
Kenzi Wiratama Siswa berprestasi yang terbebani ekspektasi. Sering terlihat mengantuk atau beristirahat di atas tumpukan buku, menunjukkan kelelahan belajar yang ekstrem. Diam-diam menaruh perhatian pada teman sebangkunya.Anya Kirana Gadis yang tenang, sering terlihat melamun memandang keluar jendela. Ia punya dunia imajinasi sendiri dan ambisi artistik yang tersembunyi. Sering dicap "tidak fokus" oleh guru.Kenzi dan Anya adalah teman sebangku di kelas XII IPA. Secara fisik, mereka duduk sangat dekat, hanya dipisahkan tumpukan buku, namun secara mental, mereka berada di dunia yang berbeda.Kenzi adalah calon dokter yang didikte jadwal belajarnya oleh orang tua, ia tertekan dan hampir selalu kelelahan. Anya adalah seorang calon seniman yang sering dituduh "membuang-buang waktu" karena ia lebih suka memandangi gerakan awan di luar jendela.Cerita ini berfokus pada dinamika interaksi sunyi mereka. Kenzi mulai menyadari bahwa setiap kali ia mencondongkan kepala di atas tumpukan buku, ia melakukannya agar bisa lebih dekat ke rambut Anya yang diikat ekor kuda. Anya, di sisi lain, mulai memperhatikan pola napas Kenzi yang kelelahan. Jendela itu bukan hanya tempat Anya mencari inspirasi, tapi juga satu-satunya tempat ia bisa melihat refleksi wajah Kenzi yang tertidur.Sebuah tugas sekolah (proyek ilmiah atau seni) memaksa mereka untuk benar-benar berinteraksi. Melalui kolaborasi ini, mereka perlahan membongkar dinding kelelahan dan lamunan masing-masing, menemukan bahwa ambisi mereka yang berlawanan ternyata bisa saling melengkapi dan mendukung.Pukul sepuluh pagi. Matahari sudah cukup berani menerobos tirai tipis di balik jendela kelas. Anya tidak menyukai jam pelajaran Biologi ini. Bukan karena ia membenci mitokondria atau retikulum endoplasma, tetapi karena pada jam ini, bayangan Kenzi selalu jatuh tepat di pangkuannya.Anya menyandarkan dagunya di telapak tangan, matanya terfokus pada daun pohon mahoni di luar. Angin kecil menggerakkannya, seolah daun itu sedangmenari lambat di panggung tak terlihat."Anya, fokus!" Suara Bu Rosa terdengar tajam.Anya hanya mengangguk samar tanpa menoleh. Ia sudah terlalu sering dimarahi.Di sebelahnya, Kenzi—siswa dengan peringkat pertama seangkatan—telah t menjauh dari Kenzi. Namun, ia tidak bisa mengabaikan bau khas yang menguar dari tumpukan buku itu: aroma kertas baru yangbercampur sedikit wangi pelembut pakaian Kenzi. Aroma yang, entah kenapa, selalu mengingatkannya pada hari-hari yang ia 'bunuh' hanya untuk mencari inspirasi.Tiba-tiba, Kenzi bergerak. Ia tidak bangun, tetapi lengannya yang bertumpu di buku tergelincir sedikit. Siku Kenzi kini hampir menyentuh pinggang Anya. Jantung Anya berdetak lebih cepat."Kenzi," bisik Anya pelan, nyaris tanpa suara.Kenzi tidak bereaksi. Napasnya teratur, naik-turun, membuat ikat rambut ekor kuda Anya ikut bergerak halus.Anya melihat keluar lagi. Kali ini bukan daun yang menarik perhatiannya, melainkan pantulan di kaca jendela. Refleksi wajah Kenzi yang sedang tidur itu tampak lebih tenang, lebih manusiawi, daripada wajah Kenzi yang sedang terjaga dan menghitung rumus limit.Anya menyadari satu hal: Jendela itu adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa melihat Kenzi tanpa Kenzi melihatnya kembali. Dan untuk sesaat, ia membiarkan Kenzi beristirahat di sebelah tumpukan ambisi mereka.Anya masih terpaku pada pantulan wajah Kenzi di jendela ketika bel berbunyi nyaring, memecah keheningan yang tercipta oleh irama napas Kenzi. Bunyi itu bukan sekadar jeda, tapi alarm yang keras.BRAK!Kenzi tersentak hebat. Tubuhnya menegak, menyebabkan tumpukan buku yang menjadi bantalnya goyah dan beberapa jatuh ke lantai dengan suara keras. Wajahnya yang semula damai kini digantikan ekspresi panik yang khas dari orang yang ketahuan tidur di kelas. Matanya melebar, dan ia menoleh cepat, bukan kepada Bu Rosa, melainkan kepada Anya.Anya tidak bergerak. Ia hanya menatap buku-buku yang berserakan, dan kemudian menatap Kenzi."Ma-maaf. Aku... aku ketiduran," bisik Kenzi, suaranya serak. Ia segera membungkuk, wajahnya memerah karena malu."Tidak apa-apa," jawab Anya datar, meskipun dadanya masih berdebar akibat kaget. Ia ikut membantu memungut buku-buku tebal yang baunya seperti janji-janji masa depan yang terlalu berat.Saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan saat mengambil buku Kalkulus, Kenzi langsung menarik tangannya seolah tersengat listrik. Kecanggungan itu tebal, memenuhi ruang sempit di antara bangku mereka."Terima kasih," kata Kenzi, suaranya kini sedikit lebih normal, meski masih mengandung nada terburu-buru. Ia menyusun kembali buku-bukunya menjadi menara pelindung yang baru, seolah-olah itu adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan jarak mental di antara mereka.
Anya hanya mengangguk kecil. Ia memperhatikan jari-jari Kenzi yang gemetar saat menumpuk buku, bukan karena gugup, tapi karena kelelahan yang akut.
Bu Rosa yang sudah berada di ambang pintu berdeham keras. Baik, anak-anak. Sebelum kalian keluar, ada pengumuman. Proyek akhir itu

