Janji masa lalu bag 2

1251 Words
Rumah sakit, 15 tahun silam. Arga kecil tengah duduk sendiri di bangku tunggu ruang operasi. Ia menunduk dan tidak berhenti menangis. Suara rintihan sang nenek sebelum jatuh pingsan tadi, terus tergiang di kepalanya. Dalam kondisi psikis yang tidak stabil, ia cukup beruntung karena Ratih, Ibu Kiara menolongnya. Beberapa jam lalu sebelum kejadian, nenek Arga jatuh dari sepedanya yang penuh dengan keranjang yang berisi sayur mayur. Tidak ada luka, tapi perut tuanya sempat terbentur hingga membekas memar. Kata dokter, organ dalamnya bisa saja terluka karena shock. Di saat para tetangga menyingkir dan saling lempar bantuan, Ratih datang dan langsung membawa mereka ke rumah sakit. Ia menenangkan Arga kecil, memeluknya sembari mengatakan kalau semua baik-baik saja. "Bibi sudah menebus biaya pengobatan nenekmu. Jadi tugasmu sekarang hanyalah berdoa." Ratih menggegam tangan Arga penuh kehangatan, tanpa tahu kalau bocah kecil itu tengah menahan haru sekaligus berterima kasih karena ditemani di saat yang tepat. Mungkin saat itu ia tidak memikirkan hal selain sang nenek, tapi begitu beranjak dewasa, Arga sadar kalau ia punya hutang besar. Bukan masalah nominal, tetapi Kiara punya posisi sulit seperti dirinya dulu. Masih tergiang jelas di telinga Arga bagaimana Ibu Kiara mengelus puncak kepalanya seraya berbisik tentang harapannya pada Arga. Ia ingin Arga bisa melakukan hal serupa pada Kiara kalau anak gadisnya itu, tengah berada dalam kondisi kesusahan. * Kiara menghabiskan harinya dengan tidur sepanjang waktu. Sejak pagi,ia tidak beranjak dari kamarnya sedikitpun. Buat apa? di dalam sudah ada kamar mandi dan lemari pendingin kecil,jadi tidak ada alasan untuk keluar. Sayangnya, waktu berjalan begitu lambat dan Kiara nyaris mati karena bosan. Di satu titik jenuhnya, gadis itu tersadar kalau sudah jam delapan malam. Akhirnya, Kiara dengan malas meraih pakaiannya untuk mandi. Paling tidak, ia harus merasa nyaman dan bersih. Terlepas dari canggung atau tidaknya mereka nanti, Kiara berharap Arga cepat pulang. Bukan apa-apa, tapi ponselnya mati karena pengisi dayanya ketinggalan di rumah. Kiara berencana pulang besok pagi setelah berdiskusi lagi. Tapi kenapa dia begitu lama? Batin Kiara menatap jam kecil di atas nakas. Ia baru saja selesai mandi dan rambut panjangnya basah. Ia tidak mungkin mencari pengering rambut, mengingat Arga bisa saja tidak suka ia menggeledah rumahnya tanpa ijin. Sambil membawa gerutuan dalam hati, Kiara berakhir memutuskan untuk keluar, menuju ruang tengah. Karena terlalu penat ia berkeliling, menatapi hiasan dinding juga pernak pernik lain. Apartemen itu begitu sunyi, tidak ada barang elektronik seperti televisi atau audio speaker. Interiornya memang modern, tapi di saat yang sama begitu kolot dan bersih. Kichen set elegan di mulut dapur seperti benda mahal yang belum pernah dipakai. "Bahkan dia mencuci piringnya sebelum pergi," gumam Kiara tidak habis pikir dengan kebiasaan bersih Arga. Apa dia mengindap OCD atau semacamnya? Aku begitu benci dengan pria perfecksionis. Sialnya, dia malah suamiku. Kiara seakan mengejek nasibnya sendiri. Itu karena percakapan tadi pagi begitu membekas, hingga Kiara yakin kalau sifat Arga sangat menganggunya. Tak lama berselang, terdengar suara pin ditekan dari luar. Hanya butuh sekian detik hingga akhirnya Arga masuk dengan sekantung plastik penuh belanjaan.Kiara terpaku di tempatnya, menatap wajah lelah Arga yang seharian bekerja. Berbeda dengan tadi pagi, kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya nyaris membuat Arga tidak dikenali. Yang tersisa dari penampilannya hanya tinggi badan dan alis tebal. Lainnya tidak menarik karena sengaja disembunyikan di balik hodie kusam. Daripada penasaran dengan barang belanjaan, Kiara justru ingin tahu tentang hal lain. "Kenapa kamu berpakaian seperti itu? Aku yakin ada banyak pakaian bagus di kamarmu." Kiara mengekori Arga yang tengah membongkar belanjaannya. Kantung itu berisi sayur juga daging mentah. Apa mau memasak lagi? Rasa nasi goreng yang dibuat Arga sangat hambar, Kiara tidak mau merusak mood makannya. "Kenapa? Aku lebih nyaman seperti ini. Kamu terganggu dengan gaya pakaianku?" tanya Arga terkesan tidak peduli. Ia menatap Kiara di balik bingkai kaca mata hingga gadis di sampingnya salah tingkah. "Tidak, abaikan saja kalau begitu. Aku tidak punya maksud apapun." Kiara mengendikkan bahunya karena tidak enak sendiri. Ia merasa bersalah karena terkesan mengkritisi penampilan orang lain. Padahal niatnya bukan begitu, wajar saja kan? Kalau penasaran? "Begini, bagaimana kalau aku yang masak? Anggap saja untuk menebus kesalahanku karena sudah bangun kesiangan tadi pagi," tawar Kiara pelan. Ia mendekat, memeriksa isi lemari pendingin. Di luar dugaan, tidak ada bahan tambahan apapun di sana. Hanya beberapa kaleng soda dan dua bungkus bumbu instan. Pantas, tadi pagi rasanya tidak karuan. "Kalau cuma ini mana enak?" ucap Kiara kebingungan. Arga tertegun, tidak tahu kalau cara masaknya salah. Selama ini ia selalu memesan makanan cepat saji, jadi lidahnya sudah terbiasa dengan semua bumbu instan itu. Tapi bagi Kiara yang hidup dengan masakan rumah, seleranya menolak makan terlalu banyak penyedap. "Haruskah kita keluar? ada toserba di dekat sini," kata Arga menatap jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu sebelum bagian sayuran segar tutup. Kiara mengangguk, buru-buru masuk lagi untuk mengambil jaketnya. Tapi saat bersiap keluar, tampilan rambut basah Kiara membuat dahi Arga mengeryit. "Kii, kamu keringin dulu rambutmu, nanti masuk angin." "Memangnya kamu punya head dryer?" Kiara mengurungkan niatnya untuk memakai jaket. Arga dengan polosnya menggeleng. Seingatnya, pengering rambut itu sudah lama rusak. Belakangan, Arga lebih suka menghidupkan kipas angin. "Ayo kita sekalian beli." Arga mengantongi dompetnya, mendorong bahu Kiara agar gadis itu cepat keluar. kalau terlalu larut, bisa-bisa mereka tidak dapat apapun. Kiara menurut, sentuhan kecil Arga di atas pundaknya sama sekali tidak masalah. Ia juga ingin di antara mereka tidak ada kejanggungan besar. Selain bisa meminimalisir kecurigaan orang lain, hubungan yang baik tentu akan membuat sedikit rasa nyaman. Mereka akan tinggal serumah, tidak baik kalau kaku dan terlalu formal. Paling tidak, mereka bisa berhubungan sebagai teman. Di pintu lift menuju bawah, ada banyak orang selain mereka. Mungkin karena akhir pekan, para tetangga apartemen keluar untuk menghabiskan waktu di tempat hiburan. Tepat di belakang mereka, berdiri tiga wanita lajang yang terakhir kali berjumpa dengan Arga di hari pernikahannya. Para wanita itu saling tatap satu sama lain, seakan ketiganya tahu isi pikiran masing-masing. "Dia pasti pacarnya," bisik wanita yang berdiri paling kiri. Hal itu diamini teman di sebelahnya. Tapi, tidak wanita satu lagi. Ia menatap cincin di jari Arga dengan tatapan kecewa. Sudah jelas, hari di mana mereka bertemu Arga, itu adalah hari pernikahan. Pada kesempatan biasa, Arga selalu berpenampilan sebagai seorang culun dan pecundang. Untuk apa? jelas ia ingin menyembunyikan diri dari wanita seperti dirinya. Ya,wanita itu—Fika, hanya bisa menelan kecewa karena tertipu. Seharusnya ia sadar lebih cepat agar bisa memiliki Arga walau sebentar. Tapi kalau sudah begini ia bisa apa? Dalam diam, Fika dan dua teman lain menatap Arga yang berjalan keluar bersama Kiara. Kalau saja hari itu Arga tidak masuk lift dengan tuxedonya, sudah pasti tidak ada yang peduli. Sekarang tampilan sehari-harinya bagai cangkang saja. Yang terbayang di otak Fika adalah sosok tinggi bersih dengan wajah rupawan hari itu. Bagaimana ia bisa lupa? "Ah, sial." Fika tersenyum sinis, meraih rokok dari dalam tas mahalnya. Ia tahu benar kalau tidurnya tidak akan nyenyak kalau belum mendapat apa yang diinginkan. Tapi sayangnya, ia paling pantang untuk merusak pernikahan orang lain. Sementara itu, Kiara yang tengah berjalan beriringan dengan Arga sadar kalau mereka tadi jadi pusat perhatian di lift. Begitu sudah jauh, ia bertanya apa Arga kenal mereka. "Tidak. Aku tidak pernah menyapa siapapun di sini. Mungkin mereka hanya penasaran karena tiba-tiba aku bawa perempuan," sahut Arga mendorong bingkai kaca matanya ke atas. Ia terlalu lelah dan mengantuk untuk memikirkan kemungkinan lain. Kalau saja tidak ada Kiara, ia pasti memilih tidur dengan perut kosong. Kiara kemudian tidak bicara lagi. Ia diam-diam mulai mengerti kenapa Arga memilih untuk menyembunyikan dirinya di balik hodie. Bukan hanya perempuan, laki-lakipun perlu menjaga diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD