bc

Ambisi Kenzi, Lamunan Anya, dan Jendela Itu

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
HE
drama
bxg
campus
highschool
love at the first sight
naive
like
intro-logo
Blurb

Kenzi Wiratama Siswa berprestasi yang terbebani ekspektasi. Sering terlihat mengantuk atau beristirahat di atas tumpukan buku, menunjukkan kelelahan belajar yang ekstrem. Diam-diam menaruh perhatian pada teman sebangkunya.Anya Kirana Gadis yang tenang, sering terlihat melamun memandang keluar jendela. Ia punya dunia imajinasi sendiri dan ambisi artistik yang tersembunyi. Sering dicap "tidak fokus" oleh guru.Kenzi dan Anya adalah teman sebangku di kelas XII IPA. Secara fisik, mereka duduk sangat dekat, hanya dipisahkan tumpukan buku, namun secara mental, mereka berada di dunia yang berbeda.​Kenzi adalah calon dokter yang didikte jadwal belajarnya oleh orang tua, ia tertekan dan hampir selalu kelelahan. Anya adalah seorang calon seniman yang sering dituduh "membuang-buang waktu" karena ia lebih suka memandangi gerakan awan di luar jendela.​Cerita ini berfokus pada dinamika interaksi sunyi mereka. Kenzi mulai menyadari bahwa setiap kali ia mencondongkan kepala di atas tumpukan buku, ia melakukannya agar bisa lebih dekat ke rambut Anya yang diikat ekor kuda. Anya, di sisi lain, mulai memperhatikan pola napas Kenzi yang kelelahan. Jendela itu bukan hanya tempat Anya mencari inspirasi, tapi juga satu-satunya tempat ia bisa melihat refleksi wajah Kenzi yang tertidur.​Sebuah tugas sekolah (proyek ilmiah atau seni) memaksa mereka untuk benar-benar berinteraksi. Melalui kolaborasi ini, mereka perlahan membongkar dinding kelelahan dan lamunan masing-masing, menemukan bahwa ambisi mereka yang berlawanan ternyata bisa saling melengkapi dan mendukung.Pukul sepuluh pagi. Matahari sudah cukup berani menerobos tirai tipis di balik jendela kelas. Anya tidak menyukai jam pelajaran Biologi ini. Bukan karena ia membenci mitokondria atau retikulum endoplasma, tetapi karena pada jam ini, bayangan Kenzi selalu jatuh tepat di pangkuannya.​Anya menyandarkan dagunya di telapak tangan, matanya terfokus pada daun pohon mahoni di luar. Angin kecil menggerakkannya, seolah daun itu sedangmenari lambat di panggung tak terlihat.​"Anya, fokus!" Suara Bu Rosa terdengar tajam.​Anya hanya mengangguk samar tanpa menoleh. Ia sudah terlalu sering dimarahi.​Di sebelahnya, Kenzi—siswa dengan peringkat pertama seangkatan—telah t menjauh dari Kenzi. Namun, ia tidak bisa mengabaikan bau khas yang menguar dari tumpukan buku itu: aroma kertas baru yangbercampur sedikit wangi pelembut pakaian Kenzi. Aroma yang, entah kenapa, selalu mengingatkannya pada hari-hari yang ia 'bunuh' hanya untuk mencari inspirasi.​Tiba-tiba, Kenzi bergerak. Ia tidak bangun, tetapi lengannya yang bertumpu di buku tergelincir sedikit. Siku Kenzi kini hampir menyentuh pinggang Anya. Jantung Anya berdetak lebih cepat.​"Kenzi," bisik Anya pelan, nyaris tanpa suara.​Kenzi tidak bereaksi. Napasnya teratur, naik-turun, membuat ikat rambut ekor kuda Anya ikut bergerak halus.​Anya melihat keluar lagi. Kali ini bukan daun yang menarik perhatiannya, melainkan pantulan di kaca jendela. Refleksi wajah Kenzi yang sedang tidur itu tampak lebih tenang, lebih manusiawi, daripada wajah Kenzi yang sedang terjaga dan menghitung rumus limit.​Anya menyadari satu hal: Jendela itu adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa melihat Kenzi tanpa Kenzi melihatnya kembali. Dan untuk sesaat, ia membiarkan Kenzi beristirahat di sebelah tumpukan ambisi mereka.Anya masih terpaku pada pantulan wajah Kenzi di jendela ketika bel berbunyi nyaring, memecah keheningan yang tercipta oleh irama napas Kenzi. Bunyi itu bukan sekadar jeda, tapi alarm yang keras.​BRAK!​Kenzi tersentak hebat. Tubuhnya menegak, menyebabkan tumpukan buku yang menjadi bantalnya goyah dan beberapa jatuh ke lantai dengan suara keras. Wajahnya yang semula damai kini digantikan ekspresi panik yang khas dari orang yang ketahuan tidur di kelas. Matanya melebar, dan ia menoleh cepat, bukan kepada Bu Rosa, melainkan kepada Anya.​Anya tidak bergerak. Ia hanya menatap buku-buku yang berserakan, dan kemudian menatap Kenzi.​"Ma-maaf. Aku... aku ketiduran," bisik Kenzi, suaranya serak. Ia segera membungkuk, wajahnya memerah karena malu.​"Tidak apa-apa," jawab Anya datar, meskipun dadanya masih berdebar akibat kaget. Ia ikut membantu memungut buku-buku tebal yang baunya seperti janji-janji masa depan yang terlalu berat.​Saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan saat mengambil buku Kalkulus, Kenzi langsung menarik tangannya seolah tersengat listrik. Kecanggungan itu tebal, memenuhi ruang sempit di antara bangku mereka.​"Terima kasih," kata Kenzi, suaranya kini sedikit lebih normal, meski masih mengandung nada terburu-buru. Ia menyusun kembali buku-bukunya menjadi menara pelindung yang baru, seolah-olah itu adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan jarak mental di antara mereka.

