Chapter 3

1032 Words
Si perempuan mendongak perlahan menatap mata Reynard yang kini tak lepas memandangnya, mengulurkan sapu tangan itu tepat didepan wajah-nya. "Nih, ambil" Ulang Reynard, tapi si perempuan menatapnya ragu lantaran Reynard masih mengenakkan masker penutup wajahnya pastilah dikira yang bukan-bukan oleh si Perempuan. Reynard perlahan mendekat padanya kemudian meraih tangannya secara cepat-meletakkan sapu tangan itu di telapak tangan si dia, "Tenang aja, sapu tangannya bersih kok, belum aku pakai dijamin bebas virus Corona, pakai aja" Ucapnya. Tersirat seyum dari bibir si perempuan lantaran cara bicara beserta ekspresi Reynard tampak lucu baginya. "Terima kasih" dia meraihnya kemudian memakainya. Sesudah dia menyapu air mata dengan sapu tangan pemberiannya itu, si perempuan masih saja sesegukan "Hiks, hiks, hiks," Reynard menatapnya tak ayal memutar kedua bola matanya. "Hei, kenapa kamu masih menangis? Berhentilah" "Menangis adalah cara melepas rasa kegundahan dan kesedihan hati supaya terasa lega" Jawab si Perempuan perlahan berdiri. "Cih, emang harus segitunya ya?" Cetus Reynard meliriknya seraya melipat kedua lengannya. "Semua lelaki memang sama saja." Lanjut si Perempuan kemudian mengalihkan pandang ke lain sisi. "Hah?" Reynard tak paham, lantaran dia memang tidak begitu paham urusan seperti ini. Tapi si perempuan malah semakin histeris sesegukan, "Hiks, hiks, hiks" Membuat Reynard kian bimbang, "Hei, hei, apa yang kamu lakukan? kenapa masih menangis aja sih?" sedikit mengerutkan keningnya. Tapi tak di respon oleh si perempuan, dia masih saja sesegukan tampak sedang Frustasi membuat Reynard semakin kebingungan. Sekian detik berdiri di samping perempuan itu, si dia masih saja belum terhenti dari tangisnya, lantas entah mengapa tiba-tiba Reynard merasakan sensasi lain padanya hingga rasa yang sebelumnya tak pernah dia rasakan, kini tumbuh perlahan rasa kepedulian terhadap seorang perempuan. Maka ... menoleh lagi ke arahnya sembari berkata, "Ka-kamu abis putus sama pa-pacar ya?" tanya-nya sedikit terbata. Si perempuan sebatas mengangguk pelan. "Kalau kamu udah tau bakal putus, kenapa musti pacaran?" Tanya Reynard lagi secara to the poin. Si perempuan menoleh kemudian berkata "Kamu tak akan mengerti Tak ayal didalam hati Reynard berkata, 'Gimana gua ngerti, gua kenal lu aja kagak' "Segitu pentingkah pacaran?" Ketus Reynard secara tiba-tiba. Membuat si perempuan menyadari sesuatu "Em ... tunggu, kamu bicara begitu pasti kamu belum pernah pacaran ya?" Tanya-nya menyapu kembali air mata di pipinya, Kesedihan semula dia rasakan bagaikan sirna. "Iya, aku emang belum pernah pacaran dan gak akan pernah" Jawab si Reynard dengan lancarnya khas seorang anak muda (Pubertas) tak ayal membuat si perempuan tiba-tiba tawa terbahak. "Apa? hahaha" "Ke-kenapa?" Reynard bingung tak ayal dia angkat satu alisnya. "Omong-kosong" Jawab si perempuan. Reynard, "...." Si perempuan lekas melihat fisik Reynard dari ujung kaki hingga kepala "Kamu pasti masih ABG ya?" lantaran belum melihat seperti apa rupa sebenarnya dibalik masker yang pemuda itu pakai. Kedua mata si Perempuan tertuju pada bentuk tubuh pemuda ini benar-benar tampak maskulin, alias Reynard terlihat lebih besar dan dewasa lebih dari usia dia aslinya. "Siapa bilang ABG? aku udah gede kok emangnya gak keliatan apa?" Jawab si Reynard mengalih ke arah lain menutupi rasa malunya didepan seorang perempuan tetapi dia enggan membuka maskernya. Membuat si perempuan lagi-lagi tertawa "Hahaha pantas saja." "Maksudnya?" Tanya-nya, didalam hati berkata beda "Sial," "Masih polos" Jawab si perempuan sembari menyeka sedikit rambutnya ke belakang. "Hah? hei kamu!" Reynard seolah tak terima, mengepal tangannya sendiri, tetapi tampak lucu bagi si perempuan. "Hahaha" Si perempuan kini tertawa lepas yang mana membuat Reynard menjadi tersenyum mengingat semula si perempuan menangis sesegukan kini tampak tertawa lepas tanpa beban. "Iya deh, kamu udah gede btw thanks ya," Ucap perempuan itu begitu menyadari kini dia menjadi tertawa oleh si pemuda cilik itu. Reynard terdiam, sementara si perempuan berpijak hendak pergi dari sana. "Suatu hari nanti, pasti kamu akan menemukan cinta sejatimu dan gak akan pernah bilang udah gede lagi" Sedikit senyum-berpijak semakin menjauh membuat si Reynard kini mematung tak tahu apa yang ada dipikirannya. "Maksud tuh cewek daritadi ngomong apaan sih, brrrr pusing pala gua!" Lantas, begitu menyadari si perempuan pergi berjalan kaki, entah mengapa tiba-tiba tumbuh siasat tertentu, beranjak ke arah motornya kemudian memacu ke arah perempuan itu. "Hei kamu, naiklah." Ajak-nya menghentikan kendaraannya tepat di samping perempuan itu yang kini berdiri di pinggir jalan-menunggu taksi. "Apa kamu sedang berencana menculikku?" Canda si perempuan. "Mungkin Seperti dugaanmu, aku akan menculikmu" Jawab Reynard tak ayal membuat si perempuan tertawa nan menggelengkan kepala. Tapi, tak lama berdrama dia lekas naik ke atas motornya sembari berkata "Silahkan culik-lah aku" "Hah?" Kejut Reynard dengan polosnya. "Mau tunggu apa lagi? jalanlah" Ucap si perempuan membuat Reynard bingung tapi lekas dia turuti memacu ke arah sesuai yang perempuan itu katakan bagai seorang Driver ojek. Didalam batin Reynard tak henti berkutat lantaran dia memang tidak pernah dekat dengan seorang perempuan seperti ini. Tak lama kemudian Reynard berhasil mengantarkan perempuan itu di kediamannya yang terletak di suatu perumahan. "Terima kasih ya" Ucap si Perempuan begitu dia turun. "Disini rumahmu?" Tanya si Reynard menatap ke arah sana. "Bukan rumahku, tapi rumah orangtuaku." Jawab si perempuan khas perempuan dewasa. "Oh ... ya, ya," Reynard sebatas menganguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba perhatian teralihkan mendapati tangan si perempuan mengulur didepannya "Aku Beathriz Jefferson." Mengajaknya berkenalan. "Namaku ... Reynard Aurelius Manuel, panggil saja Rey." Meraih tangan si perempuan itu kemudian saling berjabat. Didalam batin Beathriz berkata "Kenapa kamu harus bernama 'Rey' sih!' sedikit menundukkan kepala lantaran ingat sesuatu. Namun Selepas itu di berkata, "Yaudah Rey, Ak-aku masuk dulu ya" Melambaikan tangannya, Reynard membalasnya-melambaikan tangannya jua. Semula dia biarkan si perempuan menuju pintu gerbang rumahnya, tapi entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang ingin dia katakan pada perempuan itu terlebih dahulu, maka ... "Hei kamu, tunggu." Panggilnya. Beathriz menolehnya "Hum, ada apa?" "Em ... Kalau bisa kamu jangan melakukan lagi seperti tadi pada sembarang orang, ya?" "Melakukan apa maksudnya?" Beathriz tak paham. "Kenapa tadi kamu langsung percaya padaku benar-benar menganterin kamu pulang?" Reynard mengingatkan pada beberapa menit sebelumnya, tentang kenapa perempuan itu tak takut dirinya di culik? apalagi perempuan itu tak kenal siapa dirinya? begitulah pikir si Reynard. Beathriz menyeringai kemudian berkata, "Nyatanya kamu mengantarkanku pulang bukan?" Reynard sebatas mengangguk pelan. "Hati setiap manusia memang tidak bisa di tebak. Tapi mereka masih bisa merasakan percaya pada seseorang, bukan berarti pada sembarang orang." pungkasnya tersenyum hangat. Membuat Reynard garuk-garuk kepala meski tak gatal, masih cukup polos untuk mengerti kalimat dia yang mengandung sejuta arti itu. "...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD