5 | Sebuah Mimpi

3108 Words
Kaku. Badanku sulit digerakkan. Pakaianku semuanya hilang, nyeri terasa di setiap sendi, ada banyak lebam di pergelangan tanganku. Dan, tubuhku baunya aneh... Uh, ruangan apa ini? Ini bukan kamarku. Harum selimutnya berbeda. Aku mencoba bangkit. Tapi, rasa ngilu yang tajam di sela-sela paha langsung membuatku ambruk, nyaris membentur lantai. Jeritanku seperti pekikan anak kucing. Di depan, sepertinya ada meja kerja dengan komputer. Di balik cahaya monitor, dia berpaling. "Apa masalahmu?" Nadanya terusik. Namun aku tidak menyimak. Rasa perih mengalihkan pikiranku. Saat kakiku bergerak, seperti ada yang robek di dalam sana. Kugigit ujung selimut karena sensasinya terus menusuk. "Perih ..." Netra birunya memincing. ───※ ·❆· ※─── "Pastinya cedera," tutur wanita itu. "Ada luka di dinding v****a, kemungkinan besar akibat penetrasi yang terlalu lama, atau terlalu kasar dan tanpa lubrikasi." Terkapar di atas ranjang, aku merasa asing dengan kehadirannya. Tubuh telanjangku seperti tenggelam dalam balutan hoodie abu-abu raksasa. Pria itu yang meminjamkannya tadi. Semua terasa asing kecuali harum tubuhnya. "Juga mulai ada pembengkakan. Kusarankan pasien untuk beristirahat total selama dua-tiga hari, namun akan lebih efektif lagi jika seminggu." Mukaku terkubur di bantal. Aku merasa kosong. Semua perkataan itu ... sekelebat memori tadi malam menabrak kepalaku bagai rudal. Cekikan. Jambakan. Api. Sentuhan. Ciuman. Pelepasan. Kaca. Aku mulai mengenali bau aneh di tubuhku. Baunya seperti... Syarafku menegang. Saffron dan kayu manis. Khas pria itu. Apapun yang digumamkan dokter itu, aku tidak mendengarnya lagi. "Terima kasih sudah mau datang, Ellie." "Don't mention it, sir, sudah tugasku." Setelah bunyi langkah kaki dan pintu tertutup, hanya sunyi yang tersisa untuk beberapa saat. Semua yang menghantui pikiranku sudah tidak ada. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, pikiranku tenang. Seperti air sungai yang mengalir. Saat pria itu menutupiku perlahan dengan selimut, hanya terbesit satu hal di kepalaku. Aku ingin mati. ───※ ·❆· ※─── Sinar senja bersinar dari balik jendela akrilik. Setelah berjam-jam, dia beranjak dari depan monitor, dan berbaring di sampingku. Rileks, ia membuka ponselnya. "Bunuh aku." Ia menoleh. Biru matanya memincing. Aku mengulang, "bunuh aku." Dia menatapku, sekilas, dan berpaling ke sisi lain. ───※ ·❆· ※─── Pagi hari. Aku tidak tidur semalaman. Sup daging yang ditaruh di atas meja lampu sudah dingin. Tidak tersentuh. Momen-momen berlalu, sebelum aku diangkat, badanku tersampir pundaknya. Menyusuri lorong-lorong, membawaku kembali. "Bunuh aku," kubisikkan di telinganya. Tapi ia tidak membalas. Saat tiba di kamarku, ia tidak bicara apa-apa. Hanya membaringkan dan menarik selimut menutupiku. "Bunuh aku." Hening. Ia menuangkan makanan ikan ke akuarium, dan setelahnya, beranjak pergi dengan bersiul. ───※ ·❆· ※─── Esoknya, beberapa kotak kado berhias pita tiba di kamarku. Isinya : setengah lusin sweter rajut, dua set piyama bermotif musim semi, satu mug keramik, dan tiga pasang kaos kaki. Ada juga rak buku baru untukku di samping. The Count of Monte Cristo—cetakan terbaru—ada di dalamnya. Setelah dimandikan paksa, hoodie abu-abuku yang yang sudah lengket diganti dengan sweter berwarna teduh. Rambutku yang awut-awutan disisir, dan aku dipasangkan kaos kaki. Hawa udara mulai menghangat. Dan setelah sekian lama, aku bisa memakai pakaian yang normal. Dia tidak menyentuhku lagi. Musim semi telah tiba. Akan tetapi, semuanya datang terlambat. Sangat terlambat. Aku sudah dikuasai es. Semua kepahitan, keputusasaan yang mengendap lama di ulu hatiku sudah menyatu. Membeku. Aku masih terjebak di tengah musim dingin. ───※ ·❆· ※─── Hari ketiga. Perutku terasa diremas setelah sengaja tidak kuisi, hatiku berongga karena kekosongan di dalamnya. Dia datang lagi. Kali ini dengan semangkuk krim jagung di genggamannya. Dia tidak bilang apa-apa. Hanya menyodorkan mangkuk ke meja di samping. Dan berbalik. "Bunuh aku." Langkahnya berhenti. Napasku berhenti. Dunia terhenti. Sebelum– Gerakannya bagai kilat. Dalam sedetik, ia duduk di atas dadaku. Sebelum aku mengucapkannya lagi, bunyi klik terdengar dari balik kantong celananya. Pistol. Pistol sungguhan. Tanpa basa-basi, dia menodong bawah daguku. "Tiga." Aliran darah mengalir ke otakku. Seperti disetrum, aku bangkit dari musim dingin untuk sebentar. "Dua." Keringat dan air mata mulai keluar. Jantungku berdegup seperti ingin merobek dadaku. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Jutaan tidak. "Satu." Ayahku. Festival. Rumah lamaku. Withergeust. Kue Lily. Ulang tahunku. Tabung kaca. Mansion ini. Kilas balik hidupku terus berputar, hingga kulepaskan pekikan yang paling nyaring ke udara. Dan begitu saja, ia turun. Mengantongi pistolnya lagi. Meraih mangkuk dan meletakannya di tanganku. Kemudian ia mendekat, dan mengelusku di pelipis. "See? Jangan minta dibunuh, kalau kau sendiri tidak menginginkannya." Ia beranjak ke balik pintu. Gemetar, aku terduduk. Apakah benar? Aku belum ingin mati? Rasa sakit di perut membuatku meraih mangkuk. Beberapa tetes krim menodai sweterku karena tanganku berguncang saat menyuap. Motif daunnya mirip sweter krem yang dulu ayah hadiahkan, setahun tahun sebelum kami pindah ke Withergeust, sebelum alkohol menelan nuraninya yang tersisa. Krim jagung ini juga. Mirip sup krim instan yang kubeli berkali-kali demi menghemat uang. Krim jagung instan itu bukannya lezat; rasanya persis sampah, berbeda dengan yang kumakan sekarang. Namun sungguh, aku lebih ikhlas makan itu berlusin-lusin, jika itu berarti kehidupan lamaku bisa kembali. Karena setidaknya, di kehidupan itu aku punya keinginan. Mimpi. Kebebasan. Harga diri. Sementara dibalik bangunan besar, berpilar-pilar yang diukir dan dipahat, berfunitur mewah ini, aku kehilangan semuanya. Aku tidak punya apa-apa lagi. Dia berhasil mengambil jiwaku, bahkan. Benar. Aku tidak ingin mati. Karena kau tidak bisa mati, kalau sudah tidak punya jiwa sama sekali. ───※ ·❆· ※─── Hari keempat. Pagi ini, The Count of Monte Cristo sudah mendarat di tempat sampah. Aku tidak perlu lagi harapan palsu dari Edmond Dantes yang terus berhasil secara ajaib. Yang ada di pangkuanku sekarang adalah sebuah buku dengan judul bahasa Perancis yang tidak bisa k****a. Aku membuka buku, dan ada kisah seorang gadis bernama Fantine. Alkisah, dia dihamili, ditinggalkan, dan kemudian dipecat dari pabrik tempatnya bekerja hanya karena ia memiliki anak di luar nikah. Dalam keputusasaan, ia bekerja serabutan sampai-sampai jadi pesakitan dan miskin, hanya demi putrinya. Sedih dan menyakitkan. Buku yang kubutuhkan. "Kalau soal Victor Hugo, aku lebih suka Hunchback of Notre-Dame." "Victor-who?" aku mendongak. "Hugo. Pengarang itu," dia menunjuk buku dengan gelas wiski di tangannya. "Les Misérables. Bukunya terlalu panjang, dan itu baru volume pertama. The Hunchback jauh lebih singkat," ujarnya, mengucapkan Les Mis dengan aksen Perancis yang fasih. "Aku kira kau tidak membaca." Dia mendehem. "Kau kira buku-buku perpustakaan itu cuma pajangan? Tentu saja tidak." "Tapi kau tidak pernah membaca." "Dulu," tuturnya sembari minum lagi. Aku menutup buku. Kembali berbaring, ingin tidur. Dunia masih terasa monoton. Mendadak dia meraih bahuku. Refleks kutepis tangannya dengan kasar. "Fu-ck off." Apalagi yang dia inginkan? Dia pasti ingin memakaiku lagi. Ini sudah berhari-hari. "Aku-" "Kalau sedang ingin, sewa saja pelac-ur di luar sana," Dia mendehem. "Bukan itu. Makan sup dagingmu." "Tidak mau." Momen demi momen. Dia tidak menampar atau marah. Hanya diam. "Mengapa ..." kubuka mulutku setelah setengah jam. Cukup acak, suatu pertanyaan tiba-tiba terbesit dibenakku. "Hm?" Dia sedang mengamati ikan-ikan. Memandnag lamat-lamat, aku membuka selimut. "Mengapa kau membeliku?" "Kau tidak bisa menyimpulkan dari sikapku? Klasik. Aku punya kebutuhan biologis." Suaranya sangat tenang, seperti gemuruh guntur saat mengatakan hal yang sejatinya mengerikan itu. "Kenapa harus aku?" "Satu," jawabnya, "pekerja seks komersial pada umumnya terlalu berisiko. Dua, aku tidak berminat memiliki kekasih—merepotkan. Tiga ..." dia menatap cahaya biru dengan nanar, "aku perlu kontrol penuh." "Jadi itu alasanmu membeli pela-cur pribadi?" Aku hampir terisak karena sakit hati. "Kau bukan kubeli sebagai pela-cur, melainkan sebagai aset. Bebas berkeliling rumah, halaman; kuberi makan dan kurawat. Kau adalah properti, sebenarnya. Semuanya akan baik-baik saja, jika dari awal kau tidak melawan." "Tapi aku bukan properti!" bentakku. "Asal kau tahu saja, aku di sini bukan atas kehendakku sendiri! Kau pencuri!" pekikku frustasi. Mencuri jiwaku. Masa depanku. Akal sehatku. Keji! Namun mendengarnya, ia kembali mendekat, wajahnya kaku seperti es. "Mencuri? Dari mana kau berasal?" Dia menyela sebelum aku membuka mulut. "Ah, ya. Kau dikirim dari Manchester." Dia menenggak minum lagi. "Slum Withergeust, hum? Sarang kumuh itu persis hutan rimba—mereka yang tidak berguna, tidak diinginkan, pasti disingkirkan. Nah, bukan mencuri namanya, jika tidak ada yang menginginkanmu." Aku tertegun. Sensasi itu—batu yang dijatuhkan ke perutmu—kembali. Menohokku tepat di ulu hati. Gemetar, aku terduduk sambil membekap mulut. Air mata mulai terbit, terbit, dan ... tangisku pecah. Pria itu menghancurkanku. Aku terisak. Tergugu. Terguncang. Kurapatkan tubuhku hingga membentuk bola. Kenapa menangis? Itu benar. Tidak ada yang menginginkanmu, Kiki. Saat kau lahir, Ibu langsung pergi! Kau anak yang tidak berguna, keberanianmu tidak ada! Saat ayah jatuh miskin, kau hanya bisa diam! Itu juga alasan kau tidak punya teman! Itulah alasan ayah menjualmu! Karena kau tidak berguna! Kau tidak diinginkan! TIDAK. SAMA. SEKALI! "DIAMMM!" Aku melengking seperti banshee, membanting Les Mis ke wajahnya. Berontak seperti kesetanan di atas kasur. Menendang bantal, selimut, menarik-narik rambutku, ingin mereka putus. Merobek sweter berwarna krem itu. Aku hampir membanting meja ketika dia menahanku. Dia kuserang, kudorong sekuat tenaga. Kakiku terus menendang pahanya, namun lengannya yang besar dengan mudah meringkus tubuhku. Aku makin berontak, tapi pelukannya sangat erat, aku nyaris tidak dapat bergerak. Momen demi momen. Mataku yang memerah, badanku yang sudah banyak luka terus berguncang di pelukannya. Menunggu tamparan atau jambakan. Ia hanya berbisik di telingaku. "Shhh ..." Momen demi momen. Hingga aku tersentak-sentak. Isak tangis terpedih yang pernah ada keluar dari mataku. Aku tidak diinginkan. Tidak. Aku bisa saja kembali ke kehidupanku yang lama, dan tidak akan ada yang sadar aku hilang. Aku tidak berarti apa-apa bagi dunia. "Shhh ..." Momen demi momen. Semuanya berlalu. Ia mengusap rambutku, dan aku meringkuk di dadanya. Tidak ada apa-apa lagi. Tidak ada apa-apa lagi. ───※ ·❆· ※─── Cahaya senja yang merah muda merambati ranting phon, menembus kaca jendela akrilik. Aku bersandar lemah di dadanya, dan ia mengelus bahuku. Dia sangat tinggi, lebih dari 180 cm. Hidungnya tertata sempurna dengan bibirnya. Keduanya seperti dilukis. Penampakannya terlalu licin, dia bahkan tidak punya tato, kumis, atau semacamnya. Terlalu bersih untuk orang sekeji dirinya. Jika rambutnya ditata, dia bisa jadi aktor. "Apa yang kau lihat?" tegurnya sembari mengecup kepalaku. Aku menggeleng, terus bersandar di dadanya. Saffron dan kayu manis. Nyaman sekali. Aku ingin waktu terhenti. Kepalaku berangan-angan kalau pria ini berasal dari mimpi indah, menyayangiku, menenangkanku dalan dekapannya, bukan pria dari mimpi buruk, sudah mematikan jiwa dan semangatku untuk hidup. Tak butuh waktu lama, sebelum jarinya turun. Kubiarkan ia menyusup di balik celanaku, karena menghentikannya juga percuma. Aku tidak peduli, bahkan jika luka di dalam belum sembuh. Di bawah, ibu jarinya membelai satu titik. Tepat di atas milikku itu. Di atas, ia mencium pipiku, dan membenamkan bibirnya di leherku. Aku berkedip saat ia mulai masuk, dan mulai berputar. Putingku dipilinnya hingga menegang, dan bibirnya menyesap tulang selangkaku. Di kulit leherku, terasa helaan napasnya yang hangat. Aku mulai tersipu saat ia mengelus pipiku. Dia menggigiti leherku pelan-pelan. Satu jarinya terus membelai k******s, sementara satu