamu pikir dengan minta maaf baju saya bisa bersih lagi, hah? Dasar menyebalkan" teriak wanita itu sebelum pergi meninggalkan Riko.
'Apes, apes. Sial banget sih hidup ku hari ini, itu semua karena Maura nih.' batin Riko.
Bsru saja Riko ingin membersihkan belingan gelas yang ia pecahkan, sang manager sudah terlebih dahulu menghampirinya.
"Riko, ikut saya sekarang, biarkan Raka yang membereskannya" ucap Ridwan, lalu pergi mendahului Riko.
'Ah sial, benar-benar apes hari ini' batin Riko lagi.
"Sana gih, nanti malah kumat lagi itu si manager tampan. Lagian kamu tuh ya, nggak bisa apa kalau kerja itu fokus? Untuk urusan lain, nanti di pikirin setelah kita pulang, nggak usah sekarang, kayak nggak ada waktu lain aja" kata Raka.
"Ini semus karena Maura, tau nggak" ucap Riko kesal.
"Hallah, wanita lagi... wanita lagi. Makanya kalau punya pacar itu satu, jangan semua wanita yang ada di embat, rakus banget sih, kualat kan?" ledek Raka sambil terkekeh. "Yasudah sana, di tunggun pak Ridwan tuh" lanjut Raka, lalu Riko pergi meninggalkannya.
Dengan sedikit keberanian yang ia miliki, Riko mengetuk pintu ruangan Ridwan.
Ceklek…
Dengan hati-hati Riko menggenggam gagang pintu dan membukanya, di sana ia melihat Ridwan tengah berdiri sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Dengan hormat Riko menundukkan kepalanya kepada Ridwan, namun bibirnya keluh tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
‘Ya Allah, semoga pak Ridwan tidak marah. Seumur-umur aku bekerja di sini, baru kali ini aku membuat kesalahan, dan sepertinya ini kesalahan yang sangat fatal karena membuat tamu marah besar. Kalaupun harus potong gaji nggak apa-apalah, asalkan aku tidak di pecat’ batin Riko.
“Riko, ada apa dengan kamu? Kenapa kamu tidak fokus bekerja hari ini? Apa kamu sedang ada masalah? Kalaupun kamu ada masalah, seharusnya kamu tidak membawa masalah itu ke sini, cukup tinggalkan di rumah dan pikirkan jalan keluarnya setelah kamu tiba di rumah atau setelah kamu pulang dari sini.” Kata Ridwan tegas.
“Maaf Pak, saya benar-benar minta maaf, saya tidak akan mengulanginya lagi” kata Riko.
“Kamu tau kan, kamu adalah karyawan teladan dan terbaik di café ini. Selama bekerja di sini, kamu belum pernah melakukan kesalahan apapun. Baik dari segi absensi, kinerja dan respon kamu kepada para tamu, kamu benar-benar yang terbaik. Tapi kenapa kamu melakukan kesalahan hari ini dan kesalahan itu sangat fatal? Kamu tau tidak, wanita yang kamu tabrak itu adalah istri dari pemilik café ini, bahkan dengan memotong gaji kamu saja untuk ganti rugi tidak cukup, beliau meminta saya untuk memecat kamau” kata Ridwan.
Deg…
Seketika jantung Riko seolah berhenti berdetak, ia tak menyangka hanya karena kesalahan yang tak ia sengaja, ia akan mendapatkan kalimat yang sangat tidak ia harapkan itu.
Lagi-lagi Riko merutuki Maura, ia tak menyangka hanya karena Maura, semua menjadi hancur seperti. Di tambah lagi, dia adalah karyawan terbaik di café itu dan harus di pecat karena masalah seperti ini.
‘Awas kamu Maura, ini semua karena kamu. Kalau saja kamu tidak mengganggu ku, aku tidak akan mendapatkan kalimat yang sungguh menghancurkan masa depan ku seperti ini’ batin Riko.
“Beruntung kamu adalah karyawan terbaik di sini, dan saya juga sudah bicara dengan pak Bima tentang masalah ini. Pak Bima memberi kamu kesempatan sekali lagi, tapi ingat Riko, jangan melakukan kesalahan lagi setelah ini, karena saya tidak bisa lagi membantu kamu” lanjut Ridwan.
Seketika itu juga raut wajah Riko berubah sumringah, ia tak menyangka dengan ketekunannya dalam bekerja dan konsisten dalam waktu, ia bisa mendapatkan kesempatan setelah membuat masalah besar seperti saat ini.
“Terima kasih Pak, terima kasih. Saya berjanji, saya tidak akan mengulanginya lagi dan akan bekerja lebih hati-hati lagi” ucap Riko sambil menundukkan kepalanya berkali-kali.
“Saya tau kamu Riko, saya tau kalau kamu akan melakukan yang terbaik. Tapi saya ingatkan lagi Riko, kalau kamu ada masalah, sebaiknya kamu meminta izin kepada saya dan selesaikan masalah kamu daripada kamu harus melakukan kesalahan seperti ini. Bukan hanya kamu yang di rugikan, saya juga di rugikan, café juga di rugikan. Jadi untuk kedepannya, saya harap kamu bisa lebih berhati-hati. Kalau begitu, kamu bisa kembali bekerja” kata Ridwan.
“Baik Pak, saya permisi dulu”.
Riko keluar dengan sangat girangnya, lalu ia merogoh ponselnya sebelum ia kembali bekerja.
Terdapat banyak notif pesan masuk dari Maura, dan pandangannya langsung tertuju kepada salha satu pesan dari Yona.
Yona: Riko ku sayang, jangan lupa makan siang ya. Ingat, kamu harus jaga kesehatan dan kamu harus tetap semangat dalam bekerja, aku selalu berdoa semoga kaamu selalu di beri kesehatan sama Allah dan pekerjaan kamu selalu di lancarkan, Amin.
“Amin” ucap Riko tanpa sadar.
Kembali lagi pandangan Riko tertuju pada pesan itu, ia melihat pukul berapa Yona mengirimkan pesan itu. Dan benar saja, pesan yang di kirimkan oleh Yona bersamaan dengan Riko di minta menghadap ke ruangan Ridwan.
“Pacar yang pengertian, sepertinya isntingnya kuat ya, tau aja kalau pacarnya sedang dalam masalah di sini, langsung di doain eh, dan doanya sangat manjur, terima kasih sayang ku” jawab Riko pada layar ponselnya.
=====
Yona sedang asyik menyantap makanannya tanpa menghiraukan dua makhluk yang ada di hadapannya. Alfredo hanya memakan beberapa suap lalu berhenti, sementara Claudia hanya memandangi Alfredo sambil mengaduk-aduk makanannya.
Yona mengalihkan pandangannya ke arah Claudia, lalu beralih melihat ke arah Alfredo yang tengah asyik memperhatikan dirinya.
‘Eh bujuk, kok ini ceritanya kayak cinta segitiga ya? Bu Claudia liatin atasan pasar saiko, terus atasan pasar saiko liatin aku, lah terus aku liatin siapa dong? Liatin makanan? Ah b*do amatlah, yang penting aku kenyang, terus mikirin berapa biaya makanan yang aku santap ini’ batin Yona.
Ehem…
Alfredo berdehem saat pandangannya saling beradu dengan Yona, ia seketika kikuk dan nggak tau harus berbuat dan berkata apa.
“Eh, itu di makan dong Buk makanannya, jangan di aduk-aduk seperti itu, hancur jadinya” ucap Alfredo mengalihkan perhatian.
‘Iya Pak, hancur. Seperti hati ku yang kini telah hancur karena di aduk-aduk oleh Bapak, hehe. Aduh, klepek-klepek deh di perhatiin seperti ini’ batin Claudia.
“Tau nih Buk, itu di makanannya di aduk-aduk, di kira gado-gado kali ya?” timpal Yona.
“Ehehe, iya Pak” jawab Claudia sambil terkekeh.
‘Aduh si Yonal Yonal ini, malah sok kompak lagi sama Alfredo. Herman alias heran deh sama sikapnya dia, dia sebenarnya ngedukung aku atau sengaja mengangkat tinggi lalu ngejatuhin kayak gini sih? Jadi penasaran sama anak satu ini’ batin Claudia sedikit kesal.
Yona kembali menyantap makanannya tanpa peduli lagi dengan makanan Claudia yang kini di aduk-aduk bak gado-gado sampai hancur, yang ia perdulikan hanyalah perutnya yang sudah keroncongan.
‘Akhirnya, kenyang juga’ batin Yona. ‘Perut tenang, otak tegang. Sekarang giliran otak yang memikirkan bagaimana cara membayar makanan ini, mana bawa uang pas-pasan buat beli jajanan, apes. Dan sebaiknya otak belerja sama dengan hati, jika hati tidak tahu malu untuk meminta atasan pasar saiko ini untuk membayarnya’ batin Yona.
Ehem…
Kembali lagi Alfredo berdehem, membuat Claudia dan Yona mengalihkan pandangannya kepada Alfredo.
“Bapak kenapa sih? Bapak sakit tenggorokan ya?” cerocos Yona.
"Kamu itu ya, ngomong nggak pernah di saring. Kamu nggak bisa bedain ya antara orang yang berdehem sama sakit tenggorokan?" kata Alfredo.
"Ya kan kalau kita sakit tenggorokan, kita pasti berdehem kan?" kata Yona tak mau kalah.
"Sudahlah, kalau berdebat sama kamu itu nggak ada habisnya, yang ada masalah akan semakin panjang dan nggak ada ujungnya" kata Alfredo.
"Tak terhingga dong Pak seperti cinta ku padanya, haha" Yona tertawa tanpa dosa, tanpa sadar kalau sekarang ia sedang berbicara dengan bosnya.
'Perdebatan, seharusnya aku senang kalau mereka berdebat, karena itu akan membuat mereka renggang dan saling benci. Tapi kenapa aku merasa kalau perdebatan ini lain ya? Kenapa perdebatan ini terlihat dan terdengar sangat romantis? Kenapa Yona bisa mengubah segalanya menjadi sebuah candaan dan seolah-olah itu adalah triknya untuk mendekati Alfredo. Arghh, semoga pikiran ku berbeda dengan kenyataan, karena aku tak ingin bersaing dengan dia, sungguh tidak sebanding dengan ku' batin Claudia.
"Kamu ini ya Yona, ada saja jawabannya. Kamu nggak sadar ya sedsng bicara sama siapa? Pak Alfredo ini atasan kamu, atasan kita, jadi tolong jaga sikap kamu, bersikap sopanlah saat atasan kamu berbicara" pembelaan Claudia yang sama sekali tak di harapkan oleh Alfredo.
'Haha, semoga dengan begini Alfredo bisa terpesona, karena aku sudah membantunya melawan Yona. Sepertinya cara ini juga manjur untuk mencuri perhatiannya, membuat Yona selalu salah di matanya, dan aku akan semakin membuat Yona seolah bersalah' batin Claudia.
'Ya elah bercanda doang kok ngocehnya gitu amat. Kok makin ke sini bu Claudiong ini semakin ngeselin ya? Udah di bantuin buat deket-deket sama atasan pasar saiko, eh malah ngomel-ngomel cari muka di depan ini atasan pasar. Awalnya aku berniat buat nyatuin kalian, tapi kok kamu malah mojokin aku? Liat aja nanti, aku balas kamu Claudiong s*alan, kamu nggak tau kan kalau atasan pasar saiko ini udah punya istri? Beh, tau dia udah punya istri, patah hati baru tau rasa kamu. Hati-hati aja jangan sampai bundir alias bunuh diri' batin Yona.
"Sudahlah, tak perlu di perpanjang. Oh iya Yona, berhubung karena bos akan sibuk menghandel perusahaan yang lain, dan saya di angkat menggantikan beliau di sini, saya ingin kamu tetap bekerja bersama saya mulai hari ini, kamu akan menjadi asisten pribadi saya" Ucap Alfredo.
"Apa? Asisten pribadi?" tanya Claudia tak percaya yang di jawab dengan anggukan oleh Alfredo.
'Sial, jabatan Yona bakalan pebih tinggi dari aku dong. Itu artinya, aku yang harus patuh kepada dia. Ini nggak bisa di biarin, seharusnya aku yang ada di posisi itu, dengan begitu aku bisa semakin dekat dengan Alfredo. Ayo dong Yona, kamu nggak mau kan dekat-dekat dengan Alfrdo? Tolak dong Yona, please' batin Claudia.
'Asisten pribadi? Itu artinya, di antara seluruh staff di kantor, jabatan aku dong yang paling tinggi, itu artinya Claudiong nggak bakalan bisa bicara seenaknya sama aku, dan bangga-banggain jabatannya sebagai atasan itu.' batin Yona sambil tersenyum devil.
Yona benatap Alfredo dengan tatapan yang sulit di artikan, seolah ia akan menerkam Alfredo hidup-hidup sambil tersenyum devil.
"Kenapa senyam-senyum begitu? Jangan berpikir aneh-aneh ya, otak kamu itu sebaiknya di fresh dulu supaya jernih dan nggak ada lagi pikiran kotor." kata Alfredo.
"Sepertinya Yona tidak setuju dengan apa yang Bapak katakan, Bapak lihat sendiri kan kalau Yona seperti menimbang-nimbang? Kalau Yona nggak bisa atau nggak mau jadi asisten Bapak, saya bersedia kok jadi asisten Bapak. Saya yakin,Yona juga akan setuju dengan saya, benar kan Yona?" kata Claudia dengan begitu percaya diri, karena sebelumnya Yona begitu mendukungnya.
Yona kembali menimbang-nimbang, namun yang ia pikirkan bukanlah apa yang Claudia katakan.
'Kalau aku terima, itu artinya akan sulit bagi ku untuk bertemu dengan teman-teman ku. Tapi kalau aku tolak, si Claudiong ini akan seenaknya pada ku. Tapi dia juga pasti akan marah kalau aku menerima tawaran Alfredo.' batin Yona.
Yona memandangi Alfredo dan Claudia bergantian, ia seolah ingin membaca pikiran kedua atasannya itu, entah apa yang ia dapat, hanya dirinyalah yang tau.
"Kalau jadi asisten pribadi Bapak, berarti gaji aku bakalan naik dong Pak?".