20

748 Words
Selamat membaca Entah sudah berapa kali Retha membujuk Dave agar bocah itu mau makan. Ini semua akibat ulah Samudra, yang terus-terusan menggoda Dave dengan bertanya di mana Adiknya berada. Retha menghela nafasnya, ia sudah kehabisan akal. Sudah dua hari Dave merajuk, bahkan jika biasanya sebatang coklat mampu membujuknya, kini semua itu sia-sia. Bahkan Farrel sudah membeli salah satu toko permen yang cukup terkenal, hanya untuk membuat Dave senang. Namun, bocah itu tetap merajuk, dan akan terus begitu sampai yang ia inginkan tercapai.  "Dave, ayolah ..." rayu Retha yang telah kehabisan akal, "kau bisa sakit jika terus menolak untuk makan, Nak." Dave menggelengkan kepalanya, "Tidak." "Katakan pada Ibu, apa hal yang bisa membuatmu mau makan?" "Apa Ibu akan memberikannya?"  "Tentu saja, Ibu akan memberikan apapun untukmu." "Baiklah, aku ingin Adik. Adik perempuan yang cantik." "Dave ... " Retha menghela nafasnya, "mendapatkan seorang Adik iti tidak mudah. Kau harus menunggu dulu selama sembilan bulan, baru kau akan mendapatkannya." "Tapi, uncle Sam-" "Berhenti percaya pada Uncle Sam, okay? Dia hanya menggodamu, itu tidak benar, kau harus bersabar jika kau menginginkan seorang adik," Retha mengelus lembut pipi Dave, "kau bisa berlatih menjadi seorang Kakak yang baik, sambil menunggu kehadiran adikmu. Okey?" "Bagaimana caranya?" "Kau harus melindungi adikmu, kau harus menjauhkannya dari semua hal yang akan berdampak buruk padanya." *** 9 bulan kemudian Pernahkah kalian merasakan sebuah ketakutan yang teramat dalam? Saat kalian tahu, orang yang kalian sayangi dan cintai sedang berada di ambang kematian. Apa yang akan lakukan? Apa yang akan kalian rasakan?  Mungkin salah satu jawaban kalian ada yang sama dengan Farrel. Pria itu tidak bisa menahan ketakutannya, kebahagiannya, dan kecemasannya yang bersatu menjadi satu. Bagaimana tidak? Saat ini, istrinya sedang berada di ambang kematian, berjuang untuk melahirkan anak kedua mereka. Mungkin lebay, tapi ini adalah kali pertama Farrel menghadapi sebuah persalinan. Ralat, menanti sebuah persalinan. "Farrel, tenanglah. Dia akan baik-baik saja," suara berat Samudra membuat Farrel menoleh. "Bagaimana aku bisa tenang, Sam. Kau tahu tidak, melahirkan itu mempertaruhkan nyawa!" "Iya, aku tahu. Tapi dengan panik dan berjalan mondar-mandir begini, itu tidak akan membantu. Lebih baik kau diam dan berpikir positif, aku bahkan tidak sepanik ini saat Vale melahirkan Bara. Lagipula, ini adalah persalinannya yang kedua." "Tetap saja aku tidak bisa tenang, Sam." "Mana seorang Farrel yang tidak memiliki rasa takut?"  "Tuan Farrel," panggil seorang Dokter yang baru saja keluar dari kamar tempat Re bersalin. Farrel segera mendatangi Dokter itu, "Bagaimana keadaan Istriku?" "Ibu dan Anaknya sehat. Selamat, Putrimu sangat cantik," lanjut Dokter itu yang membuat Farrel tersenyum sempurna. "Bisa aku melihat keadaan mereka?"  "Tentu saja," Dokter itu memberi ruang agar Farrel dapat masuk. Tubuh Farrel bergetar, dalam hidupnya, untuk kedua kalinya ia merasakan ketakutan yang luar biasa. Yang pertama, saat kondisi Re yang tidak kunjung membaik, dan yang kedua saat ini, saat-saat di mana Re mempertaruhkan nyawanya. "Dia cantik," gumam Re seraya menatap bayi mungil di pelukannya. "Putri kecil yang cantik," tambah Farrel, membuat Re mendongakkan kepalanya. "Kau tahu, aku sudah memiliki nama untuknya." "Siapa?" "Cleopatra Titania Wdyatmaja," jawab Re seraya menatap lembut ke arah bayinya. "Artinya?" "Cleopatra itu Ratu Mesir kuno, seorang wanita yang cerdas dan bijak, Titania itu artinya raksasa dan aku berharap ia bisa jadi gadis yang besar, dan Wdyatmaja adalah nama dari Ayahnya. Jadi, Cleopatra Titania Wdyatmaja berarti Ratu cerdas yang besar, besar kejayaannya." "Bagus sekali," Farrel tersenyum. "Dan, kita memanggilnya?" "Clay." "Aku mencintai kalian berdua," Farrel mencium kening Re dan Clay bergantian. "Ayah, Ibu!" pekik Dave yang baru saja tiba dengan Valerie. "Astaga, Adikku sudah lahir? Astaga, dia kecil sekali!" "Tentu saja, Dave. Nanti dia juga akan besar, seperti dirimu," sahut Farrel. "Kita memanggilnya apa, Ayah?" tanya Dave seraya menatap Farrel dengan matanya yang membulat. "Clay," sahut Re. "Clay?" Dave menaikkan sebelah alisnya, "itu terdengar seperti sebuah mainan ... " "Dave ... " panggil Farrel. "Nama panjangnya Cleopatra." "Oh. Kalau begitu, aku ingin memanggilnya Barbie saja. Dia cantik, seperti Barbie. Boleh 'kan, Ayah?" tanya Dave seraya menatap Farrel penuh harap. "Tentu saja boleh, kau 'kan Kakaknya, kau harus menjaganya. Jangan biarkan ada yang menyakitinya," Farrel mengacak rambut Dave. "Tentu saja, Ayah. Ingatlah janjiku, tidak akan ada yang bisa membuat Adikku menangis, kecuali menangis bahagia." Farrel menatap keluarga kecilnya yang telah utuh. Ia memiliki seorang istri yang sangat ia cintai, dan juga dua pasang anak yang sangat menggemaskan. Kehidupan Farrel sudah lengkap. Sherly, Charles, mereka hanya batu kerikil kecil dari apa yang telah Farrel jalani selama ini. Tidak ada sebuah Happy Ending, karena Ending sesungguhnya adalah kematian, dan tidak ada yang membahagiakan dari sebuah kematian. -TAMAT-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD