Terlalu banyak yang terjadi.
Dalam satu kedipan mata, hidupku terjungkal. Seperti ada yang menghempasnya ke dalam jurang. Padahal belum sampai 24 jam yang lalu aku makan siang sambil bergurau dengan Leah, manajerku di minimarket.
Aku bangun, dan kudapati tubuhku yang ringkih tergeletak di dalam tabung kaca yang bundar, di dalam ruangan dengan lampu-lampu berwarna neon yang menusuk mata.
Saat kutoleh ke samping, ada tabung-tabung kaca yang lain, berisi gadis-gadis yang mengenakan baju tidur berkain minim. Jenis baju tidur yang hanya akan kau temukan di toko dewasa. Dan di bawah cahaya remang-remang, lekuk tubuh mereka terlihat jelas dan oh — melihatnya saja membuatku ingin muntah. Sinting, sinting, sinting. Tempat apa ini?
Dengan lemah, kusentuh kaca yang mengelilingiku, ada refleksiku yang samar-samar dipantulkannya.
Terlihat rambut ikalku, yang biasanya awut-awutan, kini sudah disisir rapi hingga menjuntai di bahu. Wajahku dirias dengan tipis, bibirku sekarang semerah buah plum. Tapi pipiku terlalu merona.
Dan tubuhku... oh tidak.
Tubuhku!
Kuraba-raba badanku sendiri dengan panik. Aku dipakaikan tidur tipis—yang sepertinya lingerie—renda transparan hingga paha. Belahan dadaku sangat diekspos, dan memakainya terasa seperti dibebani tumpukan dosa yang harus diganjar hukuman seribu tahun.
Kupukul kaca yang mengurungku sekuat tenaga, dan aku menjerit panik. Namun, sengat tiba-tiba mengalir dari kaki kananku, menjalar hingga seluruh syaraf. Sengatannya tidak berhenti sampai aku terkulai lemas. Sekilas, gadis-gadis yang lain menyaksikanku dengan horor.
Kuangkat tanganku dan kucoba untuk bangkit. Sengatan tadi rasanya sungguh sakit, astaga.
Kemudian, di ujung lorong, pintu dibuka. Beberapa orang yang tengah berbincang, mulai memasuki ruangan ini.
Kuperhatikan setiap orang yang masuk. Pria dan wanita. Mereka semua berbaju rapi dan bertopeng masquerade, sehingga identitas mereka tertutup. Tentu saja. Aktivitas perdagangan seperti ini pasti ilegalnya luar biasa. Orang-orang kaya b***t seperti mereka pasti tidak mau dikenali di sini.
Ada beberapa orang langsung menghampiri tabungku, tapi aku melototi mereka dengan tajam. Tidak, pergilah, geramku dalam hati. Aku tidak akan pernah sudi jadi milik kalian.
Respon dari mereka beragam. Kalau tidak salah, ada yang langsung menatapku malas, berlalu begitu saja. Ada yang justru menyeringai, lalu memasang ekspresi menggoda. Aku jijik luar biasa.
Terus kupasang wajah murka, seperti siap menerkam. Walau mustahil, aku sungguh berharap kalau mereka akan membiarkanku. Semoga aku tidak terjual. Jadi aku bisa kembali ke rumah dan meninggalkan ayahku segera. Bagaimanapun, uang tabunganku masih berharga. Kalau ayah belum menemukannya di balik lemari.
Tapi aku tahu, keinginanku mustahil.
Berjam-jam orang datang dan pergi, hingga ruangan menjadi sepi. Hanya tersisa beberapa orang yang saling bernegosiasi, sebelum seseorang masuk.
Topengnya hitam, Ia berjas cokelat emas dengan celana gelap. Rambut cokelat abunya tertata rapi, sedikit ikal. Dia masuk dengan dua orang bertopeng lainnya, dengan mata elang yang sigap memperhatikan sekitar.
Aku melengos, hanya memperhatikannya sekilas, kemudian membuang muka lagi. Dia kelihatan lebih spesial, lebih rapi, dan lebih tampan dari tamu yang lain. Tapi apa peduliku? Yang ada di kepalaku adalah kesedihan, rasa pilu yang teramat sakit, dan kebencian.
Kurasakan derap-derap kaki di dekatku, dan aku bangkit. Siap menatapnya tajam. Namun mendadak, aura dingin menguar saat kutatap dia dari balik kaca.
Di lantai, ujung sepatu kulit mendekati tabungku. Dan saat aku mendongak, pria bertopeng hitam itu berdiri tepat di depanku. Wajahnya kaku, tatapannya datar, rahangnya tegas.
Tapi yang paling menakutkan, paling mencekam, adalah matanya.
Matanya biru gelap, hampir hitam, seperti warna palung laut yang terdalam. Putih di matany hampir tidak ada. Dan pandangan itu benar-benar kaku, bak batu es.
Dari pupilnya terpancar aura suram, membuat bulu kudukku merinding, dan aku mundur. Mundur hingga punggungku membentur kaca di belakang. Niat melawanku terhapus sudah, karena sensasi beku itu membuatku bergetar.
Dalam hati, kuucapkan seribu permohonan yang sudah kutahu bakal sia-sia. Astaga, jangan sampai aku dibeli siapapun, aku mohon, aku mohon, aku mohon. Terutama orang ini.
Aku menggeleng kencang-kencang. Tatapannya tidak berlangsung lebih dari sepuluh detik, namun rasanya seperti berjam-jam. Dan tahu-tahu, Ia berlalu pergi.
Langsung kuraba dadaku, dan syukurlah, jantungku masih berdetak.
Kemudian, semua orang yang tersisa di ruangan pergi. Dan tiba-tiba lampu dimatikan, seperti ada mati listrik. Beberapa jeritan gadis-gadis terdengar karena kaget.
Tapi aku hanya diam. Kupeluk lututku erat-erat, aku ketakutan setengah mati. Aura pria tadi masih terasa hingga tengkukku.
Mendadak, ada suara desisan di belakang. Tabung kacaku terbuka, dan sesuatu menyeret tubuhku paksa, masuk ke dalam ruangan lainnya.
************
"Menurut hasil pemeriksaan, dia sehat dan bersih. Baru saja tiba kemarin, dan menurut laporan, berumur delapan belas."
"Tapi dia pemberontak, sir. Kami sudah memperingatkan anda dari awal." Seorang pria berujar dengan nada hati-hati.
"Akan tetapi," tambahnya, "dia mudah dikendalilan. Maka dari itu, kami sudah memberinya obat penenang sebagai bonus."
Seorang pria yang kemudian membalasnya bersuara datar; acuh tak acuh.
"Ada tambahan lain?"
"Tidak, sir. Dia sudah dipakaikan piyama—sesuai permintaanmu—serta data transaksi ada di lengannya. Semua sudah beres."
"Hm."
Aku mengangkat wajahku dari lantai marmer, dan cahaya dari lampu antik menyilaukan mataku. Bagaikan mayat rusa yang habis ditangkap, aku terkulai lemah di bawah kaki mereka.
Sosok yang mengantarku itu membungkuk sebelum pergi.
"Kami pamit. Sekali lagi, terima kasih, sir."
Aku menoleh ke samping, ada sosok pria yang bersuara datar tadi, namun wajahnya tidak jelas. Tapi yang pasti, dia mengenakan jaket hitam.
Terdengar suara petikan jari.
"Bawa dia ke kamar."
Instingku spontan ingin kabur. Tapi aku sudah kelewat lemas. Efek suntikan dan obat yang mereka jejalkan tadi sudah terlampaui. Aku bahkan tidak sanggup menggerakan kepalaku.
Dan rasanya, suara di hatiku juga mulai menyerah. Memintaku untuk pasrah saja. Aku bahkan tidak tahu tempat apa ini. Bagaimana aku bisa kabur? Jaraknya pasti berjam-jam dari Withergeust.
Aku diangkat, dibawa ke dalam ruangan, dan diletakkan di atas kasur. Hawa dingin langsung menyentuh kulitku, dan saat aku menoleh ke samping, ada dua kotak biru bercahaya di dinding, membuat kamar ini bernuansa biru di tengah gelapnya malam.
Tanganku terikat di bawah d**a, pita merah hati tersemat di atas talinya. Kakiku dililit tali putih– aku merasa seperti kado yang dibungkus untuk hari Valentine atau apalah. Lingerie tadi sudah raib, diganti dengan piyama merah muda.
Kuangkat tanganku, dan ada secarik kertas putih di ujung talinya.
——————————————————
KO18 • White • ₤15000 • "Kiki"
——————————————————
Mendadak, kudengar suara derit pintu. Badanku tegang, bersiap untuk apapun yang akan terjadi. Namun yang masuk hanya seseorang yang bertubuh tinggi dan besar, namun kabur.
Betapa aku rindu dengan kacamataku.
Namun aku tak memerlukannya lagi, karena dia mendekat. Saat itulah, saat profil wajahnya dipertegas cahaya biru, terasa syarafku kaku.
Di bawah tudung jaketnya, ada rambut pendek bercokelat abu. Rahangnya tegas, dan matanya...
Mata itu, warna lautan yang paling dalam. Saat kau pandang pupilnya, bak ada angin beku tiba-tiba berhembus kencang di punggungmu.
Tidak salah lagi. Dia pria bertopeng hitam dengan nuansa mencekam tadi malam, membuat tubuhku bergetar tak karuan.
Dia yang membeliku.
Jantungku mendesak keluar dari d**a.
Mengapa? Mengapa yang paling kutakutkan terjadi? Mengapa, semesta, mengapa? Apakah kau benci dengan permohonan-permohonanku?
Walaupun aku ketakutan, Ia tidak bereaksi. Dengan acuh, ia mengangkat ponselnya yang bergetar.
"Dex."
Dia mendehem, "ya, sudah sampai. Tidak, dia bukan untukmu. Yang ini khusus untukku."
Otakku masih berdengung, saat dia menoleh sekali, dan kemudian mendekat. Aku beringsut mundur, namun dalam sekejap, tubuhnya yang besar naik ke atas ranjang. Menahan kakiku dengan lengannya.
"Kondisi, hm? Sebentar."
Tangannya naik ke atas, dan kancing piyamaku ditariknya asal-asalan. Pekikan ada di ujung lidahku, tapi yang keluar hanya rintihan kecil putus asa. Dua jarinya menarik bajuku hingga gundukan dadaku terlihat. Samar-samar, ujung bibirnya naik.
"Tidak buruk, hanya sedikit kurus. Bisa diperbaiki."
Selanjutnya adalah kata ya, hm, dan tidak secara berulang-ulang. Mulai tak sabaran, nada suaranya sedikit naik.
"Tidak. Aku bisa menanganinya sendiri. Setahuku, hidupku justru lebih tertata daripada hidupmu."
Terdengar suara protes, namun pria ini memotongnya cepat.
"Sudah."
Bunyi bip terdengar, dan Ia melamun sebentar, sebelum mata gelapnya menyadari pandanganku.
"Apa yang kau lihat?" ujarnya ketus.
Aku membuka mulutku, namun Ia tak memberiku kesempatan untuk menjawab. Karena setelahnya, Ia membenamkan wajahnya di leherku.
Aku berjengit karena sentuhan yang terasa asing. Dengan refleks, tubuhku bergerak, namun lengan besarnya menahanku. Dari leherku, Ia turun, turun, turun...
...hingga sampai di dadaku.
Ia tidak membuka tali di tanganku, malah langsung menarik kancing yang tersisa. Saat tangannya menyusup, dan menangkup dadaku, baru aku sadar.
Aku tidak dipakaikan baju dalam.
Tangannya mulai meremas. Lagi dan lagi. Kupalingkan mukaku yang memerah, aku merasa malu, sepertinya dia sengaja mempermalukanku. Tapi ternyata itu bukan bagian terburuknya.
Ia tidak bersuara, hanya memandang reaksiku sekilas. Kemudian Ia turun, dan dari balik kantong jaketnya, sebilah pisau muncul. Ia memotong tali di kakiku, sebelum melemparnya ke lantai.
Dari atas, dapat kulihat pandangannya yang penuh hasrat dari balik piyamaku yang berantakan, dadaku yang masih mencuat. Ingin kupejamkan mataku, sebelum sensasi dingin menerpa tubuh bawahku.
Ia melepas celanaku—sepenuhnya—dan mengangkat pahaku tinggi-tinggi. Aku berjengit, sadar kalau Ia sedang memandang sesuatu yang belum pernah dilihat siapapun selain aku.
"Baiklah," tukasnya, dan Ia menjatuhkan kakiku.
Ia pun bangkit, dan beranjak dari kasur. Dia merogoh kantongnya, dan mengeluarkan dua barang.
Sebuah plastik mini berisi lingkaran, dan... kotak petroleum jelly.
Oh ti–
Tubuhku dibalik dan ditarik mendadak,hingga setengahnya tergantung di pinggir kasur. Lalu ia mengelus bokongku, sebelum meraih kotak tadi. Sesaat, kurasakan sensasi lengket dan licin di bawah sana. Ia mengolesnya lagi, dan lagi, dan lagi. Lalu Ia merobek plastik bundar itu dengan giginya.
Aku mengerut heran, namun nun jauh di lubuk hatiku, aku tahu persis apa yang akan dia lakukan.
Plastik bundar itu. Petroleum jelly itu.
Tidak ada lagi eufemisme. Itu kondom dan gel pelumas.
Tapi hatiku tidak mau mengakuinya. Hatiku masih berharap ini semua mimpi, mimpi yang sangat buruk, dan aku akan terbangun di matras tipis kamarku besok hari. Sehingga, aku hanya bergetar saat dia mendekatiku lagi.
Kemudian, Ia membuka mulutnya, memecah keheningan yang sudah berlangsung selama bermenit-menit.
"Kau masih perawan?"
Aku mengangguk.
"Apa kau pernah disentuh?"
Aku menggeleng.
"Sama sekali?"
"Tidak. Aku tidak pernah melakukan apa-apa."
Pertanyaan itu membuatku lemas, benar-benar lemas. Obat penenang sialan.
Saat kutoleh ke belakang, dia membisikkan sesuatu.
"Kalau begitu, aku jadi yang pertama."
Dan Ia mengecupku di bibir. Singkat saja, karena kemudian kurasakan perih.
Perih yang amat sangat di belakang.
************
Jarinya memasukiku. Bukan di inti, namun di atasnya. Kulitnya yang dingin mendesak masuk, mengoleskan gel pelumas di dalamnya
Aku merintih—rasanya sakit dan aneh, namun itu belum akhirnya. Tangannya yang satu menyentuh bibir bawahku, dan mulai mengusapnya perlahan-lahan.
Dia mempermainkanku. Dapat kurasakan milikku mulai basah, sebelum dia menarik jemarinya. Rasa lega meluncur dari dadaku, namun tak lama.
Sesuatu. Sesuatu itu keras, dan ugh–kenyal, menekan pembukaan atas itu, mulai bersiap.
Napasku tersengal-sengal, aku spontan panik luar biasa. Air mataku kembali terbit.
Mengapa? Mengapa dia tidak langsung mengambil keperawananku saja? Mengapa dia justru memilih lubang itu? Bukankah keperawananku lebih baik? Lebih nikmat?
Lalu kesadaran membasuhku. Justru itu. Justru karena 'yang lebih baik' itu berharga, maka sebisa mungkin kau menikmatinya paling akhir.
Dan tak butuh waktu lama, ia masuk.
Benda itu seperti menerobos paksa, dan oh–dia besar. Teramat besar. Aku akan mati malam ini. Pasti.
Ia masuk sedikit, kemudian mundur. Kemudian masuk lebih jauh, dan mundur lagi. Begitu terus, hingga Ia masuk sepenuhnya. Kemudian Ia mulai bergerak tanpa henti.
Dan itu bagian terburuknya.
Sakit. Perih, benda itu seperti ingin membelahku jadi dua. Isak tangisku pecah, dan aku meremas kasur dalam-dalam, namun Ia seperti buta. Ia bergerak dalam temponya sendiri, tak peduli denganku sama sekali.
Tubuhku yang tak sebanding dengannya terus dihantam. Kasur terus berdecit di bawah. Mataku bengkak, pasti bengkak, karena aku terus menangis. Namun Ia seperti bisu, suaranya bahkan tidak ada.
Setelah belasan menit yang terasa seperti neraka, benda itu seperti kejang di dalam, dan segera Ia menariknya keluar.
Bagaikan sayuran yang layu, kakiku tergantung lemah di pinggir kasur. Tubuh bagian bawahku nyeri, dan aku merasa kotor, merasa dihina oleh sentuhannya.
Aku ingin kehilangan harapan.
Terdengar dentingan kaleng tong sampah, dan Ia menarikku lagi ke atas. Kurasakan kain disapukan di bagian bawahku, dan kemudian, Ia menutupiku dengan selimut.
Wajahnya mendekat, dan kupandang dia untuk yang terakhir. Matanya kini tak terlalu pekat, hanya tersisa biru gelap biasa.
"Sampai jumpa besok," ujarnya datar, sebelum bangkit, meluruskan jaketnya. Seolah-olah dia hanya mengobrol tadi, bukannya menodai diriku.
Saat dia beranjak menuju kaca bercahaya biru di dinding dan menuangkan beberapa butiran ke dalamnya, saat itulah aku sadar, bahwa kotak biru bercahaya itu adalah akuarium berisi ikan-ikan berwarna dengan gelembung-gelembung.
Akhirnya, dengan tangan di kantung jaket dan siulan, Ia meninggalkan kamar dengan santai.
Dalam kesakitan yang sangat, keputusasaan, dan badan yang tertelungkup, terus kupandangi akuarium itu, ikan-ikan yang berenang bebas di dalamnya.
Tidak denganku. Aku tidak akan pernah bebas lagi.
*******************
To be continued.
Thx u for the support! -RF