3 | Permen Kapas

2854 Words
Kutatapi secarik kertas jadwal yang disodorkan padaku tadi oleh seorang pelayan (atau bukan? Yang pasti, bajunya persis seperti baju pelayan). Aku tadi mandi lama. Terus menangis di bawah pancuran air saat mendapati bajuku yang rusak dan robek, lantas ingatan kejadian semalam menghantamku kembali. Lalu saat keluar, sebuah baju disiapkan untukku. Aku tidak tahu nama persisnya, namun bentuknya seperti gaun pendek berenda yang lengannya seperti sayap putih. Dan sekarang, di sinilah aku. Ruang makan, dengan pria b******k bermata gelap yang menyerangku tadi malam, duduk dengan santai di kursi samping. Asap dari telur panggang berempah membumbung di hadapanku. Kemudian sausnya dituangkan, di atasnya diberi daun kecil yang gunanya entah apa, lalu ada garpu, sendok, dan pisau, dan banyak alat makan (dan juga makanan) lainnya yang tidak kuketahui. Sementara di depan, ada keranjang yang penuh roti hangat, buah-buahan yang tidak pernah kulihat, pancake berlapis sirup, dan makaron warna-warni. Saat aku menoleh, pria itu hanya memainkan ponselnya sembari menyesap teh, dan tidak menyentuh makanannya sama sekali. Jadi apakah aku boleh makan? Mata birunya menangkap tatapanku, dan dia membuka mulutnya. "Ada apa?" Buru-buru kutatap makananku, namun sepertinya dia membaca pikiranku. "Makan saja. Aku belum lapar," tukasnya sambil memandang ponselnya lagi. Wajahnya masih terlihat gelap di bawah tudung jaket. Aku ingin menolak. Bagaimanapun, aku masih belum terima dengan keadaanku ini. Tapi makanan yang disajikan itu harum sekali. Kucicipi sedikit, dan astaga. Dagingnya lumer di mulut. Jadilah, aku kelepasan memakannya hingga piringku bersih. Jangan salahkan aku. Dagingnya lezat sekali, oke? Itu adalah makanan terenak (dan termewah) yang pernah kumakan. Dan kalau tidak salah, aku sudah tidak makan selama dua hari. Wajar saja kalau aku menghabiskannya, kan? Sebagai penutup, kuraih apel yang ada di keranjang dan memakannya. Renyah dan manis. Ini pasti apel mahal. Tentu saja, pikirku. Seluruh bangunan ini dipenuhi ornamen-ornamen klasik, ukiran emas, dan lukisan yang dipajang di setiap sudut. Sudah pasti dia orang kaya. Butuh lamunan sebentar, sebelum akhirnya ujung mataku sadar–dia sedang menatapku tanpa ekspresi. Namun saat aku ingin membuang muka, jarinya justru terangkat. Memanggilku untuk mendekat. Takut-takut, aku bangkit dari kursiku dan mendekatinya dengan perlahan. Cahaya musim salju yang tipis menambah keteganganku. Sambil masih menatap ponselnya, dia menunjuk ke arah lantai. Aku mengerut. Maksudnya? Dia berdecak, "duduk." Oh. Jadilah aku duduk bersimpuh di sampingnya. Rasa lezat dari makanan tadi masih terbayang di bibirku, sampai-sampai baru kusadari kalau ia membuka ikat pinggangnya. Saat dia menarik celananya, sesuatu menyembul keluar, dan langsung kututup mataku erat-erat. Benda itu. Aku tidak pernah nyaman melihatnya, entah kenapa. Bahkan jika hanya dalam bentuk gambar. Dan yang ini, asli. Ia kembali menggerakan jarinya, jadi aku menghampiri pahanya masih dengan mata tertutup. Namun ia menggeram, dan malah menarik rambutku. "Buka matamu." Suaranya tegas dan kaku. Agak takut, kubuka mataku perlahan-lahan. Perlahan, Ia menyodorkan miliknya itu padaku, jelas sekali dia ingin aku menghisapnya. Aku kembali terpejam, tidak mau melihat benda itu. Rupanya besar, dan uf—menuliskannya saja membuatku geli. Jadi aku menggeleng. Namun saat