"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ben begitu mereka berdua diijinkan masuk ke kamar pasien dan mendapati Max sudah siuman. Keadaan Max jauh lebih baik dari perkiraan mereka, meskipun kondisinya masih agak lemah.
"Baik-baik saja" Max berusaha keras untuk berbicara.
"Terima kasih untuk segalanya. Aku banyak berhutang budi padamu. Dimana gadisku yang cantik?"
"Disini.." Eleya berjalan mendekat. Begitu melihat Eleya, wajah Max langsung bercahaya. Seakan tidak ada orang lain didunia ini selain dia dan putrinya.
Eleya terlihat seakan ia sudah tidak sabar lagi untuk memeluk Max. Setengah menangis, tatapan gadis itu tertuju sepenuhnya ke arah Max.
"Jangan menangis, sayangku, " bujuk Max, nadanya masih menyiratkan rasa sakit, tapi terdengar amat sangat lembut
Sekali lagi Ben harus membuang muka. Kejadian ini terasa begitu mengusik hatinya. Semua ini akan mengubah hidup banyak orang. Ben menyadari ia sudah kalah. Semoga Tuhan memberi kekuatan pada Carla untuk menghadapi semuanya.
Karena waktu besuk sangat terbatas, mereka diminta segera keluar. Kondisi Max masih belum memungkinkannya untuk berbicara lebih banyak, walaupun tekad kuat berhasil mengangkan dan melambaikan tangannya pada Ben dan Eleya saat mereka beranjak keluar ruangan.
Di koridor rumah sakit, Ben menoleh dan memandang Eleya. Air mata bergulir membasahi pipi gadis itu, meskipun wajahnya tampak berseri-seri. Benar-benar pemandangan yang memesona dan membuat Ben frustasi.
Ben masih punya waktu untuk menggubakan mobil sewaannya, yang diparkir di jalanan yang mulai dipenuhi dedaunan, agak sedikit jauh dari pintu masuk rumah sakit.
"Tas dan kopermu masih ada di mobil." ujar Ben mengingatkan Eleya ketika mereka berjalan berdampingan menuju mobil.
"Aku masih punya waktu untuk mengantarmu pulang." Ia bertindak seperti seorang gentleman sejati. Wanita itu selalu mampu membangkitkan emosi yang saling bertentangan di dalam diri Ben, sehingva yang bisa dilakukannya adalah bersikap sopan.
"Aku naik taksi saja," ujat Eleya sembari tersenyum samar, tetapi sangat manis sehingga mampu menyentuh perasaan Ben yang tadinya sekeras batu.
"Beri tahu saja di mana rumahmu"
"Tidak usah repot-repot, sungguh"
Ben bersikeras " Kau barusan terguncang, Max teman baikku. Dia tentu ingin aku menjagamu sebaik-baiknya."
"Sebenarnya kau tidak harus melakukan itu bukan?"
Ben kemudian menggenggam tangan Eleya ketika menyeberangi jalanan yang sibuk itu. "Memang tidak, tapi aku bersikeras mengantarmu sampai rumah. Tidak ada penolakan."
"Kau tahu, Kau cukup keras kepala" sindir Eleya yang akhirnya pasrah mengikuti Ben.
Sepanjang perjalanan mereka berdua saling diam. Ada suasana canggung yang Eleya rasakan.
"Kau sangat mengenal baik kota ini." ucap Eleya mencairkan suasana.
"Aku sering ke Bali untuk urusan bisnis atau hanya untuk sekedar liburan. Bali seperti rumah keduaku." jawab Ben singkat.
"Apakah Carla sudah menuju kemari?" tanya Eleya hati-hati.
"Tentu saja."
Ben sepertinya tidak ingin bicara, profilnya yang tampan terlihat menerawang. Eleya memandang keluar jendela. Saat itu sudah senja. Eleya sangat mencintai Bali. Tentu saja, Bali adalah tempat kelahirannya. Banyak pantai-pantai indah dan pemandangan yang luar biasa di Bali. Para turis dari dalam negeri maupun manca negara selalu berkunjung ke Bali. Eleya tinggal di dekat Pantai Jimbaran. Kakeknya, James Salim memiliki banyak aset dan properti. Bahkan resort dan vila-vila di sepanjang pantai Jimbaran adalah milik kakeknya. Eleya memikirkan bagaimana kakeknya tidak kerepotan mengurus Salim Law& Firm serta beberapa propertinya seorang diri. Untunglah sekarang kakeknya tidak terlalu gila kerja. Sekarang kantor pengacara mereka diserahkan pada Eleya sepenuhnya. Kakeknya hanya memantau dari jauh.
" Benar-benar hari yang melelahkan."
"Ya"
"Apa kau akan terus menjawab semua ucapanku dengan satu kata saja?" tanya Eleya gemas.
"Memangnya aku harus bagaimana?" Jawab Ben dengan nada lelah.
"Bagaimana kalau kau berkata 'aku menerimamu'"
Tawa singkat Ben terdengar sangat muram.
"Satu-satunya caraku bisa menerimamu kalau kau putri Max yang hilang."
Jantung Eleya berdebar keras. "Bagaimana kau tahu kalau aku bukan putri Max?"
Sekali lagi Ben meliriknya tajam. "Karena aku mengenal Max, itu sebabnya Tidak ada satupun alasan di dunia ini yang bisa membuat Max menelantarkan anak kandungnya sendiri, juga ibu anak itu. Aku benar-benar mengenalnya. Dia tidak mungkin bisa menyimpan rahasia semacam itu. Baik dariku, apalagi dari Carla."
" Menurutmu, apakah Carla bersedia merawat putri Max yang hilang dengan sepenuh hati?" tanya Eleya, dengan nada penuh kepedihan, hingga rasanya Ben ingin menghentikan mobil yang dikemudikannya.
"Kau..kau tidak hamil kan?" Ya tuhan..Ben tidak sanggup membayangkannya.
"Kau sangat kasar. kurasa ucapanmu sangat tidak bisa dimaafkan." Eleya belum pernah melakukan sesuatu yang tidak senonoh sepanjang hidupnya. Demi Tuhan, Max adalah ayah kandungnya. Besok ketika Max lebih kuat, Eleya akan mendesak Max untuk menjelaskan hubungan mereka. Eleya sudah capek bersandiwara dan begitu marah pada Benio Praja.
"Aku harus memperingatkanmu kalau akan cukup sulit bagimu untuk menyingkirkan Carla. Carla merupakan wanita tangguh. Dia akan berjuang mati-matian mempertahankan posisinya." ujar Ben tenang.
***
Suasana permusuhan seakan merebak di antara mereka. Ingin rasanya Ben keluar dari mobil. Menjauhi wanita itu dan aroma tubuh wanita itu. Eleya tampak seakan tak terjangkau olehnya.
Beberapa waktu kemudian,mobil mereka menyusuri jalan menuju sebuah perumahan mewah. Perumahan ini sangatlah mahal batin Ben. Ben tahu pasti berapa harganya mengingat ia juga mengurus beberapa properti di Bali. Harga rumah di Bali apalagi yang dekat dengan pantai bisa mencapai 2 juta USD atau setara 30 milyar.
"Satu rumah lagi disebelah kiri" kata Eleya membuat Ben sadar dari lamunannya.
Mobil berhenti di depan sebuah pagar tinggi berwarna kecoklatan. Pagar itu segera terbuka otomatis membuat Ben harus segera menjalankan mobilnya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah sebuah rumah megah dengan cat berwarna putih. Rumah itu memiliki halaman yang sangat luas dengan kolam air mancur ditengah halaman. Di terasnya terdapat pilar-pilar besar berjumlah empat buah. Ini bukan rumah melainkan Mansion batin Ben.
"Keluargamu tinggal disini?" tanya Ben sembari membukakan pintu untuk Eleya.
"A..ayahku." Anehnya, Eleya sedikit tergagap ketika mengatakan itu, padahal biasanya dia berbicara dengan sangat jelas.
"Lalu apa pendapat ayahmu mengenai kehidupanmu? atau mungkin dia belum tahu? tanya Ben sarkas. Eleya tahu pasti bahwa Ben menyindirnya menjadi wanita simpanan Max.
"Terima kasih sudah mengantarkan saya sampai rumah."
Ben meraih tangan Eleya yang terulur, dan merasakan sengatan listrik kecil disarafnya dan menjalar cepat hingga pergelangan tangannya. Pria itu mendadak merasakan desakan kuat untuk masuk kerumah itu. Bertemu dengan ayah wanita itu. Ben penasaran pada apa yang sebenarnya terjadi. Carla akan tiba besok dan Ben harus menjemput wanita itu di Bandara. Pertama-tama Ben akan mengantar Carla ke hotel, kemudian baru ke rumah sakit. Bayangan kedua wanita ini bertemu sempat terlintas. Mata, wajah, suara Max, bahkan emosi yang terpancar terang-terangan dari sikap pria itu. Segala sesuatu di dalam diri Max menunjukkan betapa besar cinta pria itu kepada Eleya.
"Aku akan mengangantarkanmu sampai ke pintu depan," katanya sambil membantu Eleya keluar.
Eleya menggeleng. "Kau tidak perlu melakukan itu."
Ben memandang wajah cantik yang tampak berkilau di bawah lampu. "Aku beranggapan ini rumahmu." mungkin saja gadis itu berusaha mengecohnya.
"Ya, tapi cuma untuk beberapa bulan lagi." jawab Eleya.
"Ya Tuhan Eleya, apa kau berniat menghancurkan hidupmu?" amarah Ben meledak. Semua ini akan berakhir dengan kehancuran.
"Aku bersumpah, Max akan menjelaskan semuanya kepadamu besok."
"Max tidak mungkin sanggup mengubah yang salah menjadi benar." sahut Ben muram.
"Kau belum tahu saja," ujar Eleya, sembari mengawasi Ben mengangkat kedua tangannya dengan sikap putus asa.
"Tetapi aku akan tetap mengantarmu sampai pintu depan." Rasa frustasi Ben berangsur-angsur berubah menjadi amarah.
"A..ayahku sebentar lagi pulang." Sekali lagi, wanita itu tampak gugup.
"Sebaiknya kau segera pulang." kata Eleya berkeras.
"Sebenarnya apa yang membuatmu cemas?" Ben benar-benar tidak bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi.
Saat sampai teras, Ben mendengar suara seorang pria. "Eleya, kaukah itu?"
"Ya, ini aku. Aku datang bersama seorang teman." Eleya menoleh pada Ben dan memohon agar pria itu segera meninggalkan rumaghnya. ia sedang tidak ingin diinterogasi oleh ayahnya, Thomas.
"Kumohon pulanglah, kau temanku dan kau telah mengantarku pulang. aku sangat berterima kasih atas semua yang kau lakukan."
Sebelum Ben berbalik menuju mobilnya, seorang pria jangkung dengan wajah aristokrat berdiri diambang pintu besar sambil menatap mereka berdua. Ben mengira Pria itu seumuran Max. Bagaimana mungkin Eleya mengencani pria seumuran ayahnya.
"Akhirnya kau memutuskan untuk pulang El?" komentar pria itu. "Kukira kau lupa jalan pulang." pria itu menyindir Eleya yang hanya diam.
"Perkenalkan ini temanku, dia kebetulan sedang menuju daerah ini, jadi dia mengantarkanku pulang " ucap Eleya setelah beberapa saat bungkam.
"Ben, dia adalah ayahku Thomas" Eleya memperkenalkan Thomas pada Ben.
Ben kemudian mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. "Nama saya Benio Praja." Eleya melirik Thomas yang sedang menilai Ben dengan seksama. Kemudian Thomas balas menjabat tangan Ben. Eleya khawatir Thomas mengacuhkan Ben seperti yang dilakukannya pada teman-teman pria Eleya yang lain.
"Terima kasih sudah mengantar putriku pulang. Apakah anda mau masuk?" Thomas ingin melihat lebih banyak tentang pria muda yang dibawa Eleya ke rumah. Jangkung, tegas, tampan dan sepertinya mampu melindungi Eleya. begitu penilaian Thomas.
"Terima kasih, tapi masih banyak hal yang harus saya lakukan. mungkin lain kali." tolak Ben.
"Anda dari Bali?" Thomas tidak mampu menahan rasa ingin tahunya.
Ben menggeleng." Saya dari Jakarta. Saya berada dikota ini untuk urusan bisnis."
"Apa aku boleh ikut ke rumah sakit besok?" tanya Eleya tiba-tiba.
"Rumah sakit, siap yang sakit?" Thomas menoleh ke arah Eleya.
"Seorang teman kami mengalami kecelakaan mobil tadi siang." jelas Ben.
"Oh..Teman yang mana El?"
"Kau tidak mengenalnya ayah. Maukah kau menjemputku Ben?" tatapan Eleya yang penuh permohonan membuat Ben tidak berdaya.
Apa yang harus ia katakan? Sebenarnya ia tidak mau meninggalkan Eleya di rumah ini. Sepertinya hubungan mereka tampak asing dan tidak begitu baik. Tidak heran jika wanita itu berpaling pada pria lain untuk mendapatkan kasih sayang dan menemukan figur seorang ayah. Itu cukup sering terjadi. Banyak wanita memilih pria yang lebih matang dengan jarak umur yang terpaut jauh untuk dikencani.
Ben mengangguk "Aku akan menjemputmu jam sepuluh."
"Terima kasih." jawab Eleya tulus
Eleya akan datang, kemudian pergi sebelum Carla tiba.