Gang itu tidak bisa dilalui oleh mobil, jadi Arga terpaksa memarkir fortunenya di sebelah warung nasi yang terbengkalai. Entah kenapa, perasaan Kiara mendadak buruk. Ia benci tempat kotor dan sunyi seperti itu. Seakan ada yang bersembunyi di tumpukan barang bekas dan bersiap menyerang. Padahal baru pukul sebelas siang, tapi atmosfer mendung mengepung langit di atas mereka. Apakah sudah masuk musim hujan? Entahlah, Kiara tidak tahu. Pikirannya lebih terfokus pada suasana sekitar.
Setelah sepuluh menit berjalan kaki menyusuri beberapa rumah petak yang kecil, Arga akhirnya berhenti di rumah paling ujung. Dibanding hunian lain, terasnya jauh lebih sempit. Ada tiga sangkar buruk rusak yang dibiarkan teronggok di sana. Entah burungnya ke mana, tapi kotorannya masih menempel di kandang.
Kiara beringsut, mendekati Arga dengan roman wajah yang sulit untuk dikatakan. Ia memang bukan anak kecil, tapi cukup terganggu dengan hal remeh itu.
"Sepertinya rumahnya kosong,"bisiknya pada Arga yang bergeming di tempatnya. Ia pun tidak segera masuk, hanya memeriksa dari luar teras. Agaknya, Arga pun sungkan kalau menerobos ke tempat milik orang.
"Tunggu saja sebentar, dia kadang ada di belakang," sahut Arga menyuruh Kiara agar tetap tenang. Ia menatap jam di pergelangan tangannya kemudian meraih ponsel untuk mengubungi Rendi.Di luar dugaan, belum sempat ujung jempolnya menekan tombol panggilan, pintu rumah itu tiba-tiba saja terbuka.
Kiara mundur, menatap sosok lelaki tinggi besar yang tengah merokok itu. Rambut gondrong si mantan polisi sangat berminyak, persis gelandangan yang tidak suka membersihkan badan. Lebih dari itu, caranya memandang Kiara terkesan tidak bersahabat.
"Ngganggu orang lagi tidur aja! Bawa makanan nggak?" Rendy menggerutu, berjalan mendekat ke arah pagar kayu yang mengelilingi rumahnya itu. Kiara tanpa sadar mundur,menarik ujung jaket kulit milik Arga.
Rendi tahu apa yang ada dalam pikiran Kiara. Ia tidak sepenuhnya memprotes caranya bersikap. Kebanyakan orang, bahkan terang-terangkan menghindar dari jarak sekian meter darinya. Tapi Kiara hanya terkesan ragu saja dengan apa yang ia lihat.
Musnah sudah imajinasi Kiara dalam menilai Rendi dalam pikirannya. Ia diam-diam kesal dengan ucapan Arga yang menipu. Tinggi gagah? Mungkin secara badan iya, tapi penampilannya sangat mengerikan.
"Aku sudah pesan ayam goreng pedas. Mungkin sebentar lagi sampai," sahut Arga memegang pergelangan Kiara agar gadis itu tidak mundur lebih jauh lagi. Walau bukan pribadi yang mudah tersinggung, tetap saja Arga tidak enak hati.
"Masuklah, aku mau mandi dulu.Masa iya, ketemu klien badanku bau?" gumam Rendi tiba-tiba terbahak keras. Sosoknya berlalu begitu saja setelah menyuruh Arga dan Kiara masuk ke dalam. Awalnya, Kiara takut melangkah. Bagaimana kalau ada kotoran yang menempel di kakinya? Secara kasat mata, semua terlihat begitu kacau dan berantakan.
Namun, genggaman tangan Arga membuatnya tidak bisa mundur. Secara reflek, Kiara gugup karena dipegangi seerat itu. Jari hangat sang suami kontan membuat jantungnya berpacu kecil. Saking tidak nyamannya, ia menarik tangannya itu, menolak untuk ditarik lebih jauh.
"Aku bisa sendiri," kata Kiara pelan.
Arga terkejut sedikit dengan penolakan itu. Tapi apa boleh buat, mereka juga tidak menjalin hubungan emosional. Wajar saja kalau Kiara merasa risih dan tidak suka. Meski sentuhan itu dari pria good looking, Kiara tetap Kiara. Arga bukanlah tipenya.
Ruang tamu rumah Rendi ternyata tidak sekotor bayangan Kiara. Sofa juga furniture lain, cukup layak untuk ditempati. Vas bunga di tengah meja kacapun, tidak terlihat berdebu. Entah dengan maksud apa teras di depan sana dibiarkan seperti tumpukan sampah.
Tak berapa lama kemudian, yang ditunggu akhirnya keluar. Berbeda dengan yang tadi, kini Rendi terlihat jauh lebih bersih dan manusiawi. Kini bahkan jambangnya terlihat bagus dan rapi. Mungkin kalau mau berpakain formal, sosoknya akan sempurna sebagai seorang polisi.
Bersamaan dengan itu, suara pengantar makanan datang. Arga langsung bangkit dari duduknya, sembari menyuruh Kiara agar menunggu sebentar. Kiara celigukan, antara gugup juga terkejut. Walau hanya sebentar, ia sebenarnya tidak mau ditinggal dengan pria asing di satu ruangan. Tapi apa daya, Kiara tidak bisa menolaknya. Gadis itu berakhir duduk, tidak punya keberanian untuk membalas tatapan Rendi padanya.
Dilihat dari kerut di wajah, Rendi mungkin berusia 35 hingga 37 tahun. Ada beberapa uban di rambut dan tatto kecil di tangan dan lehernya. Mungkin tattto itu dibuat setelah ia mendapatkan pemecatan.
"Siapa namamu?" Rendi menyorot mata Kiara sambil menyesap lintingan tembakau yang baru saja ia nyalakan.
Kiara tertegun sebentar, menimbang apa ia harus menjawab pertanyaan itu dengan jujur atau tidak. Tapi kalau ia tidak kunjung menjawab, Rendi mungkin akan melakukan , hal buruk padanya.
"Ki-Kiara," kata Kiara terbata kecil. Ia mencoba sedikit senyum, tapi karena terpaksa, Rendi melihatnya seperti sebuah seringai.
Beruntung, tak lama kemudian, Arga kembali dengan tiga porsi ayam mentega pedas. Diam-diam Kiara menghembuskan napas lega. Ia merasa diselamatkan dari situasi yang tidak menyenangkan.
"Kalian ngobrol apa? Mas Rendi nggak nakutin dia, kan?" tanya Arga mengangsurkan satu kotak ayam plus nasi itu pada Rendi. Sedang matanya menatap Kiara khawatir. Gadis itu tampak takut,tapi tidak berani bicara apapun.
"Sebenarnya apa yang membuatmu ke sini? membawa wanita lagi." Rendi tiba-tiba mengeluh, menatap tanpa selera pada makan siangnya. Ia benci melibatkan wanita dalam bisnisnya, kecuali kalau orang itu klien.
"Dia istriku dan permintaanku ada berhubungan dengannya. Jadi bagaimana bisa aku tidak membawanya?" gumam Arga sangat lugas dan tepat sasaran. Ia tidak peduli dengan tanggapan Rendi yang melotot tak percaya.
"Serius? Sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan seorang wanita?" Rendi tergelak sebentar, tapi tak butuh waktu lama, ia kemudian sadar kalau gurauannya tidak tepat waktu. Hubungannya dengan Arga tidak sedekat itu hingga ia punya hak mempertanyakan tentang masalah pribadi.
"Jadi, siapa yang harus aku cari kali ini?" Rendi berdehem, kembali menyesap asap tembakaunya. Ia tipe laki-laki bebal yang tidak peduli dengan ketidaknyamanan orang lain. Buktinya ia terus merokok meski Kiara terbatuk-batuk kecil.
*
Sementara itu, di kantin kantor yang dipenuhi oleh pegawai perusahaan, nampak Tasya dan Mira duduk berdua. Mereka menghadap piring masing-masing, seperti sengaja makan terpisah dari yang lain. Kejadian tadi pagi bukan hanya berdampak pada Tasya, tapi anggota tim ikut terkena imbasnya. Alhasil, proyek yang sedang ditangani harus berbagi dengan tim kecil bagian lain. Keputusan itu sangat memberatkan karena porsi bonus harus dibagi dengan banyak orang.
"Sialan, padahal aku sudah bilang pada Kiara untuk mengerjakannya via email saja. Kalau datang ke kantor, ketahuan juga pada akhirnya," keluh Tasya memainkan kuah soto dalam mangkuknya. Ia tidak habis pikir, kenapa kepala bagian yang seharusnya pergi malah kembali lagi ke ruang rapat.
Mira tersenyum sinis, tahu bagaimana memanfaatkan situasi. Daripada mengotori tangannya sendiri, lebih baik kalau menggunakan emosi orang lain. Ia paham betul, tipe gadis seperti Kiara adalah kambing hitam terbaik. Walau tidak punya salah apapun, Kiara akan selalu dijadikan pelampiasan di dunia yang mencekik mereka.
"Jangan-jangan Mbak Kiara sengaja datang biar kita ketahuan?" celetuk Mira memasang wajah penuh prasangka. Mulutnya sengaja menganga, pura-pura terkejut dengan ucapannya sendiri.Itu memang masuk akal, mengingat segalanya terlalu kebetulan.
Umpan Mira berhasil, wajah Tasya perlahan memberengut kesal, tanda menyetujui dugaan bodoh itu. Dalam sekejab, otakTasya bekerja, mencari cara agar bisa menganggu Kiara dengan caranya.
"Mir, kamu tahu alamat rumah Kiara nggak? Besok setelah jadwal sore, kita mampir yuk?" ajak Tasya tiba-tiba. Jelas, ia punya maksud tersembunyi.
"Maksud Mbak Tasya, rumah suaminya?" tebak Mira nyengir. Ia sendiri tidak tahu di mana itu. Sementara waktu, ia berpisah jalan dengan sindikat penipunya, jadi Mira tidak bisa minta bantuan siapapun untuk menyelidiki tentang latar belakang.
"Iya, kamu tahu nggak?" tanya Tasya menatap penuh pengharapan. Sayangnya, gelengan dari kepala Mira membuatnya kecewa. Ia pikir Mira si biang gosip punya banyak info tentang suami Kiara. Semua orang tidak terkecuali Tasya pasti penasaran, dengan cara apa Kiara menaklukan lelaki sesempurna Arga?