Ponselnya sedari tadi tak berhenti berkedip. Semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak karena terlalu memikirkan Max dan teman kencannya itu. Ben akhirnya menyerah dan menyambar ponselnya. Suara Max terdengar. "Bagaimana kabarmu bung?"
Kabarku buruk dan itu karena kau dan selingkuhanmu. Ben ingin sekali menjawab hal itu.
"Aku baik-baik saja"
"Sepertinya kau menyukai tempat ini" Max terkekeh, jelas-jelas terdengar sedang gembira. "Dengar, aku tahu sudah meminta terlalu banyak darimu selama beberapa hari ini, tapi aku butuh bantuanmu, tiba-tiba Arthur meminta ingin bertemu. Jadi aku minta tolong kau untuk mengambilkan beberapa berkas di hotel tempatku menginap. Kuncinya sudah aku titipkan ke resepsionis"
"Oke, serahkan semuanya padaku."
Petugas resepsionis menyodorkan kunci kamar Max tanpa ragu-ragu. Para staf hotel telah mengenal mereka dengan baik. Mereka semua tahu Max dan Ben adalah tempat dekat sekaligus rekan bisnis. Biasanya Max selalu memesan kamar deluxe, namun kali ini Max memesan kamar suite yang mewah. Pikiran buruk Ben kembali muncul. Apakah kamar ini merupakan kamar yang biasa Max pesan saat menginap dengan simpanannya?
Ben membuka pintu, dan terlihat ruangan luas yang kosong di hadapannya. Kamar suite itu sangat nyaman, lengkap, dan mewah. Ben melangkah menuju meja di dekat dinding yang dihiasi sebuah lukisan pemandangan laut. Ben segera menemukan berkas-berkas yang dijadikan satu dalam map biru. Berkas-berkas itu merupakan foto, desain serta gambar-gambar arsitektur proyek pembangunan resor. Ben sedang sibuk membolak-balik map itu ketika terdengar suara dari arah kamar tidur utama di ujung koridor. Kening Ben berkerut. Mungkinkah kamar ini sedang dibersihkan? Dengan map di tangannya, Ben melangkah ke arah koridor dan berseru. "Halo"
Begitu selesai melakukan itu, Ben langsung waspada. Detik itu juga ia menyadari dirinya akan berhadapan dengan kekasih Max.
Benar-benar sial. Aku belum siap bertemu dengannya.
Wanita itu muncul dari kamar tidur, tampak sedikit gelisah, bahkan sebelum dia melihat Ben. Tampaknya wanita itu sedang bersiap-siap untuk pergi. Ben memandangi rambut hitam bergelombang yang indah dan tergerai rapi. Beberapa ikalnya tampak masih lembab. Wanita itu memakai dress sederhana berwarna putih dan heels hitam. Dari jarak sedekat itu, Ben bisa melihat mata wanita itu berwarna coklat kehijauan. Seandainya Ben mau jujur pada dirinya sendiri, ia suka memandang wanita itu. Kalau bisa ia sanggup untuk memandangi wanita itu seharian. Tapi, bagaimanapun wanita di hadapannya itu merupakan wanita simpanan Max dan itu membuat dirinya geram.
"Kau!"kata itu terucap dalam jeritan kecil.
"Maaf mengagetkanmu, aku tidak tahu ada orang disini" Ben tahu suaranya terdengar ketus.
"Perkenalkan aku Benio Praja, Rekan bisnis Max" ucap Ben memperkenalkan diri.
"Ya, Max sudah banyak bercerita tentangmu." Balas wanita itu menatap Ben.
Ben terkejut namun sedetik kemudian dia berdehem pelan.
"Mengejutkan sekali!" Sindir Ben.
"Aku harus pergi sekarang." Kalau aku tidak segera keluar dari sini mulutku pasti akan melontarkan apa yang kupikirkan mengenaimu. Batin Ben
"Semalam kau orang yang berada di restoran yang sama dengan kami. Kenapa kau pura-pura tidak mengenal kami?" Sindir wanita itu.
"Semalam aku ingin menyendiri. Tidak ada gunanya kau memberitahukan hal itu pada Max. Aku sama sekali tidak bermaksud menganggu kalian."
"Kau memandangku seolah-olah kau sangat membenciku."
Tatapan wanita itu membuat Ben goyah sesaat. " Bagaimana mungkin aku membencimu, aku sama sekali tidak mengenalmu."
"Kecuali kau memang punya alasan untuk membenciku. Reaksimu begitu kuat."
Ben tertawa kasar. "Apa yang kau lakukan dalam apartemen max?" Ben terpesona memandangi warna kulit wanita itu.
"Aku wanita simpanannya, begitu menurutmu?" Ucap wanita itu menatap Ben.
Ben menyadari sorot matanya sedingin es. "Maaf kalau sikapku tidak sesopan yang kau harapkan"
"Kau tidak ingin aku berada di dalam kehidupan Max?"
Ben menggeleng. "Sudah pasti tidak."
"Tapi sayang sekali aku sudah terlanjur masuk ke dalam kehidupannya" jelas wanita itu penuh kemenangan. "Posisiku sudah jelas. Max mencintaiku"
"Ya. Ben tergila-gila pada kecantikanmu" ucap Ben sinis.
"Dia sudah pernah melihat kecantikan seperti ini sebelumnya."
"Apa maksudmu? Sandiwara apa yang sedang kau mainkan ini?" Ben tidak mengerti.
"Tidak ada sandiwara." Jawab wanita itu lembut. "Jika kau mau memberikan sedikit kesempatan padaku untuk membela diri.."
Ben buru-buru membalikkan tubuhnya. "Maaf. Kau pasti membutuhkan waktu yang sangat lama dan aku harus segera bertemu klien."
"Baiklah. Sebaiknya kau segera pergi"
Ben tahu kalau wanita itu pasti marah karena ia menolak mendengar alasan apapun yang terlontar dari mulutnya. "Ya. Memang itu rencanaku"
"Oh ya, Sepertinya Max akan mengadakan makan malam hari ini. Kurasa dia ingin aku dan kau bertemu" ucap wanita itu sebelum Ben melangkah menuju pintu.
Ben terdiam namun tetap melanjutkan langkahnya dan menutup pintu.