aku lengah, dia justru menangkup daguku, dan mendorong ke dalam dengan paksa. Dengan serangan mendadak seperti itu, tentu saja aku tersedak, lalu memuntahkannya. Ia berdecak, "makanya, pelan-pelan." Aku menggeleng, tapi saat kubuka mulut sedikit, Ia malah mendorongnya lagi, kali ini dengan tekanan penuh. Instan, mulutku sesak, aku tersengal-sengal, napasku hampir habis, sehingga kulakukan sesuatu dengan sengaja. Sengaja yang mengundang bencana. Aku menggigitnya. Suaranya nyaring, dapat kurasakan kesakitan di nadanya. Namun tak lama, sebuah tamparan panas dilayangkan ke wajahku, hingga aku jatuh terduduk memegangi pipiku yang merah. "Kau—" tangannya lantas menjambak rambutku dan kusaksikan matanya berubah. Dari biru laut menjadi biru pekat. Garis-garis wajahnya terlihat, ia menatapku dengan murka. Bisa kurasakan aura hitam memenuhi ruangan. "Ingin cara yang kasar, hah?" Tangannya turun ke bawah daguku, dan Ia meremasnya kuat-kuat. Sakit sekali. Kulayangkan tanganku padanya, namun dengan mudah dia menangkapnya. Kemudian dia memutar lenganku, hingga aku terpekik. "Baiklah. Dengan senang hati." Dan aku ditarik, dan dihimpitkan pada dinding. Tanpa permisi, dia merobek bajuku—gaun yang diberikan tadi pagi—hingga kurasakan dadaku bersentuhan dengan udara dingin. Ia menangkup salah satunya, dan mulai menyesap. Tanpa jeda, ia menarik paksa celanaku, dan mulai mengusap sesuatu yang menyengat di bawah sana. Langsung kupalingkan mukaku. Aku tidak mau melihatnya. Sungguh tidak mau. Kurasakan sengat di dadaku, sehingga aku berjengit ke kiri. Namun jarinya juga mulai mengusap bibir bawahku, membuatku berjengit ke kanan. Rasa geli yang aneh menguar di dalam perutku, dan rasa itu menjalar hingga mulut. Tapi aku menutup mulutku rapat-rapat. Aku tahu, suaraku yang putus asa akan membuat pria b******k ini makin senang. Namun sepertinya ia menyadarinya, karena saat ia mengusap sesuatu di bawah sana, ia mencengkram pipiku kuat-kuat. Memaksanya untuk terbuka. Di saat yang bersamaan, dia membuka lipatanku dengan dua jari, dan Ia mulai bergerak melingkar. Lenguhan yang pelan lolos dari mulutku. "Oh," dia bergumam sinis sembari menatapku, "si jalang bisa mendesah rupanya." Aku berpaling dengan benci, namun cengkramannya menahan daguku. "Tidak usah sok suci hanya karena kau belum disentuh. Jalang sepertimu harusnya tahu diri," desisnya dengan tatapan penuh hinaan. "Aku bukan jalang!" bentakku kasar. Kukepalkan tangan, berniat menghantam kepalanya, namun secepat kilat dia menekannya pada dinding. Wajahnya tidak berubah. Tetap kaku. Dalam diam, kurasakan jarinya bertambah dan semakin mempermainkanku dengan brutal di dalam. Gerakannya di dalam sungguh menghina, seenaknya. Atas, bawah. Maju dan mundur. Menekan kuat-kuat, membuatku berjengit. Kututup mataku rapat-rapat sembari dia mempermalukanku, namun Ia tidak membiarkannya. "Buka matamu, atau kau hancur." Tengkukku bagai dirasuk angin dingin. Ancamannya tidak main-main. Dan saat kubuka mata, Ia langsung menarik wajahku untuk menatap ke bawah. Terlihat di sana, pembukaanku yang memerah karena sentuhannya, dan persis di depannya.... ...miliknya. Itu dia. Benda yang membuatku merasakan neraka kemarin, akan kembali menerobos ke dalamku hari ini. Aku gemetar, namun tidak bisa berpaling. Ia memaksaku untuk melihatnya. Kurasakan ribuan rasa sesal karena menggigitnya tadi, walau aku lebih memilih tenggelam daripada meminta maaf Momen-momen berlalu, sebelum berbisik dengan bengis untuk yang terakhir kalinya. "Enjoy the show, little slut." Bunyi hentakan terdengar nyaring. Dia masuk, menerobos seketika. Sesak dan sakit, seperti tadi malam. Hanya perbedaannya di tempat yang berbeda, dan kini, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Di menghentak sekali lagi, dan masuk sepenuhnya. Aku merasa dipenuhi, dan sekilas, ada segaris darah yang meluncur dari pahaku. Lalu dia tidak memberiku jeda. Malahan, dia langsung bergerak dengan kasar, bagai berniat menghukumku atas kesalahanku tadi. Dan perlakuan itu membuatku membara. Bagian dalamku semakin ketat saat miliknya masuk, dan sensasi kontras itu membuat intiku seperti terbelah. Rasanya sakit sekali. Sumpah, sakit. Dengan lemah, kucoba mendorong tubuhnya, namun Ia terus menghentak. Di sela-sela isak tangis, aku memelas dengan lirih. Aku sudah kehilangan energi. "He ...hentikan...A-aku mohon..." Matanya yang sinis perlahan menatapku lagi. Mendadak, ia bergerak dengan pelan. Masih di dalamku, namun gerakannya jauh lebih baik. Dia tidak asal menghantam, dan tiap tekanannya terasa dalam. Sensasi nyaman muncul, bertambah, bertambah, hingga hampir memenuhiku. "Ini yang kau inginkan, hm?" Mataku tertutup rapat, gerakan lembut dan nikmat itu memenuhi kepalaku. Bersandar pada dinding dengan tubuhku yang terus berguncang, aku mengangguk. Astaga, ini jauh lebih baik. Tangannya mencengkeram pipiku lagi. "Jawab yang benar. Gunakan mulutmu." "I...Iya–" "Sayang sekali." Dan dia kembali menghentak dengan kasar. Tubuhku kaget, dan aku terpekik. Rasa nyaman tadi mulai tertutupi lagi. Air mataku terus terbit, terbit, dan terbit. Mulutnya turun, dan ia mulai menyesap dadaku. Sementara itu tangannya mengangkat kedua pahaku, mempercepat temponya. Mengabaikanku sepenuhnya, seperti tadi malam. Dinding keras dan kasar terus menggesek punggungku. Satu erangan darinya, dan tubuhnya menegang. Ia bergerak semakin pelan, dan matanya terpejam, membuatku aku heran. Sampai kurasakan sesuatu menetes dari dalamku. Aku terkesiap. Saat aku menunduk, kelopaknya terbuka, dan matanya kembali normal. Biru tua, dan aura dinginnya mulai kembali. Tiba-tiba, ia melepaskan pegangannya, dan langsung saja, seluruh badanku terperosok, jatuh membentur lantai. Bagai tisu yang langsung dibuang setelah dipakai. Ia kembali tenang, dan memasang celananya. Tidak menatapku sama sekali, memandang ke arah jendela dengan acuh tak acuh. Ketika celananya sudah rapi, dia beranjak keluar. "Bereskan dia." Kupejamkan mata, dan tubuhku pun diangkat. ****** "Yah, ayah..." kutarik ujung kemeja ayah berkali-kali. Aku hanya setinggi pinggangnya saat itu. Ayah pun menunduk. "Ada apa, Kiki?" "Itu...itu..." pintaku terbata-bata sembari menunjuk permen kapas yang dijajarkan dengan rapi. Segera, ayah mendekat pada penjualnya, dan satu permen kapas mendarat di genggaman tanganku. Ayah menetapi janjinya padaku sebelum kerja lembur kemarin. Bahwa kami akan mengunjungi karnival, dan ayah akan membelikanku apa saja. Sembari menghisap permen kapas yang lembut, sesuatu menangkap mataku lagi. "Yah...Ayah..." "Iya. Ada apa?" ujar ayah lembut sembari menatapku lagi. Dulunya. "Itu..." Jariku menunjuk pada komidi putar. Kuda unicorn adalah favoritku di wahana itu. Lampunya terus berkelap-kelip, merayuku untuk menaikinya. "Oke. Ayo, sini." Kami mendekat, dan ayah mengangkatku hingga aku naik ke atas kuda bertanduk itu. Tak lama, komidi mulai bergerak. Aku melambai pada ayah dengan tersenyum lebar, dan ayah juga melambai padaku dengan senyuman tipis. Sembari komidi berputar, pandanganku terus melayang. Cahaya lampu warna-warni berpendar, karnival dipenuhi orang-orang yang bersorak, bersukacita. Hatiku dipenuhi kegembiraan juga, rasa penuh yang menghangatkan d**a. Kupejamkan mata di tengah kegembiraan itu, dan... ...aku terbangun. Di balik selimut yang halus, tubuhku sakit sekali. Bagian bawahku nyeri, sangat nyeri. Bajuku robek dan rusak di sana sini, dan semua memori yang menyakitkan kembali membanjiri kepalaku, instan. Kuremas dadaku erat-erat, bagaikan ada yang menabuh hatiku sampai bertalu-talu. Dia mengambilnya. Dia mengambil keperawananku. Aku tahu ini akhirnya akan terjadi, tapi ya Tuhan...rasanya sakit. Perlakuannya kejam. Dalam frustasi, kutarik rambutku dengan tangis, kupeluk diriku sendiri demi kekuatan, merutuki nasib dan semesta yang tidak mau mengasihaniku. Aku menangis berjam-jam hingga mataku kering dan aku jatuh tertelungkup. ******** Pukul 01:30, tepat. Lampu lorong dimatikan. Pelayan yang terakhir kembali ke kamarnya, beristirahat untuk hari ini. Penjagaan yang ada lengah, diisi senda gurau yang santai. Hampir semua bahkan tertidur pulas. Pukul 01:30 adalah titik paling sepi, hasil jadwal yang sudah kupelajari selama tiga hari. Langkah kakiku bagaikan kapas saat aku sudah dekat dengan jendela karatan paling pojok di ruang utama. Tidak ada seorangpun di sini, dan tidak ada yang akan menyadariku juga di luar. Di celahnya, kuselipkan bilah besi yang kucungkil dari hiasan kamar mandi. Satu tarikan, dua tarikan, dan terdengar decitan. [Krek] Berhasil! Kudorong kaca jendela itu ke depan, namun udara dingin langsung menerpa wajahku, membuat gigiku gemetar. Namun kepalang tanggung, kurapatkan mulutku, dan aku mundur, siap menerjang keluar. Kuambil ancang-ancang, dan– Pinggangku tertahan. Segera waspada, kulayangkan bilah besi itu ke belakang. Namun sebuah tangan besar menangkapnya, lantas melemparnya ke lantai. "Wah, wah. Si Jalang Kecil ingin kabur, rupanya." Syarafku menegang oleh nada dinginnya. Tangannya menahan perutku, dan ia menatapku dengan berang. "Kau agak bodoh, tahu? Kamarku persis di sebelah sini.” A-apa? Tunggu. Aku tidak peduli! tinggal selangkah lagi! Jendela itu terbuka lebar! Kuguncang tubuhku sekuat tenaga, sedikit demi sedikit berusaha menggapai jendela itu. Akan tetapi, ia justru mendorongku ke depan, menghimpitku di jendela dari belakang. Sayup-sayup, dia pun berbisik. "Ini rencanamu? Kabur di tengah malam bersalju? Coba rasakan hawanya." Aku terdiam. Udara malam musim dingin memang membuatku menggigil, namun jika itu semua bersrti kebebasan, aku tidak takut. Dia tergelak sinis, "Belum menyerah juga? Baiklah. Di utara, hanya ada lahan rumput yang kosong, lalu hutan belantara. Di barat sampai tenggara? Taman nasional yang isinya binatang buas. Jalan raya dan peradaban ada di timur, dua puluh kilometer, kalau kau sanggup menembus bukit tinggi bersalju." Angin kencang bertiup seolah mendukung perkataannya, hingga tubuhku bergetar. Ia menyadarinya tapi tidak melepaskanku. "Apa yang kau tunggu? Kaburlah." "A-aku..."ucapku lirih karena anginnya seperti menusuk tulang. Jika itu benar, maka kesempatanku kabur adalah nol–tidak, minus. Angin dingin terus berhembus, sepertinya akan ada badai malam ini. Gigiku semakin gemetar. "Tolong lepaskan...dingin.." "Dan apa? Kau akan melompat keluar jendela?" "Tidak, aku tidak–" suaraku tercekat, "maafkan aku, aku tidak akan mengulangnya. To-tolong, dingin sekali." Ia tidak bersuara. Justru ia menurunkan celanaku, dan mengusapkan sesuatu yang keras di bawah sana. Kalau air mataku belum muncul tadi, sekarang ia sudah mengalir. "Jangan.” "Kau mengeluh dingin, bukan?" "Ya, tapi–" "Maka diamlah." Dia mulai mendorong, dan aku panik. Di luar , beberapa pengawal sudah terbangun. Dan jika mereka melihat... "Ja-jangan-" kupegang kusen jendela erat-erat, "jangan di sini." "Berisik." Pinggulku mulai ditariknya, saat kuputuskan untuk melakukan sesuatu. Secepat kilat, aku berbalik menghadapnya, dan memeluknya. "Aku mohon..." kubuat suaraku pura-pura manja, "jangan di sini, dingin. Di kamarmu yang hangat saja, please..." Selanjutnya Ia tidak bersuara, membuatku tegang. Namun sejurus kemudian, aku tersampir di pundaknya seraya ia berjalan ke kamarku, bukan kamarnya. Di atas tempat tidur, dia membalik badanku yang tengkurap. Dia berhenti sebentar untuk memperhatikan mataku yang bengkak, namun langsung tak peduli. Mulutnya meraup gundukanku. Tangannya menjalar, lantas merobek gaun putihku yang masih tersisa, hingga aku telanjang bulat. Saat ia menahan lenganku di kasur, saat tubuhnya mulai menindihku, kuturunkan wajahku untuk melihat sosoknya. Netra birunya menatapku balik. Dengan dingin, tentunya. Sayup-sayup, ada yang berbisik di dalam hatiku. Kau harus terbiasa, Kiki. ******* Yang berlalu setelahnya adalah minggu-minggu penuh penderitaan, yang dicampur dengan taburan rasa bosan. Aku selalu bangun pukul delapan. Terkadang karena alarm yang sekarang dipasang di kamarku, atau tangan-tangan yang menggerayangi tubuhku. Setelahnya, aku mandi. Namun jamnya tidak selalu pasti. Jika aku terbangun oleh alarm, aku pasti mandi tepat waktu. Namun, jika "dia" yang membangunkanku, aku biasanya mandi kesiangan. Juga terkadang ia akan mengikutiku masuk ke kamar mandi, lalu menyentuhku di bawah pancuran air hangat. Aku selalu dipakaikan baju tidur. Entah itu piyama, lingerie, atau gaun yang kelewat tipis. Tebakku, itu untuk memudahkan aksesnya. Di balik kaca jendela akrilik yang paling besar, salju yang turun semakin tebal, sehingga tak jarang aku menggigil karena pakaian yang minim. Selimut adalah sahabat karibku sekarang. Aku membawanya ke mana saja, bahkan saat membaca di perpustakaan. Satu-satunya hiburan yang dia berikan adalah buku-buku. Jika dia sedang pergi, atau tidak mendekatiku, biasanya aku pergi ke perpustakaan, dan duduk di depan perapian yang hangat sambil membaca buku. Sekarang, aku sedang berusaha menyelesaikan The Count of Monte Cristo yang kutemukan di balik tumpukan novel-novel lama. Oh ya. Kukira lambat-laun, sentuhannya akan berubah. Membaik, atau berubah lembut malah. Tapi tidak. Dia hanya menjadikanku pelampiasannya saja. Tiap kami menyatu, yang dia pedulikan hanya kepuasannya semata. Dan dia dapat mendekatiku di mana saja, kapan saja. Misalnya, ketika aku mencuci tangan, sosoknya tiba-tiba muncul di belakang. "Membungkuk,"ujarnya sambil menurunkan celanaku. Kupegang counter dapur erat-erat selama tubuhku diguncang. Atau saat aku berjalan di lorong, tiba-tiba saja ada yang menarik lenganku dan menahanku di dinding. "Jangan berteriak," bisiknya sembari membekap mulutku erat-erat. Lalu ia membuka kancing piyamaku dan melancarkan aksinya, seperti