Eleya pertama kali melihat Max saat di pemakaman ibunya. Saat itu ia sama sekali tidak mengenal pria itu atau kenyataan yang menakjubkan bahwa pria itu ternyata adalah ayah biologisnya. Selama ini yang ia tahu ayahnya bernama Thomas Adimulia. Max memberitahunya kalau ia adalah kekasih ibunya dua puluh tahun lalu. Ketika mereka berdua sama-sama masih muda.
Max merupakan pria yang sangat tampan di puncak usianya. Tatapan mata Max sangat tajam dan mampu meluluhkan banyak orang, sama seperti yang dilakukan pria dihadapannya ini padanya. Benio Praja memiliki tatapan tajam yang mampu menembus relung jiwanya. Sekarang ia tahu siapa pria itu. Teman dekat sekaligus rekan kerja Max. Max bercerita kalau Ben adalah orang yang menyenangkan. Seorang pria dengan kegigihan yang luar biasa, berpendidikan tinggi, ambisius, tampan dan tipe pria yang diidam-idamkan menjadi suami potensial.
Tapi Ben seakan menganggap Eleya musuhnya. Tatapannya pada Eleya menunjukkan kebencian yang luar biasa.
Eleya mengangkat tangannya menutupi wajah yang seakan terbakar menahan amarah saat teringat kembali insiden tadi siang. Pasti Ben mengira Eleya sebagai kekasih gelap Max. Ia masih bisa merasakan tatapan dingin Ben. Sedingin gunung es. Seakan masih bisa mendengar suara pria itu, berat, tak bersahabat dan sama sekali tidak ada kelembutan.
Eleya tidak bisa memaafkan sikap meremehkan pria itu. Ia sudah mengalami cukup penderitaan akhir-akhir ini. Tidak mudah menerima kenyataan bahwa Max-lah ayah kandungnya bukan Thomas yang selama ini ia panggil "ayah". Hubungan mereka memang tidak cukup dekat. Thomas tidak pernah memperlihatkan emosi, bahkan saat hari kematian ibunya. Meskipun segala sesuatu yang terpancar dari dalam diri pria itu menunjukkan kesedihan dan keputusasaan.
Thomas merupakan pribadi yang tertutup. Menurut Eleya, Thomas pasti sudah lama menyadari kalau Eleya bukan putri kandungnya, meskipun Eleya sangat mirip dengan Alana, wanita yang sangat dicintainya dengan sepenuh hati. Pasti alasan itu yang membuat Thomas tidak bisa secara terang-terangan menolak Eleya. Selain itu, Thomas selalu berusaha menyenangkan hati kakeknya yang telah berperan dalam kemajuan karier menantunya di bidang hukum.
Kakek Eleya benar-benar terpukul akibat kematian ibu Eleya. Selama enam bulan belakangan kesehatan pria tua itu menurun drastis. Seakan semangat hidupnya telah lenyap akibat kematian sang putri. Sejak kecil Eleya merasa pernikahan orangtuanya tidak bahagia, dan bertahun-tahun setelah itu baru ia menyadari ternyata hal itu ada hubungannya dengan keputusan ibunya untuk menikah dengan pria pilihan kakeknya.
Eleya menghempaskan tubuhnya ke sofa, berusaha menenangkan diri setelah terguncang akibat kata-kata Ben. Max membiarkannya tidur di kamar mewah tersebut sedangkan Max sendiri tidur di sofa ruang tamu. Max pergi pagi-pagi sekali karena ada klien yang ingin bertemu. Tadinya, Eleya berencana melewatkan hari dengan berkeliling atau berbelanja, kemudian malamnya Max ingin memperkenalkan Eleya dengan sahabat sekaligus partner kerjanya, Benio Praja.
Eleya semakin tenggelam dalam lamunannya. Ia dan Max telah menempuh proses yang cukup panjang setelah pertemuan pertama mereka. Setelah kematian ibunya karena kanker, ia dan Thomas mengambil cuti dari pekerjaan mereka di firma hukum milik kakek Eleya. Thomas sendiri memiliki firma hukum dan mereka berdua sama-sama berpartner. Suatu pagi Max mendekatinya ketika ia keluar untuk mengunjungi kakeknya. Awalnya ia terkejut melihat Max, menyangka pria itu salah satu wartawan yang hendak mencari berita. Max memberitahu Eleya bahwa dia ingin berbincang-bincang tentang ibu Eleyaa, Alana, wanita yang pernah sangat dikenalnya ketika mereka masih muda.
Anehnya, Eleya langsung pergi bersama Max tanpa keraguan sedikitpun, mungkin karena sikap Max yang lemah lembut dan protektif sehingga mampu menghapus semua ketakutannya. Mereka minum kopi bersama, tetapi sebenarnya ketika duduk berdampingan di bangku taman sembari mengamati anak-anak bermain ayunan, barulah Max menceritakan kisah masa lalunya...
***
Flash back
"Itu semua hanya kisah cinta lama. Cinta yang tak tersampaikan. Seorang pemuda berandalan dan jatuh cinta setengah mati pada putri tunggal seorang pria kaya raya. Kau tahu kakekmu, kan. Dia dulu, dan menurutku sekarang pun masih, adalah orang yang selalu berpegang teguh pada aturan yang kaku. Pemuda miskin dan bukan berasal dari keluarga terhormat tidak akan mendapat tempat dalam rencana masa depan putrinya. Meskipun begitu, selama beberapa bulan yang menghebohkan itu, Alana dan aku sempat berpacaran. Meskipun pada akhirnya tekanan dari kakekmu tidak lagi mampu ditanggung Alana. Saat itu aku benar-benar tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan pada ibumu kecuali cinta. Aku sadar kami berdua berbeda. Sekeras apapun aku berusaha tetap saja ada dinding tak kasat mata yang memisahkan. Alana kemudian memutuskanku dan aku pergi kembali ke tempat asalku."
"Apa itu tidak cukup?" tanya Eleya, matanya berkaca-kaca.
"Ibumu sungguh-sungguh mencintaiku, Eleya. Tapi kakekmu dan jaminan hiduplah yang akhirnya menang."
"Menyedihkan sekali. Ibuku memang tampak selalu bersedih." Eleya menerawang ke arah anak-anak yang sedang bermain. Masih ada hal lain. Eleya bisa merasakannya.
"Begitu juga aku." Max mendesah dalam-dalam. "Aku tidak tahu kalau Alana telah mengandung dan menikah dengan pria pilihan kakekmu."
"Ya tuhan, apa maksud anda?" Suara gadis itu terdengar begitu memelas. Selama beberapa saat Eleya tidak mampu bicara hingga Max melingkarkan lengannya di bahu gadis itu.
"Maksudku, kau sayang. Seandainya saat itu aku tahu ibumu mengandung bayi kami, segalanya pasti akan berbeda."
"Maksud anda, ibuku tidak pernah memberitahu kehamilannya pada anda?" Eleya terguncang.
"Tidak pernah, sampai tahun ketiga pernikahnnya. Aku membawa surat yang ingin kutunjukka kepadamu. Kau pasti mengenali tulisan tangannya. Surat itu dikirim kepada ibuku yang telah meninggal dunia tanpa pernah mengetahui dia punya seorang cucu perempuan. Alana tidak bisa melacak keberadaanku. Setelah beberapa bulan pasca kami putus. Aku berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Aku nyaris gila setelah Alana menikah. Aku merasa terpukul. Aku langsung berkemas dan meninggalkan rumah. Sampai akhirnya aku menetap di Jakarta."
"Tetapi dia tetap mengirimkan surat itu kepadamu?"
Nada suara Max melembut. "Di surat itu ibumu memintaku untuk menyimpan rahasia tentang dirimu. Karena aku tahu mendiang ibuku pasti akan mencari keberadaanmu dibelahan dunia manapun. Meskipun hal itu sangat menyakitkan, aku melakukannya. Alana berhasil meyakinkanku kalau dia dan kau baik-baik saja. Dia memintaku untuk tidak ikut campur karena dia sudah memiliki keluarganya sendiri. Dia tidak mau membuat masalah pada suaminya kalau aku tiba-tiba muncul dan memberi tahu kalau anak yang dikandungnya adalah milikku. Karena itu selama ini aku tutup mulut dan berusaha mengawasimu meski dari jauh. Ngomong-ngomong kau diberi nama seperti nama mendiang ibuku. Nenekmu, Eleya."
Eleya membisu, berusaha menyerap semua yang diterimanya. "Sama sekali tidak bisa dipercaya." Eleya sudah tidak tahan lagi.
"Aku mengerti. Aku paham segala sesuatu tentang kepedihan dan penderitaan yang kau rasakan. Bacalah surat ini." Max mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah menguning dan kusut di saku jaketnya. Ia menyerahkannya pada Eleya.
Saat membaca surat itu, mata Eleya semakin kabur karena dipenuhi air mata. Bagaimana mungkin ibunya tega melakukan itu pada Max? Apa yang membuatnya terus bertahan bersama Thomas? Mengapa ibunya tidak jujur saja. Pasti kakeknya akhirnya akan merestui hubungan ibunya dan Max. Andai saja kakeknya tidak pernah memaksa ibunya menikah dengan pria pilihannya pasti semua bencana ini tidak akan terjadi. Thomas ayah yang baik tapi dia seakan menjaga jarak padanya. Mungkin Thomas tahu kalau Eleya bukan anak kandungnya.
"Apa kau pernah menikah?" Tanya Eleya sembari memikirkan begitu banyak kejadian masa lalunya.
Max mengangguk." Aku punya seorang istri dan seorang anak. Istriku bernama Carla dan anakku bernama Archie."
"Kalau begitu kau cukup bahagia." Ucap Eleya. Eleya tidak menyalahkan Max karena baru sempat menemuinya. Lagipula Max tidak tahu keberadaanya saat itu.
"Seharusnya begitu. Tapi aku selalu memikirkanmu. Aku tahu hidupmu pasti terjamin dan baik-baik saja. Tapi kadang kala aku memikirkan bagaimana saat kau pertama kali mulai berjalan kemudian mengucapkan kata pertamamu. Aku membayangkan hal-hal tersebut. Kalau saja aku bisa selalu bersamamu dan menemanimu. Maafkan aku nak."