​Anya hanya mengangguk kecil. Ia memperhatikan jari-jari Kenzi yang gemetar saat menumpuk buku, bukan karena gugup, tapi karena kelelahan yang akut.

​Bu Rosa yang sudah berada di ambang pintu berdeham keras. Baik, anak-anak. Sebelum kalian keluar, ada pengumuman. Proyek akhir itu

chap-preview
Free preview
ambisi kenzi, lamunan anya dan jendela itu
Kenzi Wiratama Siswa berprestasi yang terbebani ekspektasi. Sering terlihat mengantuk atau beristirahat di atas tumpukan buku, menunjukkan kelelahan belajar yang ekstrem. Diam-diam menaruh perhatian pada teman sebangkunya.Anya Kirana Gadis yang tenang, sering terlihat melamun memandang keluar jendela. Ia punya dunia imajinasi sendiri dan ambisi artistik yang tersembunyi. Sering dicap "tidak fokus" oleh guru.Kenzi dan Anya adalah teman sebangku di kelas XII IPA. Secara fisik, mereka duduk sangat dekat, hanya dipisahkan tumpukan buku, namun secara mental, mereka berada di dunia yang berbeda.​Kenzi adalah calon dokter yang didikte jadwal belajarnya oleh orang tua, ia tertekan dan hampir selalu kelelahan. Anya adalah seorang calon seniman yang sering dituduh "membuang-buang waktu" karena ia lebih suka memandangi gerakan awan di luar jendela.​Cerita ini berfokus pada dinamika interaksi sunyi mereka. Kenzi mulai menyadari bahwa setiap kali ia mencondongkan kepala di atas tumpukan buku, ia melakukannya agar bisa lebih dekat ke rambut Anya yang diikat ekor kuda. Anya, di sisi lain, mulai memperhatikan pola napas Kenzi yang kelelahan. Jendela itu bukan hanya tempat Anya mencari inspirasi, tapi juga satu-satunya tempat ia bisa melihat refleksi wajah Kenzi yang tertidur.​Sebuah tugas sekolah (proyek ilmiah atau seni) memaksa mereka untuk benar-benar berinteraksi. Melalui kolaborasi ini, mereka perlahan membongkar dinding kelelahan dan lamunan masing-masing, menemukan bahwa ambisi mereka yang berlawanan ternyata bisa saling melengkapi dan mendukung.Pukul sepuluh pagi. Matahari sudah cukup berani menerobos tirai tipis di balik jendela kelas. Anya tidak menyukai jam pelajaran Biologi ini. Bukan karena ia membenci mitokondria atau retikulum endoplasma, tetapi karena pada jam ini, bayangan Kenzi selalu jatuh tepat di pangkuannya.​Anya menyandarkan dagunya di telapak tangan, matanya terfokus pada daun pohon mahoni di luar. Angin kecil menggerakkannya, seolah daun itu sedangmenari lambat di panggung tak terlihat.​"Anya, fokus!" Suara Bu Rosa terdengar tajam.​Anya hanya mengangguk samar tanpa menoleh. Ia sudah terlalu sering dimarahi.​Di sebelahnya, Kenzi—siswa dengan peringkat pertama seangkatan—telah t menjauh dari Kenzi. Namun, ia tidak bisa mengabaikan bau khas yang menguar dari tumpukan buku itu: aroma kertas baru yangbercampur sedikit wangi pelembut pakaian Kenzi. Aroma yang, entah kenapa, selalu mengingatkannya pada hari-hari yang ia 'bunuh' hanya untuk mencari inspirasi.​Tiba-tiba, Kenzi bergerak. Ia tidak bangun, tetapi lengannya yang bertumpu di buku tergelincir sedikit. Siku Kenzi kini hampir menyentuh pinggang Anya. Jantung Anya berdetak lebih cepat.​"Kenzi," bisik Anya pelan, nyaris tanpa suara.​Kenzi tidak bereaksi. Napasnya teratur, naik-turun, membuat ikat rambut ekor kuda Anya ikut bergerak halus.​Anya melihat keluar lagi. Kali ini bukan daun yang menarik perhatiannya, melainkan pantulan di kaca jendela. Refleksi wajah Kenzi yang sedang tidur itu tampak lebih tenang, lebih manusiawi, daripada wajah Kenzi yang sedang terjaga dan menghitung rumus limit.​Anya menyadari satu hal: Jendela itu adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa melihat Kenzi tanpa Kenzi melihatnya kembali. Dan untuk sesaat, ia membiarkan Kenzi beristirahat di sebelah tumpukan ambisi mereka.Anya masih terpaku pada pantulan wajah Kenzi di jendela ketika bel berbunyi nyaring, memecah keheningan yang tercipta oleh irama napas Kenzi. Bunyi itu bukan sekadar jeda, tapi alarm yang keras.​BRAK!​Kenzi tersentak hebat. Tubuhnya menegak, menyebabkan tumpukan buku yang menjadi bantalnya goyah dan beberapa jatuh ke lantai dengan suara keras. Wajahnya yang semula damai kini digantikan ekspresi panik yang khas dari orang yang ketahuan tidur di kelas. Matanya melebar, dan ia menoleh cepat, bukan kepada Bu Rosa, melainkan kepada Anya.​Anya tidak bergerak. Ia hanya menatap buku-buku yang berserakan, dan kemudian menatap Kenzi.​"Ma-maaf. Aku... aku ketiduran," bisik Kenzi, suaranya serak. Ia segera membungkuk, wajahnya memerah karena malu.​"Tidak apa-apa," jawab Anya datar, meskipun dadanya masih berdebar akibat kaget. Ia ikut membantu memungut buku-buku tebal yang baunya seperti janji-janji masa depan yang terlalu berat.​Saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan saat mengambil buku Kalkulus, Kenzi langsung menarik tangannya seolah tersengat listrik. Kecanggungan itu tebal, memenuhi ruang sempit di antara bangku mereka.​"Terima kasih," kata Kenzi, suaranya kini sedikit lebih normal, meski masih mengandung nada terburu-buru. Ia menyusun kembali buku-bukunya menjadi menara pelindung yang baru, seolah-olah itu adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan jarak mental di antara mereka. ​Anya hanya mengangguk kecil. Ia memperhatikan jari-jari Kenzi yang gemetar saat menumpuk buku, bukan karena gugup, tapi karena kelelahan yang akut. ​Bu Rosa yang sudah berada di ambang pintu berdeham keras. Baik, anak-anak. Sebelum kalian keluar, ada pengumuman. Proyek akhir itusemester XII IPA dan IPS akan digabung. Kalian akan berpasangan, satu anak IPA dan satu anak IPS, untuk membuat 'Integrasi Saintifik-Artistik'." ​Seketika, kelas menjadi riuh. Kenzi mendongak, tatapan paniknya beralih dari tumpukan buku ke Bu Rosa. Proyek? Integrasi? Itu adalah hal terakhir yang ia butuhkan dalam jadwal belajarnya yang sudah padat. ​"Tugasnya adalah menciptakan model visual atau naratif yang menjelaskan sebuah konsep ilmiah," lanjut Bu Rosa, mengabaikan keributan. "Dan, karena ini untuk melatih kalian berinteraksi dengan orang yang berbeda fokus, saya yang akan menentukan pasangannya." ​Kenzi mengepalkan pensilnya. Ia hanya ingin berpasangan dengan seseorang yang sama efisiennya dengan dia, seseorang yang bisa menyelesaikan tugas dalam dua jam tanpa drama.Bu Rosa mulai membacakan daftar. "Dimas dengan Risa. Bima dengan Fajar..." ​Anya kembali memandang keluar jendela, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana artistik yang sudah mulai terbentuk di benaknya. Konsep ilmiah apa yang bisa ia ubah menjadi karya seni? Mungkin tentang pergerakan planet, atau fraktal pada kembang kol. Ia tahu betul, pasangannya nanti akan mengeluh tentang "ketidakpraktisan" idenya. ​"…dan, Kenzi Wiratama," suara Bu Rosa menggantung. ​Kenzi menahan napas. ​"…dengan Anya Kirana." ​Keheningan melanda bangku mereka. Kenzi dan Anya menoleh pada saat yang sama. ​"Tapi, Bu," protes Kenzi reflek. "Kami kan sebangku! Kami sama-sama IPA!" ​Bu Rosa tersenyum licik. "Oh, saya tahu, Kenzi. Tapi kalian adalah anomali yang menarik. Kenzi, si mesin belajar; Anya, si pemimpi kelas. Kalian duduk bersebelahan setiap hari, tapi saya yakin kalian tidak pernah benar-benar berbicara. Kalian akan berpasangan, dan saya ingin kalian berinteraksi, sungguh-sungguh." ​Kenzi terpaku. Ia menatap Anya. Anya tidak memprotes. Gadis itu hanya memandanginya dengan ekspresi netral yang sulit diartikan. Di mata Anya, Kenzi melihat bayangan dirinya sendiri—bingung, tertekan, tapi juga… sedikit penasaran. ​Setelah kelas bubar, para siswa berhamburan, sibuk mendiskusikan pasangan mereka. Kenzi tetap duduk, menatap nama "Anya Kirana" yang ia tulis di buku catatannya. Proyek ini adalah bencana yang terselubung. ​"Mau bagaimana?" Suara Anya memecah keheningan. Ia sudah membereskan tasnya dan berdiri, menunggunya. ​Kenzi menarik napas, mengatur kembali persona "siswa berprestasi yang terorganisir". "Tentu saja, kita harus membuat jadwal. Konsep ilmiahnya harus sesuatu yang bisa dipresentasikan secara logis. Biologi sel, mungkin. Presentasi yang rapi dan terstruktur." ​Anya tidak langsung menjawab. Ia mengambil buku sketsanya dari tas. "Aku lebih tertarik pada fisika, tepatnya tentang Quantum Entanglement." ​Kenzi menatapnya tak percaya. "Keterikatan Kuantum? Anya, itu terlalu abstrak! Bagaimana kita akan memvisualisasikannya? Ini proyek sekolah, bukan pameran museum!" ​Anya mengangkat bahu. "Justru di situ tantangannya. Dua partikel yang terhubung, tidak peduli seberapa jauh jaraknya. Mirip kita, kan? Duduk berdekatan, tapi punya dunia yang terpisah. Mungkin… keterikatan itu adalah apa yang kita butuhkan." ​Kenzi mencondongkan tubuh di atas tumpukan bukunya, refleks defensif yang biasa. Tapi kali ini, ia melakukannya bukan untuk tidur, melainkan untuk melihat lebih jelas ekspresi serius di wajah Anya. Ia melihat hasrat yang membara di mata gadis itu—hasrat yang sama sekali tidak ia rasakan saat memikirkan karir dokter yang sudah ditetapkan untuknya. ​"Kita bertemu besok sore di perpustakaan. Pukul empat," kata Kenzi, mengabaikan ide Entanglement-nya. "Kita bahas konsep yang lebih… realistis." ​Anya tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah Kenzi lihat sebelumnya—senyum yang mencapai matanya, bukan hanya bibirnya. ​"Baik, Calon Dokter. Sampai bertemu besok." ​Saat Anya berbalik dan berjalan pergi, Kenzi menyadari satu hal yang mengganggu. Tumpukan bukunya yang selalu ia gunakan sebagai bantal dan tembok kini terasa dingin dan kosong.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Mistletoe Miracle

read
8.2K
bc

Burning Saints Motorcycle Club Stories

read
1K
bc

Owned by My Husband's Boss

read
11.0K
bc

The abandoned wife and her secret son

read
3.3K
bc

Tis The Season For My Revenge, Dear Ex

read
74.9K
bc

Road to Forever: Dogs of Fire MC Next Generation Stories

read
46.2K
bc

The Billionaire regret: Reclaiming his contract Bride

read
1.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook