Yona sama sekali tak pernah berpikir untuk melontarkan pertanyaan itu, namun seolah keluar sendiri, pertanyaan itu lolos melewati bibirnya. Yona tersenyum, antara dirinya yang terlalu besar kepala atau ia yang memang mampu mengerti bahasa tubuh seseorang.
Pertanyaan yang lolos dari bibir Yona, mampu membuat Alfredo membulatkan mata dan mulai gelagapan. Ia sama sekali tak menyangka akan mdnfapatkan pertanyaan itu dari Yona, pertanyaan yang menurutnya sangat tidak wajar di lontarkan oleh seorang bawahan kepada atasannya.
“Kenapa Bapak diam saja? Atau jangan-jangan ucapan saya benar, Bapak jatuh cinta sama saya?” ulang Yona.
“Si-siapa juga yang jatuh cinta sama kamu? Kamu tau kan kalau aku itu nggak suka sama orang seperti kamu? Itu artinya saya nggak mungkin cinta sama orang seperti kamu. Suka aja nggak, gimana ceritanya jadi cinta?” elak Alfredo.
“Ya siapa tau aja Bapak cinta sama saya, kan saya hanya bertanya. Tapi saya saranin Bapak jangan terlalu benci deh sama saya, takutnya Bapak jadi cinta. Seperti kata orang-orang kan Pak, benci jadi cinta, dan itu tidak boleh” kata Yona.
Alfredo menatap Yona antusias, seolah ia tak terima dengan apa yang Yona katakan.
“Kenapa tidak boleh?” tanya Alfredo sok polosnya.
“Bapak lupa ya? Bapak kan udah punya istri, dan saya juga sudah punya pacar, saya nggak mau hubungan saya jadi rusak sama pacar saya karena saya sangat mencintai dia, kalau Bapak sih terserah Bapak ya" Yona semakin berani.
"Ah sudahlah, terserah apa yang akan kau katakan. Kalau saya meladeni kamu bicara seperti ini, pekerjaan saya akan terbengkalai. Baiklah, karena alasan kamu sedikit logis buat saya, dan kamu juga sudah mandi, saya hargai. Kamu bisa tetap bekerja, dan saya harap kamu bisa membantu saya, bukan malah ngerecokin saya" ucap Alfredo lantang, lalu is kembali ke kursinya.
'Dasar bos sedeng, gimana ceritanya itu alasan yang logis? Masa Bapak terima alasan percintaan saya? Dasar aneh, perusahaan macam apa ini? Tapi nggak apa-apa deh, yang penting aku nggak jadi di scors. Mungkin saja doa-doa ku terkabulkan, mungkin saja dia sedang kasmaran dan menerima alasan percintaan ku, hehe' batin Yona terkekeh.
"Malah bengong, ayo duduk dan mulai bekerja" ucap Alfredo lebih lantang.
"I-iya Pak".
Wulan dan yang lainnya berjalan memasuki pabrik dengan senyum dan tawa yang terukir di wajah mereka. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan hati yang teriris.
'Mereka bahagia tanpa aku, sedikitpun mereka tak mencari ku. Inikah yang di namakan sahabat? Ya, aku sadar kalau kata-kata ku kemarin terlalu kasar, tapi seharusnya mereka tidak menjauhi ku. Sepulang dari sini, aku akan memperbaiki semuanya, meskipun mereka marah atau mungkin tidak ada niat untuk mencari ku, tapi aku akan menemui mereka untuk memperbaiki semuanya, karena mereka adalah sahabat-sahabat ku' batin Yona di akhiri dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Wulan dan yang lainnya langsung masuk dan mulai mempersiapkan pekerjaan mereka, sementara Sarah masih sibuk toleh sana toleh sini seolah mencari sesuatu.
"Sarah, bantuin dong, kok malah toleh sana toleh sini kayak anjing yang lagi nyari tulang sih?" protes Asih.
"Tau nih si Sarah, sebentar lagi leader kita datang. Kalau sampai kita telat dan nggak dapat target awas kamu ya, kamu lembur sendirian" timpal Jesica.
"Ssttt, berisik. Kalian nggak nyadar apa? Sampai jam segini Yoyo belum datang juga, ke mana dia? Atau jangan-jangan dia nggak kerja? Atau jangan-jangan dia sakit?" tebak Sarah.
"Eh iya ya, ke mana Yoyo? Nggak biasanya dia telat sampai selama ini. Jangan-jangan dugaan kamu benar Sar? Coba hubungi Yoyo, siapa tau dia nggak masuk karena sakit. Aku takut kita terlalu keras sama dia sampai-sampai dia kepikiran, jadinya dia sakit deh" ucap Wulan.
"Iya ya Lan, kok aku merasa nggak enak ya? Apalagi Yoyo tinggal sendiri, siapa yang bakalan jagain dia kalau dia lagi sakit?" timpal Asih.
Baru saja Sarah ingin menghubungi Yona, tiba-tiba leader datang bersama seorang wanita, bisa di tebak kalau wanita itu seumuran dengan mereka.
"Ada Buk Dewi, sebaiknya kita hubungi dia pas jam istirahat, atau nanti sepulang dari sini kita ke rumahnya." ucap Sarah yang di jawab dengan anggukan oleh teman-temannya.
"Kamu, gabung sama mereka" perintah Dewi kepada Lisa Elisa-wanita yang datang bersamanya.
"Baik Buk".
Lisa berjalan menghampiri Wulan dan timnya, dengan sedikit takut ia mencoba untuk mengumpulkan keberanian untuk menyapa Wulan and the geng.
" Hai kak, aku Lisa, semoga bisa bekerja sama dengan kalian, mohon bimbingannya kak" ucap Lisa, lalu menyalami mereka satu persatu.
"Kok perasaan aku nggak enak ya? Kok aku mencium bau-bau yang bakalan membuat hati ku hancur" ucap Sarah.
"Sarah, jaga bicara kamu" Wulan menyiku Sarah, lalu melemparkan senyum ke arah Lisa yang mulai merasa tidak nyaman.
"Sebaiknya kita mulai bekerja atau kita akan lembur tanpa mendapatkan gaji guys, dan aku tidak mau kalau sampai hal itu terjadi" kata Jesica yang di jawab dengan anggukan oleh mereka.
Mereka melakukan pekerjaaannya dengan hati yang tidak tenang, Wulan and the geng sedang memikirkan apa yang terjadi dengan Yona, sementara Lisa merasa tidak nyaman atas ucapan Sarah yang terakhir.
“Sarah, kok aku merasa ada kalimat yang belum kamu tuntaskan?” kata Asih sambil sibuk melakukan pekerjaannya.
“Apa maksud kamu Asih?” tanya Jesica.
“Bau-bau apa yang Sarah maksud? Tidak mungkinkan Lisa membuatnya hancur? Lisa itu bukan pria, jadi dia nggak mungkin menghancurkan hati Sarah, benar nggak Lis?” Asih mencoba untuk mencairkan suasana, karena ia tau Lisa merasa tidak nyaman atas ucapan Sarah. Sementara Lisa, ia hanya bisa terkekeh karena tak mengerti maksud perkataan Asih.
“Coba aku tanya sama kamu Lis, kamu karyawan baru atau sudah lama bekerja di sini?” tanya Sarah.
“Apaan sih Sarah, nggak nyambung banget deh” protes Jesica.
‘Aku masih baru kak, baru masuk hari ini” jawab Lisa.
“Tuh kan benar, hati ku bakalan hancur dan hati kalian juga. Itu artinya, Lisa akan terus bersama kita dan Yoyo nggak ada di sini lagi. Nggak mungkin kan perusahaan menerima karyawan sementara semua tempat terpenuhi? Kalau ada bagian lain yang kekurangan karyawan, nggak mungkin mereka bela-belain ngasih Lisa ke sini untuk menggantikan Yoyo. Firasat ku nggak enak, apa jangan-jangan Yoyo nggak kerja lagi? Yoyo resign gara-gara kemarin kita mojokin dia? Aduh gimana dong? Aku nggak siap kalau sampai harus kehilangan Yoyo, dia itu sahabat terbaik kita bukan?” kata sarah panjang lebar.
Seketika Jesica, Asih dan juga Wulan mulai berpikir, namun mereka masih tetap fokus pada pekerjaan, sementara Lisa hanya bisa menjadi pendengar yang budiman karena tidak mengetahui akar dari permasalahan ini.
“Menurut kalian bagaimana? Apa mungkin Yoyo resign karena masalah itu? Au rasa nggak mungkin deh, nggak mungkin Yoyo sampai semarah itu kepada kita, aku yakin pasti ada masalah lain” kata Jesica.
‘Atau jangan-jangan Yoyo udah tau kalau Riko benar-benar selingkuh? Dan dia memilih untuk berhenti kerja dan pulang kampung?” timpal Asih.
“Atau jangan-jangan dia ada masalah dengan pak Alfredo? Kalian ingatkan kalau dia di panggil sama pak Alfredo saat jam makan siang? Apa mungkin masalah sebelumnya masih berlanjut? Kalian ingatkan saat Yoyo menabrak pak Alfredo tanpa sengaja dan bicara seenak p****t kuali? Apa mungkin Yoyo di pecat sama pak Alfredo?” timpal Wulan lagi.
“tuh kan benar kata ku, hati ini pasti hancur, begitu juga dengan hati kalian. Kalian tau kan kalau Yoyo nggak tergantikan oleh siapapun? Dia yang ter the best dari siapapun” kata Sarah.
Seketika mereka terdiam, mereks kembali mencerna permasalahan demi permasalahan yang terjadi pada mereka dan juga pada Yona, sementara Lisa, lagi-lagi hanya bisa terdiam dengan hati yang sedikit teriris oleh perkataan Sarah.
Wulan yang mulai mencerna kalimat demi kalimat Sarah, mulai menyadari dan ikut merasakan apa yang Lisa rasakan, ia merasa iba kepada teman barunya itu.
“Lis, perkataan Sarah tadi nggak usah di masukin ke hati ya? Anggap aja angin lalu, tapi nanti kamu juga bakalan ngerti kalau kamu udah dekat dengan kita. Oh iya, kamu ngontrak atau tinggal sama orangtua?” tanya Wulan.
“Ngontrak kak, orangtua Lisa di kampung” jawab Lisa.
Tiba-tiba Jesica mengalihkan pembicaraan tanpa menghiraukan apa yang sedang di bahas oleh Wulan dan Lisa, karena pikirannya hanya tertuju kepada Yona, Riko dan juga Alfredo.
“Aku rasa pak Alfredo nggak seperti itu deh, di lihat dari ketampanannya, dia itu bukan tipe orang yang mau membesarkan masalah dan membuat orang lain sakit hati. Aku yakin ini ada hubungannya dengan perselingkuhan Riko, tapi aku nggak mau berasumsi tanpa bukti yang ujung-ujungnya menimbulkan masalah baru. Sebaiknya nanti siang kita hubungi Yoyo pas jam istirahat, kita harus menanyakan hal ini langsung sama dia.” Kata Jesica.
“Setuju” ucap Asih dan Sarah bersamaan.
Wulan tak menjawab, tapi Jesica sudah tau kalau Wulan setuju dengan pendapatnya.
‘Oh iya, kamu mau gabung sama kita nggak nanti?” tanya Wulan.
“Boleh kak, kebetulan aku juga nggak punya teman di sini selain kalian” jawab Lisa.
“Udah santai aja kali Lis, kita satu tim ini adalah saudara, keluarga. Kamu juga nggak usah manggil-manggil kakak, manggil nama aja biar akrab. Dan aku kasih tau ya, jangan sakit hati dengan omongan kita yang pedas, karena itu udah tabiat dari tim ini. Kalau kamu sakit hati wajar sih, karena kamu baru gabung sama kita, tapi lambat laun kamu bakalan mengerti setelah mengenal kita lebih dalam lagi” kata Sarah yang di jawab dengan anggukan oleh Lisa.
‘Ternyata dia baik juga, aku pikir dia itu nggak suka sama aku. Benar kata Sarah, mungkin aku merasa tersinggung dan sakit hati karena aku belum mengenal mereka, tapi setidaknya dia sudah memberitahu ku, jadi kedepannya aku bisa mengerti dan tidak langsung menyimpan perkataaan-perkataan pedasnya dalam hati’ batin Lisa.
Jam makan siang telah tiba, mereka pergi ke kantin bersama-sama. Biasanya, setiap kali mereka tiba di kantin, yang pertama kali mereka lakukan adalah memesan makanan dan minuman, namun kali ini mereka hanya sibuk dengan ponsel masing-masing.
Lisa yang tidak tau apa yang harus diai lakukan, lagi-lagi memilih diam dan menunggu hingga Wulan and the geng selesai dengan urusan mereka.
Wulan yang menyadari kalau Lisa hanya bisa mematung di tempat, langsung mendekati Lisa dan merangkulnya.
“Lis, kalau kamu lapar, pesan duluan aja nggak apa-apa kok, nanti kita nyusul” kata Wulan.
“Iya kak, eh maksudnya Lan. Atau mungkin sekalian aku pesenin aja? Kalian kan masih sibuk, takutnya jam makan siang keburu habis” kata Lisa.
Dengan cepat Asih langsung menyebutkan apa yang ia inginkan, begitu juga dengan Jesica yang di susul oleh Sarah, lalu yang terakhir Wulan.
“Terima kasih ya Lis, kamu udah ngertiin kita” kata Wulan tulus.
“Nggak apa-apa kok Lan, kita kan saudara” ucap Lisa lalu ia tersenyum, yang di balas dnegan senyuman oleh mereka.
Sarah masih sibuk menghubungi Yona, sementara yang lain sibuk mengirimi Yona pesan singkat, namun semua nihil. Tak ada jawaban dan tak ada pula balasan, membuat Wulan dan yang lain semakin merasa tak karuan.
“Ada apa dengan Yoyo? Padahal panggilannya tersambung loh” kata Sarah mulai panik.
“Sepertinya dia benar-benar sedang dalam masalah, sebaiknya sepulang dari sini kita temui dia, kita tanyakan langsung, semoga dia masih ada di kontrakan” ucap Wulan yang di jawab dengan anggukan oleh yang lain.
“Kamu ikut nggak Lis?” tanya Asih.
“Boleh kak” jawab Lisa, lalu mereka mulai menyantap makanan yang ada di meja namun pikiran mereka masih tertuju kepada Yona.
‘Semoga nggak terjadi sesuatu kepada Yoyo ya Allah, kami sayang dia, tolong jaga dia’ batin Asih.
‘Semoga Yoyo masih ada di kontrakan ya Allah, semoga kita bisa bertemu dengan Yoyo’ batin Jesica.
‘Semoga Yoyo mau menerima kami ya Allah, semoga dia tidak marah lagi atas kejadian kemarin’ batin Sarah.
‘Semoga tidak ada masalah yang serius yang menimpa Yoyo sampai-sampai dia tidak bekerja seperti ini’ batin Wulan.
‘Apa yang harus aku lakukan kalau aku pergi dengan mereka? Yang ada aku hanya diam dan hanya mendengar suara jangkrik, ‘krik… krik… krik…’ di imajinasi konyol ku’ batin Lisa.