6 | Louie

3123 Words
Setelah jet lepas landas dari Dublin, Irlandia, aku kembali ke balik tirai. Untuk berkesan kasual, aku menanggalkan jasku, menyisakan rompi dan kemeja Victorian, khas masa jaya Imperium yang sudah lama mati. Terakhir, kukenakan sarung tangan sutra. Dengan sepatu kulit, aku menyibak tirai, berjalan ke ruang tengah. Saat kuhampiri, sosok di kursi langsung menyambutku sambil berdiri. "Louis," sapanya dengan ramah, "senang bertemu denganmu lagi, nak." "Likewise, sir Alfred. Please, have a seat." Alfred—12th Earl of Suffolk—tertawa dengan sopan. Formalitas. ───※ ·❆· ※─── Matahari pagi cantik sekali. Namun entah kenapa bangunan besar sialan itu berdiri ke arah timur, menutupi cahaya tiap kali matahari terbit. Aku cuma bisa menyaksikannya tenggelam di balik hutan. Akhir-akhir ini, aku awalnya mencoba memasak, tapi masuk ke dapur membuatku pusing. Terlalu banyak bahan masakan yang namanya saja tidak bisa kusebutkan, sehingga kuputuskan untuk berkeliling saja. Mengunjungi ruangan-ruangan lainnya. Belasan kamar yang tidak terpakai. Lorong-lorong yang dipasangi jendela-jendela raksasa. Ornamen lampu-lampu klasik, ukiran-ukiran emas yang berliuk menghiasi langit-langit. Namun begitu, walau semuanya sangat luas, aku makin merasa terkurung. Hingga kuputuskan mengunjungi taman belakang. Di bagian belakang taman, aku menemukan sebuah kolam. Pinggirannya batu, dan ada paviliun putih berlumut. Saat aku mengadah, angin seketika berhembus, pohon-pohon di sekitarku bagai menari. Dan sejak momen itu, danau ini menjadi tempat favoritku. Pada hari pertama setelah menemukan paviliun, aku hanya duduk seharian seperti hantu. Namun saat aku ingin pergi, sesuatu menarik perhatian mataku di tanah. Bunga Lily. Mereka menanamnya di sini. Entah itu, atau bunga itu tumbuh dengar liar. Apapun alasannya, ide lantas terbesit di kepalaku. Besoknya, aku menggeledah perpustakaan, dan menemukan jurnal tua kosong di lemari, lengkap dengan pensil. Dan di bawah paviliun ini, aku mulai menulis kisahku. Mulai dari malam aku diambil. Semua kenangan di bawah lampu neon dan tabung kaca. Mata gelap pria itu. Tapi ketika aku sampai di kisah dia mengambil keperawananku, dadaku rasanya sakit sekali, hingga kuputuskan untuk menulis satu kenangan indah: karnival yang kukunjungi dengan ayah. Kenangan manis itu seperti obat bagiku, dan karenanya, aku terus menulis semua yang bisa kuingat. Kurasakan. Malam aku ingin kabur. Kebiasaanku di perpustakaan. Akuarium. Kenangan di dapur. Depresi. Keinginanku untuk bunuh diri, dan Les Mis yang sudah kutamatkan. Walau rasanya pedih saat harus menulis, mengunjungi kenangan yang menyakitkan, tapi setidaknya, ada ruang kosong yang terpenuhi di dalam hatiku. Aku belajar menerima keadaan. Aku mengiklaskan hal-hal yang tidak bisa kukontrol. Dan setelah membaca seluruh kisahku sampai sekarang, ada satu yang bisa kusimpulkan. Aku ingin tahu bagaimana kisahku berlanjut. Karena setidaknya, aku ingin tahu bagaimana akhirnya. ───※ ·❆· ※─── "Biar kuambilkan," ujarku sambil menggapai pisau mentega, memberikannya pada Alfred. Dia tersenyum teduh, menggapai pisau itu, dan mulai mengoleskan mentega pada sobekan roti. "Ingin coba?" tanya Alfred saat mengulurkan sebatang rokok padaku. Aku menghisapnya sedikit. Pahit, dan rasanya tertinggal di pangkal lidahku. Rokok sampah. "Kualitasnya agak rendah," ujarku sambil mematikan puntungnya. Tidak berminat untuk mencicipinya lagi. "Yah, aku pemula. Tidak tahu mana yang bagus atau tidak. Kau tidak merokok, Louis?" Aku menggeleng. "Terlalu berisiko." Alfred lantas tertawa. "Astaga. Gaya bicaramu masih persis robot. Kaku dan terlalu serius, hampir bukan manusia. Kau memang tidak pernah berubah, nak." Alfred meraih dan mengoleskan mentega pada sebongkah roti lagi. Pembicaraan pun berlanjut. "Jadi, kau serius ingin menyumbang ke yayasan? Padahal baru saja minggu lalu aku berdebat dengan ayahmu." Aku mengangguk, mulai memasang nada semangat khas aktivis. "Maaf kalau ayah agak kolot, sir. Tapi menurutku, isu-isu kemanusiaan justru harus jadi fokus kita saat ini. Aku ingin membantu agar masalah yang diangkat dapat tembus hingga ke parlemen." Bagai terpukau, Alfred lantas tertawa renyah. "Hingga ke parlemen? Kami sendiri belum tahu. Namun jika dukunganmu kami komersilkan, itu akan sangat membantu, nak. Semua orang menyukaimu. Sayang saja kau orang yang tertutup." Untuk kali ketiga, Alfred kembali mengoleskan mentega, dan memakan bongkahan roti. Dengan senyum, aku menawarkan air pada Alfred. Ia menerimanya, namun tidak sempat meminumnya. "Astaga, tenggorokanku gatal." "Perlu kupanggilkan dokter?" tawarku. "Tidak, tidak," tepisnya, "Aku baik—ohok—baik saja. Hanya perlu ke kamar man—" Kalimat Alfred terpotong. Kepalanya jatuh mengadah. Rahangnya menggantung terbuka. Lima detik tepat, dan suara mirip ngorok terdengar dari dalam tenggorokannya. Aku bangkit. Dengan sarung tangan, kubalik pisau mentega tadi. Besinya mulai meleleh. Kulepaskan sarung tangan, membalut pisau itu, dan menyodorkannya kepada pelayan. "Bakar seluruhnya. Segera." Tak butuh waktu lama bagi mayat Alfred untuk terkapar di lantai. Setengah menit diperlukan bagi lehernya untuk mulai berlubang-lubang. Rokok memang membunuhmu, kurasa. Sebentar lagi, jet akan mendarat. Sementara itu, Dexter sedang heboh di monitor kiri. "Louie? Louis! You fu-cking t**t! Oh my—seriously—what the fu-ck did you just do? Don't you hear me? Don't you listening? Stick to the fu-cking plan! Oh God..." Dexter menyeka wajahnya, pias. "Alfred just died. Fu-ck. FU-CK!" "Language, Dexter," tegur ayah di sebelah kanan. "Take a shot tiap kali abang menyumpah, yah. Aku sudah minum tujuh gelas," ucapku seraya melangkahi mayat Alfred, kembali duduk di sofa. "PRI-CK!" bentaknya. "You don't know what you've done? Kau membunuh Earl of Suffolk. SUFFOLK! Kematiannya sama saja kehancuran kita! Gosh, bayangkan apa yang akan ditemukan media, parlemen, dan istana—" "Dexter," suara ayah kini menggelegar. —Buckingham! Kau gila? Semua orang mengenal Alfred! Kita akan diselidiki! Apa instruksi pertama, Louis? Hah? Kau sudah lupa? Inti–" "Intimidasi," aku menyela. "Instruksi pertama: intimidasi Alfred junior." Dexter berhenti mengoceh, jadi sekarang giliranku. "Alfie Jackson, baru saja lulus dari Cambridge. Pemuda yang lembek, sejak sekolah menengah jadi bahan olok-olokan, ahli waris Alfred satu-satunya." "Apa hubungannya? " tanya Dexter dengan bodoh. "Berbanding terbalik," jawabku, "Alfred punya kompas moral yang kuat. Diancam dengan nuklir sekalipun, dia tidak akan takut. Yayasan dan semua organisasi kemanusiaannya tidak akan berhenti. Sehingga, jika Alfie tua tergantikan dengan yang muda–" "–mengintimidasi akan jauh lebih mudah," imbuh ayah. "Dan urusan kita bisa kembali aman tanpa parasit aktivis-aktivis kemanusiaan. Paham, Dexter?" "Oh." "Tuntas," sambung ayah. "Nah, kirim si pahlawan kesiangan kembali ke keluarga kecilnya, Rochester. Kita lihat apa tanggapan si pewaris lembek." Di sisi lain, Dexter terdiam. "Ka-kalian merencanakan ini? Dan tidak memberitahuku? Sejak kapan?" Hanya hening. Hening hingga sambungan Dex terputus. Aku kembali ke ruang depan. Perlahan, tirai di pojok tersibak. Sosok di atas kursi berdiri. Menepuk bahuku. "Jangan minta aku di lapangan lagi." "Louie–" "Aku tidak suka jika tanganku yang kotor, yah." Ayah hanya tersenyum. Menilik kepalanya, dia berjalan menghampiri Alfred yang lehernya mulai membusuk. Aku memandang langit biru. Dengan mulus, jet terparkir sempurna di bandara Edinburgh. ───※ ·❆· ※─── Terasa dingin saat Ellie mengoles antiseptik. Aku membuka mulut, memberanikan diri. "Maaf, aku hanya—aku tidak mengerti." Ellie mendongak, senyumannya teduh sekali. "Kau bisa bertanya apa saja, ya? Jangan takut," ujarnya dengan aksen Skotlandia yang kental, namun masih bisa kupahami. Aku memiringkan kepala, menatap benda plastik yang tersampir di meja, ujungnya berjarum tajam. Suntikan anestesi yang Ellie berikan sekarang terasa seperti cubitan. "Kukira, pil saja sudah cukup." Senyum Ellie melebar. Sungguh, dokter berambut merah ini mengingatkanku pada tipikal guru di taman kanak-kanak. Membuatmu merasa tidak bodoh, walau pertanyaanmu konyol sekalipun. "Well, tidak ada kontrasepsi yang benar-benar efektif," tuturnya sembari menekan-nekan bawah lenganku dengan kapas. "Namun implan—yang akan kupasang ini—bisa dikatakan yang paling praktis. Kau tidak perlu repot-repot memikirkan pengaman lagi, dan efektivitasnya adalah yang paling tinggi, mencapai 99 persen. Jadi, kau tidak perlu minum pill lagi, ya? Selama tiga tahun." Tiga tahun. Terdengar seperti masa depan yang sangat jauh sekarang. Dan pemikiran tentang apakah aku akan hamil anak pria itu tidak pernah kuhiraukan. Terkadang, begitulah yang terjadi jika kejadian buruk terus menimpamu bertubi-tubi. Yang kau lakukan adalah duduk dalam denial, berkali-kali mencoba yakinkan dirimu sendiri bahwa hal yang lebih buruk tak akan terjadi, padahal kenyataannya sudah pasti. Hal buruk pasti akan terjadi. Sejak umurku dua belas, aku sudah ahli dalam hal itu. Setidaknya aku masih menstruasi. Itu pertanda baik. Dengan perlahan, Ellie menempelkan benda plastik itu di kulitku, dan mulai menusuk. Lebih sakit rasa suntiknya, sih. Yang ini rasanya biasa saja. "Kau sering minum pil?" "Terkadang. Akhir-akhir ini lebih sering." "Bagaimana dengan suasana hatimu?" Apakah dia tahu? Apakah pria itu memberitahunya tentang kekacauanku minggu lalu? Aku tidak berkata. Hanya menerawang ke dinding dengan kosong, helai-helai rambutku yang masih rusak akibat kutarik tertiup angin sesekali. Itulah jawaban bagi Ellie. Setelahnya, dia terdiam, dan menarik keluar jarum itu. Seperti ada pipa mini tertanam di lengan bawah sekarang. "Sudah selesai. Mungkin akan ada pembengkakan dan rasa nyeri, tapi jangan khawatir. Itu normal dan akan hilang," pungkasnya dengan nada penuh simpati, sebelum berdiri. Namun tak kusangka, dia membisikkan sesuatu sebelum pergi. "Sepuluh kilometer tenggara, jalan raya tambang." Ia membereskan tasnya, dan melangkah keluar dari ruang tamu. Kembali menjadi bagian dari dunia luar. Seperti yang seharusnya. Siangnya, seorang pelayan kembali memanggilku saat aku menulis di samping kolam. Lalu beberapa orang melakukan sesuatu padaku. Ada dokter mata. Setelah memeriksa minus mata, aku diberikan lensa kontak dan diajari memasangnya. Walau bingung, aku senang karena penglihatanku bisa kembali. Lalu ada yang mengukur tubuhku dan berdiskusi dengan bahasa asing. Raut heranku masih terasa. Sekarang, seorang wanita melepas kain penutup yang masih memiliki helai rambutku. Rambutku yang dipotongnya hingga seleher. Terakhir, ada yang mengoleskan sesuatu pada semua luka dan lebam yang kupunya. Lalu saat malam tiba, semua orang itu pergi. Aku tidak berbicara dengan siapa-siapa untuk beberapa minggu, dan tiba-tiba saja, ada banyak orang yang berinteraksi denganku. Rasanya seperti mimpi demam yang aneh. Bulir-bulir air membasahi rambutku saat kubilas. Aku mematikan pancuran, dan mulai mengusapkan sabun wangi apel ke seluruh tubuh. Keramik kamar mandi memantulkan bayangan yang samar-samar. Perlahan, aku berhenti untuk mengamati. Di pantulan itu, tubuhku terlihat ... penuh bentuk. Lekuk. Mirip bentuk-bentuk tubuh yang dipajang di majalah, dan selalu membuatku terpukau. Rambutku juga berubah. Tidak lagi ikal, awut-awutan dan kacau balau, kini helai-helai bergelombang teruntai dengan anggun di leherku. Wajahku mulus, tidak ada lagi bekas luka, pipi dan bibirku merona. Kacamata bulat kesayanganku sudah hilang. Aku tidak terlihat seperti Kiara Snow. Aku berwujud orang lain, orang yang benar-benar baru. Hanya rupa wajahku saja yang sama. Anehkah, jika kau memandang cermin, dan tidak mengenali dirimu sendiri? Aku dipercantik. Didandani. Tubuhku dipermak, dan aku dipasangi implan. Aku seperti ... apa katanya? Properti. Nah. Aku seperti properti yang sempurna, ya? Sempurna dan siap pakai. Sempurna, dan tidak punya hak apa-apa. Hanya sekedar benda untuk dipakai. Kuusap wajahku dengan sabun muka dan membasuhnya, sebelum harum familier berada persis di belakangku. Saffron dan kayu manis. Aku lantas menoleh. Dia pulang. Berdiri di belakangku, bersandar pada dinding. Pakaiannya masih utuh. Tapi saat melihat wajahnya, bayangan mimpi mengerikan yang datang akhir-akhir ini menyerang, membuatku gemetar dan memalingkan muka. Buru-buru kugapai handuk, mengeringkan tubuhku. Tapi dia segera mendekat. "Kau baik-baik saja?" ujarnya sambil meraih bahuku. Aku mengangguk, dan segera memakai handuk, melangkah keluar dari kamar mandi. Baru saja kugapai piyama di dalam walk-in closet, saat dia di belakangku lagi. Aku makin gemetaran. "Ada apa?" "Tidak, tidak." Tapi, dia sepertinya tahu sesuatu. Jarinya mengurai rambutku, perlahan-lahan. "Kau takut ... padaku?" Di belakang, tubuhnya makin mendekat. Kakiku rasanya lemas sekarang. Jawabannya, ya. Aku takut. Takut sekali. Tolong. "Hei, hei," tegurnya, "jangan panik. Tarik napas." Tanpa bisa kucegah, tangannya melingkari bahuku. Rasanya, anehnya hangat. Lalu dia berbisik. "Tarik, lepaskan." "Tarik, lepaskan." Tubuhku yang berguncang mulai tenang. "Bagus. Sekali lagi, tarik dan lepaskan." Pernahkah kubilang suaranya mirip gemuruh guntur? Kini, gemuruhnya terdengar lembut. Beberapa kali. Aku mengikuti perkataannya, hingga kurasakan gemetarnya berkurang. "Nah,"dia mengelus bahuku, "sekarang berpaling." Saat aku menoleh, berbeda dengan ingatanku, wajahnya tidak mencekam. Ekspresinya justru datar, namun tidak terkesan jahat. Hanya mata birunya yang masih sama pekatnya. Aneh. Untuk yang pertama kalinya, dia nampak biasa saja. Normal. "Masih takut?" tanyanya sembari mengusap pipiku, dan menggapai rambutku yang tinggal seleher. Aku menggeleng. "Baguslah." Dia bergumam sebentar, lanjut memainkan rambutku. "Prediksiku tepat. Model pendek lebih sesuai untukmu." "Kau yang memilihnya?" "Begitulah. Lukamu sudah sembuh?" "Ellie bilang sudah." Dia mengangguk. Ah, andai dia bisa bersikap normal seperti ini terus, dia pasti sempurna– Tunggu. Apa? Lalu Ia menangkup pipiku, mata birunya memperhatikan mataku lekat-lekat. "Hmm. Lensanya pas?" Aku terkesiap, "ba-bagaimana kau bisa tahu?" "Kau selalu menyipitkan mata tiap memandang objek jauh," ujarnya dengan santai, "tentu saja aku tahu." Wah. Dia memperhatikanku lebih dari yang kukira. Jarinya turun, dan membalik lenganku. Menampakkan lengan atasku yang membiru, tempat Ellie menanam implan. Dia menggapai area itu dan mengusapnya dengan ibu jari. "Ellie bilang, tidak usah minum pill lagi," tuturku pelan-pelan. "Yep," jawabnya, "aku yang minta. Sepertinya pil hanya makin membuatmu depresi." Aku terdiam. Tentu saja bukan itu alasan utamanya, bodoh. Dasar tidak berperikemanusiaan. Tapi aku hanya mengangguk. Toh, aku bisa apa? Saat aku mengadah, kutangkap ia sedang memperhatikan mataku. Untuk sesaat, sesaat saja, kubayangkan dia adalah manusia biasa. Manusia biasa, yang sedang terbuai karena kecantikanku, atau semacamnya. Tapi seperti biasa, yang terbuai justru aku. Karena aku baru tersadar, saat bibirnya yang bak permen kapas menyentuh bibirku. Biru matanya memenuhi pandangan. Dia tersenyum, dan bergumam. "Tutup matamu." Kupejamkan mata, dan melihat bintang-bintang. ───※ ·❆· ※─── Aku mengigit dinding pipi, saat dia terus bermain di bawah sana. Meninggalkan memar-memar keunguan di ujung dadaku. Memakai piyama tadi adalah suatu kesia-siaan, karena kini, benda itu itu sudah melorot sampai ke pinggang. Baju yang malang. Lalu dia mulai menghisap ujungnya, dan menatap mataku. Astaga, jangan tatap matanya. Matanya indah sekali. Wajahku rasanya dibakar. Tahu-tahu, dia tergelak. "Kau lucu." Aku merengut, dan justru Ia makin tersenyum. Dia menarik celanaku hingga ke lutut, lantas mengelusnya sedikit. "Tahan." Lalu menarik celana dalamku, dan menyapukan bibirnya di bawah sana. Lidahnya lalu menyusup ke dalamku. "Nghh–" Panik, segera kututup mulutku dengan punggung tangan. Ia naik sedikit, dan tepat di puncakku, di titik itu, dia bermain dengannya. Kembali melenguh, aku menggapai rambutnya. Pikiranku kacau, super kacau. Lidahnya bergerak dalamku, melingkar, kemudian menyesap, ritme demi ritme. Ditambah pemandangan wajahnya diantara pahaku, tubuhku kembali gemetar akibat gairah. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa? Di mimpiku, dia sangat kasar. Sangat tidak manusiawi. Monster. Lantas, dia kembali, dan—begitu saja—semuanya berubah total. Gerakannya lembut, berfokus padaku, memuaskanku sepenuhnya. Kalau yang ini mimpi juga, kumohon jangan bangunkan aku lagi. Aku mohon, aku ingin terlelap selamanya kalau perlu. Sungguh. Saat gelombang menguasai tubuhku sepenuhnya, dia mendongak untuk yang terakhir kali. Menatap mataku, dan tersenyum. Kemudian dia menyesap, dan semua sensasi itu meluncur keluar. Sangat kuat—aku hampir lemas karenanya. Dan kupikir aku gila. Karena aku bersyukur itu bukan akhirnya. Ia melepas sepatu. Naik ke ranjang, dia menciumku, dapat kurasakan sisa-sisaku di mulutnya. Wajahku makin terbakar dan itu membuatnya tersenyum tipis. Sembari mulut kami bertaut, dia mulai menindihku, dan menarik lepas celanaku sepenuhnya. Dia terus mencumbuku, dan menanggalkan hampir semua kain yang tersisa di tubuh kami. Yang tersisa hanya kemeja putihnya. Dia mengecup perutku, dan perasaan yang sudah sangat kukenal muncul. Dorongan hangat, memabukkan di antara pahaku. Hawa panas terus mengisi kamar. Dari balik kemejanya yang putih, nampak bulir-bulir keringat di dadanya. Sembari memompa, Ia terengah-engah. Di bawah cahaya malam yang tipis, aura gelap mata birunya, membuatku bagai dikelilingnya. Saat kupandang wajahnya, terbesit sesuatu. Pria ini meniduriku berkali-kali, menyakitiku, menghiburku, membuatku terbuai ... Dan sampai sekarang, aku bahkan tidak mengetahui siapa dia. Tanpa sadar, mulutku berucap satu hal yang tak pernah kusadari. "Si-siapa namamu?" Mendengarnya, ia kembali memandangku, namun kemudian berpaling pada jendela, memikirkan sesuatu sementara tangannya terkepal di kasur. "Louis," ungkapnya, "Kennedy." Dia kembali berpaling. Manik birunya yang bak permata, menatapku dalam. "Namaku Louis Kennedy." Louis? Berarti, Louie yang disebut Dexter dulu adalah panggilan? Begitukah? Pinggulnya terus bergerak, serirama dengan kasur, dan di setiap dorongan itu, ia memancing sesuatu yang liar di dalam diriku, membuatku ingin lebih. Dan lebih. Dan lebih. Sehingga kuangkat kakiku, dan kulakukan sesuatu yang tidak pernah kusangka. Dengan kakiku, aku melingkari pinggangnya, dan menekan ia masuk. Lebih dalam. Ia mengangkat alisnya heran, namun kuraih telapak tangannya, menaruhnya di dadaku sembari terpejam. "Louie." Suaraku terdengar berat, dipenuhi hasrat. Aku merasa aman, aku merasa nyaman di bawah kungkungannya. Dan aku tidak perlu apa-apa. Saat kubuka mataku lagi, netranya menyala, dan ia melepas kemeja sepenuhnya. Tubuhnya yang bagai dipahat terpampang di mataku, tanpa satu penghalang. Menyeringai, Louis kembali ke dekapanku, menindihku kembali. Hentakannya semakin dalam. "Katakan lagi," bisiknya tepat di telingaku. Temponya semakin lekas. "Louie..." Aku tenggelam, punggungku nyaris melengkung. Aku tidak menginginkan apa-apa lagi. Hanya dia. Hanya dia. Satu kecupan di bahuku, dan ia menghentak sekuat tenaga. Aku mengerang, karena pelepasan kedua meluncur bagai gelombang dari perutku, hingga menjalar ke seluruh pahaku dan aku bergetar. Namun Louis tidak berhenti. Kini wajahnya terbenam di bahuku, yang bisa kulihat hanya punggungnya saja. Gerakan demi gerakan, kudengar suaranya, persis gemuruh guntur yang paling menggelegar. "Mhmm.." Dia mengerang untuk pertama kalinya, kudengar erangannya dengan wajahnya yang jelas. Matanya tertutup rapat saat temponya memuncak, seperti sangat menikmatinya. Ekspresinya begitu indah, dan ritme demi ritme, terus dan terus– hingga ia melambat. Kehangatannya di dalam, memenuhi perlahan-lahan. Wajahnya ambruk. Helaan napasnya yang memburu menerpa leherku. Semua bayangan aneh dari mimpi hilang sudah. Dia lembut, dan ini kenyataan, ini nyata. Aku senang. Aku sangat senang. Momen demi momen berlalu. Kudekap dirinya, sedikit berharap dia tak akan pergi. Walau aku sudah bersiap sakit hati saat dia mulai bangun. Dia akan kembali ke kamarnya, seperti biasa, pikirku. Namun tidak. Louis malah berguling ke samping, mengatur napasnya, mengelusku. Malam ini, dia di sisiku. Menggapai tubuhku, menariknya masuk. Gila kah aku, jika aku bersyukur? Gila kah aku, jika aku gembira? Tidak. Aku tidak ... peduli. Karena jika kuhadapi kenyataan, jika aku terus teringat keadaan yang sebenarnya ... Aku memang sudah seharusnya gila. Dalam rengkuhannya, ia berbisik. "Sekali lagi, katakanlah." "Louie?" "Mhm," dia mengecup pipiku, "'Phelia." ───※ ·❆· ※─── Louis Albert Théodore Reinald Kennedy. Nama sok mewah, sok majestik, dan terlalu panjang. Aku tak pernah menyukainya. Namun yang paling tidak kusuka adalah julukan t***l dari Dexter—Little Louie, yang ia cipatakan setelah sadar kalau ia lebih tinggi tiga puluh sentimeter, saat kami kelas satu dan dua di Sekolah Dasar. Akan tetapi, saat makhluk itu yang mengucapkannya, dari balik bibirnya yang semerah buah plum, keringat yang membasahinya, dan rambutnya yang berantakan sembari tubuhnya berguncang... Rasanya berbeda. Rasanya indah. Memuaskan. Mengetahui bahwa keindahan ini, adalah milikku seutuhnya. Bergantung padaku. Tak bisa lepas dariku. Mengapa aku tahu? "Mhmm...Louie..." Karena malam ini, dia terus mengigau. Tertidur sambil mendekapku erat-erat. Sempurna. Dia rusak. Dan karenanya, Ophelia akan makin sempurna. •❆•❆•❆•❆•❆•❆• To Be Continued Author’s note Wah, mayan juga yang baca di sini? Makasih ya! Cold ini asalnya dari w******d, saya iseng-iseng upload di sini. Tahu-tahu, banyak juga yang baca. Terima kasih! Komen kalian membuat saya semangat hehe. Cold di w******d udah sampai Bab 8, tapi kalau mau stay di sini nggak apa-apa. Jadwal upload baik di sini atau di sana sama Sekali lagi, terima kasih! <3 -RosieFlute
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD