Selama perjalanan menuju rumah sakit mereka berdua saling diam, meskipun Ben terus menerus melirik wanita disampingnya itu. Bahkan Ben harus menahan diri untuk tidak meraih tangan Eleya. Tangan yang begitu halus dan mulus. Ingin rasanya Ben mengecup punggung tangan wanita itu. Ben melirik benda berkilauan yang bertengger manis dipergelangan tangan Eleya. Sebuah gelang emas dengan berat delapan belas karat serta arloji Rolex bertatahkan berlian yang sangat mewah dan elegan. Apakah Max yang membelikan barang-barang itu? Setahu Ben, Max jarang membelikan barang-barang branded untuk Carla, meskipun Max selalu membiarkan istrinya membeli apapun yang ia inginkan. Ini perbedaan yang sangat besar. Ben merasa iba pada Carla. Carla pasti akan sangat shock dan marah bila mengetahui keberadaan wanita lain di rumah tangganya.
"Apa kau sudah siap?" tanya Ben ketika keduanya sedang berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
"Aku yakin Max akan baik-baik saja, ia pria yang kuat dan ia tak akan meninggalkanku begitu saja"
"Sepertinya kau mau pingsan" Wajah Eleya memang tampak pucat. Ben meraih lengan Eleya ia merasa sedikit protektif pada gadis itu. Bisa dibilang Eleya tampak sangat jangkung untuk ukuran seorang wanita. Eleya memiliki tinggi seperti para model victoria secret. Namun disisi Ben, Eleya tampak begitu mungil.
"Sampai sekarang aku belum pingsan kan?"
"Di hotel tadi kau nyaris pingsan," Sahut Ben. "Omong-omong sekarang kita sudah sampai. Biar aku saja yang bicara."
"Tentu saja." Eleya memandang ke arah Ben. Ben terpaku dengan kecantikan Eleya. Namun batinnya meneriakkan sesuatu. Gadis ini adalah kekasih Max.
Dokter bedah sudah menunggu mereka. "Pak Max akan segera dioperasi. Lukanya cukup dalam. Beberapa tulang rusuknya patah. Namun kondisinya cukup bagus untuk pria seusianya. Saat ini Pak Max masih sadar meskipun kami sudah memberi obat bius. Kalian boleh berbicara sebentar dengannya." Begitu dokter pergi, Ben dan Eleya melihat Max sedang didorong keluar menuju koridor.
"Ayo," Ben mengajak Eleya mendekat pada Max.
Mata Max yang sayu melihat Ben lebih dahulu. "Ben!" Max mengulurkan sebelah tangannya yang langsung disambuh Ben. Ben bisa merasakan tangan Max dingin. "Kami disini, Max," katanya membiarkan perasaannya tergambar jelas diwajahnya.
"Eleya juga sudah di sini." Ben menyebutkan nama gadis itu, karena ia tahu Max akan senang mendengarnya menyebutkan nama itu.
"Eleya?" Max mencoba memalingkan wajahnya, jelas-jelas gembira dan penuh semangat, sehingga perawat di dekat Max langsung menggeleng menyiratkan peringatan ke arah Ben dan Eleya.
Eleya beranjak mendekat dan meraih tangab Max. lalu mencondongkan tubuhnya mendekati Max, sementara wajahnya yang cantik menyiratkan kepolosan.
Ekspresi yang terpancar di wajah Max membuat Ben membuang muka.
Inilah cinta. Cinta sejati. Ya tuhan! Cinta semacam ini pasti langgeng. Batin Ben. Ben menyadari hal itu sekarang. Tidak seorang pun bahkan sanggup memisahkan mereka berdua.
Perawat segera menghampiri "Pak Max harus segera di operasi. Apakah kalian berdua akan menunggu?"
"Ya. kami akan menunggu di sini" jawab Ben mewakili.
Perawat itu mengangguk. "Kami tidak bisa memastikan berapa lama operasi akan berlangsung."
"Kami akan menunggu." untuk pertama kalinya Eleya angkat bicara.
Tapi Max kelihatan berkeras menahan mereka untuk tidak pergi. "Ben," panggilnya dengan nada lemah dan samar-samar.
"Anda berdua silakan keluar sekarang." ujar perawat itu jengkel.
"Saya rasa dia ingin mengatakan sesuatu." Ben sudah akan beranjak kembali mendekati Max, tapi perawat itu berdiri menghalangi.
"Kami tidak bisa mengulur waktu lagi. Silakan tunggu diluar."
Ben menyerah. Daripada dia diusir dari rumah sakit karena membuat keributan. lagipula ia sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun.
***
Ben mengajak Eleya duduk di ruang tunggu, membawa secangkir kopi sebelum akhirnya menelepon rumah Max. Ben berbicara pada ART dirumah Max, tapi tidak memberitahu apapun sebelum bicara sendiri dengan Carla. Akhirnya Ben meninggalkan pesan supaya Carla langsung menelepon keponselnya. Tidak begitu lama, Carla meneleponnya. Carla langsung panik mendengar berita tersebut.
"Itu tadi Carla yang menelepon. Dia sangat terguncang." ucap Ben
"Carla mencintai Max," kata Eleya seakan berusaha menjelaskan keadaan itu.
"Aku tidak bisa membuatnya yakin dia masih bisa bertemu Max lagi." Ben menyisirkan jemarinya di rambut dengan frustasi.
"Rasanya sangat mengerikan saling berjauhan seperti itu."
Kata-kata itu memancing kekesalan Ben. "Apa kau berani mengambil resiko berada di sini kalau Carla ada di kota ini?"
Eleya sama sekali tidak khawatir." Tentu saja. Aku yakin Max bisa menjelaskan semuanya."
"Pernyataan itu terdengar kekanak-kanakan," sahut Ben seraya mengeleng. "Kau benar-benar yakin kalau Carla, istri Max akan tinggal diam? Kau belum mengenalnya. Aku tidak begitu peduli membayangkan Carla akan merendahkan dirinya atau terhina. Responnya sama sekali tidak akan setenang itu. Dia bisa berubah menjadi macan betina di depan matamu. aku tidak melebih-lebihkan apalagi demi putranya, pewaris kekayaa Max."
"Tolong ceritakan tentang anak itu," pinta Eleya lembut, setengah merenung. Mungkin dia masih terguncang. "Namanya Archie kan?" ingin rasanya Eleya mengatakan "adikku, adik tiriku," tapi dia sudah berjanji kepada Max bahwa pria itu sendirilah yang akan mengungkapkan rahasia mereka.
"Archie anak yang cerdas, ceria dan sangat menyenangkan." Ben melirik Eleya mengamati segala kecantikan dan kesempurnaan fisiknya.
"Aku ingin tahu segalanya yang berhubungan dengan Max," jelas Eleya. "Dia sudah menceritakan banyak hal kepadaku, tapi kau pasti punya pandangan berbeda, khusunya mengenai aku."
"Apa aku patut disalahkan?" tanya Ben dengan penekanan berat. " Max sudah beristri, tapi masih juga terobsesi denganmu."
"Terobsesi bukan sesuatu yang tidak biasa terjadi." balas Eleya menatap Ben.
"Terutama jika terobsesi wanita sepertimu." ucap Ben masih mengamati wanita cantik disampingnya itu.
Ketegangan di antara mereka terasa semakin mengental. "Mengapa tidak kau katakan saja apa pendapatmu mengenai aku!"Tantang Eleya tanpa mengalihkan padangannya dari sorot mata Ben yang dingin dan menusuk.
"Aku tidak ingin membuatmu lebih sedih lagi." Nada bicara pria itu tetap datar. "Kau tahu kan, Carla akan langsung terbang kemari?"
"Aku justru heran dia belum naik pesawat sekarang."
"Kalau begitu jangan kaget atas semua keruwetan yang akan terjadi nanti. Aku yakin kau tidak akan pergi secara diam-diam kan?" sindir Ben.
"Max menginginkan aku disini" sahut Eleya geram.
***
Dokter bedah yang masih memakai juba operasi berwarna hijau muncul lebih awal daripada perkiraan mereka. Ekspresi dokter itu tampak serius.
"Ya Tuhan!" ucap Eleya pelan. Ia masih belum siap menerima berita duka lainnya setelah kepergian ibunya.
"Apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Eleya, mengharapkan dukungan dari pria kuat disampingnya, tapi sepertinya Ben sendiri juga sedang bersiap-siap menerima kabar buruk, "Sudah berapa lama operasinya berlangsung?"
"Satu jam sepuluh menit," jawab Ben. Keduanya langsung berdiri, sama-sama yakin waktu operasi yang sangat singkat merupakan berita buruk.
"Max harus tetap hidup. Harus. Dia tidak boleh meninggal." Eleya tidak menyadari ia menggumamkan kata-kata itu dengan lantang. Pertemuannya dengan ayah kandungnya telah membuat hidupnya memiliki makna baru. Eleya tidak ingin kehilangan ayahnya sekarang. Kesedihan Eleya yang mendala. terasa juga oleh Ben. Pria itu mendapati dirinya memeluk pinggang ramping Eleya, pelukan yang menyiratkan dukungan kepada gadis itu. Pasa saat yang sama Ben merasakan munculnya dorongan sensual yang sama sekali tidak ia sukai. Perasaan yang berbahaya dan memalukan. Tetapi anehnya Eleya justru bersandar pada tubuh Ben, seolah ia percaya pada Ben. Seolah mereka teman.
Dokter bedah itu tersenyum singkat. Mula-mula ia berjabat tangan dengan Ben kemudian dengan Eleya. "Saya senang bisa menyampaikan kepada anda berdua bahwa operasinya berhasil, Stamina Pak Max sangat baik. Jantungnya juga kuat. Kami berhasil memperbaiki luka dalam dan menghentikan pendarahannya. Pak Max sudah dipindahkan ke kamar pasien, anda berdua boleh menjenguknya beberapa saat lagi setelah Pak Max siuman."
Eleya merasakan perasaan lega yang luar biasa. "Syukurlah, aku masih bisa menghabiskan banyak waktu bersamanya."
Ben memandang Eleya dengan sorot tak percaya. Dengan berusaha keras menjaga nada suaranya tetap datar, ia berkata. "Aku jadi penasaran, apa mungkin kau akan mengatakan hal yang sama tahun depan?" tanya Ben tenang. "Aku sih tidak yakin bisa bahagia di atas penderitaan orang lain. Kau tahu mereka berdua temanku."
Meskipun Ben berbicara dengan tenang, tapi Eleya merasa sakit hati. Ia merasa dirinya bisa gila jika tidak buru-buru mengatakan yang sebenarnya. Ia ingin terbebas dari sorot penuh tuduhan pria itu. Ia ingin membeberkan siapa dirinya sesungguhnya.
Aku putri Max yang pernah hilang. Persis seperti kisah di dalam cerita fiksi. Aku putri yang tidak pernah Max lihat sampai enam bulan lalu.
Sekali lagi, Eleya mengawasi Ben ketika pria itu menjauh untuk menerima telepon Carla.