Air panas tanpa sengaja tersiram di kulitku.
Aku melonjak dari lantai batu, berusaha mengurangi rasa sengatnya dengan kibasan. Namun karena itu, sisa air di panci tercurah, lolos meluncur ke bawah.
Kuhela napas dalam-dalam sebelum menggerutu kesal pada diriku sendiri. Astaga, untuk satu hari saja, bisakah kau tidak ceroboh, Kiki?
Aku hanya ingin menyeduh ramen. Aku lapar.
Kugulung rambut ikalku ke belakang dan kuletakkan kacamataku, sebelum memungut panci yang terkulai di lantai, mengisinya kembali. Sementara menunggu air mendidih, aku menata ulang kue di dalam dus berpita yang tadi sore dipajang di Maggie's Bakery.
Kuenya masih hangat, krimnya warna biru muda dan ada lukisan dua bunga lily di atasnya. Dan di bawah kelopak-kelopak putih itu, tertulis sebuah nama dengan font emas melengkung yang cantik.
Kiara Leianne Snow.
Kue ini lebih cantik daripada diriku sendiri. Walau aku harus mengambil shift di malam Natal dan tahun baru, tapi jumlah uang bonusnya sangat sepadan. Karenanya, tabunganku untuk mendaftar kuliah tinggal sedikit lagi, dan bahkan masih ada sisa untuk membeli kue ulang tahunku.
Walau ada sedikit rasa sesal timbul di hatiku saat menenteng kue mahal itu pulang, tapi ayolah. Untuk ulang tahunmu yang ke delapan belas, sudah seharusnya kau rayakan dengan spesial, bukan?
Kuseduh ramen cup dan duduk di depan televisi.
Dari balik jendela kayu, malam mulai membumbung di penghujung sore yang putih karena turunnya salju yang selalu turun tidak menentu. Beberapa tahun lalu, salju bahkan turun di pertengahan bulan Juni.
Turunnya salju itu agak mirip dengan nasibku, seorang Snow yang hidupnya tidak pernah pasti.
Sambil menonton berita cuaca untuk memantau badai salju, kupandangi mi instan yang sisa setengah. Anehnya, aku teringat pada sesuatu.
Asian trollop. Chinese w***e. c***k b***h.
Julukan-julukan yang sering dilontarkan ayah saat dia mabuk. Semuanya merujuk pada ibuku.
Ayah tak pernah bicara tentang ibu — tidak, ayah hampir tidak pernah bicara padaku setelah kembali jadi alkoholik. Jadi, hanya dari umpatan dan makian itu aku tahu asal-usul ibuku, yaitu Asia.
Alasan kenapa rambutku hitam, dan bukan pirang seperti milik ayah. Alasan tubuhku cenderung pendek. Mungkin itu juga alasan mengapa aku sangat menyukai mi instan (walau jujur saja ya, aku sering memakannya demi berhemat. Yang menghasilkan uang di rumah hanya aku).
Tapi mereka (tetanggaku) bilang, ibuku bukan orang Cina, jadi bisa dibilang julukan-julukan itu kurang tepat. Ibuku justru berasal dari Asia Tenggara, tapi saat kutanya negara yang mana, mereka hanya bisa menggeleng. Hingga setelah aku tumbuh besar dan sekolah, kusadari kedangkalan otak ayahku. Cina jauh sekali dari Asia Tenggara. Aku sering terkikik geli jika mengingatnya.
Akan tetapi, bersamaan dengan kikikan itu, luka lamaku tersingkap kembali.
Tepat delapan belas tahun lalu, aku lahir. Aku penasaran, apa yang ibuku rasakan? Apakah dia sedih? Atau kecewa berat setelah melihat wajahku saat lahir? Itukah alasan dia langsung pergi? Itukah alasannya meninggalkanku dengan ayah, yang hanya bisa mabuk, berjudi, dan selalu menenteng botol bir?
Apakah dia membenciku?
Kuhembuskan kekesalanku pada udara dingin. Sudah bertahun-tahun aku menangisi itu, dan kini aku sudah muak.
Sabarlah, Kiki. Kau hanya perlu menabung, dan di awal musim gugur nanti, kau akan keluar dari sini. Kau akan bahagia.Tinggal sedikit lagi, kok.
Aku akan pindah, masuk asrama atau menyewa apartemen paling murah di dekat kampus. Aku akan masuk kuliah, dapat gelar, dan membangun kehidupan yang lebih baik untuk diriku sendiri.
Aku tidak akan pernah kembali ke slum Withergeust, tempat terkumuh di Manchester ini. Tidak perlu terbangun tengah malam karena gedoran penagih hutang lagi. Tidak perlu tidur sambil menutup hidung karena bau busuk. Tidak perlu repot-repot menyeret ayah masuk ke rumah saat dia teler berat, dan jatuh terkapar di teras.
Aku akan punya kehidupan sendiri. Hidup yang bebas, tanpa kekangan dari itu semua.
Dan hari ini, adalah awalnya.
Di atas kue putih yang cantik, kunyalakan lilin angka satu dan delapan. Kubuka mulutku, dan aku mulai bernyanyi di tengah sepi. Dan sebelum nyanyian itu berakhir, kupejamkan mata, membuat permohonan.
Biarkan aku keluar dari sini. Jauh dari ayahku. Aku ingin bertemu orang-orang yang bisa membuatku bahagia. Aku ingin kuliah dan tinggal sendiri.
Hanya itu saja, aku mohon, kabulkanlah.
Kubuka mata, dan kulirihkan lirik yang terakhir. Lalu kutiup lilin hingga padam. Asap putih membumbung pelan dari sumbunya. Bersamaan dengan itu, kurasakan angin berhembus di tengkukku.
Seolah ada yang berbisik, dan karena bisikan itu, aku akhirnya tersenyum setelah sekian lama.
Selamat ulang tahun, Kiki.
Kini, aku resmi jadi dewasa. Kebahagiaan sesaat memenuhi kepalaku, membuatku terbuai.
Rasanya, permohonanku tadi akan benar-benar terkabul. Rasanya, langit akan mendengar permohonanku. Dan rasanya-
[BRAK]
Pintu rumahku mendadak dihantam keras, membuat jantungku meloncat. Aku spontan menoleh dengan gemetar.
"Grrr..."
Fiuh, ternyata hanya ayahku. Rambut pirangnya acak adut, kantung matanya menggantung. Di tangan kirinya ada botol alkohol. Matanya berakar merah, dan seperti biasa, menatapku kosong.
Tapi sesaat kemudian, bulu kudukku berdiri.
Di belakang ayah, ada dua pria bertopeng ski hitam. Mata mereka tajam dan gelap. Aku terpana sebentar, mengira itu teman judi ayah sebelum-
"Itu dia. Perempuan, baru saja lulus SMA."
Satu pria yang agak pendek berceletuk, "hah? Dengan penampilan seperti itu, dia belum cukup."
Aku merengutkan dahi. Maksudnya?
Mendengar itu, ayah menggeram, dan berjalan mendekatiku. Dia menatapku sebentar, kemudian menarik kacamata yang kukenakan. Melempar barang berharga hasil tabunganku selama setahun itu ke lantai. Tangkainya patah, kacanya remuk berkeping-keping. Air mataku langsung jatuh. Seperti ada yang menampar hatiku.
Ayah membongkar ikatan rambutku, dan meluruskannya asal-asalan. Lalu membuka kancing kemejaku yang paling atas hingga belahan dadaku terlihat.
"Bagaimana? Lumayan, bukan? Dan..." ayah berhenti sebentar, tatapannya dingin.
"Setahuku, dia masih perawan."
Mata kedua pria itu langsung menyala. Mereka berpandangan sebentar, kemudian mengangguk. Dengan cepat, mereka masuk ke rumah, dan menarik bahuku paksa.
Sementara aku terbelalak, benar-benar terbelalak. Mulutku sampai kaku karena syok.
"Benarkah?" tanya mereka, memastikan.
Apa urusanmu? Sadar akan itu, aku menggeleng.
Namun dia mengangkat tangannya, dan instan saja, bilah besi tajam menempel di kulitku. Horor langsung merayap ke balik dagingku, hingga ke tulang.
"Jawab yang jujur, manis," pria pendek bergigi palsu itu menggeram.
"I-iya!" jawabku melengking karena takut. Setengah berharap, bahwa karena jawaban itu, mereka akan membebaskanku.
Tapi tentu saja tidak. Aku bodoh. Justru mereka langsung menjatuhkanku ke lantai.
Aku melawan, tapi dengan sigap tanganku diikat di belakang, dan tali mulai dililitkan disekujur tubuhku.
Air mataku berderai, tapi ayah hanya bisa menatapku seperti hantu. Dengan harapan yang tersisa, kupandang matanya, dan membentak.
"Ayah sudah gila?! Aku Kiki, Yah! Kiki! Putri-"
"Diam!" Bentak pria yang bertubuh tinggi, tapi aku tidak berhenti.
"Ayah! Ini aku, Kiki!! Putrimu! Tolong aku! Aku pu-"
Mendadak, sensasi bagaikan batu jatuh menghantam perutku. Tangan pria pendek yang terkepal menonjok tepat lambungku, membuat napasku kagok.
"Diam!" gertaknya nyaring, tangan satunya mengepal dengan pisau di dalamnya. Siap menyerangku lagi. Sehingga aku hanya terdiam. Perutku terasa hancur, dan aku terisak-isak di depan mata ayah kandungku yang wajahnya kosong.
"Tutup saja mulut jalang ini," usul pria bertubuh tinggi, "jangan sampai pekikannya semakin membawa masalah."
"Ide bagus," balas si pria pendek. Dia mengadah ke ayahku, "punya kain?"
"Punya," jawab ayahku segera sembari menunjuk ke kamar.
Aku kini membatu. Rasa perih menusuk, mencincang ulu hatiku.
Teganya dia?
Seharusnya aku tidak bersimpati padanya. Seharusnya aku langsung kabur dari rumah setelah lulus sekolah. Biarkan saja dia mati keracunan alkohol, atau mati ditindas penagih, atau mati kelaparan sekalian, karena hanya dari uangku dia bisa makan.
Teganya? Teganya dia? Aku darah dagingnya!
Dengan derai air mata, kupandang ayah dengan jijik, dan kuucapkan satu kalimat, sudah kupendam sejak lama. Aku tidak tahan lagi.
"Aku membencimu, yah."
Sejak lama aku sudah menyadarinya. Namun ini sudah kelewat batas. Hatiku hancur, seperti ada yang menbantingnya, lalu menginjak-nginjaknya sambil menari.
Ayah menatapku sebentar saja, kemudian memalingkan muka; kembali menenggak botol di genggamannya. Aku tak sanggup memandangnya lagi.
Tak butuh waktu lama, pria tinggi kembali dengan membawa dua helai kain. Hal terakhir yang kupandang adalah kue putih, yang masih tergeletak cantik di atas meja dapur yang kumuh sebelum mataku ditutup. Tangan dan kakiku terikat. Dan terakhir, mulutku dibekap dengan kain dari ayah.
Setelah badanku benar-benar tidak bisa bergerak, kurasakan badanku diseret pergi. Suara pria tinggi memberi peringatan untuk yang terakhir kalinya.
"Segera setelah dia terjual, baru utangmu lunas." Nadanya rendah. "Jangan macam-macam lagi, atau kami bakar rumahmu sampai habis."
Di tengah kegelapan, dapat kurasakan angin malam yang dingin. Aku dihempas ke dalam sebuah bagasi mobil, lalu kurasakan uap yang aneh, dan setelahnya, aku jatuh pingsan.
Begitulah. Di malam ulang tahunku yang ke delapan belas, aku pergi.
Aku tak pernah sempat menuntaskan tabunganku. Kue ulang tahunku bahkan belum sempat kucicipi.
Aku tak pernah datang untuk kerja besok hari. Ramen cup itu bahkan belum sempat kulunasi.
Dan aku tidak pernah melihat ayahku lagi.
Aku harap, kami tidak pernah bertemu lagi.
**************
Setelah beberapa saat (yang sepertinya berjam-jam), aku dikeluarkan dari kap mobil yang pengap, lalu dilempar ke dalam ruangan gelap.
Tahu-tahu, seseorang mendekat, mengusapkan kapas yang dingin ke tanganku, lalu kurasakan kulitku ditembus jarum suntik.
Setelah itu, pandanganku kabur sepenuhnya, dan bukan hanya karena kacamataku sudah tidak ada.
Tubuhku juga mendadak lemas sampai-sampai kesusahan untuk mataku tetap terbuka.
Dan semua yang terjadi selanjutnya bagaikan kilat, berkelebat di mataku.
Dalam kepayahan, dua sosok mendekat. Mereka membuka tali dan kain yang mengekangku, lalu seragam kerja hingga baju dalamku digunting. Kemudian , dengan telanjang, aku diseret ke dalam ruangan dengan lantai lembap. Pancuran air dingin tiba-tiba mengguyurku, aku tersentak.
Namun di titik itu, badanku terlalu lemas, hingga aku tidak peduli kalau orang asing sedang memandikan tubuhku yang tak tertutup apapun.
Akhirnya, udara hangat bertiup di kepalaku. Perlahan-lahan, pandangan mataku mulai kembali.
Ada dua orang bertopeng di kanan dan kiri. Mereka mengeringkan tubuhku sambil berbisik.
"Jangan pakaian yang itu. Ambil yang putih, yang berenda."
"Kenapa? Prosedur menganjurkan yang merah."
Sosok yang satu berdecak. "Yang ini khusus. Dia belum tersentuh. Temanya harus polos."
"Polos?" tanya sosok yang satu lagi. Dari nada suara, sepertinya mereka wanita.
"Yap, polos. Bersih dan suci karena dia barang baru. Plus, badannya kecil dan wajahnya lugu. Dia akan terjual dengan harga tinggi jika kita dandani dengan benar."
Bisa kurasakan bulu kudukku menegang.
Astaga, astaga, astaga.
Kata-kata pria jangkung pada ayah tadi malam terlintas lagi di kepalaku.
"Segera setelah dia terjual, baru utangmu lunas."
Entah otakku yang terlalu dungu atau apa, tetapi di situ, barulah aku sadar.
Aku dijual sebagai ganti utang ayah.
Itu juga yang terjadi pada mobil kami, kulkas kami, lemari, kasur, boneka-bonekaku, apartemenku, dan kini, aku sendiri.
Dan dari percakapan yang terus-terus membahas kepolosan, keperawanan, lumayan, dan sikap dadakan ayah tadi malam... Mereka yang sekarang membeliku berarti menginginkan...
Tidak. TIDAK!
Tanpa tali yang menjeratku, dengan mataku yang terbelalak aku segera bangkit. Kucoba berlari, tapi rantai yang tidak pernah kusadari menahan kakiku, dan aku jatuh terjungkal, kepalaku membentur lantai. Bisa kudengar langkah kaki masuk, dan tubuhku ditindih tangan dan kaki.
Aku terus meronta sekuat tenaga, walau ada lebih dari empat orang mencengkramku. Seseorang masuk. Dia menarik lengannku, mengusapkan kapas dingin, dan menyuntikkan satu dosis penuh.
Mengapa aku tahu? Karena setelahnya, pandanganku gelap.
*******************
To be continued.
Tes ombak -RF