tidak khawatir bakal ada orang yang lalu-lalang. Belum lagi menghitung permainannya di depan perapian, di atas sofa, meja dapur, dan.... ...menulisnya membuatku lelah. Anehnya, dia tidak pernah melepaskan bajunya. Jadi, hampir setiap kami bermain, aku akan hampir ditelanjanginya, sementara pakaiannya selalu utuh. Aku takut melawan. Perlakuannya waktu itu–setelah aku menggigitnya–sangat kasar, hingga sepertinya aku trauma. Tidak ada gunanya memberontak, karena ia hanya akan lebih kejam jika aku tidak menurut. Plus, tubuhnya besar, tidak sebanding denganku yang kurang gizi. Jadilah, tiap Ia menyentuhku, aku hanya terdiam. Diam saja, dan urusannya akan cepat selesai, batin hatiku. Diam saja. ...tapi aku lelah. Kututup novel The Count of Monte Cristo, di halaman Edmond Dantes menemukan pulau emas. Hari ini, aku membaca di depan perapian sambil membawa cokelat hangat. Selimut dan bantal kutata mengelilingiku. Setidaknya ini cukup untuk membuatku nyaman beberapa saat. Aku berebah, menatap Monte Cristo yang lumayan tebal. Menurutku, bukunya bagus, walau butuh waktu bagiku untuk memahami bahasanya. Kisah pembalasan dendam Edmond sungguh-sungguh menarik. Hanya saja, sebuah kutipan membuatku termangu. ["Hingga tiba hari di mana Tuhan berkenan mengungkapkan masa depan pada umatnya, seluruh hikmat manusia terkandung dalam dua kata ini : menanti dan berharap."] Menanti dan berharap. Setelah beberapa perenungan, aku sadar. Tidak ada yang kunanti. Rasanya akan lama juga sebelum penderitaanku ini berakhir. Harapanku juga hampir habis, walau masih ada remah-remahnya sedikit. Aku membenarkan posisi tidurku. Dengan kepalaku di bantal yang empuk, seluruh tubuhku di balik selimut, kupandangi lidah-lidah api di atas kayu bakar, hingga aku tertidur. **************** To Be Con̵̡̛̝̟̖͓̭̫͉͗͗͋̈́̊̀͒̒͒̀͆͋͠t̸̢̞̹͇̼̘̦̪̖̥͎͕͚̔̏̀̈́̇̀̊̉̈́͐̍̕̕ͅį̸̢̣̾n̵̝̺͕̻̘͎̘͓͍͗̋͘ͅu̸͕͔̳͗̍͐̊̀ͅ– [Him] Mungkin dia terlalu bodoh. Atau lengah? Dungu, mungkin kata yang paling tepat. Aku berdiri di dekatnya sejak tadi, namun dia justru jatuh tertidur tanpa sadar. Aku beranjak dari sandaranku di dinding, dan berlutut di dekatnya. Kali ini, aku tidak perlu menggunakan jaket hitam. Kubayangkan, mungkin akan seru juga jika selimutnya diam-diam kusibak, lalu membuatnya terkejut dengan memasukinya. Namun saat terpejam, matanya terlihat damai. Satu yang kusadari, dia mudah sekali tertidur pulas. Bisa kubilang sikapnya lucu. Aku agak suka melihatnya. Berapa umurnya kemarin? Ah, delapan belas. Berminggu-minggu di sini dan ia masih dapat bertingkah polos. Sedangkan, sisinya yang lain berubah. Tubuhnya berkembang. Mahluk ini sudah tidak melawan, dan sudah mulai belajar untuk menerima perlakuanku. Namun sisi minusnya adalah, dia tidak punya inisiatif, masih sering membantah, dan ia hanya merespon ketika aku yang merangsang atau menyuruhnya. Jujur saja, itu tidak seru. Aku mulai bosan. Dan mungkin itu yang harus kuperbaiki minggu ini, sebelum beranjak ke rencana selanjutnya. Sehingga saat obrolan dari beberapa malam lalu melintasi kepalaku, kurogoh kantongku, dan menelpon dia. Bip. "Hei... Lil' Louie...Kau ingin-" "Berisik," aku memutar mata saat dentuman musik seperti meledakkan speakerku, "kirimkan benda yang kau tawarkan kemarin. Aku memerlukannya kali ini." Tidak menunggu jawaban dari nadanya yang jelas mabuk, aku menekan tombol merah. Bip. ****************** To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD