7 | Pola Air Mata (I)

3453 Words
───※ ·❆· ※─── Louis benar. The Hunchback of Notre-Dame lebih singkat. Bukan jauh—volumenya ada tiga, setengah dari jumlah volume Les mis—tapi bukunya lebih fokus. Dengan Les Mis, rasanya seperti membaca buku kolosal; banyak sekali tokoh dan kejadian yang terjadi. The Huncback lebih ringan. Namun saat membaca buku akhir-akhir ini, aku mulai merasa ... mual. Rasanya seperti saat kau terlalu sering makan sesuatu, dan kau mulai muak saat memakannya. Berapa kali aku menahannya, rasa mual itu tidak hilang. Sehingga aku hanya menghela napas, perlahan bersandar pada dinding kamar Louis. Singkatnya, aku bosan. Mungkin mualnya muncul karena aku lelah membaca. Aku merindukan rasanya bisa terhubung dengan dunia luar, menonton berita di televisi, atau menjelajah internet dengan ponselku yang kuotanya terbatas. Omong-omong, sudah berapa lama aku di sini? Karena sekarang sudah musim semi, paling tidak sekarang sudah maret. Berarti setidaknya sudah dua bulan lebih, atau tiga? Hidup tanpa internet dan televisi ternyata tidak buruk juga. Kontras dengan pemikiranku dulu, aku masih bisa bertahan hidup. Walau bertahan hidupnya mati-matian, sih. Sembari merubah posisi menjadi duduk, kututup lingerie sebagai dalaman jubah mandi. Di depan, Louis masih berkutat dengan komputer setelah lari pagi. Satu-dua keringat masih membasahi rambutnya ... Astaga! Aku menggeleng kuat-kuat, berusaha memblokade potongan-potongan adegan dari ingatan semalam. Tapi, bisakah kau menyalahkanku? Aku rindu perlakuan lembut. Dan tadi malam ... Lebih dari lembut. Bukan hanya meniduriku sembarangan, namun dia ... bercinta denganku. Benarkah? Mungkin bisa dibilang begitu. Ah, sudah, sudah. Wajahku jadi merah sendiri. Berkas-berkas cahaya komputer di depan sudah kuperhatikan sejak tadi. Di dalam ruangan ini, hanya benda itu terhubung dengan dunia luar. Aku bangkit, dan perlahan mendekatinya. Angka-angka, statis, grafik naik turun ... rasanya seperti menonton pertunjukan yang memukau. Louis, sedang bersantai, menyadari di samping. "Apa yang kau lihat?" Mengingatkanku pada minggu-minggu pertama kami bertemu. "Aku ..." "Kau sakit? Ada yang lecet?" tanyanya sambil memutar badannya. "Tidak, tidak," sergahku, "aku ..." Kupandang The Huncback di genggamanku, dan melihat lembar-lembar buku yang kuning, rasa mual itu kembali. Uf. "... aku bosan membaca. Hanya ingin melihat-lihat." "Oh." Louis menepuk pahanya. Langsung paham, aku duduk di dì pangkuannya. Gerakan-gerakannya di monitor itu kini semakin jelas, dan anehnya, membuatku terhibur. Tadi malam, dia memberitahu namanya. Bolehkah aku mengenalnya lebih jauh? Aku membatin sembari jemarinya mulai melingkari pinggangku. "Berapa umurmu?" Gerakannya agak tertunda, namun Louis melanjutkannya lagi. "92" "Umurmu 92?" "Bukan. Aku lahir tahun '92." "Berarti ... " aku menghitung singkat dengan jemari, "umurmu 25?" "Bukan," katanya lagi, "aku lahir di akhir tahun." "Jadi ... 24?" "Yep." Aku mengangguk perlahan. "Aku delapan belas." Louis tidak berubah ekspresinya. Pasti dia– "Sudah tahu." Tuh, kan. "Of course you are," keluhku sembari menghadap samping, perlahan bersandar ke dadanya. Leganya, dia langsung mengelus rambutku. "Why do you say it like that?" "I don't know. Maybe it's because ... you seems like that kind of guy, who knows everything." Dia hanya mengedikkan bahu, dan lanjut mengetik. Dengan aku di pangkuannya. Oke. Menonton pekerjaan Louis memang agak menarik, namun aku mulai bosan melihat tab yang dibuka dan ditutup berkali-kali. Apakah aku boleh meminta? "Aku ingin menonton tv," pintaku di pangkuannya, teringat televisi di ruang tamu yang tidak pernah dinyalakan. Setidaknya itu lebih dari cukup. "Tv?" Louis masih sibuk di layar, "siapa yang masih menonton tv? Kau ingin menonton Doctor Who? Sherlock? Tonton saja di internet. Semuanya sudah ada." Astaga, kenapa dia mendadak jadi bodoh? Aku merengut, "yah, apakah aku bisa membuka internet? Yang kupunya hanya buku. Tv saja tidak kau nyalakan." Namun Louis justru tidak bergeming. Wah, itu hal baru. Dengan wajah dingin khasnya, ia berpindah ke monitor satunya, dan mulai mengetik. "Ada yang mau kau tonton?" "BBC," jawabku pelan. Stasiun pertama yang bisa kuingat. Siapa peduli? Aku hanya perlu terhubung dengan dunia luar. Satu klik, dan terlihat sebuah siaran langsung. Oh, berita tentang sesuatu di London. Betapa aku rindu berinteraksi dengan orang lain. Dan melihat kerumunan dan wajah-wajah manusia selain Louis dan pelayan, rasanya melegakan. Namun, aku justru terperangah setelah satu judul besar terpampang. _________________________ Alfred, Earl of Suffolk is confirmed dead at 59. _________________________ "Astaga," aku membekap mulut. Benarkah? "Kau mengenalnya?" tanya Louis singkat. "Tidak," sergahku, "hanya satu kali bertemu. Yayasannya pernah mengunjungi Withergeust. Dia baik sekali." Aku masih ingat dengan kaos bekas yang kudapat dari kunjungan itu. Earl of Suffolk bahkan membagikan makanan dengan tangannya sendiri, sambil tersenyum hangat pula. Di layar, terpampang tulisan kecil di bawah berita. _________________________ The family has asked for privacy—regarding the details—as they still grieve for the loss of Sir Alfred. _________________________ Gosh, apapun yang membunuhnya, kasihan sekali dia. Namun, mungkin penyebabnya tidak akan pernah terungkap. Semua orang tahu, kalau aristokrasi Inggris memang remang-remang. Bukannya kami—rakyat jelata—peduli, sih. Yang orang-orang pedulikan hanya cara bertahan hidup, kecuali umurmu hampir sama tuanya dengan sang Ratu, dan kau dibesarkan dengan tradisi konyol sisa-sisa abad lampau. Hanya orangtua lansia Inggris—atau fans fanatik—yang benar-benar peduli pada kerajaan dan t***k bengeknya. Contohnya? Lihat saja sekarang, Louis tidak peduli sama sekali dan wajahnya tetap datar. Mungkin dia malah pendukung partai republik. Lalu dia menunjuk monitor yang satu. "Pilih warnanya." Setengah mendengar, aku masih terpaku dengan warga yang menaruh bunga di depan pagar manor Sir Alfred. "Apa?" Dia mengulang, "pilih warnanya." Aku menoleh, dan situs suatu brand gadget terkemuka terpampang di layar. Di sana, terlihat laptop jenis keluaran terbaru, yang harganya bisa membiayaiku makan selama dua tahun. "Err, maksudnya? Itu untukku?" Membeli laptop bekas saja tidak pernah terlintas di kepalaku. Jadilah, aku mendadak tergagap. Louis malah menaikkan alis. "Tentu saja. Kau meminta hiburan, kan? Pilih warnanya." Wow. Tapi aku masih belum percaya. Asal-asalan, kutunjuk warna rosegold, dan Louis langsung membayarnya; begitu cepat, tidak lebih dari satu menit. Wow. "Barangnya tiba besok," ujarnya ketika tulisan payment confirmed! muncul, dan ia kembali membuka pekerjaannya, angka-angka dan statis. "Te-terima kasih ..." ucapku terbata-bata sembari menghadap Louis di belakang. Aku menggapai tangannya, mengenggamnya erat. Sejenak, dia menunduk. Tangannya yang hangat dan halus, mengusap pipiku dengan jemarinya. Dia mulai berkata, "kau tau, itu bukannya gratis–" Ucapannya tersela saat kusapukan bibirku padanya dengan malu-malu. Untungnya dia langsung menyambutku. Mulutnya yang langsung terbuka, membuatku masuk lebih dalam. Aku berlutut di pahanya, dan merangkul bahu Louie. Menikmati rasa mint di lidahku, saat terdengar bisikan jahil darinya. "Gadis pintar." Tangannya tidak lepas dari pipiku, dan kami terus bertaut .... "Sir? Sir?" ... hingga terdengar ketukan di pintu. Astaga. Dengan sigap, Louie menarik ciumannya. "Apa?" "Aula bawah tanah perlu diperiksa lagi." Terdengar hembusan napas kasar, dan mendadak, tubuhku terangkat. Louie meletakkanku di kursinya, dan meluruskan baju. "Segera mandi," tukasnya, "ada acara nanti malam." "Acara apa?" Louis melangkah dengan santai. "Nanti kau tahu." ───※ ·❆· ※─── "Apa maumu?" Dengan lembar-lembar tabloid yang dia lempar di atas meja, Dexter menggapainya satu per satu. "Satu. Dua. Tiga. Empat–oh tunggu," ujarnya sembari memisahkan dua majalah, "kukira hanya empat. Nah, ternyata lima. Lima tabloid utama, Louis, menjadikan hasil perbuatanmu judul utama mereka hari ini." "Then what?" "Well, harus kuakui, keahlianmu boleh juga. Tidak satupun dari wartawan-wartawan menyedihkan itu meliput fakta." Rasa penasaran mengalahkanku, dan aku bangkit dari kursi; memiringkan kepala sembari menilik judul yang dicetak dengan font raksasa. ___________________________ Leher yang terbakar, atau dibakar? - Liputan eksklusif hasil autopsi Earl of Suffolk. Inggris menangis bagi kakek Alfred yang manis. Sejarah panjang intimidasi aktivis kemanusiaan - Ancaman teroris dibalik wafatnya Alfred Jackson? ___________________________ "Siapa yang masih membaca berita-berita konyol ini?" tanyaku, karena hanya satu judul yang menarik perhatian, judul yang paling normal di antara semuanya. ___________________________ Peti kiriman, surat ancaman. Keluarga Jackson menyembunyikan sesuatu. ___________________________ Bagus kalau begitu. "Siapa yang masih membaca tabloid gosip? Tentu saja semua orang di Inggris, Louis!" Dexter pura-pura menepuk kepalanya, "terkadang kau bisa jadi bodoh juga." "Berisik." "Aih, jangan jadi galak, dik. Kau tahu? Setelah aksi kerenmu ini, kurasa aku bisa memaafkanmu setelah diam-diam menyembunyikan rencana bersama ayah." "Aku tidak perlu pengampunan darimu." "Whatever," ujar Dex sambil mendelik. Jelas sekali dia hanya ingin kecanggungan mereda. Mengajak dia dalam rencana kemarin jelas-jelas bencana, dan ia sebenarnya tahu diri. Namun Dex—tentu saja—tidak mau mengakuinya. Ego adalah penyakit turunan di keluarga kami. Aku berbalik, namun ia tiba-tiba berseru. "Oh, oh," potongnya mendadak. "Kau belum lihat bagian terbaiknya." ujarnya sambil menghidupkan tv. Satu judul besar terpampang, dan dibaliknya, sebuah figur lelaki culun berdiri di atas podium dengan badan gemetar. "Oh, poor Alfie ... anak yang malang ..." ujar Dex dengan nada pura-pura kasihan. "Tidak ada lagi ayah tersayang yang bisa menyogok perundung-perundungmu, ya?" Mencoba menghiraukan Dex, aku berfokus pada Alfie yang mencoba bertutur sepatah-dua kata di depan wartawan. Namun ujaran yang muncul dari pemuda lembek nyaris tidak terdengar, dan ia seperti kehabisan napas, hanya karena membaca naskah pidato di tangannya saja. "A-ayahku ... selama 59 tahun hidupnya—hiks—telah berdedikasi penuh pada isu—hiks—penindasan dan kekerasan-" "Ugh, apakah itu ingus?" nada jijik Dexter terdengar seperti ia habis menginjak kotoran sapi. "Menjijikan. Aku bertaruh seribu pounds, bocah itu mengompol berkali-kali di celana mahalnya tadi malam." Aku hanya diam. Lalu Dexter menoleh dengan sumringah. "Oh, Louie, c'mon. Yang tadi itu lucu." Aku masih diam. "Tidak usah mengulum senyummu." Oke. Kekehan—dan setengah menit kemudian —tawa terbahak-bahak meluncur dari mulutku. "Gosh, you bastard," ujarku sambil mengusap hidung. Perutku terasa geli. "You too, dear brother, you too." "Well, setidaknya aku tidak dinamai 'kanan' padahal aku kidal." "Well, setidaknya namaku tidak diambil dari merek fashion mahal tanpa kualitas." Tawa Dexter makin menggelegar, seraya Alfie yang banjir air mata, kembali ke barisan kursi keluarganya yang juga bermata bengkak. "Apakah itu putra Perdana Menteri?" dari ruangan ini, Dex menerawang tamu yang datang satu persatu di balik kaca. "Yep. Seems like him." "Oh, great," balas Dex dengan nada yang sarat dengan sarkasme. "Jadi, apa rencanamu untuk mereka?" "Sudah kusiapkan." Satu jentikan jari, dan kamar ganti pun terbuka. Mengungkap sesosok gadis bergaun merah dengan glitter, mengisi lekuknya dengan sempurna. dengan renda dan hiasan emas. Rambutnya yang hitam lembut tersanggul, berhiaskan bunga mawar imitasi yang mengilap. Riasan wajahnya berkilau, karya seni. Kunci utama malam ini. ───※ ·❆· ※─── Pelan-pelan, kulangkahkan kakiku menuju ruang tunggu sebelum aula bawah tanah. Plafon dihiasi lukisan bergaya Renaisans, dan dibawah gambar para manusia berkulit kelewat pucat di langit-langit, dua sosok pria yang berwajah senada berdiri. Pria yang lebih pendek pasti Dexter. Di pojok ruangan, tv masih memberitakan Earl of Suffolk. Kali ini, pernyataan keluarga, dan kemudian wawancara sesama tokoh British National Treasure. Namun bukan itu yang jadi fokusku sekarang. Sampai aku berhenti di samping Louis, wajah kagum Dexter tidak berubah-ubah juga. "Apakah dia–" "Yang baru? Ya," jawab Louis sambil mengusap ujung bibirku dengan jarinya. "Sempurna." Oke, sekarang wajahku jadi semerah stroberi. Tapi mendadak, kurasakan aura tidak enak yang mendekat. Dexter, dengan mulutnya yang setengah terbuka, memanggilku, "hei manis. Kau ... lumayan sekali." Mungkin itu pujian, namun kata 'lumayan' justru mengingatkanku pada ayah, membuat hatiku terasa dipukul. Sehingga aku beringsut mundur, namun Louis segera membentangkan tangannya. "Dex, jangan sekarang." "Oh, Louie, c'mon! Kau tidak pernah bilang kalau simpananmu sebagus ini." Adakah tong sampah terdekat? dengan senang hati akan kulayangkan ke wajah genit Dexter. Sekarang. "Yep. Bahkan faktanya, yang ini terlalu bagus untuk kau rusak. Jadi kusarankan untuk menjauhkan tanganmu dari barangku, kak," ucap Louis dengan nada sarkastik. Apakah wajahku tadi stroberi? Well, sekarang, wajahku adalah tomat yang kelewat matang. Tapi, ah, aku hanya dianggap seperti barang. Lupakan saja. Dexter lanjut tergelak. "Berapa harganya saat kau beli, hah? Akan kuganti 5 kali lipat. Bahkan menghitung fakta kalau dia sudah tidak ... perawan." dia menyeringai, sekilas paras Louis tercermin di wajahnya. "Pasti kau sangat menikmatinya, ya? Nah, aku ingin memakainya. Kubayar tujuh kali lipat?" "Tidak." "Delapan kali lipat?" "Tidak." "Sembilan kali lipa—" "Écoute oui," geram Louis singkat, "j'ai pas le temps." Pria itu menatap Dexter tajam, dan wajahnyasangat dekat seakan-akan dia ingin mencium pipinya. Hening dan canggung dadakan melanda. Namun yang datang dari Dexter, hanyalah sebuah senyum. "Ça m'est égal. One time, that's all I ask. Sepuluh kali lipat?" Louis menarik napas, kelihatan sekali kalau kesabarannya sudah habis. Tapi entah kenapa Dexter masih lanjut dengan senyum sumringah. "Tidak," ujarnya final. Namun kemudian, terdengar suara klik. Aku mengenalinya. Itu suara pistol Louis. Asalnya dari kantong celananya. "Ah," keluh Dexter dengan nada yang dibuat-buat, "baiklah. Sampai ketemu di luar." Louis tidak menghiraukan lagi saat kakaknya pergi. Dia mematikan tv, dan suara-suara riuh dari London pun pergi. Sepertinya dia lelah, karena kemudian dia membuang napas kasar. Wajahnya makin tampan jika terlihat dari samping. Membuat aku menatapnya lamat-lamat. Dari percakapan tadi dan perawakan mereka, ia adalah adik Dexter, tapi jelas-jelas berbeda. Rambut Dexter cokelat abu, Louis lebih terang. Dia juga lebih tinggi dan kekar. Namun tubuh itu tertutup sempurna di balik jas, dan aura mewah, entah kenapa, terpancar sekali dari sosoknya malam ini. Dan Louis, bisa kubilang, kaku. Suaranya jarang bernada bahkan. Sementara Dexter genit, bersikap seperti p****************g yang bisa kau temukan di bar, klub, atau apalah. Ew. "Bersikaplah dengan baik." Lamunanku terlalu larut, sampai-sampai aku tidak sadar jarinya menyelipkan rambut di telingaku. Wajahnya yang rupawan itu kini dekat sekali dengan mataku. Aku mengangguk. "Kau sangat cantik malam ini. Hati-hati jika ada yang menyentuhmu." Aku kembali mengangguk. "Bagus," ujarnya puas sambil menarik sesuatu dari kantungnya. Topeng masquerade hitam. Lampu-lampu neon, setruman listrik, teriakan para gadis— "AH!" Kilatan memori gelap menyengat kepalaku, membuatku terhuyung karena sakitnya. "Kau tidak apa-apa?" "Ya, ya," sergahku, "hanya sedikit pusing." Bayangan-bayangan itu belum hilang ... Ia mengangguk, dan pintu langsung terbuka. Mengungkap ruang bawah tanah, yang baru kuketahui keberadaannya hari ini. Saat kulangkahkan kaki, cahaya kuning dari lampu kristal berpendar di setiap sudut. ───※ ·❆· ※─── Pesta yang aneh. Maksudku, mengapa beberapa orang memakai topeng, dan yang lainnya tidak? Lalu kenapa beberapa dari mereka itu, mendekatiku, mengajakku bicara padahal lidahku jelas-jelas gagu? Apa menariknya diriku? Satu hal lagi, kemana Louis? Pria itu meninggalkanku sendiri di bawah tatapan para tamu yang membuatku tidak nyaman. Tapi tatapan bukan bagian terburuknya. Setelah beberapa lama, mereka mendekat. Dan sikap mereka tidak lebih baik dari Dexter. Menggodaku, mencubit pipiku. Bilang kalau aku manis, aku imut dan pemalu ketika aku berusaha menghindar dengan sopan. Pertanyaan mereka juga aneh. Halo, Ophelia, Phee, Phelia. Kau dirawat dengan baik, ya? Apakah Rochester tuanmu? Dari mana asalmu? Apakah kau bisa dipinjam? Berapa untuk satu sesi? Kalau benar umurmu enam belas ke bawah, akan kubayar mahal. Siapa dia? Ophelia. Barang baru. Benda baru. Peliharaan tersayang Louis. Louis yang mana? Kennedy. Ophelia. Rochester. Kennedy. Louis. Barang. Tuan. Baru. Bayar. Mahal— Hawanya sejuk di kamar mandi,memberiku sedikit kelegaan di d**a. Kutilik jendela, berharap semua tamu yang pergi itu terus berkurang, kurang, dan habis. Napasku terasa sangat sesak. Bau parfum dan makanan mewah rasanya lengket di seluruh badanku. Baru saja kuarahkan tanganku di bawah keran, ketika pintu mahogani berderit. Sosok hitam membuatku siaga dan berpaling, namun aroma saffron yang familier menyeruak. Tak lama, sosok itu menyapukan bibirnya padaku. "Louie ..." Dia mendekapku dalam aksi ciumannya, hingga pinggulku terhimpit keramik meja wastafel dengan keras. Karena tekanan, topengnya tersingkap ke atas, mengungkap sepasang matanya. "Louie ..." Mulutnya turun ke leherku. Lengannya mengarah ke bawah, dan jarinya menyusup– "Louie!" aku berseru sambil mendorong sosoknya, gemetar, berharap dia tak terpancing emosi. Syukurlah tidak. Dia hanya menaikkan alis. "Aku ingin bertanya sesuatu." "Tanyakan saja," jawabnya segera sambil mendekatiku lagi. Jemarinya mengurai rambutku helai demi helai, tertata rapi akibat semprotan hairspray penata rambut tadi. "Siapa ... Siapa Ophelia?" Mendengarnya, dia mendadak terdiam. Menatapku dengan tatapan seperti curiga. Lalu seperdetik, dia mengecup pipiku. Seperdetik kemudian, dia mengangkat pergelangan tangan kananku sambil menyusupkan tangannya lagi di bawah. Bisa kurasakan pupilku membulat. Karena di sana, terpatri tulisan bewarna hitam yang permanen Ophelia M. – L. R. K "Tunggu, sejak kapan–" "Kutuliskan itu tadi pagi, Phelia," panggil Louis sambil menekankan nama itu. Oh. Oh. Aku berusaha tenang, namun oh—air mataku kembali mendesak keluar seraya Louis menangkup dadaku dan menghimpitku ke dinding. Jadi aku dibeli, dipakai, dan sekarang dia memberiku nama panggilan? Segampang itukah harga diriku? pikirku sembari berjengit. Louis menyelinapkan tangannya di balik gaun, ke antara pahaku. "Tidak, tidak, hentikan." "Ada apa lagi?" Jelas ia terdengar terusik, saat mengadah dan mendapati wajahku yang mulai bernoda air mata. "Ini," kataku, sembari mengangkat tanganku yang ditato. "Apa maksudmu? Aku, aku–" Oh sial, suaraku mulai hilang. "Apakah aku anjingmu?" Aku bertanya dengan suaraku yang serak. Tapi benar kan? Apa bedanya aku dengan hewan peliharaan? Dibeli, dipakai, didandani, dipamerkan, dan diberi nama sesuka hati. Diperlakukan seenaknya tanpa hak. Sekalian aku jadi anjing saja. Kukira setelah semuanya, dia akan berubah. Tapi tidak. Tidak ada yang berubah. Mata laut itu kembali memincing, namun kemudian melemah, menghela napas panjang. "Dengar. Kau lihat, mereka yang di sana?" Louis berpaling, dan menunjuk dengan dagu. Nampak di balik jendela tamu-tamu yang saling bersulang, berdansa, dan bertepuk tangan. "Mereka rubah, Ophelia. Mereka semua ..." Louis mengangkat jarinya, dan membuatnya berputar seperti gerakan tata surya. "... egois dan kelewat tamak. Tak ada yang bisa menghentikan mereka, untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika kubiarkan kau keluar tanpa tanda itu," Louis menunjuk lenganku dengan telunjuknya, "dalam sekejap, kau akan raib karena dicuri. Aku jahat, tapi kau belum lihat bagaimana mereka ... begitulah." Kalimat demi kalimat itu seperti mengguyurku dengan es. Dan sebagaimana orang yang habis diguyur es, aku lemas. "Mengerti?" Louis kembali melingkari pinggangku. "Mengerti." Suaraku lemah sekali, seperti suara orang sakit. Louis kembali menyelipkan tangannya. Menit-menit berlalu. Ciuman. Gigitan di leher. Dalamanku disampingkannya, dan dia memasukiku. Kepenuhan itu selalu mengaburkan semua. Di tengah kamar mandi yang dingin, aku bersemayam dalam hawanya yang panas. Dari balik punggungnya, aku menatap mereka. Orang-orang itu, berbaju mewah dan bertopeng konyol, kembali bersulang. sembari tubuhku. diguncang, terus dan terus. Aku mengatur napas, sementara mataku tidak lepas dari salah satu sosok di lukisan plafon. Dengan paha yang masih gemetar dan rambut yang kusut, kusandarkan diriku pada dinding aula. Tamu terakhir baru saja pergi setelah berbincang panjang dengan Louis. "Perlu kursi?" ujar sosok yang mendadak ada di samping. Aku menoleh, dan oh, Dexter. Dia tersenyum sembari menyodorkan kursi. "Terima kasih," jawabku singkat dan segera duduk. Meremas gaun merah berakar emas dengan pikiran yang masih melayang. Tak membuang waktu, Dexter menarik satu kursi lagi, dan duduk di samping. "Perlu tisu?" ujarnya, menjulurkan sekotak tisu. Aku mengangguk sopan, dan meraih beberapa lembar. Mengelap keringat di dahiku. Terakhir, dia berujar dengan nada ramah, dan mengulurkan tangannya yang berurat. "It's Ophelia, innit?" Nama itu. Kupandang tangannya dengan sayu saat mendengar nama itu. Aku tidak bisa apa-apa. "Ya." Memang tidak bisa. "Dexter Kennedy," balasnya sambil memperlihatkan giginya yang runcing. "Itu kali pertama aku mendengarmu bicara." Lalu dia meregangkan badannya. "Bagaimana pestanya?" Menakutkan, sama sepertimu. "Bagus. Meriah." "Bagaimana dengan Louis?" Maksudmu? "Ah, jangan berpura-pura tidak tahu. Seks dengannya, bagaimana? Is he really that great?" Aku terdiam. "Jangan pura-pura polos. Kalian pasti bercinta lebih sering dari kelinci. Ceritakan saja sedikit." Sekarang aku paham kenapa Louis tadi bertingkah seperti ingin meninju Dexter mentah-mentah. Aku juga tak tahan sekarang. Menyeretnya ke perapian di pojok ruangan, lalu membakarnya hidup-hidup. "Maaf, aku tak bisa menjawabnya." "Oh, betul. Kau tipe pemalu. Ya sudahlah, mari bicarakan hal lain." "Rencana Louis berjalan lancar. Harus kuakui, ide kalian boleh juga. Aku saja tidak kepikiran." Rentetan kata demi kata terus meluncur dari mulutnya, tidak berhenti seperti kereta. "M-maksudmu?" Sejenak, Dex terdiam. Rautnya berubah kaku, dan dia mengangkat alis—mirip Louie—dan bertanya. "Kau tidak tahu? Lil' Louie tidak memberitahumu?" Aku menggeleng. "Dan kau tidak bertanya?" Kembali menggeleng. "Astaga, manis." Pria itu meluruskan badannya di kursi, menatapku keheranan "Kau tidak curiga sama sekali, bahwa sebuah pesta justru diadakan di sini—belantara alam liar—dan bukan di Edinburgh?" "Di sini Skotlandia?" Aku sangat kaget, rasanya seperti lambung jatuh ke perutku. Jauh sekali! "Wait-wait, no." Dexter memutar kursinya hingga seratus persen menghadapku. "Kau tidak mengenaliku? Dari media atau tv, mungkin?" Aku menggeleng, kini dengan mulut terganga. "Uh, setidaknya, apa kau tahu Louis siapa? Tahu yang dia kerjakan?" Tidak tahu. Nol besar. Sama sekali. Perutku rasanya kagok. "Diam berarti ya," tukas Dexter dengan senyumnya yang kembali. "Astaga, anak itu memang b******k. Coba dari awal dia mengirimkanmu kepadaku saja," Dia berdiri, membenarkan kancing jasnya. "Sudah kalau begitu. Aku jadi ingin bicara dengannya." "Tunggu, Sir, bolehkan aku bertanya sesuatu?" Dex menoleh setelah kucegat, namun kembali berpaling. "Apa?" "Kalau begitu, apa yang Louis lakukan?" Pesta ini rencana? Lantas, rencana apa? Memandangku dengan senyum, Dexter lantas terkekeh. "Em, setelah kupikir-pikir, tidak. Tanyakan sendiri pada Louie-mu. Namun ..." dia mendekati wajahku sejenak " ... kau tidak akan suka, jika tahu yang sebenarnya." Berbalik untuk yang terakhir kali, Dexter pun mengucapkan selamat tinggal. "Aku sangat menikmati percakapan kita, Nona Ophelia yang manis." Dan di ujung kalimat itu, dia berkedip. ****** part 2 langsung apdet
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD