Eleya menaiki tangga menuju lantai atas dengan gugup.
"Kau datang dan pergi sesukamu, Eleya," ujar Thomas tenang.
"Maafkan aku." Eleya berbalik, terkejut melihat betapa pria itu tampak agak kurus. "Aku tidak menyangka kau memedulikanku sebesar itu. Tapi aku tidak ingin kau khawatir."
"Kakekmu juga tidak tahu kau ada di mana." Thomas mengusap alisnya dengan gerakan pelan.
"Aku bertemu Sarah. Kami memutuskan untuk liburan bersama." jawab Eleya. Ia tidak mungkin mengungkapkan kalau dia bertemu ayah kandungnya.
"Aku jatuh cinta pada ibumu sejak masih kanak-kanak. Kami memang akhirnya menikah dan aku memberikan segalanya pada ibumu tapi kurasa ibumu tidak pernah bahagia menikah denganku." erang Thomas.
"Aku turut prihatin," jawab Eleya.
"Aku tahu betapa kau sangat mencintainya." lanjut Eleya merasa iba pada Thomas.
"Ah ya, tapi dia tidak pernah mencintaiku. Aku memang memiliki raganya tapi tidak hatinya. Kau tahu, dia pernah bertemu seorang pria ketika masih muda dulu, Seorang pria dari kalangan biasa namun berhasil mencuri hati ibumu." ucap Thomas menatap Eleya.
"Eleya, aku sangat menyayangimu sejak kau lahir tapi ada yang harus kukatakan padamu. Kau bukanlah anak kandungku. Alana telah membohongi kita berdua."
Aku sudah tahu dari enam bulan lalu. batin Eleya.
"Apa kau tidak marah karena ibuku membohongimu?"
"Aku sudah tahu sejak dulu. Aku menghabiskan sepanjang hidupku berpura-pura menjadi orang bodoh. Aku melakukan apa saja untuk membahagiakan Alana. Semua ini karena kesalahan kakekmu. Dia sudah tahu semuanya sejak awal." desah Thomas.
Betapa tega kakeknya. Mengorbankan pria lain untuk kepentingan dirinya. Eleya merasa kasihan pada Thomas yang harus menjadi korban.
"Kau seharusnya berani mengungkapkan kebenaran itu."
"Tidak semudah itu, aku tidak ingin kehilangan Alana. Aku mencintainya dan tentu saja menyayangimu sebagai putriku. Aku bangga padamu. Kau tumbuh menjadi wanita cantik dan cerdas. Kuharap kau selalu bahagia Eleya."
"Terima kasih Ayah." Eleya menghambur pada Thomas dan Thomas memeluknya erat. Meskipun hubungan mereka sedikit canggung tapi bagaimanapun Thomas sudah memberikan figure seorang ayah yang baik padanya. Meskipun Thomas sibuk bekerja, tapi dia selalu menyempatkan diri untuk menemani Eleya jika ada Father's Day disekolah. Thomas juga sering mengajaknya jalan-jalan dan selalu menuruti kemauannya.
"Aku memutuskan untuk keluar dari rumah ini. Rumah ini terlalu mengingatkanku pada Alana. Rumah ini sekarang milikmu. Dulu kakekmu hampir membeli rumah ini, tapi Alana tidak menyukai ide tersebut. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk membeli bersama."
"Terima kasih, tapi ini terlalu berlebihan ayah." Rumah ini begitu besar. Meskipun mereka memiliki beberapa ART tapi tetap saja Eleya merasa kesepian.
"Tentu saja tidak, Jangan menolak Eleya. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah ibuku di Bandung dan menghabiskan masa tuaku disana. Kau harus sering mengunjungiku" ucap Thomas.
"Tentu ayah."
***
Eleya menunggu Ben di luar pagar depan ketika Ben tiba. Tepat waktu.
"Selamat pagi." Ben keluar dari mobil, terlihat sangat tampan, tatapannya bergerak menyusuri tubuh Eleya dengan sorot kagum.
"Selamat pagi." Eleya berharap wajahnya tidak memerah setiap kali bertemu Ben.
"Kau tampak luar biasa." puji Ben.
Eleya menyadari kalau ia sempat bingung memilih pakaian yang harus dikenakannya hari ini. Akhirnya ia memutuskan mengenakan kamisol yang dipadukan dengan rok sepanjang lutut bermotif bunga dengan Blouse berwarna Lilac. Mungkin ia harus bertemu Carla dengan tampilan yang baik.
Max sedang duduk di ranjang kamarnya ketika Ben dan Eleya sampai. Banyak bekas parut-parut dan memar di wajahnya. Lengan kirinya dibalut perban karena tulang selangkanya patah, sementara lukanya yang lain tersembunyi dibalik piama rumah sakit. Namun ia tetap menyunggingkan senyum lebar ketika Ben dan Eleya memasuki kamar tersebut.
Eleya langsung melangkah menghampiri dan menangkup wajahnya. " Hai, Dad" Eleya membungkung dan berbisik penuh arti di telingan Max.
"Selamat pagi sayangku." balas Max, suaranya menyiratkan keharuan. "Senang melihatmu, Ben." Max mengulurkan tangannya kearah Ben. "Kau tidak pernah melihatku sakit sejak mengenalku."
"Kuharap kau tidak mengalaminya lagi." Ben mendekat dan menggenggam erat tangan Max. "Kau membuat kami semua sangat khawatir."
Max mengangguk. "Aku juga mengalami saat-saat yang buruk. Tapi syukurlah aku selamat dan masih hidup sampai saat ini. Mungkin Tuhan masih ingin melihat gadisku ini bahagia." Max menatap Eleya dengan senyum bahagia.
Mungkin kau bahagia tapi tidak dengan anak dan istrimu. Ben ingin meneriakkan hal itu namun mulutnya terkunci rapat.
Ben membawa dua kursi mendekat, tapi ketika melihat Eleya duduk di tepi ranjang Max, ia tetap berdiri di dekat jendela, agak jauh dari mereka. "Aku harus menjemput Carla. Pesawatnya akan tiba pukul sebelas. Dia sangat cemas dan ingin segera melihat keadaanmu."
Anehnya Max malah mengangguk bahagia.
" Apa dia membawa Archie?"
"Sepertinya Carla tidak bisa mengajak Archie karena Archie harus sekolah."
Ben tampak ragu lalu memandang Eleya dan Max bergantian. " Maaf kalau aku lancang, Tapi jujur saja aku tidak tahu situasi macam apa yang kuhadapi ini. Maksudku, Kau, Carla dan Eleya. Apakah kau tidak memikirkan perasaan Carla ketika Carla melihat Eleya. Akan sangat kejam bagi Carla untuk bertemu Eleya seperti ini."
Eleya tidak mampu menahan tawanya . "Katakan padanya Max, kau tidak mungkin diam saja." Eleya mendesak Max yang tampaknya tidak juga mengungkapkan semuanya.
Max menyentuh tangan Eleya. Matanya yang berwarna gelap tampak menyiratkan kedukaan yang mendalam. "Aku telah diam begitu lama. Mengorek masalalu terasa sangat berat bagiku." Max mengalihkan pandangannya ke arah Ben yang masih saja berdiri mematung di dekat jendela.
"Sejak aku mengenalmu, aku tidak pernah menyimpan rahasia darimu." Ujar Max memulai. "Hubungan kita lebih dekat dari sekadar mitra bisnis. Kita sudah hampir seperti saudara. "
Ini dia, batin Ben. Ia berusaha melupakan perutnya yang terasa mengejang. Ia merasa tidak mampu menghadapi hal ini.
Tapi Max terus bicara. "Dua puluh tahun yang lalu, aku baru tahu kalau aku punya seorang anak perempuan," jelasnya. "Wanita yang kucintai, wanita yang melahirkan anak ini adalah Alana, ibu Eleya."
"Apa?!" Rasa kaget bercamput amarah yang besar seolah mencabik-cabik diri Ben. "Ya Tuhan, Max." ujarnya. "Bagaimana mungkin kau tidak pernah menceritakan itu kepada siapa pun? Bagaimana dengan Carla, istrimu?
Max tampak sangat terpukul "Sudah ribuan kali aku memutuskan untuk menceritakan hal itu, tapi aku tidak tega. Atau tidak berani."
"Kau telah menemukan keberanian itu sekarang." sindir Ben.
"Alana dan aku masih sangat muda dan sama-sama dimabuk asmara " Max mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Waktu itu aku masih miskin. Ayah Alana sama sekali tidak setuju karena mereka menginginkan menantu dari kalangan mereka. Aku tidak punya apapun saat itu sedangkan Alana hidup dengan bergelimang harta. Padahal Alana bersedia hidup sederhana bersamaku, namun ayahnya menolak keras. Akhirnya dia menang dan Alana menikahi pria lain. Saat itu Alana sudah mengandung anakku."
"Dan kau membiarkan pernikahan itu terjadi?" Mata Ben berkilat.
"Aku baru mengetahuinya setelah tiga tahun pernikahan Alana. Alana menulis surat padaku. Cobalah untuk mengerti Ben." Max memandang wajah Ben yang tampak semakin gelap. "Alana memohon padaku untuk merahasiakan hal itu. Dia bilang dirinya dan anakku hidup bahagia dan aman. Dia menamai anakku Eleya seperti nama mendiang ibuku."
"Ya Tuhan!" Ben menggeleng tak percaya sembari membayangkan wanita bernama Alana yang menghabiskan hidupnya dengan penuh kebohongan. Sementara Eleya membiarkan dirinya berpikir negatif tentang hubungannya dengan Max. Ben menatap sekilas ke arah Eleya dengan ekspresi geram.
Mata Eleya yang cantik tampak risau," Kau terkejut ya?"
"Aku tidak hanya terkejut. Aku benar-benar bingung. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa kalian berdua membiarkan aku salah paham."
"Ya ampun, Ben. Aku sudah menikah dan aku sama sekali tidak berminat dengan gadis muda. Lagipula Eleya adalah putriku, darah dagingku sendiri." Suara Max terdengar marah.
"Kau butuh waktu cukup lama untuk mengungkapkan hal itu." sergah Ben tajam.
"Aku punya alasanku sendiri Ben" sahut Max.
"Lagipula siapa aku ini hingga berhak menghakimimu?"
"Kau sahabatku." jawab Max tenang.
"Jadi Eleya-lah yang selalu kau temui selama beberapa bulan belakangan ini?" sekarang potongan misteri itu telah tersusun dengan tepat.
Max mengangguk.
Tiba-tiba pintu kamar pasien terbuka dan terlihat seorang wanita cantik berambut sebahu yang menatap mereka bertiga dengan tatapan kebingungan.
"Carla.." ucap Max lirih.