lagi menyusul masuk, menambah sensasinya dari dalam. Mmm ... "Hmm," gumamnya saat badanku makin gelisah, dan mencium rambutku sebentar. "Masukkan pelan-pelan," pintaku. "Huh?" "Anu...saat nanti kau masuk, pelan-pelan." Aku tidak sanggup menyebutkan nama benda itu. Tapi dia hanya menaikkan alisnya heran. Aneh. Seharusnya aku yang heran. Ia tidak pernah selembut ini. Sikapnya seperti batu karang yang tiba-tiba meleleh. Jarinya tidak pergi dari bawah. Mulai bergerak maju mundur, sedikit demi sedikit mengirim rasa nyaman. Aku semakin rileks, padahal napasku makin memburu. Benda itu kurasakan menegang sempurna di balik celananya. Namun ia tidak menyentuhnya sama sekali. Momen demi momen, dan aku sadar. Dia tak berencana melakukannya hari ini. Dia hanya ingin memuaskanku ... kah? "Mmm..." Sadar akan itu, lenguhanku terdengar jelas. Desahanku terus tertahan, saat ia masuk lebih dalam. Gerakannya berubah. Sekarang ia memasukkan tiga jari, membuatku penuh. Hujaman demi hujaman, hingga aku hanyut dalam momen. Hangat ... Bagaikan gelombang, sensasi itu mengaliri tubuhku. Gerak dan belaian jarinya membuatku menegang. Mengerang dan terpejam. Dan saat itulah, sesuatu terlepas dari dalamku. Puncak itu sangat kuat, hingga badan bawahku gemetaran. Tapi tubuhku seluruhnya lega secara spontan, dan sensasi kabut mengitari kepalaku. Dengan tersipu, kuberanikan diri menoleh padanya lagi. Ia berwajah datar. Tidak berekspresi. Jujur, aku agak kecewa. Namun setelahnya, ia menarik jemarinya yang berlumuran di bawah, dan menyusupkan itu ke mulutnya. "Manis." Aku terbelalak, sempurna. Saat ini sungguh terasa seperti mimpi. Ia menyesap seluruhnya, dengan santai, hingga bersih, dan akhirnya mendongak. Menunjuk meja dengan dagunya. "Makan sup dagingmu. Hampir dingin." Lalu ia bangkit dan pergi. ───※ ·❆· ※─── "Kupikir pernyataanku waktu itu kurang jelas. Aku bekerja sendiri." Aku menggertakkan gigi. Kenapa orang sialan ini terus muncul? Dexter, dengan mengenakan jas yang berlebihan hiasan, meregangkan badannya, "Yang ditunggu ayah di Dublin bukan cuma kau, adikku sayang. Tidak usah sok merasa spesial." "Setahuku, masih banyak kursi kosong di penerbangan ekonomi." Dex tergelak, "astaga, selera humormu buruk sekali, Lil' Louie. Kita bukan rakyat jelata, ingat?" Aku mendelik sedalam-dalamnya. "Cepatlah. Pertemuannya jam tujuh malam." "Aku ingin ganti jas." Kulangkahkan kaki kembali ke dalam mansion, dan Dex mengikutiku. Siapa peduli? Oh, sampai kutangkap satu sosok di balik tangga. Sosok yang rambut gelapnya menjuntai hingga bahu, mata karamelnya dipenuhi rasa penasaran. Apa yang dia lakukan di sini? "Sebentar." Segera aku berjalan ke arahnya, dan kutarik Ophelia ke gudang sebelum Dexter sadar. Ekspresi enggan terlihat di wajah makhluk itu. "Tetap di sini, jangan naik ke atas," perintahku sembari menutup pintu. "Jangan sampai Dexter melihatmu." "Kenap–" "Dia hidung belang," cegatku sebelum dia melanjutkan protesnya, "b******k luar biasa. Dua mainanku dulu mati setelah ia mencurinya." Mata cokelat terangnya membulat, ketakutan yang sangat terpancar di pandangan itu. "Kau tidak mau berakhir seperti mereka, kan?" Ophelia menggeleng, lalu tertunduk. "Bagus." Kuangkat dagunya, dan rasa manis menguasai lidahku saat mulut kami bertemu. Terbuai, aku menghimpit dirinya ke dinding, dan mulai melingkari pinggangnya. Sebelum kutanggalkan sweternya, pintu gudang berdebam. "Hei, Louie! Lekas!" Kaget, Ophelia melepaskanku. Dia memiringkan kepala, dan membuka mulut untuk yang pertama kalinya hari ini. "Kau ingin pergi?" "Hmm, yep." "Berangkat sekarang?" "Yep." "Oh," lirihnya sambil menunduk, "baiklah." "Yep." Dia mendelik sebentar, lalu melemah. Karamel matanya sering tertutup awan kelabu, persis sekarang. Sehingga aku mencoba jadi lembut. "Aku pulang satu - dua minggu lagi." Sempat terbesit di benakku untuk membawa Ophelia Tapi aku menepisnya. Alam liar adalah dinding terbaikku. Bahaya jika membawa makhluk ini keluar dari antara dinding itu. Sebelum pergi, aku memeluk dirinya sambil menunduk. Mengucapkan kata perpisahan. "Jangan terlalu banyak berlari, atau kabur." Aku berbisik ke telinganya, "nanti pincangmu bisa makin parah." Itu peringatan. Kulirik sebentar kotak pelacak GPS yang tertanam di kakinya, sebagai pengingat. Dan makhluk ini sadar. Dengan lemah, Ophelia mengangguk. Matanya masih kosong. "Gadis pintar, "kukecup keningnya, "sampai jumpa." "Jadi... kau puas?" ujar Dexter saat aku memasuki mobil. Ia duduk di sampingku. Satu lambaian tangan, dan kami bergerak. Walau sudah melaju ke arah bandara, separuh kepalaku masih tertinggal di mansion. Ingatan dari malam itu berkelebat, membuat hasratku agak terpancing. Terus kuamati botol kaca yang ada di genggamanku. "Hm. Entah neraka mana yang kau kunjungi untuk mendapatkan benda ini, Dex." "BM, Louie, BM. That place is a wonder in itself, ya know?" balasnya sambil berkedip. "Well, kuharap 'neraka' itu masih bisa kau akses." Setelah kutimang-timang, aku meletakkan lagi botol kecil yang sudah kosong itu di kantong. "Karena?" "Perlu stok tambahan. Aku baru saja kehabisan." ───※ ·❆· ※─── Hari kelima. Suara deru mobil terdengar menjauh, dan begitu saja—pria itu sudah pergi. Menghela napas, aku bertumpu pada dinding sembari melangkah tertatih-tatih ke perpustakaan. Jika ia pergi, setidaknya aku bisa menyelesaikan Les Mis minggu ini. Selain membaca buku, mungkin aku bisa mencari kegiatan lain. Memasak atau apalah. Mungkin juga aku bisa mulai menjelajah manor tanpa dia ganggu. Setidaknya aku punya yang kuinginkan sekarang: ketenangan. Karpet beludru perpustakaan terasa sangat nyaman jika kau mengantuk. Tapi aku tetap mencoba berfokus pada Fantine, sambil meneguk cokelat hangat. Cokelatnya agak pahit hari ini, mungkin kurang gula? Anyway, Les Mis. Nasib Fantine sangat menyedihkan. Tahukan kau bahwa dia menjual dua gigi, dan seluruh rambut miliknya untuk mengirimi putrinya uang? Yah, itulah kasih sayang seorang ibu. Sayang sekali, aku tidak–atau mungkin tidak akan pernah–merasakannya. Mungkin suatu hari. Kalau ibuku bisa muncul lagi secara ajaib. Lama kelamaan, aku terus menguap, menguap, dan menguap. Fantine yang sekarang hidup kelewat miskin nampak kabur, dan aku terlelap. "Di sini kau rupanya." Masih nyaman dalam tidurku, aku membuka mata dengan enggan. Sepasang sepatu kulit terpampang di hadapanku. "Jalang kecil." Suara yang persis gemuruh bergema. Aku spontan terduduk, di depan sosoknya yang berdiri menjulang. Ia masih memakai jas yang tadi. Kukerutkan dahi. "Maksudmu? Bukankah kau barusan-" "Shut the fu-ck up." Dia meringkus lenganku, dan langsung menyeretku keluar perpustakaan. Aku panik, menendang selimut dan bantal, memberontak seraya kulitku terus bergesekan lantai marmer. Sampai di ruang tamu, dia menggapai pinggangku, dan melemparku ke atas sofa hingga berdebam. "Waktunya bermain." Matanya melirik kesana kemari, sebelum merampas kain taplak dari atas meja. Retakan-retakan porselen yang pecah berdenting di lantai. Dengan satu tangan, ia mengikat lenganku dengan taplak yang disimpul mati. Satu persatu, pakaianku dilucuti. Bawahan piyama, celana dalam. Piyamaku dirobeknya jadi dua, yang tersisa hanya bra tipis. Menyeringai, dia mulai membuka gespernya dan meraih sesuatu di bawah. Segera setelah ia menunduk, aku menjerit; ia menghujam di bawah–memenuhiku dalam satu sentakan. "Kau langsung mengangkang," bisiknya dengan sinis, hampir jijik, "kau menantikan ini. Benar-benar jalang." Kakiku digenggam, ia mengangkatnya tinggi-tinggi, masuk semakin dalam. Kukira aku akan hancur, tapi pikiranku justru terbang. Gelombang tertahan di perutku, mendesak ingin dilepas dengan sangat. Ritmenya semakin tidak sabaran. Ia menunduk, menyesap payudaraku seperti kehausan Lenguhanku sangat nyaring—suaraku pasti terdengar hingga lantai dua. Kucoba mengalihkan pandanganku pada meja biliar di sudut kanan, sebelum kuputuskan untuk memejamkan mata. Aku ingin waktu berhenti. Aku tak mau pergi. Aku mau seperti ini, ia dan bara hangatnya di dalamku, memenuhiku terus dan terus. Aura hitam semakin pekat, hantamannya makin menggila, saat dia menekan bibirku dalam-dalam. Hasrat mengaliri seluruh tubuhku, dan aku menjerit— —terlonjak bangun dari atas karpet beludru. Napasku tergesa-gesa. Dalam kepanikan aku mencari keberadaannya di sekeliling. Tidak ada. Sama sekali. Bahkan aromanya saja tak tercium. Saat itulah, aku menyadari sesuatu. Tangan kiriku ada di dalam celana. Jari-jariku berlumuran cairan lengket. Aku mencapai klimaks. Karena sambil bermimpi, aku menyentuh diriku sendiri. Bola mataku dipenuhi perasaan horor. Mata biru gelapnya berkilat di ingatanku, dan aku berjengit. Aura hitam mulai memenuhi pikiranku yang kabur. Dan bagai dibuai, aku menyusupkan jemari-jemari itu ke dalam mulut. Menjilatinya, sedikit demi sedikit hingga tak tersisa. Manis. Perapian sudah padam, perpustakaan bersuhu dingin. Cahaya yang tersisa hanya dari lampu ruang tamu yang masih hidup. Masih gemetar, kuraba sekeliling, dan aku menemukan Les Mis. Dengan keringat di sekujur tubuh, kubuka halaman terakhir yang belum sempat k****a. Fantine kini telah menjadi seorang pela-cur. •❆•❆•❆•❆•❆•❆• To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD