Tak bisa dipungkiri, tubuhnya menjadi mati rasa karena terlalu banyak luka dan sakit yang diderita. Hukuman yang diberikan Raja Ouran tidaklah main-main, dengan kejam lelaki itu memberinya cambukan bertubi-tubi, belum lagi tendangan yang menjadi akhir hukuman. Karena menyebutkan nama yang salah, berakhir menjadi seperti ini. Ourin, nama itulah yang disebutkan Arran dan pria itu lantas terperangah dan murka.
Bagaimana bisa? Arran yakin kalau pemimpin negeri ini adalah sosok yang sama dengan seseorang yang pernah menolongnya dahulu, saat ia masih berusia tujuh tahun. Ia tak akan melupakan peristiwa itu karena di saat semua orang tak mengacuhkannya, anak lelaki yang lebih tua beberapa tahun darinya itu datang dan membantu. Dan yang ia ingat adalah nama Ourin yang melekat pada anak lelaki berambut pirang pucat dan bermata seindah rembulan.
Jadi, kenapa bisa salah? Ia yakin anak tersebut adalah Raja Ouran, tetapi dari tingkah dan pengakuan, sudah jelas kalau dia bukan Ourin―nama yang diingat Arran. Apalagi hukuman kejam yang bertambah ketika sang raja mendengar nama itu, membuatnya kebingungan. Apakah Ourin makhluk yang kejam dan seorang penjahat sampai harus dipenjara dan begitu dibenci raja negeri ini?
Pikiran Arran tentang sang penolngnya buyar, ketika ia merasa perih pada punggung dan sekarang telapak kakinya pun mengelupas, semakin terluka karena terus diseret-seret ke arah penjara bawa tanah. Menuruni tangga, mereka memasuki sebuah lorong gelap dan hanya diterangi obor, kemudian kembali dibawa ke sebuah belokan, terus berjalan dengan tertatih atau kembali diseret.
“Ayo! Lebih cepat jalanmu, Bodoh!” u*****n demi u*****n terus terdengar. Hingga sekarang ia melihat para pengawal membawa dirinya masuk ke sebuah ruangan khusus, pintu besi kembali menyambut mereka. Kuncinya dibuka oleh penjaga dan ia kembali dipaksa melangkah, di sana ada sebuah ruangan lagi yang dijaga banyak pengawal. Suasana begitu mengerikan karena remang cahaya obor kemerahan. Tempat apa itu? Inikah yang akan menjadi sel untuk Arran menerima hukuman, sel penjara yang sama dengan Makhluk Terkutuk yang dibicarakan Raja Ouran?
Tiba-tiba hawa dingin membuat Arran gemetar, ia takut dan panik. Memikirkan monster macam apa yang akan menyiksanya di dalam kelak. Arran menggelengkan kepala, memberontak meski beberapa pegawal memeganginya dengan kuat. Karena kesal, mereka pun memberikannya tamparan, pukulan dan siksaan kembali. Ia tak menangis meski sakit itu terus dirasakan. Arran tak ingin bencana dan kutukan datang jika dia menangis, seperti kejadian di saat bersama keluarga Herridas dahulu. Keluarga Herridas membencinya karena musibah yang datang dari tetes demi tetes air matanya, membuat mereka ketakutan ketika hal itu terjadi dan mengusir ia dari rumah.
Dalam gelap malam dan terang rembulan, sesosok laki-laki terdiam, memejamkan kelopak mata dan membiarkan kelam menyelimuti. Ia sudah nyaris sembilan tahun tinggal di dalam penjara bawah tanah yang pengap dan jauh dari kata nyaman, tak ada lampu minyak di dalam selnya, hanya ada penerang dari obor yang berada di setiap sisi dinding lorong yang cahayanya terpantul masuk dari pintu besi, juga dari jendela kecil di bagian atas. Sisa cahaya berasal dari bulan purnama yang mengintip malu-malu dari satu-satunya jendela seukuran kepala. Petakan yang selalu menampilkan setitik dunia luar dan menemani hari-harinya di balik dinding batu berpintu besi.
***
Embusan napas terengar, ia duduk menyandar di bagian tergelap sudut dinding yang ada di sel. Tidak tertidur, di saat bulan purnama ia tidak akan pernah tidur maupun merasa lapar. Beberapa saat terus terdiam, laki-laki yang masih mempertahankan posisinya dan tak ada niatan untuk bergerak, mengerutkan alis di saat tiba-tiba mendengar suara langkah yang terburu-buru. Suara tersebut semakin dekat, dan bunyi pintu besi yang terbuka pun menjadikan sang lelaki sadar bahwa semua itu terjadi di luar sel ini. Tanpa harus melihat, ia tahu bahwa ada seseorang yang dihempaskan masuk.
“Dasar gadis s****n, dia bahkan tidak menangis atau memohon ampun sepanjang hukuman cambuk, bahkan sekarang pun sama saja!” samar-samar, gerutuan para penjaga yang menyeret penghuni baru selnya masih terdengar.
Laki-laki itu tetap diam, menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Membiarkan teman sesel itu mulai bereaksi seperti apa.
Arran tak tahu, kenapa kejadian ini bisa menimpanya? Apakah benar karena dia adalah anak kutukan seperti yang sering diucapkan keluarga Herridas? Keluarga Arran dibunuh dan dibakar di depan matanya dan ia dijual kepada keluarga Herridas. Ia bahkan tak tahu apa penyebab penduduk desa melakukan hal kejam itu kepada mereka dahulu?
Sekarang ia terpuruk di dalam penjara bawah tanah yang remang dan cenderung gelap ini, tetapi ia tak menjumpai sosok yang ditakuti itu. Mata keabuannya menyisir ruangan gelap yang hanya diterangi cahaya remang obor dan purnama, itupun hanya tersaji dari celah yang ada. Tak ada sosok apa pun, sebelah mata Arran memang membengkak, tetapi ia yakin penglihatan masih berfungsi dan baik-baik saja. Apakah makhluk mengerikan yang dibicarakan Raja Ouran hanya ancaman saja agar ia selalu ketakutan? Semoga saja begitu, pikirnya. Diam-diam Arran menghela napas lega.
Arran hanya tak tahu, kalau setiap geriknya diperhatikan oleh sosok yang bersembunyi di dalam kegelapan. Gadis tersebut di awal tak menyadari, tetapi lama kelamaan telinganya menangkap suara napas yang mengembus beberapa kali, tubuh Arran merinding seketika. Membuat ia membelalakkan mata ngeri, menahan napas dan mencari dari mana desah napas itu berasal. Dia yakin embusan napas itu bukan berasal dari dirinya.
Mengalihkan tatapan untuk terus mencari, Arran didera kebingungan karena tak menadapati sosok apa pun di dalam sel ini. Hanya ada gulita di sudut-sudut ruangan yang tak dapat diterangi remang obor atau rembulan. Namun, telingannya yang peka kembali menangkap suara embusan napas. Ia sudah sering pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar, dan saat di sana ia akan mengandalkan telinganya untuk meminimalisir risiko. Bisa saja, desrik angin atau ranting yang patah adalah pertanda datangnya bahaya. Tanpa sadar, saliva ditelan untuk mencoba mengendalikan suasana yang kalut di benak.
Memantapkan hati dan berdiri dengan tertatih, Arran dengan kaki gemetar mulai berjalan dan mendekati asal suara yang didengar. Namun, yang dilihat oleh mata abu-abu Arran masih kegelapan pekat yang sama, ia tak melihat apa pun, tetapi ia yakin di sana ada seseorang. Dengan jari telunjuk yang bernoda darah kering, Arran mencoba meraup-raup kegelapan itu, meyakinkan diri kalau di sana tak ada apa-apa. Tersentak, telunjuknya menyentuh sesuatu mirip rambut, tetapi sangat kasar.
Detak jantungnya meningkat drastis, keringat langsung menyucur di dahi yang berhiaskan memar. Arran langsung dikelilingi perasaan teramat takut, napasnya terengah-enggah. Menemui sesuatu di dalam kegelapan yang tak tampak wujudnya.
“Ah!” Arran terkejut, ia terjatuh dan mundur ke belakang. Napasnya semakin menggebu, dan tubuh pun gemetaran. Apakah itu adalah monster? Jantung bertalu-talu, luka-luka di kaki yang sepanjang jalan tak memakai sepatu dan diseret-setet paksa oleh pengawal kini terbuka lagi, tetapi Arran tak peduli. Ia ingin menjauhi sosok itu. Ia terdesak, kalau makhluk itu sadar ada dirinya di sini, maka habislah ia.
Tanpa Arran ketahui, sosok yang ditakuti telah sadar dengan kedatangannya lebih dahulu sebelum ia dimasukkan ke sel ini. Masih menutup kelopaknya dan bagai tertidur, sosok itu terus memantau situasi dengan telinga.
Dia hanya terus terdiam dan mendengarkan, seorang gadis yang tak mau berteriak ketika menyadari kehadirannya, hanya suara napas terengah-engah yang terangkap. Karena penasaran, tak jua mendengar suara sang gadis setelah ia disadari, sosok bernama Ourin, yang sedang bersandar di sudut sel tergelap pun membuka kelopak mata. Sorot keemasan terlihat bersinar di tengah kegelapan sel.
Ourin melihat seorang gadis, yang terduduk dan ketakutan menatap sorot mata keemasan bercahaya yang ia punya. Gadis itu hanya diam dan termangu menatapnya, tubuh itu penuh luka lebam dan noda darah, sebelah matanya bengkak dan membiru, sudut bibir robek, hidungnya masih menyisakan noda merah. Alis Ourin mengerut melihat keadaan gadis asing yang menempati selnya ini. Apakah dia disiksa separah itu?
“Kenapa luka-luka itu memenuhi tubuhmu?” tanya Ourin memutuskan untuk berbicara, suaranya berat, tetapi tak menakuti. Tentu saja ia hanya berniat untuk beramah-tamah, sebisa mungkin ia menjaga kesopanan nada suaranya.
Mendapatkan pertanyaan sedemikian, Arran terdiam, menatap lamat sosok yang bersembunyi di dalam kegelapan, mata emas itu saja yang terlihat olehnya. Berdiri kembali, perlahan ia mendekat. Sekali lagi, Arran menggerakkan tangannya, mencoba meraih sosok itu.
Apakah itu monster?
Jari Arran kembali menyentuh sesuatu mirip rambut kasar. Dengan penasaran, sambil memperhatikan kilau mata Ourin yang keemasan, Arran menggerakkan telapak tangannya lebih dekat. Dan menyentuh sesuatu entah apa. Ia terkejut, dan menarik tangannya kembali. Mengalihkan kontak matanya kepada seseorang di dalam gulita, mereka saling menatap.
“Kau takut aku mengusikmu?”
Arran yang sudah terduduk di depan Ourin tanpa sepengetahuannya―berada di sinar rembulan sedang Ourin masih di kegelapan―pun mengangkat kepalanya ketika ia mendengar pertanyaan kembali dari sosok tersebut.
“Eng?” tatapan mata keabuan menatap kilau keemasan Ourin. Bibir Arran hanya mengumam suara yang tak dapat diketahui apa maknanya.
“Kau tak perlu menjawab pertanyaan kalau tak ingin.” Kepala Arran menunduk karena ia mengira sosok tersebut tak suka dengan kehadirannya dan ia akan dihukum.
Gadis itu memilin-milin ujung pakaiannya dan membuat Ourin menyadari kegugupan atau yang lebih tepat rasa khawatir karena takut disakiti.
“Tenanglah, aku tak akan menyakitimu.”
“Ah?” kepala Arran mendongak kembali, wajahnya yang penuh memar kini terlihat sorot lega dari dalam mata abu-abunya. Gadis itu tersenyum, menunjukkan kalau ia merasa senang karena diperlakukan dengan baik oleh seseroang. Walau wujud dari sosok itu tak ia tahu bagaimana.
“Aku Ourin Carlor Sahraverta.” Lelaki itu tersenyum, walau ia jelas tahu bahwa Arran tidak akan bisa melihatnya
“Tu-an Ourin?” bola mata keabuan itu membesar seketika. “Ourin!” panggilnya sekali lagi untuk memastikan. Di luar dugaan, setelah yang ia tahu bahwa sang Gadis tidak menyahutnya berkali-kali, akhirnya gadis itu mengeluarkan suara juga.
“Ya, aku Ourin. Lalu, siapa namamu?”
“Ahaha, Tuan O-urin.” Gadis itu tertawa bahagian meski cara bebicaranya masih terbata-bata, kemudian dia terdiam dan duduk lebih rapi. “Arran, Arran Chobelt.” Sebelah tangan Arran menepuk-nepuk pertengahan dadanya. Melihat hal itu, Ourin pun tersenyum tipis. Ia menjumpai seorang gadis yang tak mau berbicara kelihatannya. Bukan tak bisa bebicara.
Menghela napas dan merasa prihatin atas kondisi tubuh teman barunya, Ourin pun menyerukan agar sebelah tangan Arran dijulurkan ke arahnya kembali, dia menyambut jemarin Arran dan gadis itu langsung merasakan perubahan, tubuhnya tak sakit lagi dan sembuh seketika. Bagaimana Ourin melakukannya. Apakah dia seorang penyihir?
Arran mengerutkan dahi, berpikir bahwa di Ferifatyn seorang penyihir dilarang bertempat tinggal atau bahkan berkunjung. Itu sebabnyakah Ourin dipenjara seperti sekarang?
***
Sebuah kamar mewah menjadi tempat seorang pemuda untuk merihatkan diri, telepas dari beban pekerjaan untuk beberapa saat. Matanya yang bak punama bersinar terang. Tak cukup dengan permasalahan kaum penyihir dari Kerajaan Delaverna yang terus berusaha menyerang tanahnya, kini permasalahan baru muncul. Gadis yang ia siksa, dan sekarang terpenjara di sel yang sama dengan Ourin, siapa dia?
Tepatnya, dari mana dia mengenal Ourin?
Desah napas dilakukan sang raja muda. Ouran merogoh saku celana, dan menadapati sebuah kalung, kalung yang mengingatkan dengan ibundanya. Saat itu usia Ouran sepuluh tahun dan sang ibu membuatkan sebuah kalung untuknya sebagai hadiah karena ia sudah bisa menyelesaikan tugas yang diberikan ayah.
Sorot mata memandangi kalung yang ada di telapakya, dia sedang menidurkan diri di ranjang, tangannya tejulur ke depan muka, menatap sebuah kalung yang didapat tergeletak pasrah didekat kaki setelah memenjara gadis berambut kemerahan.
“Bagaimana ini bisa berada di sana?”
Napasnya menghela, sorot mata Ouran sayu karena rasa kantuk yang mendera, ia pun meletakkan benda yang diyakini adalah benda peninggalan ibunya itu di meja nakas samping ranjang, kemudian mengambil bantal dan meletakkan di bawah kepala. Ia sekali lagi mengembuskan udara dari hidung dan memejamkan mata untuk menuju alam mimpi. Walau di pikiran Ouran masih saja terngiang-ngiang tentang gadis yang menyebutkan nama makhluk terkutuk itu.
“Kenapa kau mengira aku adalah Ourin?”
.
.
.
Bersambung