0 | Prolog
───※ ·❆· ※───
Rasa hangat yang tadinya terpercik kini menjalar ke seluruh tubuhku. Bukan itu saja, aku juga merasa ditindih dan dihentak berkali-kali. Sesuatu yang hangat terus menghujam inti tubuhku, memaksanya berdenyut.
Perlahan, kelopak mataku terbuka. Langsung pandanganku dipenuhi oleh seseorang. Matanya gelap, dan bagaikan halusinasi, aura hitam bagaikan akar menguar di udara, melilitku.
Wajahnya dengan dingin menatapku. Tubuhnya yang berat menindihku, pahanya terus menghantam tubuhku. Baju tidurku sudah terlepas. Namun sebelum aku dapat menjerit, dia membekap mulutku dengan tangan besarnya.
"Hmmph! Hmmph!"
Aku meronta, menggeleng, mendorong, menendang. Sebutkan semua. Namun tubuhnya lebih besar dan kuat– semuanya gagal dengan mudah. Nyawaku yang belum terkumpul sepenuhnya dari bangun tidur membuatku pusing.
Pikiranku melayang, mencoba mengingat-ingat mengapa aku disini. Tetapi di bawah tekanannya, aku tidak bisa mengingat apa-apa.
Hentakan demi hentakan yang dia berikan membuatku merasa penuh. Karena hentakan itu, tubuhku mengejang, dan Ia mengerang, walau hampir tidak terdengar. Untuk sesaat itu, Ia memandang wajahku.
Mata kami bertemu. Dan—katakan aku gila, tapi baru kusadari kalau raut wajahnya tampan.
Nuansanya yang dingin terasa familier. Tapi kepalaku belum bisa mengingat siapa dia. Air mata terus menodai wajahku.
Hujamannya semakin cepat, membuat bekapannya di mulutku semakin kuat. Napasku yang tersumbat hampir habis. Rasa sakit naik ke dahiku. Dapat kurasakan kulit wajahku mulai membiru, pandanganku mulai menggelap.
Sebelum kesadaranku benar-benar hilang, ia menangkup mulutku. Meniupkan sesuatu. Kurasakan udara, dan dengan itu, kesadaranku, kembali mengisi paru-paruku. Kemudian ia melepaskan tautannya. Kembali mencengkram tubuhku dan memompanya.
Kupejamkan mata kuat-kuat, aku pasrah. Aku hanya ingin semuanya berakhir.
Kalau boleh, aku ingin hidupku berakhir.
Erangannya memuncak, dan akhirnya, dia melepaskan dirinya ke di dalamku.
Itu juga mengingatkanku pada sesuatu.
Setelah beberapa saat, dia beranjak dari tubuhku. Turun dari atas ranjang, dan kembali memasang celananya. Aku merasa lengket, kotor, dan lemas. Tubuhku lelah, seperti habis berlari puluhan kilometer. Kesadaranku belum bangkit sepenuhnya.
"Pagi," sapanya, namun dalamnya tidak ada sedikitpun nada tulus. Hanya melontarkan basa-basi. Dia membuka laci, dan menyodorkan satu kapsul di sampingku.
"Minum satu setiap pagi. Aku tidak sempat menggunakan pengaman."
Napasku masih terengah-engah, sebelum akhirnya sebuah handuk mendarat di wajahku.
"Bersihkan dirimu. Aku berangkat." ujarnya sambil beranjak menutup pintu.
[Klik]
Kuraba keseluruhan tubuhku yang masih gemetar, dan kutarik selimut hingga ke ubun-ubun. Dalam helaan napas yang masih belum pulih, ingatanku sudah kembali sepenuhnya.
Jadi, mari kita mulai dari awal.
───※ ·❆· ※───
ℂ???, ??????????? ???? ?????.