bc

b****y Fate of The King

book_age12+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
family
fated
dominant
mxb
serious
mystery
magical world
first love
superpower
like
intro-logo
Blurb

Ouran dan Ourin adalah adik dan kakak yang berbeda ibu, yang satu adalah seorang raja elf dingin dan k***m, yang satu lagi adalah halfblood iblis yang dipenjara selama bertahun-tahun karena dosa ibunya. Suatu hari, seorang gadis yang tak mau berbicara dimasukkan ke dalam sel yang sama dengan Ourin, gadis itu awalnya ketakutan dengan sosok iblis Ourin, tetapi ketika melihat wujud elfnya, ia menyadari bahwa Ourin adalah pria yang pernah menolongnya saat mereka kecil dahulu, atau itu adalah Ouran? Ikatan takdir mereka dipertemukan, kemudian dipermainkan ketika Lucifer datang dan ingin mengambil Ourin dan mendeklarasikan perang, Arran yang diculik pun memperkeruh semuanya.

chap-preview
Free preview
BAB I: Raja Sahraverta Ketujuh
Seekor elang terbang tinggi membelah awan nan cerah, diikuti embusan angin hingga suara tajamnya ikut mengudara. Mengepakkan sayap semakin kuat, dan kemudian bertengger sambil mengetuk-ngetukan paruh ke jendela pos penjaga yang bertugas mengantarkan pesan. Seorang hamba berlari-lari, memberitahukan kepada pemimpinnya tentang pesan yang baru saja tiba, hingga sampailah sepucuk surat itu ke tangan sang Penasihat Raja Sahraverta ketujuh. Lorong demi lorong dilewati pria paruh baya dengan membawa sebuah baki berbantalan merah indah, di atasnya tertata apik sebuah surat berbentuk tabung kecil yang berhiaskan serbuk emas.            Jalannya si Penasihat sangat gagah, beberapa pengawal yang melihatnya melangkah di lorong lantas menundukkan kepala hormat.            Langit-langit lorong dihiasi lampu kristal dan bergagang perak, Jhonatan Ferus kemudian tersenyum kepada pengawal yang berjaga di depan pintu berlambang elang putih dengan lingkarang biru berpentagon di tengahnya. Meminta agar pengawal meneriaki kehadirannya, menunggu beberapa saat hingga sang penguasa menganggukkan kepala kepada penjaga yang ada di dalam dan menyerukan agar pintu dibuka.            Wajah rupawan nan dingin terpampang angkuh, mata perak indah menatap sang penasihat yang berjalan mendekati, rambut pirang keperakan nyaris sebahu tertata rapi, dan tubuh yang dibalut dengan kulit nan pucat membentuk kesempurnaan abadi seorang raja muda yang berkuasa nyaris sembilan tahun di Kerajaan Ferifatyn.            Duduk di singgasana kekuasaannya, Ouran Liam Sahraverta pun mengangguk dan berbicara ketika Jhonatan menyerahkan sepucuk surat dengan menunduk hormat.            Ouran menatap lambang dari Kerajaan Guenestin—kerajaan Ras Manusia— tertera menyegel pembungkus surat. Menghela napas, ia kemudian mengambil dan membaca sekilas, kemudian beberapa saat setelahnya menaruh kembali surat itu ke atas baki.            “Kau tak perlu membawakan surat dari Kerajaan Guenestin lagi, Jhon. Aku tak tertarik bekerjasama dengan orang-orang serakah itu, Inkarta bahkan berniat menggunakan putrinya untuk bisa bersatu dengan Ferifatyn.”            Laki-laki paruh baya di depan sang raja mengangguk patuh, kemudian berbicara. “Yang Mulia, tetapi setidaknya Anda membaca dengan benar terlebih dahulu isi dari pesan tersebut. Mungkin saja Raja Inkarta akan mem―“ bibir Jhonatan tak mengucapkan kata lagi ketika ia mendengar Raja Saharaverta itu memotong perkataannya. “Tak ada yang harus dibicarakan lagi tentang Guenestin, Jhon.” Mata perak Ouran menatap Jhonatan dingin. Laki-laki berusia sembilan belas tahun itu kemudian melanjutkan perkataan, “Daripada itu, panggil Jendral Martin ke sini, Jhon.” Suaranya yang berat membuat suasana tegang tercipta. Mengangguk patuh, Jhonatan pun menunduk hormat dan melakukan apa yang diperintahkan sang Raja. Mereka memang sedang waspada karena wilayah Utara perbatasan lagi-lagi diserang, kerajaan para penyihir seolah tak pernah kapok untuk berhadapan dengan Ferifatyn. Padahal Kerajaan Delaverna kalah berkali-kali karena kebodohan mereka. Di atas singgasananya, Ouran tersenyum sinis. Ia menahan diri untuk tak menghancurkan kerajaan penyihir karena merasa semua itu tidaklah perlu, tanpa tanah Delaverna, Kerajaan Ferifatyn selalu makmur dan jaya, juga menjadi kerajaan terkuat di tanah Kuntara. “Bahkan para iblis terusir pun tak akan bisa menyerang kerajaan ini karena anugerah yang diberikan kepada para Raja.” Ouran memiringkan kepalanya, bersandar di atas punggung tangan yang menopang dahi kiri. Dari ketujuh kerajaan, beberapa ada yang ingin m******t Ouran atau ingin merampas tanahnya. Demonshire pun melakukan hal yang sama, mencoba untuk menyerang, tetapi hal itu tidaklah semudah yang mereka kira, Kerajaan Ferifatyn memiliki kekuatan sihir yang melebihi para penyihir yang hidup di Delaverna. Walau hanya Elf yang bisa melakukannya, dan jumlah Elf di Ferifatyn tak sebanyak rakyat manusia yang hidup di tanah ini, tetap saja semua hal itu tak bisa dianggap remeh.  Apalagi nyatanya selain api hitam neraka yang bisa membakar para iblis terusir, kekuatan Elf yang hidup di tanah Raja Sahraverta pun sangat mengerikan. Mereka memiliki Serbuk Perak yang berasal dari tubuh Raja Sahraverta, yang bisa melukai apa pun bahkan iblis. Tak akan dapat disembuhkan jika Serbuk Perak yang bisa berubah menjadi s*****a itu terkena tubuh mereka. Bahkan untuk iblis sekelas Raja Lucifer dan para keturunan langsung Hades dari neraka. Ketukan pintu terdengar, Ouran menggerakkan tangannya sebagai perintah agar sang pengawal membuka pintu, di ruangan ini mereka akan membicarakan tentang wilayah Utara yang mendapatkan serangan dari orang-orang yang sangat tidak tahu diri itu. “Suruh pasukan turun, dan habisi mereka dengan menyisakan kepala, lalu kirim kepala itu sebagai hadiah untuk Ratu Laverna Janequid. Ini pasti menyenangkan, bukan?” Sang jendral mengangguk patuh. Dia adalah Elf yang akan mengurusi perbatasan kerajaan. Martin tanpa banyak berbicara memohon diri untuk mempersiapkan pasukannya. Setiap prajurit kebanyakan adalah manusia terlatih, dan mereka dipimpin oleh jendral dan kapten Elf yang mendapat kekuatan Serbuk Perak dari Raja Ouran. *** Kerajaan yang sangat makmur dan selalu jaya, di sebuat pusat desa, banyak dari rakyat manusia berhilir-mudik untuk melakukan aktivitas, berniaga, bekerja di rumah makan, toko roti, toko tekstil, membeli persediaan pangan atau mungkin seperti seorang gadis yang bertelanjang kaki dan sedang berlari sambil menatap takut-takut kepada masyarakat yang berpapasan dengannya. Rambut kemerahan ikal, bibir kecil yang cenderung agak pucat, juga mata keabuan indah, dibalut dengan kulit nyaris pucat dan kemerahan di bagian pipi. Gadis itu menghindar, jika tubuhnya akan bersingguhan dengan para lelaki maupun perempuan. Tatapan orang-orang sangat sinis kepadanya, bagaimana tidak, pakaiannya sangat lusuh dan berdebu, pun wajahnya, sangat mirip dengan b***k-b***k. Memperlambat langkah kakinya, ia mengikuti majikan yang duduk di dalam kereta kuda.  “Cepatlah, Arran!” terdengar teriakan dari sang Kusir. Laki-laki cukup tua yang sedang mengendalikan laju kuda. Yang dipanggil namanya dengan teriakan pun melangkahkan kaki lebih laju. Kalung yang terlihat cukup tua bergoyang-goyang di leher. Arran Cobelt, mengatur napasnya ketika kereta kuda berhenti di sebuah toko penjualan persediaan pangan. Sang majikan melangkah masuk, bertemu dengan si pemilik toko, sementara Arran di luar menungu di belakang kereta kuda dalam diam, hingga suara majikan nanti terdengar saat meneriaki namanya. Ia mengatur napas, kemudian menatap sekeliling sesaat, mengalihkan wajah ketika beberapa orang memandangi sosoknya. Dan beberapa saat kemudian ketika namanya dipanggil, Arran pun melangkah masuk, memandang isi toko yang sudah sering ia lihat jika sang Manjikan membawanya ke sini. “Bawa karung-karung ini ke kereta.” Tanpa mengangguk atau menjawab seruan sang majikan, Arran langsung menyeret sekarung demi sekarung gandum. Walau agak lama, tetepi hal itu tak dihiraukan oleh Jim Herridas yang sekarang tengah asik berbincang dengan si pemilik toko. Tubuh gadis kurus dan kecil, tingginya hanya 158 cm, dengan berat yang kadang tidak sampai empat puluh kilo. Arran menarik napas, hampir lima belas menit kemudian dirinya baru menyelesaikan pekerajaan ini. Itu pun karena sang kuris yang untungnya datang membantu, menaikkan karung-karung itu ke kereta kuda. Mengelap keringat yang mengalir, tiba-tiba Arran merasa sangat haus dan lapar. Tatapannya memandang sebuah gerai penjual roti yang baru saja matang dari pemanggang. Terlihat sangat lezat dan hangat, bukan. Saat sedang memandangi hidangan itu, tiba-tiba saja Arran merasakan tolakan kuat nan tajam yang berasal dari tongkat Jim Herridas. Tubuhnya terjatuh ke tanah, menyebabkan bagian siku terluka karena mempertahankan diri agar kepalanya jangan sampai terantuk bebatuan yang ada di jalan. Arran meringis, tak berani menatap Jim. “Bangun, dan langkahkan kakimu. Jika kau belum sampai saat kereta kuda telah tiba di rumah. Maka aku tak akan memberimu makan seharian ini.” Jim menatap jijik tubuh kumuh Arran, kemudian masuk ke kereta kuda sembari mendengkus kesal. Langit mulai menggelap, Arran baru saja tiba di rumah keluarga Herridas, kakinya pincang karena berkali-kali terkena batu, ia tak pernah memakai alas kaki, membuat telapaknya sekarang amat perih. Tidak, untuk kali ini ia tidak akan mendapatkan makanan. Padahal perutnya sudah sangat sakit karena tak diisi juga. Terdiam cukup lama memandangi rumah besar bertingkat dua, Arran menggerakkan kakinya, menuju tempat yang sudah tiga tahun terakhir menjadi rumah untuknya berlindung dari cuaca—sebuah kandang kuda, bersama kuda-kuda peliharaan. Di bilik kosong yang terdapat jerami dan selimut, juga tungku kecil yang selalu digunakannya untuk menghangatkan diri atau memasak hasil panen yang sudah tak memiliki nilai jual, di sanalah ia mengistirahatkan diri. Meski langit sudah kehilangan cahaya, Arran kembali menggerakkan kaki. Ke ladang kentang untuk memungut beberapa butir yang bisa dipanggang nanti di tungku. Setidaknya bisa untuk mengisi perutnya yang sekarang kelaparan minta ampun. Mata keabuan kini menyisir lahan yang telah selesai masa panen. Dirinya bejongkong, dan mengorek-ngorek tanah dengan kesepuluh jari, mencoba mencari kentang-kentang yang tesisa di dalam tanah. Beberapa kali mencoba, Arran menghela napasnya karena tak mendapatkan hasil. Namun, memikirkan tidak akan ada makanan nanti, dirinya pun berpindah ke lahan yang satunya lagi. Walau malam mulai datang, Arran masih setia berjongkok dan mengorek tanah, merasakan sesuatu, mata keabuannya pun mulai berbinar karena menemukan sebuah kentang cukup besar. Segenggaman telapak tangannya. Ia tersenyum, dan mencari lagi, hingga menjumpai kembali beberapa. Sekarang, Arran berjalan cepat menuju ke kandang di mana ia akan mengistirahatkan diri, ke tempat penampungan air, ia mengambil ember dan kemudian mencuci kentang dan tangannya yang kotor karena tanah. Berada di biliknya, Arran menghidupkan api, dan mulai menaruh kentang-kentang ketika kayu di dalam tungku sederhana itu telah berubah menjadi arang. Menunggu beberapa saat hingga kentang sudah cukup matang untuk di santap. “Arran! Arran!” Kepala gadis yang namanya baru saja diteriaki bocah laki-laki berusia sepuluh tahun pun terangkat, ia menghentikan makannya dan menatap Charlie yang membuka pintu kandang kuda. Anak laki-laki yang baru saja berulang tahun itu melangkah mendekati si gadis berambut merah, di tangannya membawakan sebuah roti yang dibungkus dengan kain serbet kotak-kotak hijau. “Ini, aku menyisakan roti untukmu. Makanlah, Arran.” Charlie menunjukkan gigi serinya yang tanggal satu ketika ia tersenyum lebar, membuat Arran juga menyambutnya dengan senyuman yang sama. Namun, Arran tak membalas perkataan Charlie. Pemuda cilik itu menatap Arran yang sudah dianggapnya seperti kakak dengan raut khawatir. “Kenapa Arran selalu tak mau berbicara? Apa Arran tak suka rotinya?” tanya Charlie, ia berwajah murung dan menundukkan kepala, menatap Arran yang masih duduk di dekat tungku kecil sambil menghangatkan diri. Jari-jari gadis berambut ikal kemerahan itu gemetaran karena udara dingin. “Ah?” ia tersentak kecil, mendengar perkataan Charlie tentu Arran pun menjadi sedih. Namun, kemudian ia mengembangkan senyum sambil memakan roti pemberian sang Pemuda cilik. “Kau suka?” Arran mengangguk, dan tersenyum lagi. Mengehela napas lega, kemudian Charlie menatap tangan Arran yang gemetaran, melepaskan syal dan sarung tangannya, ia pun memberikan semua itu kepada Arran untuk menghangatkan tubuh gadis yang lebih tua sekitar nyaris tujuh tahun dari dirinya. Charlie berlutut, dan mengalungkan leher Arran dengan syal biru miliknya, juga memakaikan sarung tangan kepada Arran yang jari-jarinya memang kecil dan kurus. “Aku benar-benar minta maaf atas perlakuan mereka kepadamu, kalau aku sudah besar, aku tidak akan membiarkanmu seperti ini, Arran.” Mata Arran berkaca-kaca, dan tiba-tiba lampu minyak di kandang yang bergelantungan bergoyang-goyang, kuda-kuda gelisah dan Arran kebingungan bersama dengan Charlie. Beberapa saat setelahnya, Arran menarik napas dan tersenyum kembali, suasana pun seperti sedia kala, kuda-kuda mulai tenang, begitu pula dengan Arran dan Charlie. Gerakan tangan Arran yang menepuk-nepuk pundak Charlie dua kali, menandakan kalau dia menyuruh sang pemuda cilik untuk kembali ke rumah sebelum ketahuan keluarganya. “Kalau begitu sampai bertemu besok. Apa kau masih kedinginan?” gelengan kepala menjadi jawaban atas pertanyaan Charlie, lelaki cilik itu menganggukkan kepala, dan berlari menuju rumah sebelum kepergiannya diketahui oleh salah satu anggota keluarga. Tatapan Arran yang semula memperhatikan punggung Charlie yang semakin menjauh, kini beralih ke sarung tangan dan syal biru. Ia merasa senang karena masih ada yang sudi untuk berbaik hati padanya dan memperhatikan keadaannya. Menjatuhkan tubuh ke atas jerami, Arran pun mulai menggulung dirinya dengan selimut usang sebagai penghangat dari cuaca yang dingin, esok hari akan berganti, dan ia akan bertahan sekuat tenaga demi hidup yang lebih baik. Ya, suatu hari, mungkin saja ia akan terbebas dari tempat ini. *** Sebuah lorong gelap mengarah ke anak tangga, turun semakin dalam, dan bau apak mulai memasuki indra penciuman. Di dalam sebuah sel khusus, duduk diam seseorang di dalam kegelapan yang selalu sama, di sudut ruangan dan selalu merasa ini adalah dosa yang harus ia bayar, walau bukan perbuatannya. Sesosok mengerikan, dengan bola mata emas bersinar, tengah menatap indahnya bulan purnama.  Embusan napas terdengar, kuku-kukunya yang hitam dan runcing saling bergesekan ketika dirinya mengeratkan telapak tangan. Sementara itu, tangan yang satunya lagi sedang menyentuh bekas luka yang seharusnya sudah disembuhkan, kini timbul kembali. Luka yang menggores sebelah matanya, membuat sebirat cacat di tatapan kiri sang lelaki. Ourin Carlos Sahraverta menghela napas, keputusan untuk berduel dengan Ouran yang merupakan seorang pemimpin dari Kerajaan Ferifatyn adalah tindakan yang merugikannya. Dan sekarang, ia berada di tempat ini karena kekalahan, entah sampai kapan. Mungkin bertahun-tahun nanti pun akan tetap sama. . . . . Bersambung

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.3K
bc

TERNODA

read
200.2K
bc

Rise from the Darkness

read
9.6K
bc

Kali kedua

read
219.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook