BAB II: Serangan Membabi-buta

2106 Words
Elang melolong menatap rembulan yang terlihat penuh di angkasa, seolah telah merayakan kehadiran purnama. Sunyi senyap menghampiri, di balik orang-orang yang terlelap dengan mimpi indah, beberapa dari mereka tak bisa memejamkan kelopak mata. Seperti keadaan seorang gadis yang berada di bilik kecilnya di kandang kuda. Saat itu Arran menatap angkasa, teringat kejadian di masa lampau, tentang ia yang melindungi keluarga Herridas. Padahal saat itu ia telah diusir karena tuduhan bahwa ia yang menyababkan putri sulung keluarga ini terluka, tetapi karena penyihir tiba-tiba datang ke tempat keluarga majikan yang tinggal di desa dan letaknya dekat dengan perbatasan, ia pun memutuskan kembali untuk membantu mereka. Ia meneteskan air mata karena takut dan khawatir karena di antara mereka ada Charlie, kemudian saat itu lantas semua menjadi kacau-balau. Penyihir yang akan menyerang dengan pedang dan kekuatan sihir terhempas, seperti ada gelombang kuat tak kasat mata. Majikan dan keluarga tertolong berkat datangnya Arran yang entah bagaimana bisa mengendalikan semua situasi. Para penyihir tertusuk pedang dan tombak mereka sendiri, kilatan biru atau hijau yang merupakan mantra pun berbalik menyerang sang empunya tubuh. Sejak saat itu Arran diterima kembali di keluarga Herridas. Untuk mengantisipasi tidak terjadi sesuatu yang mengerikan dan menyebabkan Arran diusir lagi, maka Jim yang adalah sang kepala keluarga memutuskan untuk memindahkan Arran ke bilik kandang kuda yang kosong. Di sanalah Arran menghabiskan malamnya dan bersitirahat, dengan sebuah tumpukan jerami, selimut dan tungku kecil yang berfungsi untuk menghangatkan diri. Kandang kuda yang berada di dalam bangunan berbahan beton itu adalah rumah bagi Arran selama tiga tahun terakhir ini. Dalama batin bertanya-tanya, sembari menutup kelopak mata, apa yang salah dari dirinya? Kenapa kadang sesuatu yang ganjil terjadi, musibah buruk kadang kala ada karenanya? Bersyukur saat itu Herridas tidak membunuhnya, hanya mengusir Arran karena dianggap berbahaya. *** Sekumpulan kayu bakar sudah berhasil Arran ikat semua, kini gadis berhelai kemerahan ikal itu berpikir bagaimana cara agar dirinya bisa membawa kayu-kayu ini sampai ke rumah. Ia lalu menghela napas dan mencoba untuk bisa lebih kuat agar dapat mengangkat kayu-kayu bakar tersebut. Satu hentakan terakhir, akhirnya Arran bisa memeluk kayu-kayu di d**a, membawanya perlahan-lahan agar tak terjatuh. Mata yang keabuan menatap jalan setapak hutan, telinga yang peka mendengar bunyi sebuah seluring tertiup angin. Memperhatikan sekitar sejenak, Arran tak menemukan jua asal dari suara lembut itu hingga sampai ke pendengaran. Berjalan hati-hati, kaki tanpa alas itu melangkah ke sebuah pohon, meletakkan kayu bakar dan kembali mendekati asal suara. Ia menatap lamat, kini menemukan sesosok lelaki yang memainkan seluring, terhenti seketika ketika menyadari kehadirannya, kemudian menghilang. Membuat Arran terbelalak dan terduduk lemas karena rasa kejut yang menikam d**a. Tatapan tajam itu terasa masih membekas, walau hanya sepersekian detik ia menyaksikan. Dingin dan sekaligus menakutkan. Menggelengkan kepala, dan ingin segera pergi dari hutan tempatnya mencari kayu, Arran pun menggotong dan melangkah lebih cepat lagi. Suara napas yang terengah menandakan bahwa ia telah lelah, tetapi Arran tak mau peduli. Saat melewati gerebang rumah keluarga Herridas, Arran menatap situasi ganjil dan ramai yang membuatnya takut, sang kepala keluarga mendekati dan menampar pipinya sekeras mungkin hingga tubuh Arran terjatuh, gadis itu terdiam menatap Jim yang memelototi dengan murka. “Gadis ini, dia yang menyakiti elang milik Yang Mulia Sahraverta. Saya sudah memperingati, tetapi ia bersikeras ingin mengusir elang Yang Mulia dengan cara mencelakainya agar jera dan tak kembali lagi ke sini.” Masih tak mengerti, gadis yang sebentar lagi berusia tujuh belas tahun itu terdiam ketika mendengar tuduhan-tuduhan yang membabi-buta ditimpahkan kepadanya. Jim yang berjenggot dan kumis tebal, memelototi kembali dengan mata penuh ancaman seolah berkata untuk mengikuti saja apa yang diucapkannya tadi. Seseorang yang terlihat seperti pemimpin dari pasukan sang raja pun mendekat, dan menanyai hal yang sama tentang sebab terlukanya elang Yang Mulia. Dan gadis itu menangguk, walau ia tak mengerti kenapa hal yang tak dilakukannya harus ia yang menanggungjawabkan. Meninggalkan kediaman Herridas, Arran diseret dan dinaikkan ke dalam sel yang ditarik beberapa ekor kuda. Ia menatap banyak orang yang ingin menyaksikan kejadian yang cukup jarang terjadi, seorang gadis diikat dengan rantai untuk dipertemukan dengan Raja Ouran, agar bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya yang telah menyakiti elang setia Raja. Sang kepala keluarga menghela napasnya, ketika para utusan raja telah pergi meningalkan kediaman mereka dengan memabawa seseorang yang telah dilimpahkan kesalahan. Jim memijat pangkal hidung, berjalan cepat untuk masuk ke rumah, kemudian matanya menyisir ke dalam bagunan untuk mencari putri sulungnya yang berusia empat belas tahun dan sedang memdekam di dalam kamar untuk bersembunyi. “Alea! Alea!” garang suara Jim menggema di setiap sudut kediaman mereka. laki-laki berusia empat puluh dua tahun itu sedang naik darah atas perbuatan anak perempuannya yang kali ini kelewatan. Tanpa ampun menyiksa seekor elang yang terbang masuk ke dalam pekarangan dan sedang duduk bersama Rena si elang betina milik mereka. Parahnya, elang berbulu halus lebat keabuan dengan garis kebiruan di atas kepala adalah milik penguasa negeri ini. Entah bagaimana elang itu bisa sampai hingga ke pekarangan keluarga Herridas, kemungkinan peliharaan raja adalah hewan ajaib, seperti Phoniex dan Griffin. Maka dari itu, si elang bisa menunjukkan jalan di mana ia mendapatkan luka-luka tersebut. Di dalam benak, Jim masih bersyukur makhluk itu tak dibawa ke tempat ini dan menunjuk Alea. Gedoran pintu mengagetkan sang anak yang meringkuk di dalam ruangan bilik cukup besar. Alea yang rambutnya ikal cokelat kemerahan yang agak mirip rambut Arran, kini ketakutan karena murkanya sang ayah. Ia tak mau dihukum dan kena omelan atau yang paling parah, akan diasingkan ke rumah bibinya yang kumuh. Gadis itu tetap bergeming, menghalau rasa takut dengan menutup mata dan mulut dengan kedua telapak tangan. “Alea! Buka pintunya!” napas Jim mendesah kesal. Laki-laki itu pun menyuruh istrinya untuk mencari kunci cadangan, berpikir akan mengasingkan anak perempuannya ini ke tempat bibinya karena kelakuan yang tak bisa diatur lagi. *** Entah dibawa ke mana? Arran gemetar dan meringkuk di balik jeruji kayu yang dibawa oleh kereta kuda. Ia tak ingin menolehkan wajah ke kanan atau ke kiri, karena di jalanan ini orang-orang menatap seperti ia adalah tawanan yang paling berbahaya dan hina. Mengira ia seorang kriminal, tidak jarang lemparan batu dilayangkan. Arran tersentak, ia semakin meringkuk memeluk lutut, dan berusaha melindungi kepalanya. Berada di sel semakin lama, membuat jantungnya berdegub semakin kecang, ketika surya berada di ufuk barat, dan kemerahan telah mewarnai angkasa, Arran melihat sebuah istana yang selama ini hanya dapat ditangkap penglihatannya sedari jauh saja. Begitu pula dengan rakyat lainnya, tak ada yang pernah mengijakkan kaki ke dalam bagunan nan megah itu, kecuali orang-orang penting saja. Namun, sekarang Arran di bawa masuk. Menuju entah ke mana, tetapi rasa takutnya berubah menjadi keheranan saat ia malah diseret ke dalam ruangan yang terdapat singgasana sang raja. Ketika tepat beberapa meter di bawah singgasana, Arran dihempaskan hingga terduduk di lantai bertakhtakan marmer memesona. Rantai-rantai berbunyi nyaring ketika saling bergesekan menyentuh lantai, mata Arran perlahan menatap ke atas dan mendapati sosok lelaki agung sedang duduk berpangku tangan menatap dirinya. “Lancang sekali kau! Jangan berani-benari menatap langsung Yang Mulia.” Plas! Suara cambukan terdengar nyaring, bahu Arran robek beserta pakaiannya, sekali cambut saja membuat tubuhnya gemetaran karena kini kulitnya mengelupas dan teraliri darah. Perih. “Yang Mulia, seperti perintah yang telah Yang Mulia katakan, hamba membawa gadis ini dalam kondisi hidup.” Laki-laki yang diagungkan sebagai Raja, kemudian menegakkan tubuhnya. Menatap Arran sekali lagi dari ujung kepala hingga kaki. “Lepaskan rantainya.” Mutlak ucapannya, menatap pemimpin pasukan yang berada di samping Arran. Dengan cekatan, rantai-rantai yang membelenggu tubuh sang gadis pun bisa disingkirkan. Mendesah lega karena berat di tubuhnya berkurang drastis, sebelah tangan Arran kemudian menyentuh pundaknya yang berdarah karena cambukan tadi. Kepala berambut kemerahan menunduk, suara sang penguasa menyadarkan lamunan dan Arran tersentak kaget saat tongkat dengan kepala kuda itu menyentuh dagunya. Membuat wajahnya terdongak, Arran melihat wujud kesempurnaan dari seorang laki-laki, indah dan dihiasi mata perak yang begitu asing dalam kewajaran. Berkedip beberapa kali, Arran sadar sang raja menanyainya sesuatu. “Katakan, apa yang membuatmu menyakiti kesayanganku?” Arran tak menjawab, bibirnya kelu karena rasa takut yang merasuk begitu cepat saat ditatap mata perak nan dingin, wajah datar itu tanpa ekspresi ditambah dengan telinga lancip yang menandakan laki-laki ini bukanlah manusia. Tentu saja, Kerajaan Ferifatyn dipimpin oleh Elf sejak masa lampau terbentukkan wilayah ini. Ouran Liam Sahraverta mengerutkan alis saat dirasa sang gadis tak jua mau membuka celah bibirnya, malahan mata keabuan itu menatapnya lekat seolah ia adalah sosok yang belum pernah diketahui bahwa ada di negeri ini. Padahal wajah Ouran selalu dilukis dan ada di perpustakaan negeri, di buku-buku pohon keluaga Sahraverta sebagai informasi tentang raja-raja, di beberapa wilayah juga tedapat patungnya sebagai monumen, bertuliskan Raja Sahraverta Agung. Mencoba bersabar, tetapi tak juga mendapat penjelasan dari gadis yang dagunya masih terangkat karena tongkat Ouran, kemudian ia memanggil dayangnya. Ouran pun memberikan benda itu dan menaruh di atas baki berbantal marun. Kakinya melangkah dan memutari tubuh Arran, gadis itu dalam posisi berlutut, menundukkan kepala dan masih tak membuka bibir sedikit pun walau Ouran sudah bertanya beberapa kali. “Aku tak suka mengulang apa yang aku ucapkan.” Ouran kemudian berhenti dan berdiri tepat di hadapan sang gadis. “Cambuk dia.” Sang Raja pun berucap dingin. Matanya yang perak menatap rendah dan penuh cemooh terhadap gadis yang sekarang terlihat gemetar saat tali nan tajam itu menyentuh permukaan punggung. “Kalau kau tak menjelaskan juga, hukuman ini tak akan terhenti.” Bunyi cambukan demi cambukan nyaring terdengar, tetapi tak ada satu pun suara atau teriakan yang terdengar. Hanya samar-samar erangan tertahan yang seperti bisikan, membuat alis Ouran berkerut karena merasa janggal. Apakah gadis ini tak memiliki suara? Memicingkan mata, sang penguasa kembali mendekati, kemudian berjongkong