Bagian 11

2244 Words
Keempat sahabat Yona dan juga Lisa yang akan menjadi sahabat baru Yona hanya bisa membantin dan membantin. Hanya itu yang mampu mereka lakukan saat ini sebelum mereka bertemu dengan Yona, harpaan demi harapan yang mereka inginkan supaya persahabatan mereka kembali utuh seperti sebelumnya meski harus menambahkan Lisa sebagai personil baru. Lisa selalu anggota team di tempat mereka bekerja dan juga sebagai personil baru di team persahabatan Yona, merasa sangat penasaran kepada Yona. Meski ada setitik rasa takut di dalam hatinya, namun ia berusaha mencoba untuk tetap tenang. Ketakutannya semakin bertambah saat ia mengingat sebuah kejadian yang terjadi sebelum ia bekerja di tempat itu dan bergabung dengan team Yona, ia semakin merasa kacau jika sesuatu akan terjadi kepada dirinya. Namun lagi-lagi Lisa mencoba untuk tetap tenang, berharap semus tifak terjadi seperti apa yang ia takutkan. Di tempat lain, Yona masih sibuk dengan pekerjaannya, ia bahkan tak menyadari kalau jam sudah menunjukkan jam makan siang. Begitu juga dengan Alfredo yang tengah asyik mengerjakan file-file yang ada di hadapannya namun sesekali mengalihkan pandangannya kepada Yona. Kruk… kruk… Kruk… kruk… Tiba-tiba Yona menghentikan pekerjaannya, ia melihat kearah Alfredo yang kini menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Ada perasaan malu yang timbul di hati Yona, namun ia berusaha keras untuk menyembunyikannya. “Pak, jam makan siang sudah lewat, kita nggak istirahat Pak? Bapak nggak biasa makan ya? Atau biasanya makan angin? Tapi sayangnya saya selalu makan nasi Pak, jadi saya sudah tidak memiliki tenaga lagi dan saya tidak bisa berkonsentrasi lagi” ucap Yona ngerocos bak kendaraan dengan rem blong. “Kamu itu ya, nggak bisa ya bicaranya langsung to the point? Saya juga nggak tau kalau sekarang sudah jam makan siang, kamu juga nggak kan? Kamu mengingat jam makan siang karena perut kamu sudah berbunyi kruk kruk itu. Sepertinya kamu terlalu menikmati bekerja di sini, karena di sini adem kan?” kata Alfredo. “Yeee siaa juga yang menikmati kerja di sini? Yang ada saya itu bete pak kerja di sini hanya berdua dengan Bapak? Di sini saya itu rasanya hampir mati tanpa udara, bekerja seolah dengan patung, hening tak ada yang di bicarakan. Kalau di bawah, saya itu bisa bercanda ria dengan teman-teman saya, saya juga bisa makan siang tepat waktu. Di sini jangankan untuk bercanda, bicara saja jantung sudah hampir mau copot” kata Yona tanpa takut. “Kau bilang apa? Bekerja dengan patung? Jadi maksud kamu saya ini patung begitu? Kamu itu jangan kurang ajar ya, biar bagaimana pun saya ini bos kamu” kata Alfredo dengan tegas. “Ma-maaf Pak, lagian Bapak sih nggak mau bercanda. Hari-hari saya itu di penuhi dengan canda tawa pak, jadi saya nggak terbiasa dengan keheningan dan kaku seperti ini. Ah sudahah nggak usah di bahas, sebaiknya kita makan yuk Pak, saya sudah nggak tahan. Bapak mau kalau maag saya kambuh? Kalau sampai kambuh Bapah yang tanggung jawab loh” ancam Yona. “Yausudah” kata Alfredo mengalah. Yona berjalan mendahului Alfredo dengan girang, yang ia pikirkan saat ini bukanlah makanan, melainkan bisa bertemu dengan sahabat-sahabatnya di kantin. Baru saja Yona memutar badan menuju kantin, dengan cepat Alfredo menarik tangan Yona dan menghentikannya. “Kamu mau ke mana?” tanya Alfredo. ‘Ke kantin lah pak, masa saya mau ke toilet? Saya kan lapar pak bukan kebelet p*pis” ucap Yona dengan mulut embernya. “saya tau kamu lapar, tapi sia yang menyuruh kamu pergi ke kantin?” tanya Alfredo membuat Yona mengernyitkan dahinya bingung. “Maksud Bapak?” tanya Yona tak mengerti. “Ikut saya” kata Alfredo, lalu berjalan mendahului Yona. Tak ada pilihan lain bagi Yona selain mengikuti langkah Alfredo, meskipun sebenarnya hati san pikirannya meronta ingin pergi ke kantin menemui sahabat-sahabatnya. Para staff yang masih ada di sana, membulatkan mata tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat, dan semua itu tak luput dari pandangan Claudia yang tidak terima atas perlakuan Alfredo kepada Yona. 'S*al, selama ini aku yang berusaha untuk dekat dengan Alfredo, tapi kenapa justru si cunguk itu yang berhasil mendapatkan perhatiannya? Apa yang membuat Alfredo sampai segitunya kepadanya? Padahal pertemuan mereka tidak begitu menyenangkan, lebih tepatnya sangat membuat Alfredo kesal. Jangan sampai Alfredo kepincut sama wanita itu, yang ada usaha ku dari dua tahun yang lalu untuk mendapatkan Alfrdo sia-sia, alhasil aku hanya bisa gigit jari. Ini nggak bisa di biarkan, aku harus berusaha untuk menyingkirkan wanita itu, dia harus kembali lagi ke bawah, apapun ceritanya' batin Claudia. Yona masih saja bertanya-tanya, ke mana Alfredo akan membawanya, sementara ia sudah tidak tahan lagi sangkin laparnya. Namun,Yona lebih memilih diam dan mengikuti langlah Alfredo, karena ia tak ingin membuat masalah baru antara dirinya dan Alfredo. 'Ini atasan pasar mau bawa aku ke mana sih? Nggak tau apa kalau cacing-cacing di perut ku udah teriak minta di kasih jatah, nggak pengertian banget. Aku doain ya, nanti malam kamu nggak bakalan di kasih jatah sama istri kamu, biar tau rasa kamu' batin Yona merutuki Alfredo. 'Eh kok malah jatah begituan sih, kenapa piktor alias pikiran kotor ku langsung menggila seperti ini? Astaga Yona, sadar dong, pikirannya jangan ngawur dan nggak usah ke mana-mana, stop di tempat aja' batin Yona lagi sambil menepuk-nepuk jidatnya sendiri. Tingkah Yona tak luput dari pandangan Alfredo yang kebetulan melihat ke arah Yona, seketika ia menghentikan langkahnya dan langsung di tubruk Yona dari belakang. Wajah Yona kepentok tepat di d*da bidang Alfredo karena Alfredo berhenti tepat menghadap ke arahnya. "Aduh Pak, ngerem jangan mendadak dong Pak, nggak tau apa kalau rem saya blom? Jangan ketabrak kan jadinya!" protes Yona. "Kamu itu ya, udah nabrak malah marah-marah, harusnya saya yang marah sama kamu, bukan kamu yang marah sama saya" protes Alfredo. "Yee si Bapak, kok malah nyalahin saya sih Pak? Jelas-jelas Bapak yang berhenti mendadak. Lagian Bapak ngapain sih berhenti mendadak kayak gini? Kalau yang nabrak Bapak tadi itu buldozer gimana? Bisa gepeng itu muka kayak kue gepeng" Yona tak mau kalah. "Itu semua karena kamu, ngapain kamu tepuk-tepuk jidat seperti itu? Kamu memikirkan sesuatu tentang saya ya? Atau kamu sedang membayangkan kamu jalan bergandengan sama saya, trrus kamu tersadar kalau itu tak akan terjadi, kalau itu hanya sebuah mimpi belaka, begitu?" kata Alfredo percaya diri. Yona menatap Alfredo tajam, ia tak menyangka akan mendapatkan kata-kata seperti itu dari Alfredo. ‘Eh bujuk, ini atasan pasar kok geernya nggak ketulungan banget sih, dasar bapak-bapak nggak ingat status. Kalau saja istri kamu dengar apa yang baru saja kamu katakan, tamat riwayat kamu’ batin Yona. “Kenapa diam saja? Bener kan apa yang saya katakan? Kamu sedang memikirkan hal itu? Tapi sayangnya itu semua tidak akan pernah terjadi” kata Alfredo lagi. “Ya Allah Pak, kok ge-ernya nggak ketulungan banget sih? Siapa juga yang mikirin Bapak, nggak sudi tau nggak Pak. Udah deh ya Pak, nggak usah kegeeran, ingnat istri di rumah, dan jangan genit, kasihan istrinya. Sebaiknya sekarang kita makan karena maag sayasudah kambuh, udah sampai ke ujung tangan, jadinya pengen nampol orang. Kalau Bapak masih tetap berdebat di sini dengan saya, sebaiknya saya pergi ke kantin untuk mengisi perut saya supaya saya memiliki tenaga untuk berdebat dengan Bapak” kata Yona lalu ia mencoba untuk pergi meninggalkan Alfredo, dengan cepat Alfredo menarik tangan Yona. “Aduh apaan sih Pak, jangan tarik-tarik dong, sakit tau.” Protes Yona sambil berusaha melepaskan diri. “Siapa suruh kamu boleh pergi, ikut saya sekarang” kata Alfredo tegas. Melihat Alfredo yang tengah berdebat dengan Yona, dengan cepat Claudia menghampiri mereka. “Eh Bapak sama Yona ada di sini? Ada apa Pak, kok saya dengar sepertinya sedang ribut” kata Claudia. “Nggak apa-apa kok Bu, hanya perkara makan siang saja, ini kita mau pergi makan siang” jawab Alfredo. “Ibu mau ikut? Atau mungkin Ibu mau pergi menemani Pak Alfredo?” tanya Yona. ‘Biarin aja Bu Claudia yang menemani pria saiko ini, jadi aku bisa bebas dan pergi menemui teman-teman ku’ batin Yona sambil tersenyum devil. “Eh, emang boleh? Kamu nggak apa-apa di tinggal sama kita? Kalau saya sih boleh-boleh aja” jawab Claudia. ‘Ternyata baik juga si cunguk ini, aku pikir dia berniat untuk mendekati Alfredo. Sepertinya aku bisa deketin dia supaya bisa dekat-dekat dengan Alfredo’ batin Claudia. ‘Sial, ngapain sih Claudia minta ikut? Gangguin rencana aku aja, huft, terpaksa aku harus nerima dia ikut sama kita, kalau nggak, Yona pasti berpikir yang tidak-tidak sama aku.’ Batin Alfredo. “Yasudah Buk Claudia, bareng sama kita aja nggak apa-apa kok” jawab Alfredo. “Bareng sama kita? Maksudnya gimana ya Pak?” tanya Claudia. “Loh, bukannya Buk Claudia ingin makan bareng sama kita? Sama saya dan Yona? Yasudah kita bareng saja” jelas Alfredo. “Oh, saya pikir hanya kita berdua Pak, karena sebelumnya Yona berkata seolah dia ingin pergi dan membiarkan kita berdua saja yang pergi, benar kan Yona?” tanya Claudia. ‘Semoga dia bilang iya, kalau sampai dia bilang nggak, msu di taruh di mana muka ku ini?’ batin Claudia. “Nah iya benar, begitu maksud saya. Jadi Bapak perginya sama ibu Claudia, kebetulan ibu Claudia nggak keberatan, benar kan Buk?” ucap Yona yang di jawan dengan anggukan oleh Claudia. ‘Bagus, ternyata dia bisa di andalin juga. Sepertinya aku benar-benar harus deketin dia supaya aku bisa semakin dekat dengan Alfredo’ batin Claudia. “Ya, ibu bisa bareng sama kita, tapi buka berarti Yona nggak ikut. Kita pergi sekarang atau kita tidak makan siang sama sekali” ucap Alfredo tegas dan lantang, membuat Yona dan Clarisa kikuk tak bisa berkata apa-apa lagi. Yona berjalan beriringan dengan Claudia, dengan berbagai trik Claudia memberi kode kepada Yona karena ia ingin bicara dengan Yona, namun sedikitpun Yona tidak mengerti. Dengan cepat Yona berjalan dan masuk ke kursi bagian belakang, ia tau kalau Claudia sangatmengharapkan untuk bisa duduk di bagian depan bersama dengan Alfredo, dan Yona dengan senang hati mengabulkannya. Ia juga tak ingin dekat-dekat dengan Alfredo, karena ia tak ingin selama perjalanan mereka berdebat dan berdebat. ‘Uh, pengertian sekali kamu Yo, kamu memang ter the best, nanti aku akan meminta ponsel kamu dan mengajak kamu bekerja sama, tenang saja, aku akan membuat mu bahagia berteman dengan ku, seperti kamu yang memberi ku kebahagiaan seperti saat ini.’ batin Claudia. ‘Kenapa sih langsung memilih duduk di belakang? Kenapa tidak duduk di depan? Tampan-tampan begini kok di tolak? Apa jangan-jangan dia tidak tertarik pada ku? Aku jadi penasaran, seperti apa sih kekasih wanita ini? Sampai-sampai sedikitpun dia tidak tertarik pada ku. Aku harus mencari tahu itu, rasanya ia menjatuhkan harga diri ku dengan tidak tertarik pada ku, padahal ia tahu jelas kalau Claudia tertarik pada ku, bahkan para staff yang lainnya, hanya saja aku yang tidak tertarik kepada mereka dan aku tidak ingin memberi harapan yang justru akan membuat mereka kecewa. Atau mungkin dia tidak tau kalalu di kantor banyak yang tertarik pada ku? Ah mungkin saja iya, karena baru hari ini ia bekerja di kantor. Tapi kamu tenang saja manusia ember, aku akan menunjukkan pada mu kalau hampir seluruh staff kantor menyukai ku dan tergila-gila pada ku’ batin Alfredo. Di tempat lain, Riko sedang sibuk melakukan tugasnya melayani para tamu yang berkunjung ke café tempat ia bekerja. Di sela-sela kesibukannya, ponselnya juga ikut sibuk bersamanya, di setiap menit selalu bergetar tanpa hentinya, dan pastinya itu bukan pesan atau p*nggilan dari Yona, karena Yona sedang sibuk berdebat dengan atasan yang ia sebut atasan pasar saiko itu. “Aku ke ke toilet bentar ya Ka, tolong handel dulu” kata Riko. “Apaan sih Ko, kita lagi rame begini kamu malah pergi” protes Raka. “Maklum bro, panggilan alam, bentar ya, udah kebelet nih” kata Riko, lalu ia pergi meninggalkan Raka. Riko berlari sampai ke toilet, dengan cepat ia merogoh ponselnya dari dalam kantong, dan benar saja dugaannya, panggilan dari Maura. Riko: Hallo sayang, ada apa sih telepon aku? Kamu tau kan kalau aku lagi kerja? (sedikit kesal). Maura: Kamu itu ya, dari kemarin di hubungin nggak bisa, malam juga nggak bisa. Kamu nggak sayang lagi ya sama aku? Kamu lagi jalan sama perempuan lain ya? Riko: Nggak kok saya, kemarin aku lagi lembur, pulang-pulang aku langsung istirahat soalnya badan ku sakit semua. Maura: Tapi aku telepon kamu kok nggak bisa, berada dalam panggilan lain. Kamu bohong ya sama aku, kamu lagi teleponan sama siapa? Ayo ngaku, jujur, atau aku akan ngambek tujuh hari tujuh malem. Deg… Jantung Riko seolah berhenti berdetak, entah apa yang akan ia katakan kepada kekasih keduanya ini. Dengan cepat Riko memutar otak sebelum ia mendengar celotehan kekasihnya itu untuk kedua kalinya. Riko: Ah iya, itu dia sayang, makanya aku nggak hubungin kamu. Selesai makan malam, dan niatnya mau istirahat, tiba-tiba Ibu aku nelfon, biasalah sayang nanyain kabar terus ngobrol-ngobrol gitu. Nggak mungkin kan sayang aku nggak angkat telepon ibu aku? Aku nggak mau loh jadi melon kundang, nanti kalau aku di kutuk ibu aku gimana? Nanti pacar aku yang cantik ini jadi jomblo dong, kesepian dong, kan aku nggak kuat liatnya. Maura: Ih kamu tuh ya, paling bisa deh ngegombalnya. Yaudah aku nggak mau tau, pokoknya setelah kamu pulang kerja, kamu harus temui aku, titik. Sambungan telepon terputus, bahkan sebelum Riko menjawab iya atau tidak. Riko sedikit kesal dengan sifat dan tingkah Maura, itulah sebabnya ia tak ingin melepaskan Yona, karena meskipun Yona ceplas ceplos, ia tetap wanita kuat yang pernah Riko temua, dan Yona juga tidak terlalu banyak menuntuk seperti Maura. "Aduh, ribet banget sih pacaran sama kamu, lama-lama aku putusin tau rasa kamu" ucap Riko kesal pada layar ponselnya, sebelum ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD