Hal pertama yang dilihat Kiara saat membuka laptopnya adalah email dari kantor. Ia tidak menyangka kalau di masa cutinya, perusahaan masih mengganggu. Rekan kerja seperti Tasya seharusnya sudah bisa menghandle segala hal. Selain jabatan Tasya lebih tinggi, jam kerja dalam bidang desain sudah cukup lama dibanding Kiara. Tapi seiring waktu, kemampuannya untuk memimpin sedikit berkurang. Mungkin itu efek dari terlalu mengandalkan bawahan. Jadi saat diberi tanggung jawab sedikit, Tasya kewalahan sendiri. Tanpa sadar, saat minta bantuan Kiara, ia menunjukkan ketidakmampuannya.
Pagi itu rencana untuk pulang ke rumah kembali tertunda. Kiara yang semalam meninggalkan cucian piring bekas makan, bergegas keluar. Ia harus bersih-bersih dulu sebelum pergi. Semalam, diskusinya dengan Arga tertunda lagi karena pria itu kelelahan. Kiara bahkan belum sempat bicara karena keburu ditinggal masuk.
"Kamu mau pergi? kalau begitu biar aku yang membersihkannya untukmu," kata Arga tiba-tiba keluar dengan wajah segar. Sepertinya ia sudah bangun sejak tadi dan terganggu karena mendengar suara berisik di dapur.
"Tidak masalah, aku hampir selesai, kok," tolak Kiara canggung. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari Arga. Mungkin terdengar sok polos, tapi Kiara tidak nyaman dengan celana pendek juga kaos tanpa lengan yang digunakan Arga pagi itu. Ia heran kenapa Arga bertingkah senyaman itu padahal untuk bicara saja, mereka masih cukup kaku.
"Mau kuantar?" tanya Arga meletakkan cangkir kopinya yang telah kosong ke dekat wastafel. Kiara tertegun, tapi kemudian buru-buru menggeleng pelan. Masih terbayang adegan tidak menyenangkan saat mereka naik motor waktu itu. Mau disengaja atau tidak, Kiara tidak mau hal itu terulang.
"Jangan khawatir, aku akan mengantarmu pakai mobil. Kebetulan hari ini aku nggak ada kerjaan." Arga masih berusaha mencari celah agar tawarannya tidak ditolak. Ia ingin agar Kiara tidak menjaga jarak darinya. Diandalkanpun sepertinya bukan hal yang merepotkan. Sudah lama Arga tidak mencampuri urusan orang lain.
"Sebenarnya aku mau ke rumah lalu ke kantor sebentar," ucap Kiara menggaruk lehernya tak enak. Setelah membaca email Tasya tadi, ia ingin mampir untuk sekedar membantu sedikit. Tapi kalau sampai Arga ikut, pasti mereka akan mendapat banyak perhatian.
"Tidak masalah, asal kamu mau menungguku ganti baju," gumam Arga pelan. Ia bosan kalau harus menghabiskan waktunya untuk bermain game. Pekerjaan sudah selesai dan sekarang hanya tinggal menunggu desain. Suntuk juga kalau terus mengurung diri di rumah.
"Kamu nggak pakai hodie kemarin kan?" tanya Kiara nyengir. Bukannya julid, tapi untuk orang yang suka kebersihan, memakai baju yang sama terus, tentunya tidak benar.
Arga terdiam, menafsir arti di balik pertanyaan lugas itu.
"Apa aku harus pakai kaus biasa? Kamu tidak nyaman karena aku terlalu kumal?"
"Memangnya kamu punya? Maksudku terserah—senyamannya kamu saja." Kiara berakhir tersenyum kaku, merasa aneh dengan tatapan lurus Arga padanya. Jujur saja, Kiara merasa Arga tidak perlu menyembunyikan wajahnya lagi. Dengan menikah, otomatis wanita yang akan mendekati Arga berpikir dua kali.
"Baiklah kalau itu maumu." Arga menghembuskan napas panjang, terdengar tidak yakin dengan keinginan Kiara.
"Tunggu, aku tidak menyuruhmu melakukan apapun. Pakai saja hodie itu kalau kamu nyaman," ucap Kiara tidak suka dengan omongan Arga yang terkesan menurut. Padahal, wajahnya masih ditekuk.
"Jadi kamu lebih suka aku pakai yang mana?"Arga kini berbalik, urung masuk kamar. Tubuh tingginya berdiri tegap di depan pintu sembari berkacak pinggang.
"Apa itu penting? Kan kamu yang pakai, bukan aku." Kiara mengernyit, terkejut.
"Untuk kali ini aku akan menuruti keinginanmu," kata Arga serius. Ia menatap lurus pada mata Kiara yang berlarian canggung. Gadis itu sedikit malu dan aneh karena Arga memperlakukannya seperti seorang pasangan sungguhan.
"Kamu tidak punya alasan untuk itu, jadi pakai apapun yang membuatmu nyaman." Kiara kini yakin untuk bersikap sedikit tegas. Ia merasa bersalah karena menjadi pribadi plinplan. Sejak awal pernikahan,harusnya mereka membuat perjanjian. Jika hanya sebuah formalitas, perceraian pasti bukan hal besar. Tapi pembicaraan terakhir mereka hal mengisyaratkan hal berbeda. Arga sepertinya tidak setuju untuk melakukan perpisahan.
"Oke, tunggu sebentar, aku akan segera keluar." Arga akhirnya masuk ke kamarnya setelah tertegun sebentar tadi. Kiara mengangguk, kembali membereskan sisa piring yang belum diletakkan di atas rak.
Tak butuh waktu lama, Arga sudah siap dengan jaket kulit dan celana jins robek bagian lutut. Tubuh jangkungnya semakin mencolok saja, ditambah ia tidak memakai kaca mata. Diam-diam Kiara cukup lama memandangi tampilan suaminya itu. Meski tidak yakin, tapi sudah terlalu siang untuk menyuruhnya ganti baju. Pikir Kiara, selama Arga nyaman tidak masalah buatnya.
"Ayo kita pergi, pasti sudah terlambat kan?" tegur Arga merasa risih dengan tatapan Kiara yang tidak berkedip sedikitpun. Pandangan matanya memang berbeda dengan wanita lain, tapi tetap saja rasanya tidak nyaman. Di saat yang sama, jantungnya berdesir lembut. Entah perasaan apa itu, yang jelas Arga tidak menyukainya.
"Oh, oke. Aku ambil tas sebentar. Tunggu saja di depan." Kiara merasa malu sendiri karena kepergok mencuri pandang.
*
Di sebuah kafe kecil dekat kantor, terlihat Mira menyudahi pembicaraan teleponnya dengan Marten. Keadaan masih belum kondusif untuk saling berhubungan secara leluasa. Korban selain Kiara ada yang nekad melapor, jadi Marten secara otomatis menjadi DPO. Mira bisa dibilang cukup beruntung karena Kiara tidak melakukan tindakan hukum apapun.
Sesaat setelah Mira selesai dengan pesanan kopinya, ponsel dari dalam sakunya berbunyi. Itu dari Tasya yang memberitahu kalau Kiara sudah datang untuk membantu proyek mereka. Dengan segera Mira kembali. Ia bergumam sepanjang jalan, membuat rencana untuk menggali informasi tentang pernikahan Kiara yang masih menyisakan banyak pertanyaan. Untuk penipu seperti Marten, ucapan Mira dan foto pernikahan Kiara belum cukup memuaskan rasa penasaran. Bahkan Mira merasa Marten tidak rela kalau Kiara terlalu cepat move on.
Dibutuhkan waktu sekitar 15 menit hingga akhirnya Mira mencapai lantai kantornya. Di ruang tunggu, ia sempat berpapasan dengan Arga yang asyik bermain game ponsel. Pria tinggi itu terlihat tidak peduli dengan sekitar, jadi tidak sadar kalau sedang menjadi pusat perhatian.
Sedang di dalam ruang rapat, Kiara sudah bergabung dengan karyawan lain. Kedatangan Mira dengan kopi di tangannya disambut dengan lambaian tangan. Mira langsung memasang wajah polos lalu meletakkan cup-cup kopi di dekat tangan masing-masing. Di saat terakhir, Kiara harus menelan ludah karena tidak kebagian.Mira beralasan kalau ia terlanjur memesan, jadi tidak tahu kalau harus menambah jumlah pesanan. Mirisnya, tidak ada yang peduli dengan masalah itu. Kiara sudah dianggap semua orang sebagai pribadi yang mudah dimanfaatkan.
"Tidak masalah, aku juga hanya sebentar di sini," sahut Kiara memberi senyuman kecil. Mana mungkin ia membiarkan Arga terlalu lama menunggu di luar? Mengantar saja sudah merepotkan baginya.
"Kok gitu? Kita kan lagi kerepotan,Kii? Paling nggak bantu sampai desainnya selesai," serobot Tasya terdengar kesal. Ia merasa Kiara egois karena berbulan madu di depan mata karyawan lain. Terlebih saat sedang dalam situasi sibuk seperti sekarang. Bahkan kedatangan Kiara dengan suami tampannya membuat semua orang sakit mata. Bukan hanya iri, tapi bingung pada keberuntungan Kiara.
"Aku kan lagi cuti. Proyek ini juga bukan tanggung jawabku. Lagipula suamiku ada di luar dan kami sedang ada urusan." Kiara mencoba mencari alasan terlogis. Bagaimanapun ia tidak mau dibodohi lagi. Tasya pernah mendapat pujian juga promosi naik jabatan karena desain karya Kiara. Alhasil, Kiara harus gigit jari karena gagal naik posisi. Tidak ada ucapan terima kasih atau apapun. Tasya mengubur jasa Kiara hingga dasar tanah tanpa seorangpun mengetahuinya.
"Jadi kamu menolak membantuku?" tanya Tasya tidak percaya. Di hadapan semua orang, ia serasa dipermalukan. Kiara tidak pernah menolak apapun, jadi wajar kalau semua orang seperti salah dengar.
Namun jawaban Kiara tetap sama. Wajah yang biasanya lemah, sekarang berubah sedikit tegas.
"Tentu saja aku akan membantu. Malam ini aku akan mengirim dasar desain kasar untukmu. Tapi maaf, hanya sebatas itu," kata Kiara berdiri, ia berusaha tetap tenang meski hatinya sedikit gelisah karena keputusan yang tidak biasa itu.
Beruntung, di saat bersamaan, kepala bagian tiba-tiba masuk. Ia terkejut melihat Kiara di ruang rapat kantor.
"Ngapain kamu di sini?" tanyanya penuh selidik. Dilihat dari caranya bersikap, ia gusar dengan Tasya dan pegawai lain. Bagaimanapun Kiara tidak diperbolehkan ikut campur dalam pekerjaan kantor semasa cuti.
"Kiara, ayo ikut ke ruangan saya sebentar, ada yang mau Bapak bicarakan," ucap kepala bagian berdehem. Rupanya ia sadar betul situasi yang sedang terjadi. Tasya sendiri tidak berani membantah. Belangnya bisa saja ketahuan kalau ia masih ngotot mempertahankan Kiara di sana.