dengan sebelah lutut yang menyentuh lantai. Satu tangan digerakkan dan menjambak helai kemerahan gadis yang punggunya sudah penuh dengan aliran darah. Seketika Arran merasa wajahnya terdongak paksa sekali lagi. Rasa sakit menjalar, rambutnya ditarik paska, pedih memenuhi kepala dan membuat Arran tersentak. “Jangan memancing emosiku, katakan apa yang menyebabkanmu menyakiti Sean-ku?” Kelopak Arran yang diawal terpejam, kini berkedip dan menyaksikan wajah Ouran dengan jarak teramat dekat. Wajah yang sudah menghiasi mimpi-mimpinya selama bertahun-tahun, wajah anak laki-laki yang ia rindukan. Dahulu kala pernah membantu Arran, di saat semua orang tidak mengacuhkan dan merasa jijik dengan kehadirannya yang kumal, anak laki-laki berhelai pirang pucat mendatangi dan membantu Arran yang masih berusia tujuh tahun. “O-urin,” bisik gadis itu dengan celah bibir yang terbuka sedikit, menatap lamat bola mata bak purnama yang bersinar dan tengah terbelalak. “Tu-an O-urin.” Lagi, bukan khayalannya semata, gadis di hadapannya ini menyebutkan nama orang yang sangat dibenci Ouran. Bagaimana bisa? Padahal tak ada khalayak umum yang mengetahui prihal Ourin selama ini, lalu bagaimana gadis berhelai kemerahan ikal ini bisa tahu? Tatapan mata terbebalak dan sorotnya semakin tajam menatap Arran, Ouran langsung menghempaskan tubuh gadis itu dengan kuat, hingga benturan cukup keras menghantam bahu kiri Arran. Tak cukup, Ouran kembali mendekati Arran, menegakkan tubuhnya dengan kasar dan mencengkeram rahang sang gadis dengan genggamannya. Wajah mereka kembali berhadapan. Kuku Ouran membuat bercak merah di wajah Arran. “Bagaimana bisa? Berani-beraninya kau menyebut namanya!” tak ada sahutan. Ouran mengerang marah. “KATAKAN!” Para pengawal terdiam dan tersentak takut, dayang-dayang merasa tubuh mereka membeku, begitu pula dengan pemimpin para prajurit yang membawa Arran ke singgasana sang raja. Suara Ouran menggema, pupil peraknya menatap wajah lemas gadis yang disiksa. “Tu-an O-urin.” Setelah lama terdiam, gadis itu berbisik lagi, tidak mengerti kenapa dia menyebutkan nama itu lagi. Maka dengan tendangan terakhir, Ouran mengakhiri p********n ini dengan kemurkaan yang tercetak jelas di wajah. “AKU ADALAH OURAN, BERENGSEK! Bawa dia ke sel makhluk terkutuk itu, biarkan dia hidup di sana sampai ajal menjemputnya!” Ouran menghela napas, menatap penuh amarah kepada gadis yang sekarang tengah diseret paksa untuk dibawa ke penjara bawah tanah. Ia kemudian mengambil handuk hangat dari dayang dan mengelap jari-jarinya yang kotor karena menyentuh gadis berambut kemerahan. Arran masih memandangnya dengan sorot mata tak tertebak, dan anehnya sekarang tak terlihat ketakutan seperti ketika gadis itu dihukum cambuk, hingga membuat Ouran kesal dan geram setengah mati. Mendecih, Ouran tersenyum sinis, ia memikirkan gadis itu mungkin saja akan senang ketika bertemu dengan orang yang disebut-sebutnya tadi. Dipenjara bersama makhluk terkutuk itu. Ketika ingin melangkah dan duduk kembali di singgasananya, tatapan mata perak Ouran menemukan sesuatu yang tergeletak di lantai. Sebuah kalung, kalung yang membuat ia teringat kembali dengan masa lalu. Membungkuk untuk mengambilnya, Ouran memperhatikan kalung itu dengan saksama, fisik yang terlihat tua dan lusuh, tetapi ia yakin ini adalah salah satu kenangannya yang berharga. Bagaimana bisa? Ouran menatap pintu yang telah menghilangkan gadis berambut kemerahan itu dari ruangannya. Ia mengerutkan alis, bertanda sedang memikirkan apakah mungkin kalung ini dibawa oleh gadis yang disiksanya tadi? “Bagaimana bisa kalung ini kembali ke sini?” . . . Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD