Sejak saat itu mereka selalu bertemu. Dua sampai empat kali dalam sebulan. Max akan ke Bali untuk mengunjunginya dan mengajaknya berlibur di sekitar Bali. Mereka berbincang-bincang ringan dan sama-sama saling memahami. Bahkan Eleya menyadari ia mewarisi beberapa karakter dan kebiasaan ayahnya. Masih ada begitu banyak hal yang perlu mereka bicarakan. Mereka berdua menikmati waktu berjam-jam untuk berdiskusi dan saling mencurahkan isi hati masing-masing. Max selalu bertekad Eleya akan tinggal bersamanya di Jakarta dan menjadikan putrinya itu bagian dari keluarganya. Tetapi ditengah-tengah sukacitanya menemukan kembali putri yang hilang, Max berani menempuh resiko kebilangan istrinya sekaligus putranya, Archie.
Sementara hubungan dengan Max semakin berkembang, hubungan dengan Thomas yang selama ini ia panggil "ayah" semakin buruk. Eleya merasa tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya pada pria itu. Sudah waktunya pindah dari rumahnya. Eleya tidak akan mengutarakan rahasiannya kepada sang kakek. Apa memang perlu? Kakeknya sangat mencintainya namun pria tua itu tampak semakin rapuh setelah kematian putrinya dan membuat Eleya menahan diri untuk memberi tahu rahasia tersebut. Eleya tidak ingin menambah beban pikiran dan rasa sedih untuk kakeknya.
Eleya yakin mungkin Kakeknya sudah tahu yang sebenarnya. Kakeknya orang yang sangat pandai dan cerdas. Hubungan antara ibunya dan kakeknya sangat dekat, sehingga ibunya mungkin saja langsung mengungkapkan kisah menyedihkan itu.
Eleya bangkit dari sofa dan kembali ke kamar tidur untuk berpakaian. Ia berencana makan siang bersama temannya, Sarah. Mereka sudah berteman sejak masuk sekolah dan universitas yang sama. Sarah merupakan satu-satunya sahabat dekatnya. Sarah juga mengambil gelar Hukum seperti dirinya dan bergabung disuatu firma milik seorang pengacara terkenal. Sarah biasanya menangani kasus-kasus skandal para artis dan selebriti. Eleya masih mengambil cuti panjang dari firma hukum milik kakeknya. Selama cuti, ia lebih banyak mengurus berkas-berkas sengketa tanah. Biasanya Eleya mengambil kasus pidana namun beberapa bulan ini ia beralih profesi menjadi notaris.
Salim Law and Firm milik kakeknya merupakan salah satu firma hukum di Indonesia yang cukup terkenal dan selalu sukses menangani berbagai kasus hukum di Indonesia. Kakeknya menjadi salah satu pengacara yang bersih dan adil. Biasanya pengacara hanya membela klien yang mampu membayar mahal meskipun klien tersebut salah. Namun kakeknya menolak tegas. Kakeknya pernah rela tidak dibayar karena membela orang kecil yang menuntut keadilan karena kasus tabrak lari. Eleya sangat bangga pada sang kakek. Edwin Salim, sang Kakek, selain memiliki firma hukum juga memiliki sejumlah bisnis properti yang tersebar di seluruh Indonesia.
***
Setelah menikmati makan siang yang menyenangkan bersama Sarah, Eleya kembali menuju hotel sore itu. Max seharusnya sudah pulang dari Pandawa Golf sekarang. Max sendiri memiliki berbagai macam bisnis salah satunya bisnis jual beli yacht. Eleya bersyukur setidaknya ayah kandungnya memiliki hidup yang baik dan berkecukupan. Nanti malam mereka akan makan bersama Benio Praja. Pada acara makan malam itulah Max berencana mengungkapkan identitas Eleya yang sebenarnya. Sudah pasti penjelasan itu akan menghentikan sikap menghakimi Ben yang angkuh.
Penampilan Ben menunjukkan siapa dirinya, seorang pria yang berasal dari kalangan elite. Secara fisik Ben sangat memesona. Dengan tinggi lebih dari seratus delapan puluh centimeter, pria itu juga memiliki tubuh atletis dan kuat. Eleya memerhatikan bahu pria itu yang lebar dan wajah yang terkesan unik. Warna kulitnya tidak terlalu putih juga tidak terlalu gelap, garis-garis wajah yang terkesan tegas, hidung mancung yang memberi kesan angkuh, bibir sensual serta tulang pipi yang tinggi. Secara keseluruhan Ben menampakkan ketegaran dan kebugaran luar biasa dengan mata hazel yang memancarkan semangat besar. Eleya yakin Benio Praja takkan pernah bisa menjadi temannya. Mustahil. Tetapi Ben adalah teman dekat sekaligus partner bisnis Max. ia harus selalu ingat itu.
Dering telepon di tengah kesunyian suite membuat Eleya terlonjak. Ia mengangkat gagang telepon dan bergumam
"Eleya Salim?"
Eleya terkesiap, seketika itu juga mengenali suara si penelepon. "Ya."
"Aku sudah di lobi," ujar Ben, nada suaranya terdengar datar. "Aku akan ke atas."
Mendadak udara di suite yang Ber-AC itu terasa panas. Eleya menjadi gelisah. Apa yang pria itu inginkan? ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.
Ketika mendengar ketukan, Eleya menghampiri pintu dan membukanya, lalu mundur. Wajah tampan Ben tidak menunjukkan ekspresi apapun, meskipun Eleya merasa seolah bisa melihat wajah itu sedikit pucat.
"Duduklah." Nada bicara pria itu sedikit lebih lembut daripada yang pernah didengar Eleya sebelumnya.
"Ada apa?" akhir-akhir ini Eleya sudah begitu terbiasa dengan kesedihan dan berita duka sehingga dengan cepat ia bisa membaca suasana hati pria itu. "Apa ini tentang Max?"
Alis Ben bertaut. "Aku tidak tahu cara menyampaikan berita ini kepadamu, tapi Max mengalami kecelakaan mobil beruntun saat akan menuju Hotel. Sepertinya mobil salah satu pengemudi berhenti karena pengendaranya pingsan, kemudian mobil dibelakangnya saling menabrak satu sama lain.Sehingga kecelakaan itu tidak terelakkan."
Lutut Eleya langsung lemas. "Ya Tuhan!"
Selanjutnya Eleya tiba-tiba mendapati dirinya terduduk lemas di sofa, sementara Ben menepuk-nepuk pergelangan tangannya. "Apa kau baik-baik saja?"
"Aku sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres." Eleya menunduk dalam-dalam tidak menyadari Ben yang sedang berdiri di sampingnya sembari memandanginya dengan waspada, khawatir memikirkan kesulitan yang sedang dihadapinnya. Carla juga harus diberi tahu Max sempat siuman selama beberapa saat, lalu memberikan nama Ben pada polisi dan nama-nama yang harus dihubungi.
Max, seperti biasanya, memberi Ben kepercayaan untuk menyebarkan berita itu kepada semua orang. Kepada istri Max. Dan simpannya. Ben belum menelepon Carla. Sekarang ia malah bersama gadis itu dan berusaha melindunginya.
"Dimana dia sekarang?" Eleya mendongak, matanya yang biru gelap memandang ke arah Ben.
Saat menyebutkan nama sebuah rumah sakit. Ia mendengar Eleya mendesah dalam-dalam. "Maaf seharusnya aku tadi memberitahumu kondisinya tidak parah. Baiklah aku akan kerumah sakit sekarang." Ben tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Aku ikut." Eleya bangkit dari sofa berusaha keras menengkan dirinya.
"Kupikir itu bukan ide bagus." Ben tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya.
"Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan." tantang Eleya. "Kalau kau tidak mau mengantarku, aku akan naik taksi. Aku ingin tahu bagaimana keadaan Max yang sebenarnya. Aku mencintainya dan tidak mau kehilangan dirinya."
Nada bicara Eleya yang tegas membuat Ben menyerah, tapi ia tetap harus memperingatkan gadis itu "Kau harus ingat dia sudah punya anak dan istri."
Eleya memandang Ben, seakan informasi itu sama sekali tidak penting. "Lalu apa hubungannya denganku?"
Anehnya Ben tidak marah, hanya merasa tidak berdaya. " Sepertinya kau bukan gadis yang tak punya hati." Justru sebaliknya, gadis ini tampak sangat perasa, dan matanya yang indah itu tampak berkaca-kaca.
"Max berniat untuk menceritakan segalanya mengenai aku kepadamu malam ini." Jelas Eleya.
Nada bicara gadis itu mengembalikan ketidaksabaran Ben. "Terus terang saja, hal itu membuatku cemas. Aku harus menghubungi Carla , istri Max."
"Aku tahu."
Ada misteri yang tersimpan di dalam diri gadis ini, yang berhubungan dengan Max, yang tidak bisa dimengerti Ben.
"Mengapa kau tidak melakukannya sebelum ini? Tanya Eleya. "Mengapa tidak meneleponnya sebelum memberitahuku?"
Ya, benar, Mengapa? "Aku tidak harus menjelaskan alasanku kepadamu." jawab Ben dengan nada agak keras. "Kita sama-sama tahu, aku cemas dan khawatir. Dan kau harus keluar dari suite ini. Aku akan mengurus semuanya."
"Tentu saja." Eleya menelengkan kepalanya. "Aku sangat bersyukur kau ada di sini dengan sikapmu yang menghakimi sekaligus penuh keprihatinan itu. Apakah kau akan mengantarku ke rumah sakit?"
Tekad kuat Eleya membuat Ben pusing tujuh keliling. " Aku tidak percaya kau mampu menjaga lidahmu nanti. Aku yakin kecelakaan Max akan diliput. Pasti banyak wartawan disana. Max cukup terkenal dan banyak relasi bisnisnya yang berasal dari Bali."
"Sementara aku cuma orang awam?" tanya Eleya sedikit sinis, sembari memandang Ben lekat-lekat.
Ben tidak sanggup membayangkan gadis itu tinggal serumah dengan Max. "Kau wanita muda yang kebetulan melakukan kekeliruan cukup besar. Aku tidak bisa bilang aku memahami alasan Max untuk tidak bercerita mengenai semua ini jauh sebelumnya kepadaku. Selama aku bekerja dengannya, kami selalu saling berbagi informasi."
"Dia memujimu setinggi langit."ujar Eleya.
"Identitasku sebentar lagi akan terungkap. Jika tidak pada saat Max dirawat dirumah sakit, mungkin suatu saat nanti. Seandainya sesuatu yang buruk terjadi pada Max, mudah-mudahan tidak, aku akan menghilang secara diam-diam. "
Ben mendapati dirinya tidak menginginkan hal itu terjadi, tapi tetal saja nada bicaranya terdengar ketus, meskipun diam-diam ia mengumpat pada dirinya sendiri karena panik.
"Sebenarnya apa yang kau takuti? Kau kira aku mengincar harta Max?" tanya Eleya
"Maaf kalau aku yakin kekayaan Max itu salah satu faktor penyebab."
Eleya menggeleng. " Kau salah. Warisan ibuku cukup menjamin kehidupanku secara finansial. Selain itu aku masih punya kakek. Kau sama sekali tidak tahu apa-apa tentangku, Pak Benio Praja."
"Kecuali bahwa kau telah membuat temanku, Max lupa daratan. Omong-omong, kalau kau ingin ikut silahkan saja. Kalau barang-barangmu masih disini bawa semua sekalian. Menurutku kalau hidupmh secara finansial sudah mantap, kau pasti punya rumah sendiri kan?" sindir Ben.
Wajah Eleya memerah, matanya yang indah tampak berkaca-kaca. Kurang ajar sekali Ben mengusir dirinya terang-terangan. "Kau.." Eleya tidak tahu mau berkata apa dan hanya berlalu sambil mengepak semua barang-barangnya.